Kasta

Kasta
Kecemburuan Rahma


__ADS_3

Di hari menjelang siang di sebuah sekolah. Semua nampak sepi hanya ada beberapa suara yang menggema dari kelas-kelas. Waktu belajar mengajar masih berjalan sebelum bel makan siang di bunyikan.


"Kami akhiri presentarsi hari ini. Bila ada salah kata mohon maaf," ujar Aya mengakhiri presentasi kelompok biologinya.


Gadis itu mengambil kembali dua buah gelas berisi biji kacang hijau yang berkecambah. Meletakkannya di antara kedua paha. Kembali ke tempat duduk karena giliran mereka telah selesai.


Dean kembali menggulung kabel proyektor yang baru selesai ia pergunakan untuk presentasi. Sedangkan, Dea membawa kembali laptop ke bangkunya. Rahma sendiri langsung melenggang duduk.


"Bagus, saya suka dengan penyampaian Aya yang jelas." Bu Endang berdiri di depan kelas. Ia memegang laporan milik kelompok Aya. Mengangkatnya tinggi-tinggi agar seluruh siswa dapat melihatnya.


"Kalau kalian ingin mempresentasikan sesuatu pastikan nada suara kalian keras tapi tidak terkesan membentak. Gunakan pemilih kosa kata yang tepat juga. Gestur yang kalian gunakan juga jangan terlalu berlebihan ...." Semua siswa terdiam mendengar Bu Endang yang berbicara panjang lebar.


Bu Endang berjalan memutari ruang kelas. Hal itu makin membuat semua siswa menjadi lebih fokus. Mereka tidak ingin mendapat tugas, karena sebentar lagi akan ada Penilaian Akhir Semester.


Tidak terbayang bagaimana stress ya mereka jika ada tugas di saat mendekati PAS. Menulis materi dan masih harus belajar pelajaran lain. Hanya murid jenius yang bisa melakukan itu.


Rahma yang duduk di paling depan kehilangan fokus. Ia benci ketika lagi-lagi Aya yang di puji. Mereka bahkan ada di kelompok yang sama. Lalu, kenapa hanya ia yang dipuji-puji.


Bu Endang bahkan tidak meliriknya sama sekali saat presentasi tadi. Ia juga ingin diperhatikan walau dia sadar tidak terlalu aktif. Lalu memangnya harus bagaimana, jika dia saja memang tidak paham apa yang dimaksud itu.


Gadis itu mengetatkan rahang untuk yang ke sekian kali. Wajahnya bahkan memerah menandakan emosi yang terpendam. Ia tidak sadar jika Bu Endang sudah berada di sampingnya.


Memperhatikan setiap gerakan Rahma yang hanya menulis abstrak di buku. Gadis itu bahkan tidak menjawab ketika dipanggil secara halus oleh Bu Endang.


"Apa pelajaran saya membosankan?" tanya Bu Endang lantang.


"Tidak bu," jawab semua murid MIPA 1 terkecuali Rahma.

__ADS_1


Bruk


Bu Endang membanting hasil laporan tepat di atas meja Rahma. Gadis itu terperanjat dari duduknya. Menundukan kepala ketika tahu siapa orang yang melemparkan laporan di depan wajahnya. Ia tidak berani bertatapan mata dengan Bu Endang.


"Kamu menyepelekan saya hingga berani tidak memperhatikan ketika diterangkan?" tanya Bu Endang.


Rahma tidak menjawab dan masih sibuk menatap lantai. Sang guru pun meminta gadis itu untuk duduk. Rahma menurut tanpa kata.


"Buka buku kamu, catat apa yang saya katakan," ujar Bu Endang merujuk ke Rahma.


Semua siswa di sana meneguk ludah kasar. Sepetinya Rahma akan mendapat tugas yang mereka semua hindari. Tapi siapa yang peduli, asal itu bukan mereka.


Gadis itu membuka buku tulisnya. Memegang sebuah bolpoin menunggu apa yang Bu Endang perintahkan. Rahma memiliki firasat buruk seketika.


"Melakukan percobaan perkecambahan biji kacang hijau dan membuat laporannya dengan di tulisan tangan, lalu dijilid Rapi secara Individu." Bu Endang merapikan laporan yang sudah dikumpulkan para murid.


Rahma melihat guru Biologinya yang sudah mulai membuka buku paket. Mulai menjelaskan bab baru. Seketika mata gadis itu memerah karena kesal.


Laporan itu harus ditulis tangan dan bukan di ketik. Bagaimana mungkin ia bisa menyelesaikan laporan dalam waktu dua minggu dimana PAS akan dilaksanakan Senin depan.


Ia memalingkan wajah ke belakang dimana Aya berada. Jika bukan karena gadis itu, dia tidak akan mendapat tugas seperti ini. Rahma mengepalkan tangan erat.


Ia kembali melihat ke depan memperhatikan Bu Endang sebelum mendapat tugas yang lain. Menahan jengkel hingga bel istirahag berbunyi. Semua orang berhamburan ke luar.


"Ayo ke kantin," ajak seorang gadis kepada Rahma.


"Duluan aja," ucap Rahma yang hanya di angguki oleh temannya itu. Kelas sudah sepi, tinggal ia dan juga Aya saja.

__ADS_1


Gadis itu tengah membuka bekal makan siangnya. Tadi, ia diajak ke kantin oleh si kembar. Namun, dia menolaknya begitu saja.


Brak


Rahma menggebrak meja Aya dengan sangat keras. Ia menjambak rambut gadis itu dengan kekuatan penuh, hingga membuat Aya menengadah ke atas. Tangan Ringkihnya mencoba menggapai tangan Rahma.


"Seneng ya sudah punya teman sekarang? Seneng sudah bisa berbaur sama seluruh kelas? Kamu tuh nggak punya rasa syukur ya? Kamu ... Sudah memiliki segalanya yang nggak aku punya. Kenapa kau juga harus mengambil kepopuleranku?" Suara Rahma tercekat menahan tangis.


"Kau menyebabkan masalah untukku. Kalau bukan karena kau, aku tidak mungkin mendapat tugas tambahan seperti ini," lanjut gadis itu dengan murka. Suaranya meninggi hingga menyebabkan gema di ruangan kelas yang kosong.


Ia sangat iri dan ingin memiliki semua yang dimiliki oleh Aya. Kenapa dia harus lahir dalam keluarga miskin? Kenapa dia tidak bisa memiliki apa yang diinginkan? Kenapa semua harus dimiliki oleh gadis seperti Aya?


"Mangsud kamu apa? Aku nggak pernah mau jadi populer, dan apa yang kamu maksud dengan memiliki semua?" tanya Arya dengan terbata-bata menahan sakit dari kulit kepalanya.


"Kamu ... Kamu ... Akh, aku benci sama kamu?" Rahma kehilangan kesadaran hingga menghempaskan begitu saja kepala Aya ke meja.


Ia berlari meninggalkan kelas. Aya sendiri memegang dahinya yang terasa pusing. Untung saja itu tidak membuatnya berdarah. Ia terisak ketika mengingat apa yang di ucapkan Rahma.


Apa yang ia miliki dan tidak di punya oleh Rahma. Bahkankah harusnya gadis itu yang Iri. Melihat bagaimana Rahma yang bisa berjalan kemana saja dengan bebas.


"Kenapa aku membandingkan? Harusnya aku tetap bersyukur," ucap Aya tanpa ada yang menjawab. Gadis itu mengelap lelehan air mata yang menggenang di kedua pipi.


Gadis itu menerawang dan tersenyum miris. Manusia dengan keserakahannya. Tidak pernah satu hari pun mereka bersyukur. Justru yang ada keluhan dan keluhan saja yang ke luar dari mulut manusia.


Aya bahkan tidak memungkiri kalau ia pun seringkali lupa bersyukur atas nikmat yang di berikan Tuhan kepadanya. Ia masih memili Papa yang membiayai hidup Aya, kakak yang baik kepadanya, di tambah Nindia yang pengertian.


"Benar, kamu hanya perlu bersyukur Aya. Jangan tamak dan menginginkan lebih. Lupakan semua yang menyakitimu," monolog Aya.

__ADS_1


Gadis itu memakan bekal makan siangnya dengan beberapa tetes air mata yang nakal terjatuh. Mengusap dan menyuap makanan. Begitu terus hingga makanan itu tandas.


cerita ini hanya karangan fiktif belaka. mohon jangan dilakukan di kehidupan nyata


__ADS_2