
cerita ini hanyalah karangan penulis. bukan untuk ditiru
Pagi yang cerah di sebuah rumah megah yang ditempati oleh beberapa orang kepala. Ketika semua penghuni yang lain tengah terlelap dalam mimpi indahnya, Nindia telah terbangun dan bersiap untuk memasak sarapan pagi.
Tubuhnya yang mungil membuatnya bergerak bebas di dapur yang super luas ini. Ia berencana memasak sup, karena pagi ini udara begitu dingin. Tulang rasanya membeku dan meminta selimut tebal untuk melingkupi setiap inci tubuh yang ada di dunia ini.
Ketika Nindia masih sibuk dengan bahan-bahan makanan paginya. Arya dengan keadaan yang masih setengah mengantuk berjalan ke arah dapur karena tenggorokannya yang kering. Ia tidak sadar kalau ada orang lain yang ada di sana.
“Tuan membutuhkan sesuatu?”Nindia menawarkan bantuan ketika melihat tuan muda telah berdiri dengan mata setengah tertutup.
“Akh” Nindia menjerit dengan kencang ketika bajunya harus tersiram dengan air dingin yang hendak diminum oleh Arya.
Niat hati ingin menanyai keinginan sang tuan muda, justru ia harus mendapatkan siraman air dingin disaat udara begitu menusuk. Sekarang ia harus segera ke kamar dan mengganti bajunya kalau tidak mau menggigil kedinginan dan akhirnya flu.
__ADS_1
Arya terkejut karena kejadian yang tiba-tiba seperti itu. Dia langsung mengikuti Nindia yang berlari kecil ke bekas kamarnya dulu.
Menghela nafas berkali-kali tidak membantunya sama sekali. Entah apa yang akan dilakukannya nanti bila bertemu dengan tuan mudanya. Tidak, ia harusnya sekarang menyiapkan makanan sebelum semua orang dirumah ini bangun.
Kaki rampingnya melangkah dengan getaran yang tidak bisa dikatakan pelan. Mengganti kaos dengan nafas yang mencoba untuk diteratur kan. Ketika ia akan membuka pintu, sebuah suara ketukan pintu membuatnya kembali terdiam.
Bagaimana kalau yang mengetuk pintu kamar itu adalah tuan mudanya. Dia masih belum sanggup kalau harus bertatap dengan Arya. Tapi, ia juga tidak bisa terus berada di dalam kamar seperti ini.
“Kak Nindia! Apakah kakak sudah bangun? Aya menemukan sup di dalam panci. Apakah kakak yang memasaknya?”suara cempreng Aya terdengar menenangkan untuk Nindia saat ini.
Sup yang tadi di buat oleh Aya sudah mulai menjadi hangat. Dengan telaten, Nindia menuangkan sup itu ke dalam mangkuk besar dan menyajikannya di meja makan.
Wildan dan Arya sudah turun dari kamar dengan pakaian kerja mereka. Para lelaki mulai duduk di bangkunya dan menunggu Nindia menuangkan makanan mereka ke atas piring yang kosong.
__ADS_1
Mereka hening untuk beberapa waktu, karena makanan yang mereka santap. Nindia juga sudah mulai merasa nyaman berada di sekeliling keluarga kecil ini. Walaupun ia masih canggung bila harus berhadapan dengan Arya.
Kejadian tadi masih terlintas di otaknya. Sedangkan, saat ia melihat ke arah tuan mudanya, ia menjadi was-was. Tuan mudanya itu sangat minim dengan ekspresi. Nindia jadi tidak tahu apa yang sedang di pikirkan dan di rasakan oleh Tuan Arya.
“Sepi sekali rasanya sarapan kita kali ini,” ucap Wildan mencairkan suasana tegang yang terjadi karena sifat canggung Nindia dan dinginnya Arya.
Sarapan pagi yang dulunya ramai penuh kicauan dan keributan 2 bersaudara,
“Entahlah pah. Ada yang lagi merasa bersalah mungkin.”
“Uhuk, Uhuk.”
“Kak Nindia, kakak kenapa?” Aya dengan sigap memberikan Nindia air putih yang ada di dekatnya.
__ADS_1
“Kau ini kenapa Nindia?”Wildan juga ikut berkomentar setelah melihat Nindia meminum airnya.
“Ahh? Tidak kenapa-napa kok yah.”