Kasta

Kasta
Barudak


__ADS_3

Pesawat mendarat mulus di bandara pukul sepuluh malam. Vladimir memberi tahu Alvan jika dia kedatangan tamu yang hendak bicara di kediamannya.


"Siapa dia?"


"Davian."


Alvan tidak pernah mendengar namanya. Sebagai informan, Vladimir memberi tahu seluruh informasi tentang Davian.


Satu tahun yang lalu ada satu anak kelas satu SMA rela bertarung dengan seratus siswa lebih di sekolahnya karena sudah muak dibully, dicekoki, dan dipaksa minum air toilet setiap hari oleh temannya, dia bernama Davian. Dia menang dalam pertarungan. Seratus siswa petarung melawan satu siswa culun.


Setelah kejadian itu, Davian menjadi terkenal ke seluruh sekolah. Seminggu kemudian dia memimpin Allbase sekolah menengah atas swasta Merdeka.


Davian memusuhi seluruh Allbase sekolah luar yang melegalkan minum-minum dan ganja untuk siswa. Tawuran tak terhentikan. Seluruh Allbase SMA di daerahnya membenci Davian.


Dia tidak keberatan. Hanya butuh waktu satu tahun, anak remaja enam belas tahun itu berhasil menguasai Allbase seluruh sekolah SMA di daerahnya.


Organisasi gang anak remaja itu sering disebut sebagai Barudak. Dia tidak menamainya tapi orang-orang yang sering melihat onar mereka yang menamainya. Karena mereka masih anak-anak orang-orang menamainya Barudak (anak-anak dalam bahasa Sunda).


"Masih berumur tujuh belas tahun?!"


Alvan sedikit terkejut. Sopir pribadinya ikut terkejut mendengar suara Alvan.


"Baik."


Vladimir memberikan tabletnya yang berisi artikel berita tentang tawuran antar sekolah.


"Semua kejadian itu perbuatan Davian."


"Apa kau mempunyai foto wajahnya?"


Vladimir mengangguk. Davian pernah tertangkap dan ditahan hanya beberapa Minggu karena orang tuanya kaya raya.


"Siapa orang tua dia?"


"Pemilik saham, dan pengusaha besar."


Mobil Alvan sudah sampai di gerbang kediamannya. Sedan hitam itu berjalan masuk ke basemen.


"Untuk apa bocah itu datang semalam ini."


Alvan berkali-kali mengecek jam tangannya.


"Dia bilang ini sangat penting. Bersangkutan dengan kematian Chain."


Mendengar ucapan Vladimir, Alvan langsung berlari memasuki lift.


Di lantai dua, Davian sudah duduk rapih memakan makanan yang disediakan oleh pelayan. Vladimir yang meminta menyiapkannya untuk Davian karena takut lama menunggu dan dia kelaparan.


Davian menggunakan jaket kulit hitam, celana Levis, dan sepatu All star. Rambutnya sedikit berponi seperti anak muda kebanyakan. Wajahnya? Tidak perlu ditanya. Setiap wanita, mau itu muda, tua, kecil, semua terpana melihat wajah Davian.


"Tuan... Alvan?"


Davian berdiri mengulurkan tangan, hendak bersalaman. Alvan tidak membalasnya.


"Ok itu tadi sedikit awkward."

__ADS_1


Davian kembali duduk di atas sofa.


"Langsung ke intinya saja."


Davian tersenyum. Alvan seperti anak kecil yang tidak sabar mendengar dongeng malam sebelum tidur.


"Aku mendengar kalau kalian sedang menyelidiki kematian Chain."


"Bagaimana kau bisa tahu?"


Vladimir sedikit menaruh kecurigaan.


"Itu tidak perlu ditanyakan. Mata-mata ku ada di mana-mana, bahkan di penjara sekalipun."


Jelas sudah, kalau anak buah Davian yang di penjara lah yang memberi tahu Davian tentang hal ini. Anak buah Davian yang mendekam di penjara mau tidak mau menjadi anak buah Baskara dan menguping pembicaraan Alvan dan Baskara, ditambah lagi melihat Vladimir menyelidiki sel Chain.


"Aku di sini tidak ada niat buruk, hanya ingin memberikan beberapa petunjuk jika kalian memang membutuhkannya."


"Dari mana kau dapat petunjuk itu?"


"Hei, apa kalian lupa kalau Chain memiliki anak yang satu sekolah denganku?"


Vladimir dan Alvan saling tatap. Mereka tidak pernah tahu informasi tentang itu.


Davian tertawa sambil mengunyah apel.


"Malang sekali nasibnya. Dia anak yang baik, harus menerima kejadian seperti ini. Ah, aku lupa, sebagai gantinya kalian harus memberikan apa yang aku mau."


"Apa itu? Uang?" Davian mengangguk. Tapi, uang itu bukan untuk dirinya.


Davian berkeliling memperhatikan lukisan yang dipajang di dinding.


"Bagaimana? Deal?"


Alvan tersenyum.


"Berapa yang kau minta?"


"Tidak banyak, hanya 1 milyar. Bukankah itu nominal yang sedikit bagi bos rempah-rempah?"


Vladimir hendak menghajar Davian. Tapi, Alvan menahannya.


"Baiklah, aku setuju."


"Anak Chain bernama Rafga."


Davian melempar berkas yang berisi sertifikat sekolah Rafga. Foto, alamat, nama panjang, nama kedua orang tua, dan tanggal, tempat dia lahir, tertulis jelas.


Alvan tersenyum saat membaca nama ibunya Rafga.


"Kenapa?"


Vladimir bingung melihat ekspresi Alvan.


"Tidak. Mari kita lanjutkan."

__ADS_1


"Rafga bilang beberapa hari sebelum Chain meninggal, dia sering sekali melihat orang asing bolak-balik di depan rumahnya menggunakan mobil Jeep hitam. Kadang orang itu turun dari mobil lalu memperhatikan rumahnya, merokok sebentar, lalu pergi lagi."


Alvan mengangguk. Informasi itu sudah lumayan cukup baginya.


Vladimir memberikan bukti transfer satu milyar dari rekeningnya ke rekening panti asuhan Merdeka. Davian hanya bisa tersenyum.


"Apa perlu diantar, Dav?"


Davian menggeleng. Dia membawa motor kesayangannya.


"Jaga dirimu."


Davian membungkuk, kali ini dibalas membungkuk oleh Alvan. Tradisi lama antar organisasi.


"Terimakasih atas makanannya."


Punggung Davian sudah hilang dari pintu. Alvan kembali mengenakan mantelnya. Hujan di luar mulai turun.


"Hendak kemana?"


"Aku ingin menemui Rafga, Vladimir. Kau jaga markas saja. Aku akan berangkat sendiri."


Motor Harley gagah yang sudah lama tidak dipakai Alvan, kini kembali dinyalakan. Mengingat Davian kemari mengenakan motor dengan brand yang sama Alvan ingin bernostalgia.


Jalanan kota sudah mulai sepi. Masyarakat sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah kegiatan yang panjang.


Sesampainya di perumahan, Alvan di larang masuk oleh security.


"Ini sudah malam, pak. Kita tidak boleh menerima tamu. Kalaupun bapak ingin masuk, itu harus ada perizinannya dulu dari tuan rumah."


Security itu menahan motor Alvan. Masalahnya sejak tadi pagi sudah banyak wartawan yang berusaha masuk ke dalam untuk mewawancarai keluarga Chain. Security kewalahan, tidak sanggup.


"Saya kasih bapak berdua ini pizza dan donat itung-itung untuk cemilan saat berjaga, tapi, bapak kasih saya izin untuk masuk, gimana?"


Alvan berusaha sedikit menyuap dengan beberapa makanan yang sempat dia beli di jalan.


Dua security itu berunding sebentar. Mereka setuju. Lagi pula, tampang Alvan tidak seperti maling dan dia hanya ingin bertemu dengan sahabat lamanya di dalam.


"Terimakasih banyak, pak."


Karena knalpot-nya yang berisik, Alvan disuruh mendorong motornya hingga rumah Chain.


Rumah Chain tepat berada di dekat palang perumahan, tidak begitu jauh, hanya berjarak sepuluh puluh meter. Rumahnya sangat besar berwarna putih. Kanan kirinya terdapat taman.


Alvan memencet bel. Wajahnya berkeringat. Seseorang berteriak dari dalam rumah.


"Apa kalian tidak berpikir jam berapa ini?!"


Itu suara wanita. Napas Alvan makin tak terkendalikan.


Tak lama, pintu besar dari kayu jati itu dibuka.


Wanita sekitar berumur tiga puluhan itu mengusap mata, berusaha melihat siapa orang di depannya.


"Ternyata benar itu kau, Azizah."

__ADS_1


Alvan tersenyum.


__ADS_2