Kasta

Kasta
7


__ADS_3

semua ini hanyalah karangan belakang. mohon untuk tidak ditiru.


“Kak, kakak kamarnya ada di samping kamar Aya saja ya kak?”


“Terserah Aya aja mau bagaimana, kakak bakalan ikut sama semua kemauan Aya,” jawab Nindia masih dengan mendorong kursi roda Aya.


“Yeee, Bolehkan kan kak Arya kalau kak Nindia kamarnya ada di sebelah kamar Aya?”


“Hm”gumam Arya keras diberikan kepada sang adik, menandakan dia tidak senang dengan permintaan Aya.


Bagaimana ia tidak jengkel kalau kamar yang selama 3 tahun ini ia tempati agar masih bisa menjaga sang adik harus diberikan kepada seorang pengasuh. Kehadirannya sangat tidak dianggap dengan baik oleh adiknya sekarang.

__ADS_1


Dengan terpaksa, arya mengemas semua barang-barang dan membawa ke dalam kamar miliknya yang asli di lantai 2.


Sebenarnya semua kamar anggota keluarga utama ada di atas, tapi karena kejadian yang membuat Aya tidak bisa berjalan akhirnya membuat gadis kecil itu pindah ke lantai bawah. Itupun harus di renovasi terlebih dahulu, agar nyaman ketika digunakan. Sedangkan Arya selalu mengikuti sang adik, sehingga lebih mudah untuk menjaga dan menurut i kemanjaan Aya.


Setelah dirasa tuan mudanya keluar dari kamar yang akan ia tempati, Nindia mulai melangkahkan kaki dengan perlahan. Kamar ini bernuansa maskulin sekali. Seluruh tembok dicat dengan warna hitam dan putih. Penerangan yang temaram dan tempat tidur yang klasik.


Harum dari sang tuan muda juga masih tercium di kamar ini. Nindia merasa sangat tidak pantas bila menerima kamar yang begitu mewah seperti ini. Dia hanyalah seorang pengasuh bukan? Harusnya ia tidur di kamar belakang yang seadanya saja. Tidak harus samapai seperti ini juga.


“Bagaimana kak Nindia? Apa kakak suka dengan kamar ini?”


“Oh iya kak, tadi papa membelikan beberapa baju untuk kakak, karena kakak tidak membawa apapun kemari kan?”

__ADS_1


“Kenapa harus repot-repot Aya? Kakak kan bisa membeli baju bekas yang sesuai untuk kakak pakai dan memakai uang kakak sendiri.”


“Untuk apa membeli yang bekas kalau bisa membeli yang baru kak Nindia?”


Nindia menghela nafas, fikiran Aya masihlah polos dan belum mengerti akan harga diri yang ditanam dalam hati Nindia, walaupun begitu dia juga tak bisa membuat hati gadis kecilnya sedih. Lagi-lagi dia hanya bisa mengikuti kemauan sang nona muda.


Akhirnya mereka mengobrol hingga akan mendekati waktu makan siang. Dari informasi yang dia terima dari Aya keluarga ini jarang di rumah, maka dari itu Aya bisaanya akan memesan makanan untuk ia makan pagi, siang dan malam.


Sungguh gadis yang malang. Seharusnya di umurnya sekarang ia berada di keluarga yang hangat dan penuh dengan perhatian. Pelukan, masakan rumah, canda gurau.


Namun itu semua tidak dia dapatkan saat ini.

__ADS_1


Dengan tekad yang penuh Nindia mengajak Aya untuk memasak bersama. Sebenarnya Nindia ingin memasak sendiri, tapi Aya terus saja merengek agar mau membawanya.


Akhirnya Nindia hanya bisa mengiyakan kemauan dari Aya. Dia akan memberikan pekerjaan yang dirasa mudah untuk Aya. Sepertinya waktu memasak kali ini akan sedikit lebih lama dari biasanya.


__ADS_2