
"Waktunya pulang," teriak Andra di depan kelas.
Laki-laki itu terlalu bersemangat karena bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua murid tentu sangat bahagia jika mendengar bel pulang. Mereka yang seharian belajar akhirnya bisa beristirahat di rumah.
Seketika laki-laki itu mendapat tatapan tajam dari guru BK yang baru saja keluar dari kelas sebelah. Andra nyengir dan memberi salam kepada sang guru. Menahan diri agar tidak keceplosan lagi.
Andra menghela nafas ketika tidak lagi melihat punggung guru BK. Menghampiri Arya, Indra dan juga Sukma yang telah terlebih dahulu meninggalkannya.
"Hari ini main ke rumah Arya lagi yok," ajak Indra setelah berhasil menyusul teman-temannya.
"Nggak bisa." Arya menjawab dengan cuek.
"Kenapa sih?" Indra menautkan alis dan mencegah Arya yang akan berjalan berbelok. Berdiri di depan laki-laki dengan tangan yang merentang.
"Ada ekstrakulikuler hari ini. Kalian pulang aja dulu." Arya menyingkirkan Indra yang masih tidak bergeming dari hadapannya.
Mendahului si kembar, Arya melanjutkan langkahnya bersama Sukma. Baru tiga langkah laki-laki itu kembali berhenti. Matanya yang semula menatap tanah dengan tatapan sayu kini memandang ke depan.
Ia kenal dengan gadis yang kini memblokir jalannya. Seorang adik kelas yang satu kelas dengannya saat ujian kenaikan kelas lalu. Mereka duduk bersebelahan selama beberapa hari.
"Maaf kak kalau ganggu. Bisa ikut saya sebentar?" ucap gadis itu dengan sangat lirih dan terbata-bata.
Gadis itu menautkan jari telunjuknya. Sepertinya sedang menahan rasa gugup. Mata yang tak fokus terus saja bergerak ke kanan dan kiri. Sudah seperti orang yang gelisah.
Nafasnya gadis itu nampak tak teratur. Meneguk beberapa kali, kerongkongannya serasa kering saat ini.
"Maaf, kalau ada urusan langsung di sini saja," ucap Arya datar. Ia memang di minta datang secepatnya ke Lab Kimia yang berada di lantai dua.
Gadis itu makin tidak fokus. Ia mencoba menengok ke belakang di mana teman-temannya sedang menunggu. Dan yang di dapat hanya kepalan tangan ke atas, tanda memberi semangat.
Gadis itu menarik nafas dalam. Mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan isi hati.
"Itu kak. Kalau saya itu kak, mau ehm jadi pacar kakak. Apa itu ehm boleh?" Gadis itu bersemu merah karena sudah menyampaikan apa yang mengganjal di hati. Walau ia yakin kata-katanya sangat hancur.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana lagi. Ia sangat gugup saat ini. Bahkan tangannya yang bertaut sudah mengeluarkan keringat dingin.
"Maaf ya, tidak bisa," tolak Arya mentah-mentah. Kata yang dingin di tambah wajah datar di tampilkan laki-laki itu, membuat gadis itu tersenyum masam.
Gadis itu menahan tangis yang ingin segera keluar. Setelah menundukkan kepala, ia berlari menghampiri teman-temannya. Menangis tersedu-sedu karena baru saja patah hati.
Indra dan Andra saling berpandangan, kemudian menendang kaki Arya dengan sangat keras. Arya merintih dan menatap tajam si kembar. Sedangkan yang dipelototi tidak gentar sama sekali.
"Lagian senang banget nolak cewek." Andra melipat tangannya di depan dada. Memberikan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja di lakukan Arya.
"Terus kalau aku nggak suka emang harus diterima. Sama aja bikin sakit hati nanti." Arya melanjutkan langkahnya.
"Kalau gitu cari cara biar nggak di tembak!" seru Indra agak keras karena terpaut jarak dengan Arya.
"Ya gimana caranya? Cinta kan nggak bisa memilih ke siapa akan berlabuh. Apa harus aku buat pengumuman dilarang jatuh cinta gitu?" tanya Arya sarkastik. Raut wajahnya mengeras karena selalu disudutkan ketika baru saja menolak ajakan pacaran.
"Cari pacar kalau gitu biar nggak ada lagi yang jatuh cinta sama kamu," ucap Indra setelah sekian lama terdiam.
"Masalahnya sama siapa?"
"Nggak usah yang asli. Pura-pura juga nggak papa. Paling penting mereka tahu kamu bukan orang yang bisa dimiliki lagi."
Arya berhenti melangkah menyebabkan Indra menabrak punggungnya. Baru kali ini ia berpikir yang dikatakan ada benar juga. Padahal biasanya mereka hanya bisa mengatakan hal-hal yang tidak berguna.
"Sukma, kenapa nggak kamu bantu aku kali ini." Gadis yang dari tadi diam mendengarkan saja tersentak dan melotot kan mata.
Tidak terbesit sama sekali ia akan berpacaran dengan Arya, walau itu hanya pura-pura. Lagi pula ia juga tidak memiliki perasaan dengan lelaki itu.
"Sekali ini saja tolong," mohon Arya kembali karena tidak kunjung mendapat jawaban.
Gadis itu hanya mengangguk. Sepertinya juga bukan masalah karena itu hanya pura-pura.
"Langkah selanjutnya yang paling penting. Bagaimana caranya agar satu sekolah tahu kalau kalian pacaran?" tanya Indra kembali.
__ADS_1
"Gosip?" jawab Sukma dengan ragu-ragu.
"Terlalu ambigu. Kita butuh yang lebih kuat." Indra memasang mode berpikir.
"Aku punya ide. Serahin aja sama kita berdua," ucap Andra merangkul sang kembaran tiba-tiba.
Arya mengangguk menyetujui Andra. Mereka kembali berjalan melewati lorong-lorong sekolah. Banyak orang yang belum pulang, sehingga masih cukup ramai. Padahal waktu pulang sekolah sudah terlewat beberapa waktu.
Si kembar melambaikan tangan. Mereka berpisah di sudut lorong. Karena Indra maupun Andra tak memiliki kegiatan lagi. Sehingga ke duanya memutuskan untuk segera kembali ke rumah.
Sukma masih ada janji dengan teman kelas sebelah di ruangan lab, sedangkan Arya memiliki ekstrakulikuler OSN. Keduanya berjalan berdampingan menuju lantai atas gedung sekolah.
"Kau yakin dengan ide tadi?" tanya Sukma memecah kesunyian.
"Kamu ada ide lain?" Sukma menggeleng. Mungkin memang ide itu adalah hal yang terbaik yang bisa mereka lakukan.
"Aku hanya tidak ingin membuat banyak gadis terlalu berharap padaku. Apa salah?" Arya menerawang jauh ke depan.
Bukan salahnya jika ada yang suka. Para gadis itu juga tidak salah, karena hati tidak bisa memilih ke mana ia ingin jatuh cinta. Sebagai pria tentu ia harus tegas.
Jika memang ia tidak suka, maka penolakan adalah hal terbaik. Dia tak mau menggantung dan mempermainkan hati para gadis disini.
Bagaimana ia tega melakukan itu jika Arya juga memiliki adik perempuan. Tentu dia tidak ingin adiknya merasakan patah hati suatu saat ia jatuh cinta.
"Tapi jika kau keberatan, kita tidak harus melakukannya." Arya menghadang langkah Sukma.
Mereka berdua saling bertatapan dalam waktu yang lama. Sukma yang pertama kali memutus kontak itu dan menepuk pundak laki-laki di depannya.
"Kita sudah berteman lama. Kenapa harus aku tidak mau membantu?" kata Sukma santai.
Arya tersenyum dan mengejar langkah gadis itu. Ia tidak menyangka akan memiliki dan akrab dengan seorang gadis sebagai seorang teman.
"Terima kasih," ucap Arya pelan di samping telinga gadis itu.
__ADS_1
Sukma tersenyum dan mengangguk yakin. Ke duanya sangat dekat hingga membuat semua gadis yang ada di sekolah menerka-nerka apa hubungan mereka berdua.