Kasta

Kasta
Arya berulah


__ADS_3

Nindia bergegas untuk memulai membersihkan rumah yang lebih bisa disebut dengan istana ini. Dia harus membersihkan setiap ruangan hingga mengkilap. Dengan begitu tidak akan ada alasan Arya untuk memecatnya dari sini.


Dia harus berubah menjadi gadis yang lebih percaya diri untuk sekarang. Ia akan melakukan tugasnya dengan baik dan mendapatkan gaji dengan tenang. Lagi pula semua hidupnya juga tidak digunakan untuk Arya kan?


Ia hanya akan mengabdikan hidupnya lebih banyak kepada Aya, jika nasib memang harus menjadi pembantu selama sisa nafas yang berhembus.


Setelah selesai dengan lantai bawah, Nindia bergegas untuk membersihkan lantai atas. Mulai membersihkan setiap kamar yang ada dan juga tak lupa mencuci semua pakaian kotor yang tuan-tuan dan nona mudanya miliki.


Ia membawa pakaian kotor ke belakang untuk dicuci. Dia memang gadis desa, tapi bukan berarti dia tidak tahu caranya mengoperasikan mesin cuci. Dia adalah gadis yang pintar jika kalian ingat.

__ADS_1


Hingga siang yang terik menjelang, Nindia baru selesai dengan cuciannya yang banyak. Ia menjemur setiap pakaian yang ada dan melangkah meninggalkan taman belakang.


Ia berfikir untuk memasak makan siang terlebih dahulu. Dia memang tidak tahu, apakah penghuni rumah ini akan makan dirumah atau tidak. Setidaknya dia sudah menyiapkan makanan jika salah seorang dari mereka kembali ke rumah ini.


Menu makan siang hari ini, Nindia membuat nasi dengan ayam goreng, berkedel, dan juga sayur asam. Ia juga membuat jus jeruk karena matahari masih bersinar dengan sangat panasnya. Ia menatap setiap hidangan di atas meja dan berjalan keluar dapur. Saat akan keluar dia melihat Aya yang datang dengan di dorong oleh Arya.


Wajah gadis itu ditekuk, menandakan kalau ia sedang kesal dan ingin mengeluarkan emosinya sekarang juga. Aya masih belum menyadari keberadaan Nindia dan masih bertahan dengan pipi yang di kembungkan. Menambah kesan imut dan juga manis bagi Aya.


“Kak Nindia, kenapa kakak memanggilku dengan sebutan seperti itu. Kan aku sudah bilang, panggil saja aku dengan nama kak,” ucap Aya yang semakin kesal dibuatnya.

__ADS_1


Sebenarnya ia ingin memanggil gadis manis itu dengan namanya. Tapi, saat ia melihat pandangan Arya yang masih saja datar dan sangat tak bersahabat, Nindia langsung mengurungkan niatnya itu. Dia tak mungkin memancing amarah Arya dan membuatnya semakin rumit.


.


Arya hanya cuek bebek dan melenggang pergi ke kamar atas. Ia tidak akan mendebat adiknya untuk sekarang. Biarlah ia berbuat sesuka hatinya.


Walaupun masih kesal, Aya hanya menurut dan bercerita banyak hal tentang keseharian di sekolah tadi. Banyak sekali anak yang menghinanya dan tak ada yang mau bermain bersamanya.


Tapi, Aya berkata ia selalu mengingat kata-kata Nindia kalau perkataan manusia bukanlah tolak ukur untuk mengetahui derajat dan posisi kita. Kita hanya perlu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa yang masih berbaik hati memberikan kehidupan dan makanan kepada kita selama ini.

__ADS_1


Nindia tersenyum karena mendengar penuturan Aya. Ia berasa berbicara dengan adiknya untuk saat ini. Ia berjanji akan menjadi sosok yang baik untuk Aya. Sebagai penebus dosanya kepada sang adik karena harus membuatnya menderita saat ini.


__ADS_2