
"Benar tidak perlu papa antar sampai kelas?" tanya Wildan yang masih khawatir kepada Aya. Saat tadi ia akan mengantarkan sang putri ke kelas, Wildan justru di tolak mentah-mentah.
Aya berkeras akan masuk ke kelas sendiri. Bahkan ketika ia sudah duduk di kursi roda, gadis kecil itu langsung berpamitan. Memutar kursi rodanya sendiri ke dalam sekolah.
Wildan mencoba mengejar, tapi masih saja penolakan yang ia terima. Berat hati sang papa melepas putrinya sekolah. Matanya masih saja menatap Aya yang sudah menjauh.
Seketika air mata menetes ke pipi. Ia teringat dengan kejadian naas itu. Andai saja mereka tidak memaksakan pergi liburan, pasti sekarang Aya masih bisa berjalan dengan normal. Sang istri juga akan tetap ada di sampingnya.
Wildan menggelengkan kepala beberapa kali. Menjauhkan segala kenangan yang menyesakan dada. Ia harus bisa menatap ke depan dan menjadi sosok papa yang bisa di banggakan oleh putra dan putrinya.
"Papa selalu berdoa untuk kebahagian kalian," monolog Wildan pelan lalu kembali masuk ke dalam mobil. Melajukan kendaraan beroda empat itu ke kantornya.
Aya telah sampai di kelas. Menempatkan kursi roda miliknya di meja paling depan. Di tempat yang memang sedari awal tidak sediakan bangku, agar mempermudah bagi gadis kecil itu. Ia bahkan tak memiliki teman duduk saat ini.
Aya melihat ke sekeliling, banyak teman yang sudah datang. Hal itu wajar karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.49 WIB. Tentu para siswa-siswi harus sudah ada di sekolah, jika tidak ingin terlambat.
Semua nampak bergerombol dengan orang yang mereka sukai. Berceloteh dan mengatakan hal-hal yang menjadi kesukaan mereka. Membentuk beberapa kelompok kecil di kelas itu.
Suasana tampak ricuh membuat Aya kurang nyaman. Suara yang saling bersahutan membuat telinganya sakit. Ia lebih senang jika jam pelajaran sudah di mulai, setidaknya hanya ada suara guru yang bergema di kelas.
"Lama sekali, apa yang harus ku lakukan?" Aya bermonolog sendiri. Berpikir apa kiranya yang bisa ia lakukan untuk menghabiskan waktu sebelum upacara di mulai.
Tangan mungil Aya meraba laci meja. Disana ada selembar kertas yang bisa di pastikan bukan miliknya. Dilihat ada tulisan berupa ujaran kebencian untuk gadis kecil itu. Ia tak menghiraukannya dan justru membalik ke sisi yang masih bersih. Sudah merasa terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Ia ingat tadi meletakan pensil di saku tas. Setelah mendapat kan apa yang diinginkan, Aya langsung saja menggoreskan pensil di kertas itu. Dia selalu sendiri, tapi akhir-akhir ini Aya sangat senang karena kehadiran Nindia.
Pandangan Aya masih terfokus dengan gambar di atas meja. Sedikit demi sedikit garis wajah Nindia tergambar di sana. Karena terlalu terpaku dengan gambar, ia jadi tidak sadar jika ada orang yang memperhatikan nya dari belakang.
__ADS_1
Orang itu tampak tak berkedip melihat hasil karya yang di buat oleh Aya. Sebuah wajah yang sangat cantik dan anggun. Orang itu merasa pernah melihat sosok itu sebelumnya. Tapi, dia merasa lupa dimana tepatnya mereka bertemu.
Teng Teng Teng
Suara bel sekolah bergema. Semua murid berhamburan ke luar kelas. Aya menjalankan kursi rodanya dengan perlahan. Tiba-tiba ada seorang siswi yang menendang belakang kursi roda Aya dengan keras.
Sekejap ia terkejut, tapi langsung menormalkan raut wajahnya kembali. Hal yang di pelajari dari Arya yang selalu berwajah datar tanpa ekspresi. Lagi pula ia hapal betul orang yang selalu melakukan hal itu.
"Minggir lah. Kalau nggak bisa jalan jangan menghalangi orang lewat dong," ucap gadis yang diketahui Aya bernama Sekar.
Dia adalah murid kelas sebelah. Orangnya memang cantik, tapi kelakuannya tak se indah parasnya. Kadang ada saja yang dilakukan Sekar untuk menyakiti orang-orang di sekitar. Jadi, bukan hanya Aya saja yang selalu di ejek seperti tadi.
Aya tidak peduli dan tetap memutar kursi rodanya dengan pelan. Sampai di lapangan, ia di arahkan di barisan paling belakang. Tapi, lagi-lagi Aya mendapat cemoohan dari teman sekelas.
"Enak ya upacara tapi duduk. Dapat posisi di belakang lagi, terhindar dari panas deh." Suaranya memang sangat pelan, namun sanggup di dengar Aya dengan baik.
Plak
"Sorry, ada lalat tadi di bahu mu," ucap siswi yang berada di samping Rahma. Tiba-tiba ia menepuk belakang bahu gadis itu dengan agak keras. Bahkan suara tepukan itu terdengar nyaring. Sampai beberapa pasang mata menatap ke arah Rahma.
"Santai aja," kata Rahma di serta dengan senyum tipis. Ia menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke depan.
Dea, siswi yang tadi berbuat rusuh adalah tetangga komplek nya. Putri dari Bapak Ahmad. Ia juga mempunyai kembaran yang selalu pergi bersama. Namanya Dean, ia sedang menjadi petugas upacara untuk saat ini.
Dea mengedipkan mata ke pada Aya sebentar. Kembali menatap ke depan sebelum terkena tegur oleh guru jaga. Senyumnya tampak manis walau hanya mampu dilihat sekilas oleh Aya.
Upacara telah selesai beberapa menit yang lalu. Aya memilih menunggu hingga koridor sepi. Barulah ketika tak ada lagi siswa-siswi Aya menjalankan kursi rodanya dengan pelan.
__ADS_1
"Mau aku bantu." Sebuah suara tiba-tiba berdengung di belakangnya.
Aya terlonjak dari kursi karena kaget. Untung saja ia tidak sampai terjatuh. Di hadapannya ada Dea dan kembaran laki-lakinya.
Dea tersenyum simpul, sedangkan Dean hanya menampilkan wajah datar. Bukan wajah yang menghina ataupun bersahabat. Hanya wajah flat tanpa ekspresi sama sekali.
"Tidak perlu," tolak Aya pelan. Takut menyinggung mereka berdua.
"Kenapa? Padahal aku mau Dekat sama Aya," kata gadis itu lagi mencoba meluluhkan pertahanan Aya.
Aya yang memeng pada dasarnya orang yang tidak enakkan hanya mampu menganggukan kepalanya. Dea bergegas mendorong kursi roda Aya, sedangkan Dean berjalan di samping.
"Gambar Aya tadi bagus. Dia siapa?" tanya Dea untuk membuka percakapan.
"Itu Kak Nindia," jawab Aya singkat.
"Kak Nindia itu siapa?" Dean yang mendengar saudara kembarnya bertanya lagi mencoba memberikan kode karena melihat Aya yang kurang nyaman. Dea tidak menurut begitu saja, ia justru gencar bertanya kepada Aya.
"Kak Nin itu kakak nya Aya," jawab Aya setelah diberi pertanyaan beruntun.
"Kok bisa Aya punya kakak baru sih?" Dea memberikan pertanyaan baru.
"Karena kak Nin kerja di rumah Aya..." ucap Aya terpotong karena mereka sudah sampai di kelas.
Dea mengantarkan Aya hingga ke Mejanya. Barulah ia kembali ke tempat duduknya sendiri di samping sang saudara kembar. Semua murid di kelas melihat mereka. Bagaimana saudara kembar yang paling keren itu bisa bersama Aya yang pendiam.
Sayangnya itu hanyalah pertanyaan yang mampu terucap di hati saja. Tidak ada yang berani bertanya kepada salah satunya.
__ADS_1
Si kembar dengan paras menawan dan nilai berbintang. Semua ingin menjadi teman mereka, tapi ke duanya seperti membangun tembok agar tak ada yang mampu mendekat.