Kasta

Kasta
Kepergian


__ADS_3

Pesawat pribadi Alvan mendarat mulus di bandara Itali jam satu malam. Mobil sedan hitam sudah menunggu di anak tangga pesawat.


"kemana kita, tuan?"


Sopir pribadi Alvan bernama Abas sudah menunggu di pintu mobil.


"Ostia."


Kota Ostia terkenal dengan sebutan Mafia by the sea. Mafia politik ada di Ostia termasuk organisasi Pagata.


"apa kau tidak ingin istirahat terlebih dahulu di hotel hingga pagi tiba?"


Vladimir memberi saran.


"baiklah, kita ganti haluan, kita akan ke hotel terdekat."


Abas mengangguk, memutar setir.


Sembari istirahat di hotel, Alvan kembali mengingat masa lalu kelamnya. Kenangan itu terus berputar di kepalanya, tidak pernah hilang.


******


Sore menjelang malam. Alvan dan teman-temannya berpisah di pertigaan jalan, "makasih ya, zah. Tadi udah mau dateng ke turnamen. Sama kue bolunya enak banget, kapan-kapan aku pesen buat acara."


Azizah tersipu malu. Chain hanya bisa menahan tawa, di sisi lain rasanya Chain ingin menghancurkan dunia saat setiap hari dia melihat dua temannya saling bermesraan satu sama lain.


Sepanjang jalan Azizah hanya senyum-senyum sendiri seperti orang sinting. "ngapa Lo? Udah mulai kena psikisnya nih bocah."


"apa si Lo,"


Azizah memukul Chain dengan Tote bag berisi tempat makan.


"eh, sakit tau. Itu kan isinya tempat makan."


"bodo amat,"


Alvan sudah sampai di rumahnya. Suasana rumah sangat hening. Biasanya jika waktu sudah menjelang malam, kakek Alvan sedang memasak untuk makan malam. Tapi entah kenapa malam ini suasana rumah sangat sepi.


"kek, Alvan pulang."


tidak ada jawaban. Rumah gelap gulita, hanya menyisakan cahaya bulan yang masuk menembus jendela rumah panggung kayu Alvan.


Alvan berjalan pelan-pelan sambil meraba-raba tembok, mencari saklar lampu. Saat lampu sudah dinyalakan, betapa terkejutnya Alvan melihat seluruh isi rumah sudah berantakan. Piring pecah, buku berserakan di lantai, kaca jendela pecah, kacanya berhamburan ke lantai.


Terlebih lagi yang membuat Alvan kaget, betapa banyaknya bercak darah di lantai.


Lutut Alvan seketika lemas begitu melihat kakeknya sudah tergeletak pucat bersimbah darah di sofa ruang tamu. Alvan jatuh berlutut. Luka sayatan benda tajam terlihat jelas di leher kakek Alvan. Muka kakek Alvan juga terlihat lebam di beberapa bagian. Alvan menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kali sang serigala menangis.


Besok paginya. Warga sekitar dan kepolisian membantu untuk memakamkan kakek Alvan. Warga lebih mengenalnya dengan nama Pak Mul. Beberapa warga ada yang menangis mendengar kepergian Pak Mul yang dikenal sangat baik di kalangan masyarakat. Pak Mul tidak melihat ras, kasta, atau bahkan seberapa kaya orang lain untuk pantas dibantu.


autopsi dan pemakaman berlangsung lancar. Alvan berterimakasih berkali-kali kepada warga dan polisi yang sudah mau membantu. Kini Alvan sudah tidak memiliki siapa-siapa. Ayahnya masuk penjara, Ibunya masuk rumah sakit jiwa karena mengetahui kasus suaminya. Kakeknya Alvan, Mulyadi pun juga pergi tanpa pamit terlebih dahulu dengan Alvan.


Alvan menghempaskan seluruh tubuhnya di atas kasur. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tak lama, polisi pun datang mengetuk pintu.


"kami dari kepolisian."


Orang itu berdiri di depan Alvan sambil menunjukan lencana kepolisiannya.


"kami dengar ada pembunuhan di sini, dan kami ditugaskan untuk menyelidikinya."


Alvan menunduk. Dia tak bisa lagi menahan tangisnya setelah berjam-jam dia tahan di depan warga yang membantu memakamkan kakeknya.


Air matanya terus mengalir jatuh. Kedua polisi itu hanya bisa diam, membiarkan Alvan menangis. Hal seperti ini bagi Polisi sudah hal yang lumrah. Sudah ratusan ibu yang menangis mengetahui anaknya mati dalam tawuran. Sudah ratusan ayah yang menangis mengetahui anak gadisnya mati terbunuh karena motif percintaan.


Kedua polisi itu diizinkan masuk oleh Alvan, mereka mengobrol di ruang makan. Bercak darah masih ada di lantai rumah dan di sofa, Alvan tidak kuat untuk membersihkannya.


"apa kau trauma akan hal ini, nak?"


Alvan diam, bibirnya terlihat pucat.


"jika kau trauma akan sesuatu, kau bisa hubungi pihak kepolisian untuk mendapatkan fasilitas rumah sakit gratis."


Alvan kali ini menggeleng. Dia memang trauma sedikit, tetapi jika dipikir-pikir mau kakeknya dibunuh atau tidak, pasti umurnya tidak akan lama lagi, mengetahui umurnya yang sudah 80 tahun. Kedua polisi itu menghela napas.


"jika kau gak kuat, kami akan datang di lain hari, bagaimana? Tapi autopsi akan kami lakukan hari ini."


Alvan menggeleng.


"tidak apa-apa, pak. Saya bisa menceritakan semuanya."


"baiklah, mari kita mulai interogasinya ya, nak."


Alvan mulai menceritakan seperti apa yang dia lihat kemarin malam. Kedua polisi itu sibuk mencatat poin penting yang diucapkan oleh Alvan.


"baiklah, tim autopsi akan datang beberapa menit lagi. Mereka akan mengamankan bagian ruang tamu."


"iya, pak."


Sembari menunggu tim autopsi, polisi mengobrol santai dengan Alvan. Lima menit berlalu, tim Autopsi telah tiba. Polisi memberikan garis polisi di ruang tamu. Memfoto bagian bercak darah dan hal penting lainnya.


kedua polisi itu sibuk berbincang. Alvan hanya duduk di ruang makan tidak berdaya. Alvan tidak diperbolehkan ke mana-mana selagi penyelidikan masih berlangsung.


"mereka masuk melalui jendela, lalu menyerang korban yang sedang tidur di sofa. Mereka menyerang dengan pisau daging, dipukul terlebih dahulu lalu korban disayat. Sang korban sempat melawan tetapi sayangnya pelaku lebih dari satu."


Kapten polisi memberikan penjelasan setelah penyelidikan berlangsung tujuh hari lamanya.


"siapa pelakunya?"


Chain sedang menemani Alvan bertanya kepada kapten polisi yang datang ke rumah Alvan.


"mereka dari organisasi gangster, ini akan sedikit rumit."


Chain menatap Alvan. dude, kau punya masalah dengan gangster? Seperti itulah maksud dari ekspresi wajah Chain.


Alvan mengangkat bahu. Seingat dia, dia tidak pernah memiliki masalah dengan Gangster.


"kami belum tahu pasti, tapi kemungkinan mereka datang karena memang ada masalah pribadi. Jika mereka datang untuk mencuri, lihat, tidak ada barang rumahmu yang hilang kan? Seperti yang kau katakan kemarin."

__ADS_1


Mungkin ini masalah Pak Mul dengan Gangster bukan masalah Alvan yang menyebabkan hal ini terjadi.


Alvan berusaha mengingatnya dengan keras, tetapi dalam ingatannya memang dia tidak pernah melihat kakeknya berurusan dengan gangster.


"apa bapak tau siapa nama organisasi gangster itu?"


"untuk saat ini kami belum menemukannya."


Chain mengangguk. Jalan buntu, tidak ada pengunjuk. Pintu rumah diketuk, Azizah datang membawa bolu, berkunjung sekalian menemani Alvan yang sedang berkabung.


Chain memakan lahap bolu coklat di meja makan. Kapten polisi masih menjelaskan tentang kasus terbunuhnya kakek Alvan.


"mungkin pelaku akan ditangkap besok atau dua hari lagi. Bersabarlah, Alvan."


Kapten Polisi pamit pergi, masih banyak tugas yang harus dia lakukan.


Mereka bertiga mulai berdiskusi. Mencari tahu siapa organisasi gangster yang menyerang kakek Alvan.


"apa mungkin preman desa?"


Chain sembarang menebak.


"semua preman desa tidak pernah berurusan dengan kakek Alvan. Aku pernah mendengar cerita, preman desa sedang ribut dengan penjaga toko, secara tiba-tiba mereka diam ketika kakek Alvan datang untuk membeli sekilo telur. Kakek Alvan menepuk-nepuk pipi preman itu, lalu mereka terbirit-birit seperti anak kecil yang sedang melihat hantu."


Azizah mendengar cerita itu dari ibunya yang kebetulan juga sedang di toko kelontong membeli keperluan bulanan.


"Apa preman itu masih ada?"


Alvan bertanya penasaran.


"Mungkin. Mereka biasa berkumpul di pasar desa, bosnya bernama Acong."


Chain menatap Alvan, dia merasakan hal yang tidak enak.


"Aku akan ke sana nanti sore."


"untuk apa?"


Azizah berdiri, kaget. Alvan tidak menjawab karena Azizah sudah pasti tahu jawabannya.


Matahari sudah ada di ujung timur. Alvan menaiki sepedah bergegas pergi ke pasar. Setiap orang yang ditanyakan Acong, mereka semua berkata tidak tahu dan bergegas pergi.


"misi, bang."


"ha? Saya gak punya receh."


"saya kemari mau nanya keberadaan Acong."


"Acong? Hahahaha, buat apa nyari bos?"


"Saya ingin membahas tentang Pak Mulyadi."


"Pak Mul?!"


Orang itu terkejut ketika mendengar nama pak Mul.


Acong dan anak buahnya berada di lantai dasar tempat perdagangan ikan-ikan segar. Mereka sedang bersenang-senang bermain kartu.


"Ngapain Lo bawa anak kecil kemari?"


"dia ingin membicarakan tentang pak Mul."


"Bos Mul?"


Acong bergegas merapihkan duduknya.


"Hei, nak. Kau siapanya Pak Mul?"


"Saya cucunya."


Acong menyuruh anak buahnya memesan mie ayam untuk Alvan.


"Jadi, apa yang terjadi dengan Kakekmu, nak?"


"Beliau meninggal dibunuh kemarin malam."


Acong mengusap wajah, prihatin.


"Siapa namamu, nak?"


Anak buah Acong sudah membawa dua mangkuk mie ayam diletakkan di meja.


"Alvan."


"Mulyadi memiliki nama cucu yang tak kalah bagus dengan anaknya, aku bahkan baru bertemu dengannya hari ini." Acong menuangkan sambal.


"Mulyadi, kakekmu, dulu dia adalah orang paling hebat dalam berkelahi di desa sebelah, hanya sedikit orang yang tahu informasi tersebut. Di desa ini yang mengetahui hal itu hanyalah aku dan anak buah ini."


"Sehebat apa kakekku sampai kau takut?"


"Dia adalah ketua preman di desa sebelah dan aku adalah salah satu anak buah kepercayaannya. Dia paling berkuasa. Seluruh pasar dijarah olehnya. Tidak mau bayar iuran? Siap-siap tokomu akan hancur entah itu diacak-acak atau bahkan dibakar."


Alvan menelan ludah. Dia tidak percaya jika kakeknya yang selalu tersenyum kepada warga sekitar, selalu membantu, dan rajin berkebun, memiliki masa lalu se-menyeramkan yang diceritakan Acong.


"Tapi dia secara misterius menghilang entah kemana. Kami mencari hampir selama 5 tahun hingga di desa ini. Anak buahku akhirnya berhasil menemukan Mulyadi di toko kelontong yang hendak membeli sekilo telur. Mereka terkejut. Mulyadi menepuk pipi mereka sambil berkata, jangan ganggu aku lagi, kini hidupku jauh lebih baik, tinggalkan aku, dan hiduplah dalam keinginan kalian masing-masing."


"Aku hendak bertemu dengannya tetapi anak buahku menyarankan untuk jangan melakukannya atau kita akan mengingkari perintah ketua."


Acong tertegun. Tangannya yang hendak menyumpit mie ayam terhenti. Mata Acong berkaca-kaca.


"Anak buahku baru bertemu setahun yang lalu, bahkan aku belum bertemu dengannya tetapi beliau sudah-"


Perkataannya berhenti diujung kalimat. Isak tangis tak tertahankan.


"Aku bangga memiliki ketua seperti kakekmu, Alvan. Meski dia jahat di mata orang lain, dan di mata pelanggan, tetapi dia sering membantu pedagang mengangkut barang, benar-benar menjaga pasar dari copet dan maling. Tak terhitung sudah berapa maling yang dia pukuli. Dia terpaksa menghancurkan toko yang tidak mau bayar karena dia butuh uang untuk menafkahi keluarganya."


Acong mengusap pipinya dengan tissue.

__ADS_1


"Masih terbayang di kepalaku betapa ramah wajahnya ketika tersenyum."


*****


Selesai makan Alvan hendak membayar tetapi Acong melarangnya.


"Anggap saja ini adalah hadiah terakhir dariku untuk Mulyadi, Alvan." Acong tersenyum ramah.


*****


Kembali ke masa sekarang.


Alvan tidak menutup matanya sedari malam hingga pagi tiba. "Kau tidak tidur lagi, Alvan?" Vladimir masuk kedalam kamar Alvan sekalian memberikan sarapan yang dia ambil di restauran hotel.


"Lebih baik kau rutin minum obat kembali, Alvan."


Alvan tidak mendengarkan, dia sibuk mengikat dasi.


"Jika terus begini kau akan mati dengan wajah seperti panda."


"Kau bukan orang tuaku."


Alvan menjawab dingin memasukkan pistol ke dalam saku belakangnya.


Mereka berdua turun ke basemen bersiap menuju markas Pagata.


"Apa kau telah menghubungi Kara jika kita ingin berkunjung?"


Vladimir mengangguk. Dia sudah menghubungi Kara sejak di pesawat bahwa mereka ingin berkunjung dengan damai.


Mobil sedan hitam yang dikendarai Alvan memasuki jalan-jalan sempit. Orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Sangat sedikit orang yang tahu tentang kota Ostia. Bahkan, di dalam internet pun hanya sedikit website berita yang membahas tentang kejahatan kota Ostia. Jika mereka mencari di internet Ostia City Roma, maka yang keluar hanyalah penginapan hotel, pantai, tempat wisata, dan lain-lain. Mereka (jurnalis berita) lebih memilih diam dari pada nyawa. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang diperbuat oleh Pagata di kota Ostia.


Markas Pagata berada di dekat pantai, pintu gerbang yang persis menghadap ke arah pantai terbuka pelan.


Penjaga memeriksa Alvan dan Vladimir. Pistol, pisau, koin, kertas, dan kartu nama ditahan oleh penjaga.


"Maaf jika keamanan kami seketat ini, Alvan."


Kara datang menghampiri Alvan di pintu masuk, "silahkan masuk."


Alvan memanggil pelayan, "mau minum apa?"


"Kami datang kemari bukan untuk minum-minum."


Alvan menjawab dingin.


"Kau sama seperti dulu saat kita baru bertemu, Alvan. Kau mengingatkan ku pada masa lalu." Kara tertawa kecil.


"Baiklah, apa yang ingin kau bahas?"


Alvan menghela napas panjang.


"Dewan 4 di negara kami bernama chain dibunuh kemarin malam di sel-nya."


"yeah, aku sudah mendengar berita itu. Sangat ramai di internet, bahkan jika televisi aku nyalakan sekarang akan ada wajah chain di situ."


"Apa itu ulah organisasi mu?"


Kali ini Kara tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.


"Hahahaha, aku tidak bisa berhenti tertawa."


Alvan dan Vladimir saling tatap.


"jika iya, memang kenapa?"


Alvan berdiri setelah mendengar jawaban Kara.


"Terimakasih atas jamuannya."


"hei, aku cuman bercanda. Duduklah."


Alvan kembali duduk.


"Pelaku dari pembunuhan chain bukanlah aku atau bahkan dari anak buahku. Tetapi, aku pernah mendengar isu baru-baru ini jika ada organisasi yang lebih besar dari pada Cruz."


"Bullshit. Itu tidak pernah ada, organisasi Cruz adalah raja dari pasar gelap."


Vladimir menunjuk-nunjuk Kara.


"Hei, nak. Apa kau tahu peraturan dalam bertamu antar ketua organisasi?"


Salah satu peraturan dalam pertemuan ketua organisasi adalah tidak saling tunjuk karena dianggap tidak ada rasa hormat.


Alvan mengangkat tangan, "maafkan dia, Kara. Dia anak baru." Kara tertawa lagi. "Aku hanya bercanda, Alvan."


Alvan menghela napas. Kara memang selalu seperti ini, selalu saja bercanda. Pernah suatu hari markas Buntar' secara tiba-tiba mendapat kabar jika markasnya diserang. Seluruh anak buah yang sedang tidur segera bangun mengambil senjata masing-masing.


Dengan percaya diri Kara masuk ke dalam markas dengan tangan kosong dan tanpa anak buah. Ternyata hanya Kara yang hendak berkunjung. Dia tertawa lebar tidak berhenti. Anak buah Buntar' memasang muka masam.


*****


Kara menyisir rambutnya dengan tangan penuh hiasan tatto.


"Aku sedikit percaya dengan isu itu, Alvan. Masalahnya akhir-akhir sahamku sedikit menurun, sedangkan aku tidak menemukan masalah sedikitpun dalam perusahaan ku."


"Hanya itu?"


"Tidak, beberapa anak buahku yang ditugaskan menjaga pelabuhan juga menghilang. Beberapa ditemukan tidak bernyawa di dalam perahu.


Isu ini masih belum bisa dipastikan tetapi aku sudah yakin jika adanya organisasi yang selama ini bersembunyi dan telah menunjukan batang hidungnya."


"Apa nama organisasi itu?"


"Mereka sering disebut-sebut dengan istilah Kasta."

__ADS_1


__ADS_2