
cerita ini hanyalah karangan dari penulis. mohon untuk tidak dicontoh
Nindia memang dikenal di desanya sebagai gadis yang mau membantu siapa saja. Namun sayang, semua kebaikan itu tidak terbalaskan saat ia merasa berada di titik yang paling bawah dalam hidup ini.
Bukannya memang begitu? Saat kita ada di titik terbaik kita, akan banyak orang yang memuji, dan mengaku sebagai teman. Saat terpuruk datang, mereka seakan lupa dan pergi menghilang begitu saja dengan tiba-tiba.
Walau begitu Nindia tidak pernah menyesali setiap apa yang ia lakukan di masa lalu. Terpenting sekarang ia memiliki pekerjaan untuk orang tuanya agar bisa membayar hutang dan melanjutkan sekolah sang adik hingga menjadi orang yang sukses.
Waktu berlalu dengan cepat, kini makanan Aya sudah tandas dan berpindah tempat di perut sang gadis kecil. Nindia meletakan tempat makan Aya di meja nakas yang ada di samping. Mengambil jatahnya sendiri dan mulai memakannya dengan lahap.
Aya terus saja melihat gerak-gerik Nindia hingga ia selesai makan dan meminum air putih. Aya tidak suka dengan air putih dan dirinya juga jarang minum kalau sesudah makan. Kata papanya itu kebiasaan yang diberikan sang mama kepadanya.
Aya hanya akan minum susu saat ia akan tidur dan minum teh saat ia berada di cuaca yang panas. Kata dokter itu memang tidak baik, tapi Aya akan muntah jika ia meminum air putih itu.
Sudah banyak air mineral yang dicoba. Dari merk terkenal hingga yang biasa saja. Bahkan dulu juga pernah mencoba air yang didihkan sendiri. Tapi hasilnya sama saja, Aya akan memuntahkan apa yang ia minum beserta makanan yang ia makan tadi.
__ADS_1
Sedikit banyak Nindia telah mengetahui hal itu saat ia berada di samping Aya seharian ini. Tipe gadis yang periang dan sangatlah cerewet seperti adiknya. Dia akan gatal jika tidak mengucapkan sepatah kata apapun juga.
“Kak nanti kalau sudah keluar dari rumah sakit kita main di taman lagi ya?”
“Baiklah. Tapi Aya tidak boleh terlalu capek ya?”Nindia mencoba memberi nasehat agar Aya selalu ingat akan waktu dan kondisi dirinya sendiri.
“Tenang saja kak, mungkin aku hanya akan meminta kakak membantuku mendorong kursi roda mengelilingi taman lalu makan es krim bersama dan berbicara sepuas mungkin,”ucap Aya dengan menggebu-gebu.
“Tidak perlu menunggu dia keluar dari rumah sakit, kau yang sekarang juga sudah mengeluarkan banyak suara yang sangat menganggu telinga,” ucap Arya ketika mendengar apa yang diinginkan oleh adiknya itu.
Aya memasang wajah yang se melas mungkin. Ia paksakan air mata keluar dari pelupuk matanya yang indah. Ia akan membalas dendam kepada kakaknya yang selalu saja berlaku jahil tanpa henti. Lihat saja, tunggu beberapa menit lagi, dan pembalasan akan terlaksana dengan sangat indah.
“Arya kau ini selalu mengganggu adikmu. Lebih baik sekarang kau kembali ke kantor dan mengerjakan semua berkas yang terbengkalai,” ucap sang papa pada keputusan akhir.
“Tapi Arya kan sedang mengambil cuti kerja. Lagi pula banyak bawahan disana yang bisa diminta untuk menghandle pekerjaan Arya untuk sementara kan pa?”
__ADS_1
Arya terus saja mengelak agar masih tetap bisa berada di rumah sakit. Bukannya karena ingin menemani Nindia ataupun menjaga Aya. Arya hanya ingin merilekskan tubuh yang terlalu lelah untuk berkerja. Mumpung ada kesempatan baik? kenapa harus di sia-siakan.
Mendengar kakaknya yang selalu saja beralasan agar tetap tidak bekerja membuat Aya menjadi sangatlah sebal. Ia terus mencari cara agar Arya bisa keluar dari ruangan ini. Tapi Aya bingung untuk melakukan apa hingga pria tampan yang menjabat menjadi kakaknya itu bisa sukarela meninggalkan ruangan ini.
“Kalau kakak memang tidak mau bekerja kenapa harus ada di sini. Kakak pulang ke rumah saja sana!”
“Kalau kakak pulang yang akan menjagamu disini siapa Aya?”bantah Arya dengan sebuah pertanyaan.
“Ada kak Nindia yang menemani Aya kok. Lagipula Aya nggak akan merengek ataupun meminta yang aneh-aneh dari kak Nindia.”
Arya mendengus mendengar pemikiran polos dari adiknya. Apanya yang tidak merengek. Pasti 10 menit setelah ia tinggalkan, gadis kecil itu akan meminta banyak hal yang tidak mungkin Nindia bisa lakukan saat sakit seperti ini.
Baiklah, Arya tahu kalau adiknya sedang dongkol kepadanya. Kalau begitu ia akan sedikit bermain dengan adik tersayang. Kita lihat sampai mana ia bisa tahan tanpa ada kehadirannya ini. Lagipula papa mereka juga harus pergi karena ada kolega yang tiba-tiba datang ke kantor.
.
__ADS_1