
Waktu terus bergulir tanpa di sadari oleh semua orang. Rutinitas yang sama membuat beberapa orang menjadi merasa lelah dan bosan. Tapi, bagi beberapa orang yang bersyukur dengan nikmat mereka akan merasa cukup dan menggapai lebih tinggi lagi.
Seperti yang Nindia lakukan saat ini. Walaupun kesehariannya tidak jauh dari kata bersih-bersih maupun memasak, tapi ia menikmatinya. Bahkan gadis itu justru semakin gencar bereksperimen dengan makanan yang akan di hidangkan untuk keluarga ini.
"Kak Nin banyakin aja sosisnya." Sebuah suara yang familiar memasuki gendang telinga Nindia.
Aya sudah mengintip dari samping. Menatap makanan berbau sedap yang memenuhi area dapur ini. Niat ingin membantu Nindia menguap begitu saja ketika melihat masakan yang sudah jadi semua. Hanya tinggal satu menu lagi yang masih berada di wajan penggorengan.
"Aya sudah mengerjakan PR?" tanya Nindia saat ia akan menghidangkan makanan ke meja ruang makan.
"Sudah. Kak Nin ada yang bisa Aya bantu tidak?" Gadis itu mengekor i Nindia yang berjalan mondar-mandir untuk menyiapkan makan malam.
"Kami nonton tv aja di ruang keluarga ya. Kakak udah selesai kok." Nindia tersenyum memberikan usapan lembut pada nona muda yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Aya bergegas mendorong kursi rodanya ke ruang keluarga. Menyalakan tv dan menonton kartun dengan serius.
"Assalamualaikum," salam seseorang dengan nada yang lemas.
Aya menengok ke samping. Dilihat Arya yang pulang dengan keadaan lesu. Dasi yang sudah di kendurkan. Kemeja yang ujungnya keluar dari celana. Jangan lupakan rambut yang acak-acakan.
Laki-laki itu seperti baru saja terkena copet. Untung saja wajahnya masih tampan, sehingga tidak akan ada yang mengira Arya sebagai pengemis.
"Wa'alaikumussalam. Kakak habis kena copet ya?" Arya yang mendengar teguran Aya langsung saja memutar arah tujuannya.
Menghempaskan diri sendiri dengan keras. Laki-laki itu berteriak tertahan ketika punggung tegapnya dapat merasakan nyamannya sofa rumah.
Arya memejamkan mata erat. Raut lelah sangat nampak darinya. Aya yang mengerti keadaan sang kakak memilih diam dan kembali menyaksikan tayangan kartun.
Sepuluh menit berlalu, salam kembali mengalihkan perhatian Aya. Wildan baru saja pulang ke rumah. Berbeda dengan Arya yang acak-acakan. Sang papa nampak sangat segar dan masih penuh energi.
Mata tajam pria tua itu menyadari kehadiran putra dan putri di ruang keluarga. Wildan mengkode Aya, dagunya seakan memberi pertanyaan tetang apa yang baru saja terjadi dengan Arya.
Aya yang juga tidak tahu apa-apa hanya memberi kan balasan kedikkan bahu. Wildan mendekat dan menepuk pundak sang putra perlahan. Hal itu cukup untuk membangunkan laki-laki itu dari tidur.
__ADS_1
"Mandi dulu sana. Setelah itu makan malam dan kau bisa langsung beristirahat dengan nyaman," kata Wildan pelan. Beliau mengerti kalau Arya sangat kelelahan sekarang, dapat dilihat dari wajah kuyunya.
Bagai kerbau di cucuk hidungnya, laki-laki itu langsung berdiri dan berjalan ke kamar. Melemparkan tas kerja ke sembarang arah. Arya melepas semua baju dan bergegas ke kamar mandi.
Dia lebih memilih untuk berendam terlebih dahulu. Merasakan sensasi air hangat yang merilekskan tubuh membuatnya ingin kembali terpejam.
Wildan sendiri hanya bisa menghela nafas melihat sang putra kelelahan. Tapi, itu memang tanggung jawab yang harus di pikul oleh seorang laki-laki. Mencari nafkah untuk keluarga di rumah.
Tidak butuh waktu lama untuk ayah dari dua orang anak itu membersihkan diri. Kini ia sudah berada di ruang makan. Aya dan Nindia juga sudah duduk di tempat biasa. Tinggal menunggu Arya yang masih belum datang.
"Kak Arya masih lama ya pah?" Aya mengerucutkan bibir lucu.
"Sudah lapar ya?" tanya Wildan memastikan dan diberi anggukan oleh putrinya.
Wildan berdiri dan melangkah menuju kamar Arya. Mencoba mengetuk beberapa kali tapi tak ada sahutan sama sekali. Sang papa pun berinisiatif untuk membuka kamar.
Saat tangannya sudah memegang handle pintu, Arya terlebih dahulu membukanya Walau pria itu sudah mandi, tapi masih terlihat dengan jelas gurat lelah dan letih.
Arya duduk terlebih dahulu, di susul oleh Wildan. Mereka mulai menyantap hidangan malam ini dalam diam. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring.
Arya mangaduk-ngaduk nasi di depannya. Selera makannya larut begitu saja. Seperti makanan yang ada di depannya ini tidak menarik sama sekali.
Perutnya mengeluarkan bunyi tanda kalau dia memang lapar. Tapi, mulut seakan berkata untuk tetap diam, malas untuk mengunyah.
"Mau ku buatkan jahe hangat kak?" Nindia bersuara setelah melihat Arya seperti tidak akan segera menyantap makanannya.
Arya mengambil nafas panjang dan menganggukan kepala. Mungkin saja ia akan sedikit rileks dengan jahe hangat. Sembari menunggu Nindia, ia menyandarkan punggung ke kursi.
Melihat Aya yang semakin hari semakin berisi. Bisa di lihat dari pipinya yang semakin bulat. Tidak di sangka keluarganya akan kembali membaik setelah bertahun-tahun seperti tidak terurus.
"Ini kak." Nindia memberikan secangkir jahe hangat yang masih mengepulkan asap.
Arya mencicipinya sedikit demi sedikit. Seketika tenggorokan terasa hangat. Nindia melanjutkan makan malamnya. Sedangkan Arya hanya menikmati minumannya.
__ADS_1
Semua telah menyelesaikan makan malam mereka. Nindia membawa piring-piring kotor kembali ke dapur. Meja yang semula penuh piring makanan, kini sudah kembali licin.
"Nin, tolong bawa vitamin ini ke Arya. Ayah harus mengangkat telpon dulu." Wildan meletakkan satu tablet vitamin di atas meja ruang makan.
Lelaki paruh baya itu berjalan ke ruang kerjanya dengan sebuah smartphone yang menempel di telinga. Wajahnya tampak serius membicarakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Nindia..
Nindia mengelap tangan sebelum mengambil tablet vitamin itu. Bergegas ke kamar milik Arya. Setelah dipersilakan, gadis itu dengan hati-hati memasuki kamar.
"Kak, ini ada vitamin dari ayah." Nindia memanggil Arya yang masih memunggunginya.
Entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Ia masih saja berdiri beberapa lama dia depan lemari pakaian. Nindia berinisiatif menawarkan bantuan, ia pun berjalan mendekat.
"Kak,"panggil Nindia pelan.
Dug
Nindia memegang dahinya yang terbentur dada bidang Arya. Laki-laki itu meringis karena tak sengaja menabrak. Ia tadi kaget karena suara Nindia yang terlalu dekat dengannya.
Alhasil ia langsung saja memutar badannya ke belakang. Dahi Nindia menjadi memerah dan membuat Arya merasa bersalah.
Dituntunnya gadis itu duduk di kursi yang ada di kamar. Ia berjongkok di depan Nindia, memperhatikan bekas benturan itu. Jantung Nindia berdetak bertalu-talu karena merasa terlalu dekat dengan Arya.
Arya yang masih saja memperhatikan dahi Nindia tidak menyadari bahwa pipi gadis itu sudah semerah tomat. Tangannya mengelus bekas luka itu dengan lembut. Tatapan Arya turun ke bawah dan saling beradu pandang.
Ke duanya langsung saja memalingkan wajah ke arah yang berbeda. Arya berdiri memberikan jarak dengan Nindia.
"Taruh saja vitamin itu di meja. Kau bisa langsung ke luar." Arya berkata dengan tersipu malu.
Nindia yang mendengar itu langsung saja meletakan tablet vitamin itu di meja dan langsung berjalan cepat ke luar. Saat ia sudah di depan pintu yang sudah tertutup, gadis itu memegang dadanya
yang bergemuruh.
"Sadar Nindia," monolog Nindia mencoba menormalkan degup jantungnya.
__ADS_1