Kasta

Kasta
Taman


__ADS_3

cerita ini hanyalah karangan penulis. Bukan kisah nyata atau pun cerita yang patut dicontoh. ambil baiknya saja ya


Pagi yang cerah kembali menyapa. Burung-burung berkicau menyapa gendang telinga setiap insang di bumi. Udara dingin berhembus menusuk kulit. Hujan baru saja berhenti setelah semalaman suntuk mengguyur perumahan elit itu.


Nindia yang memang pada dasarnya adalah gadis yang rajin, kini sudah bangun. Rambutnya yang panjang diikat menjadi satu. Wajahnya tampak bersinar karena selesai beribadah. Tidak tampak sama sekali wajah kuyu setelah bangun tidur di wajah gadis remaja itu.


Nindia keluar dengan rok panjang hingga mata kaki. Tak lupa sebuah kaos kaki yang membalut kaki putih pucat nya. Baju lengan panjang dengan bahan tebal dipilihnya, karena udara yang dingin. Kalau di lihat dari jauh, benar-benar tak ada se inci pun kulit Nindia yang terlihat.


"Pagi ini udara rasanya sejuk, tapi juga aku tidak berani pakai lengan pendek." Nindia bermonolog sendiri. Mengikis keheningan yang mengelilingi nya.


Kaki Nindia melangkah tanpa henti. Mematikan satu per satu saklar lampu. Dari halaman depan, hingga ruang-ruang di setiap sudut rumah.


Nindia menyatukan tangan, menggosokkan dengan kuat. Berharap kehangatan dapat menjalar dari gesekan itu. Bersiap membuka lemari es untuk mengambil beberapa bahan masakan.


"Nin," panggil sebuah suara menghentikan Nindia yang akan mengambil sepotong tomat.


Ia menoleh ke belakang dan mendapati Tuan Wildan berjalan menuruni tangga. Paruh baya itu mengenakan jaket tebal dipadukan dengan celana training panjang. Tak lupa sepatu olahraga yang terlihat sangat mahal.

__ADS_1


"Kau mau memasak?" Wildan bertanya untuk memastikan apa yang akan dilakukan oleh Nindia.


"Iya tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Nindia dengan sopan.


Wildan mengibaskan tangan ringan. Setelah itu, memasukan tangannya yang mulai membeku kembali ke saku jaket. Ia lalu berkata, "Panggil saja dengan ayah. Tidak ada Arya di sini."


Nindia hanya mengangguk mengiyakan permintaan Wildan. Lagipula, bukankah seharusnya dia yang senang karena diperbolehkan untuk lebih akrab dengan keluarga ini.


"Hari ini tidak usah buat sarapan Nin. Kita cari makanan saja di luar, sekalian jalan-jalan pagi," kata Wildan setelah sekian lama terdiam. Mencoba menormalkan suhu tubuh.


"Tolong pakaian Aya jaket tebal. Dia pasti kedinginan dengan suhu yang seperti ini," ucap Wildan agak keras karena Nindia sudah berada di ambang pintu kamar Aya.


Melihat Nindia sudah mengganggukkan kepala, Wildan langsung saja berjalan ke luar rumah. Benar saja suhu di luar rumah semakin menusuk. Tapi, ini justru membuat segar untuk orang yang sedang berolahraga. Wildan pun merenggangkan tangan, menghilangkan kaku-kaku yang ada di otot.


Tak menunggu waktu lama, ke dua gadis itu sudah ke luar dari rumah. Nindia melakukan permintaan Wildan dengan sangat baik. Aya nampak sangat imut dengan celana legging berwarna moccha dipadu dengan jaket besar dan tebal hingga menutupi semua leher gadis kecil itu.


"Masih mengantuk?" tanya Wildan.

__ADS_1


Tangan laki-laki paruh baya itu masih berada di pucuk kepala Aya, setelah tadi ia mengusapnya sebentar. Gadis kecil kesayangan Wildan itu masih mengerjapkan mata dan kadang juga kembali terpejam. Sungguh manis sekali di mata sang papa.


Ketiganya berjalan bersisian. Wildan di sebelah kanan, sedangkan Aya yang di dorong oleh Nindia berada di kiri. Minggu pagi memang hari yang cocok untuk olahraga bersama orang-orang tersayang.


Di sepanjang jalan ada banyak macam orang. Dari yang tua hingga yang muda. Mereka yang berpasangan, atau sendirian joging di pagi hari.


"Pa, dingin." Aya mengerucutkan bibir lucu, membuat Wildan Ingin sekali mencubitnya.


"Sudah bangun sepenuhnya?" sindir Wildan yang bisa melihat mata sang putri telah terbuka dengan sangat lebar. Begitu jernih dan penuh dengan kepolosan.


"Aya tadi masih ngantuk, tapi pengen ikut. Kak Nin bilang mau jalan-jalan sih." Aya berceloteh di sisa perjalanan mereka menuju taman komplek. Nindia maupun Wildan tak keberatan sama sekali dengan hal itu. Justru mereka senang melihat Aya yang ceria.


Se sampainya di sana, banyak sekali orang yang sedang berolahraga. Ada juga yang sedang santai duduk ditemani semangkuk bubur sebagai sarapan. Saling bercengkrama sesama tetangga.


Melihat taman yang hijau dipenuhi dengan berbagai macam tanaman dan bunga. Aya ingat di mana ia pertama kali bertemu dengan Nindia. Seketika, Aya antusias dan menatap Nindia yang masih setia mendorong kursi rodanya


".

__ADS_1


__ADS_2