Kasta

Kasta
kesabaran Nindia


__ADS_3

cerita ini hanyalah karangan penulis. Bukan kisah nyata atau pun cerita yang patut dicontoh. ambil baiknya saja ya


Hari berlalu dengan sangat cepat bagi Arya, namun begitu lambat untuk Nindia. Sudah 2 minggu ia ada di rumah yang megah ini. Namun ada saja kejadian yang membuatnya terpojok.


Ingin ia mengatakan kalau bukan ia yang menjadi alasan kejadian-kejadian aneh dua minggu belakangan ini. Tapi, dia hanyalah pengasuh atau bahkan pelayan rendahan yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Dalam hati, ia tahu sebenarnya siapa yang telah melakukan itu semua. Diam adalah satu-satunya hal yang ia pilih untuk menyikapi setiap perkara yang telah Arya buat. Ia hanya berharap laki-laki itu tidak akan membuat hidupnya semakin sengsara, karena itu pasti akan lebih menghancurkannya lagi. Nindia jadi teringat akan kejadian 1 minggu yang lalu.


Flashback


Ketika ia sudah selesai menyapu halaman belakang. Nindia beralih ke tugas berikutnya, yaitu memasakkan makan siang untuk anggota keluarga ini.


Siapa sangka saat ia tidak sengaja melewati tempat menjemur pakaian, semua baju dan celana jatuh ke atas tanah. Padahal, tadi Nindia yakin sudah menjepit pakaiannya dengan benar dan tentu juga kuat bila diterpa oleh angin.

__ADS_1


Ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan. Dalam hati berkata, pasti ini kerjaan tuan mudanya lagi untuk mencari kesalahan-kesalahan yang ada pada dirinya.


Berjalan dengan perlahan-lahan. Nindia menghembuskan nafas lelah. Selalu saja seperti itu. Arya tidak pernah kehabisan ide untuk berbuat jahil.


Pekerjaannya akan menjadi 2 kali lipat bila seperti ini terus. Sabar dan pasrah yang ditekankan oleh hati Nindia. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan sekarang?


Nindia mengangkat salah satu baju putih yang paling dekat dengannya sekarang. Tadi, ia menjemur ketika bajunya sudah setengah kering. Jadi, seharusnya itu tak akan membuat bajunya terlalu kotor. Setidaknya, hanya akan ada sedikit noda.


Tapi harapan Nindia harus pupus begitu saja ketika ia melihat tanah yang tadi kering menjadi gumpalan lumpur yang sangat kotor. Ia melihat ke sisi belakang baju itu.


Pasti akan sangat susah untuk mencuci semua baju ini lagi. Apalagi lumpurnya yang sudah mulai mengering di baju. Nindia harus menyiapkan tenaga ekstra hari ini.


Mengambil ember pakaian yang ada di pojok ruangan dan menaruh semua baju kotor itu menjadi satu. Nindia kembali membawanya ke ruang mesin cuci. Ia akan meredam semua baju-baju ini untuk sekarang. Agar nanti tidak meninggalkan bekas lumpur.

__ADS_1


nada yang kelewat datar. Siapa saja pasti akan mengkerut ketakutan.


Nindia hanya bisa berharap ada Tuan Wildan ataupun Aya yang tidak sengaja mendengar perkataan Arya yang kelewat dingin itu dan menyelamatkan hidupnya sekali lagi. Dan Tuhan sepertinya sedang berbaik hati kepada Nindia.


“Kakak ini apa-apaan sih. Kemeja jelek aja dipermasalahin kayak gitu. Aya yakin kakak bisa beli kemeja baru yang lebih mahal kan?”


gadis itu menangis untuk saat ini bila ada adiknya.


Mengalah untuk menang adalah siasat Arya untuk saat ini. Ia akan mencari cara lagi untuk membuat Nindia menangis hingga tersendat–sendat. Entah mengapa ia sangat suka sekali jika Nindia hanya bisa diam tak berkutik karena dirinya. Walaupun terkadang hatinya tercubit dengan tanpa alasan saat melihat gadis cupu itu mulai terisak-isak menahan tangisnya.


Flashback


Jika mengingat tentang hal itu Nindia jadi sangat bersyukur Aya keluar dari kamar karena ingin meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas. Karena, sampai sekarang Nindia masih saja tak bisa melawan Arya sendirian tanpa bantuan dari Aya maupun Tuan Wildan.

__ADS_1


“Kak Nindia, ajari Aya masak dong.”


__ADS_2