Kasta

Kasta
Bubur


__ADS_3

"Pa, belikan Aya es krim dong."


Aya memegang celana Wildan yang berdiri di sampingnya. Gadis kecil itu tidak sengaja melihat seorang balita memegang satu buah es krim. Aya pun tergugah untuk mencicipi juga.


"Masih pagi, nanti kamu pilek." Wildan menjawil hidung Aya pelan. Hal itu justru membuat gadis kecil itu mengerucutkan mulutnya ke depan. Matanya menyipit kecil dengan dahi yang dikerutkan.


"Nggak papa. Cuma satu aja kok pa," rengek Aya terus menerus.


Terpaksa Wildan mengganggukkan kepala setuju. Ke tiganya berjalanan menuju tukang es krim yang dikerumuni banyak anak-anak kecil. Sebagai warga yang baik, Wildan mencoba mengantri dan mendahului kan para bocah cilik yang berebutan untuk mendapatkan lebih dulu.


Setelah menunggu beberapa saat, Wildan kembali dengan membawa dua buah coklat es krim di tangan kanannya. Satu diberikan kepada Aya, dan sisanya di serahkan ke Nindia.


"Terima kasih pa," ucap Aya setelah mendapatkan apa yang di minta. Seketika menjadi hening, karena Aya maupun Nindia sibuk dengan es krim di tangan.


Es krim coklat itu serasa membeku di lidah Nindia. Cuaca yang dingin di tambah dengan es krim. Sepertinya Nindia harus bersiap membeli obat pilek.


Diliriknya Aya yang masih semangat memakan es krim. Gadis itu tampak sangat senang sekali karena hal-hal sepele.


"Pak Wildan juga olahraga pagi-pagi," sapa salah seorang warga komplek.


"Pak Ahmad. Apa kabar nih?" Kedua orang tua itu saling bersalaman.


"Baik-baik," jawab laki-laki paruh baya yang diketahui bernama Ahmad. Salah seorang tetangga Wildan. Rumah mereka hanya berjarak sekitar tiga hunian.


"Baru balik lagi setelah di kampung lama ya?" Wildan mencoba mencari topik pembicaraan.


"Iya nih. Keluarga istri lagi kangen sama cucu-cucu nya." Pak Ahmad tetap menampilkan senyum merekah untuk menghormati pertanyaan sang tetangga.


"Ke sini sendiri pak? Anak-anak tidak ikut?" Wildan mencoba melihat ke sekeliling pak Ahmad, tapi tak mendapati apa yang di cari sama sekali.

__ADS_1


"Si kembar masih tidur, maklum hari minggu," jawab Pak Ahmad.


Keduanya duduk sambil berbincang tentang kepulangan Pak Ahmad ke kampung. Hampir satu Minggu mereka pulang ke kampung halaman sang istri. Padahal biasanya para papa itu selalu bekerja sama atau sekedar bertemu untuk berbincang.


Saking semangatnya saling bercerita, Wildan sampai lupa Aya. Gadis kecil itu sudah selesai dengan es krim dan sekarang tengah menekuk wajahnya sebal.


"Kak, Aya laper." Nindia mengerti maksud sang adik. Tentu saja jika gadis kecil kesayangan Wildan ini tengah merasa lapar. Setelah bangun tidur dia langsung diajak pergi ke taman.


"Ayo makan," ucap Arya yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.


Arya mengenakan setelah olahraga yang membentuk tubuh atletisnya. Sebuah baju olahraga tanpa lengan dan celana traning panjang. Kedua telinga laki-laki dewasa itu di sumpal dengan sepasang earphone. Ditambah peluh yang menetes membuat daya pikat bertambah berkali-kali lipat.


"Kok Kak Arya sok ganteng di sini?" tanya Aya disertai senyum meledek.


Arya menyipitkan mata mendengar ucapan Aya. Tanpa aba-aba ia menekan kedua pipi adiknya hingga mengerucut. Setelah itu, ditarik hingga gadis kecil itu menjerit dengan sangat keras.


"Ayo cepetan. Mau makan nggak, katanya laper," Arya pergi begitu saja meninggalkan Aya dan juga Nindia yang terpaku dengan kehadirannya.


Setelah merasa Aya sudah nyaman, Nindia duduk di depan gadis kecil itu. Arya yang selesai memesan juga duduk di samping Aya. Laki-laki itu mengambil selembar tisu, lalu menarik tangan Aya ke hadapannya.


Di usap beberapa kali tangan Aya. Ternyata ada beberapa bekas tetesan es krim yang menempel di tangan mungilnya. Selesai, ia membuang bekas tisu itu di tempat sampah.


"Kakak kok ada di sini?" tanya Aya keheranan. Bukankah tadi pagi ia hanya pergi bersama Wildan dan juga Nindia.


"Kakak udah ke luar dulu sebelum kalian. Mau joging," ucap Arya menatap wajah adiknya dengan seksama. Bahkan laki-laki itu tak ragu meletakan ke dua tangannya di bawah dagu.


Aya yang merasa risi dengan hal itu langsung saja menjauhkan wajah sang kakak. Tapi, bukan Arya yang namanya jika langsung tersingkir dengan usaha kecil Aya.


Untung saja sebelum pertengkaran kakak beradik itu dimulai, penjual buburnya sudah mengantarkan makanan. Tiga mangkuk bubur ayam telah tersaji, membuat perut meronta-ronta untuk segera menyantapnya.

__ADS_1


Arya mengambil sendok dan garpu. Membersihkan terlebih dahulu dengan tisu sebelum di berikan kepada Aya. Gadis kecil itu bahkan sampai merinding dengan tindakan yang dilakukannya sejak tadi.


"Kakak lagi demam ya?" tanya Aya dengan nada yang takut-takut.


Arya menatap tajam sang adik. Laki-laki itu langsung saja menyentil dahi Aya. Tanpa sengaja menatap mahkota bunga yang masih tersemat, membuat ia sedikit tersenyum.


Adiknya memang sangat cantik, jadi wajar bila memakai apapun pasti cocok. Apalagi kulit Aya yang putih ditambah dengan pipi yang tembem. Rasanya ia jadi bangga karena memiliki adik seperti Aya.


Mereka makan dengan tenang dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Arya mengaduk bubur menjadi satu dan menambahkan beberapa sambal ke dalam mangkuk. Berbeda dengan Aya dan Nindia yang makan dari pinggir.


"Ada apa tuan?" Nindia terlonjak kaget saat tiba-tiba Arya menyorongkan wajah ke arahnya dengan sebuah tisu yang berada di tangan.


Arya berdehem dan kembali duduk di kursinya. Memberikan selembar tisu dan mengkode Nindia bahwa ada bekas bubur di bawah mulutnya.


Nindia menerima tisu itu dan membersihkannya sendiri. Melirik ke kanan dan ke kiri. Banyak orang yang sedang berbisik-bisik menatap ke arahnya. Walaupun terjadi sangat cepat, tapi itu mampu menarik berpasang-pasang mata untuk melihat.


Bagaimana mereka tidak melihat, jika Arya saja sudah jadi bahan tontonan sejak pertama kali datang. Perlakuan manis ke Aya dan paras tampan membuat daya pikatnya bertambah.


"Kakak!" Aya menepuk bahu Arya keras.


Aya merasakan hawa canggung, padahal Arya masih sama tak banyak bicara seperti biasa. Pipi Nindia juga bersemu merah. Menghela nafas lelah dengan kelakuan kakaknya yang tiba-tiba seperti tadi.


Bubur di mangkuk sudah habis. Arya berdiri untuk membayar makanan mereka. Matanya melebar ketika tak merasakan gumpalan kertas yang tadi pagi ia masukan.


Arya mengkode Nindia untuk datang menghampiri. Merasa terpanggil, gadis itu mendekati Arya. Setelah mengerti apa yang di alami tuan mudanya, ia langsung saja mengeluarkan uang yang ada di saku roknya.


Untung saja ada sisa uang belanja kemarin yang terlupa diberikan kembali ke Wildan. Aya menahan senyum ketika melihat Arya tersipu malu dengan apa yang baru saja terjadi.


Mereka kembali untuk menjemput Aya. Gadis itu pun bertanya, "Ada apa kak?"

__ADS_1


Nindia hanya menggelengkan kepala dan memberikan senyum tipis. Membuat kerutan di wajah adik Arya itu.


__ADS_2