
Flashback
"Ini pesanannya yang neng," ujar seorang ibu-ibu meletakan sepiring somay.
"Terima kasih ya Bu." Seorang gadis menarik sepiring somay itu ke hadapan. Harumnya membuat sang gadis ingin segera menyantapnya.
Gadis itu adalah Sukma. Seorang siswi kelas sebelas yang memiliki paras kalem, namun sangat sulit bersosialisasi. Namun sangat ramah dan sering tersenyum, jika bersama orang yang telah akrab. Ia memiliki tiga orang sahabat yang selalu menemaninya.
Pertama, seorang yang sama dengannya. Laki-laki yang sulit bersosialisasi dan juga kaku. Bahkan, Sukma juga bisa memastikan kalau Arya tidak bisa mengungkapkan perasaannya yang asli.
Entah kenapa di mata Sukma laki-laki itu ingin sekali bercengkrama, tapi seperti tidak bisa mengekspresikannya. Karena itu banyak orang berfikir Arya adalah laki-laki dingin.
Sukma sendiri butuh dua tahun untuk mengetahui sifat Arya yang satu itu. Jika di ingat saat tahun pertama di sekolah, ia sangat jarang mendengar suara teman satu kelasnya itu.
Lalu, ada si kembar Andra dan Indra. Ke duanya memiliki sifat yang supel. Tidak susah jika ingin berteman dengan ke duanya.
Layaknya kembaran yang ada di luar-luar. Wajah mereka mempesona dan murah senyum. Ditambah si kembar selalu pergi bersama. Hal itu menjadi seperti pemandangan double yang menyejukkan.
Kini di sinilah ia dengan dua sahabatnya. Arya dan Indra yang masih sibuk dengan tugas matematika yang belum dikerjakan. Jangan kira karena mereka berdua tampan, berarti juga pandai dan rajin mengerjakan tugas.
Mereka sama seperti kebanyakan siswa laki-laki. Tugas rumah merupakan hal terakhir yang dikerjakan, itu pun jika sudah waktunya mengumpulkan. Sebuah hal yang tidak patut untuk dicontoh sama sekali.
Dug
Cuurr
"Bocah. Berani ya!" Arya menggerutu karena Indra baru saja meminum jusnya. Alhasil sekarang laki-laki itu mengeluarkan minuman yang sudah berada di mulut. Cairan itu mengalir di dagu hingga jatuh ke meja.
Sukma yang melihat hal itu menarik piring makanannya. Sudah tidak kaget dengan kelakuan dua bocah di depannya. Arya akan langsung memukul keras kepala Indra maupun Andra jika mengambil makanannya.
Bukannya pelit, tapi memang kesalahan si kembar. Padahal sudah berulang kali, untuk meminta izin dulu jika meminta barang-barang Arya. Toh Arya akan memberikannya jika bilang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kamu kayak nggak pernah di kasih uang jajan," sindir Sukma dengan nada datar.
Bukannya tersinggung, Indra justru menahan tawa. Ia mengelap lelehan jus yang tadi dikeluarkan. Setelah itu menyeka meja yang kotor. Untung saja tadi ia sudah menyingkirkan buku dari hadapannya.
Ia sudah tidak kaget jika Arya memukul kepalanya seperti tadi. Pada awal-awal lelaki itu bahkan sampai tersedak. Pernah sekali juga cairan itu harus keluar lewat lubang hidung.
Benar-benar aib yang tidak ingin Indra ingat. Meski begitu ia tidak pernah jera untuk mengambil makanan tanpa izin Arya. Itu seperti kesenangan tersendiri untuknya.
"Si Andra kemana, biasanya kamu berdua nggak pernah pisah?" Sukma melirik ke sekeliling kantin Karena tak melihat kembaran Indra. Padahal si kembar tidak pernah berpisah sudah seperti lem dan perangko.
"Biasa lagi jadi tukang pos dia," jawab Indra cuek melanjutkan menulis jawaban biologi. Memang tidak ada habisnya tugas sekolah cowok itu.
Sukma menganggukan kepala. Sudah biasa dengan salah satu kerja sampingan Andra. Jika benar yang dikatakan Indra, maka sebentar lagi sang kembaran pasti akan kemari.
Panjang umur, baru saja dibicarakan Andra sudah datang mendekat. Sukma memfokuskan kembali pandangannya. Tertawa lebar ketika melihat cowok itu kesusahan dengan barang-barang yang di bawa.
"Wahh gila emang. Nih paketan bang," sindir Andra meletakkan semua kado-kado yang dititipkan para gadis ke padanya.
Merasa terpanggil Arya menatap tumpukan Kado itu. Ia mengibaskan tangan tanda beberapa kali tidak perduli dengan semua itu. Dia sudah muak karena setiap hari ada saja kado yang ditunjukkan untuknya.
Indra dan Andra langsung berebutan untuk membuka beberapa kado itu. Ke duanya melongo tidak percaya dengan semua kado mahal ini. Dari mulai jam tangan, dompet bahkan jaket couple yang sangat keren.
Tidak habis pikir dengan cara berpikir Arya yang tak mau menerima barang-barang bagus seperti itu. Untung saja si kembar selalu ada untuk menjadi tempat penampungan kado-kado itu.
Sayang jika harus dibuang di tempat sampah. Tentu saja karena barang-barang ini sudah susah dibeli. Apalagi membelinya dengan uang bukan daun.
"Muka kalian tuh seperti orang yang pengen aja." Arya berkomentar setelah sekian lama terdiam dengan tugas-tugasnya.
"Biarin, kamu nya juga nggak mau," jawab Andra dengan sengit.
"Nih anak ya, bagi ilmunya dong biar dapet dikejar cewek." Indra mendengus kasar dan menjawab dengan nada nyinyir.
__ADS_1
"Permak dulu itu muka biar lebih tampan," jawab Sukma sinis. Gadis itu mengumpulkan beberapa surat yang tercecer karena Indra dan Andra yang membuka semua dengan cepat-cepat.
Setelah dirasa semua kado dibuka, dan surat sudah di kumpulkan sukma memberikannya kepada Arya. Walaupun tidak menerima kado yang diberikan untuknya, setidaknya ia sering membaca surat yang terselip di dalam.
Jika memungkinkan atau Arya memang kenal dengan orang tersebut ia akan mentraktir makanan sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menerima pernyataan cinta. Sudah sering ia melakukan hal itu.
Pada dasarnya Arya yang tidak enakan tidak akan tega membiarkan begitu saja orang-orang yang menyukainya. Lagi pula ia bingung kenapa banyak yang menyatakan perasaan kepadanya, padahal ia saja tidak mengenal para gadis itu.
"Mala!" Sebuah suara keras membuat perhatian empat orang itu teralihkan ke arah pintu masuk kantin.
"Oh itu salah satu gadis yang menitipkan hadiah," jelas Andra dengan mulut penuh dengan coklat.
Arya mengangguk beberapa kali. Sekilas tadi ia melihat wajah orang yang pergi. Mungkin lain kali ia akan mengajaknya makan bersama. Sekaligus meminta maaf karena tidak dapat menerima perasaanya.
Arya bangkit dan memesan semangkuk bakso. Setelah membayar ia kembali ke kursi kantin. Matanya melihat seorang gadis datang ke arahnya.
Arya menebak jika gadis itu akan langsung menyatakan perasaan. Contoh gadis pemberani. Laki-laki itu tidak membenci gadis yang berani menyatakan cinta, tapi bukan berarti ia menyukainya juga.
"Maaf Ar, kalau kau nggak keberatan. Tolong baca suratku." Gadis itu mengulurkan tangannya yang sedang memegang sebuah surat dengan Amplop berwarna merah muda.
Semerbak harum menguar dari kertas di depannya. Arya mengambil surat dari teman satu angkatannya itu. Lalu tersenyum tipis, tanda kalau laki-laki itu menghargai keberanian sang gadis.
"Makasih ya. Nanti pasti aku baca," ucap Arya tulus.
Gadis itu pergi meninggalkan Arya dan kawan-kawan. Terlalu malu jika masih berada di kantin dengan banyak mata yang memandang. Bahkan wajahnya sudah sangat bersemu merah karena memberikan suratnya secara langsung.
Andra dan Indra bertepuk tangan dengan sangat kencang. Walau bukan yang pertama kali ada gadis yang seperti itu. Tapi menghilangkan rasa malu bukanlah hal yang mudah dilakukan.
"Silakan baksonya," ucap ibu kantin meletakan satu mangkok yang masih mengepulkan asap.
Arya memberikan tiga sendok sambal, Kecap dan saos untuk menambah cita rasa dari bakso itu. Sambil menyantap makanan, ia memeriksa satu persatu surat yang diterimanya hari ini.
__ADS_1
Di dalamnya hanya ada kata-kata cinta yang sangat manis. Namun, itu bahkan tak berpengaruh ke perasaan Arya. Mungkin karena bagi laki-laki itu sendiri, ia tidak mengenal baik sang pemberi surat. Maka dari itu ia tidak merasakan apapun .