Kasta

Kasta
Nembak Sukma


__ADS_3

"Lihat deh apa yang kubawa?" Indra datang ke kelas dengan bucket bunga besar mawar kuning.


Arya yang semula masih berkutat dengan buku catatan matematika mendelikkan mata. Bagaimana temannya yang satu itu bisa membawa masuk bucket bunga sebesar itu ke dalam sekolah. Apa tidak ketahuan sama guru BK?


"Dapat darimana? Jangan bilang habis babat habis bunganya pak Herman," seru sang kembaran dengan heboh.


Pak Herman adalah tukang kebun di sekolah. Beliau senang sekali merawat bunga-bunga di sekitar lingkungan kelas. Setiap hari di sirami dan di rawat dengan sepenuh hati. Semua siswa tahu akan hal itu.


Jangankan Andra, semua mata memandang ke arah mereka bertiga. Saling berbisik-bisik siapa kiranya yang akan mendapat bunga itu. Apalagi melihat Indra yang meletakkan bunga itu di atas meja Arya.


Arya memegang bucket itu. Di lihatnya ke kiri dan kanan meneliti setiap detailnya. Tersusun rapi dan terlihat indah. Wangi harum semerbak memenuhi ruangan kelas.


"Enak aja. Sudah ku siapkan dari kemarin, kamu nya aja yang nggak tahu." Indra membalas sengit ucapan sang kembaran.


Ia memesan bunga ini dengan sangat hati-hati agar kesannya lebih memuaskan. Jika alat yang digunakan bagus, tinggal orangnya yang melakukan bagaimana. Bila semua sesuai rencana, pasti semuanya pasti percaya kalau Arya dan Sukma berpacaran.


"Terus kok nggak lihat dari jam pertama sih?" tanya Andra merampas bunga itu dari tangan Arya yang masih membolak-baliknya.


"Ku titipkan sama satpam depan." Indra tersenyum puas karena memiliki ide untuk menitipkan pada sang penjaga sekolah agar tidak langsung di sita oleh guru.


"Niatnya mau aku suruh mengungkapkan perasaan nanti pas pulang sekolah. Tapi, Tuhan kayaknya baik banget. Pas jam kosong, jadi mending sekarang aja." Indra menerocos membeberkan idenya.


Beberapa pasang telinga nampak dipertajam untuk mengetahui siapa kiranya yang beruntung mendapatkan itu. Sebagian yang lain menerka-nerka siapa kiranya di antara tiga cowok itu yang akan mengungkapkan perasaannya.


"Terus Sukmanya kemana? Perasaan tadi masih di sini deh?" tanya Indra menengok ke sekeliling, tapi tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


Arya mengangkat bahunya tidak tahu. Andra mencoba mengingat kemana gadis itu tadi pamit.


"Ke kantin tadi deh bilangnya. Pergi sama Alma kalau nggak salah."

__ADS_1


Andra memperbaiki rambut dan wajahnya dengan kaca di samping kelas. Memasang wajah yang dibuat-buat. Bagi gadis di kelas itu, Andra sangat keren. Tapi, untuk Arya maupun Indra sangat menjijikan.


"Bagus kalau begitu. Kita langsung susul ke sana saja." Indra memberi saran dan menatap berbinar Arya.


Indra berdiri dan menarik kerah sang kembaran. Tangan kirinya meraih se bucket bunga yang dipesan dari kemarin. Arya membututi si kembar dari belakang.


Saat sudah di luar kelas, langkah Indra berhenti begitu Saja. Andra yang di seret pun terjatuh dengan keras. Menahan emosi karena kembarannya yang tega setelah mencekik leher, langsung menghempaskan nya ke tanah.


"Bawa ini. Biar kelihatan punya niat," tukas Indra memberikan bucket itu ke pelukan Arya.


Arya menerimanya dengan tatapan bingung. Tapi, ia masih melakukan apa yang di katakan oleh Indra.


Mereka kembali berjalan dan menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. Tidak sedikit para gadis yang berteriak karena melihat pangeran sekolah membawa barang yang di artikan sebagai pertanda cinta.


Indra merentangkan tangan di depan pintu kantin. Meneliti setiap sudut kantin yang ramai. Hingga matanya bertatapan dengan gadis itu.


"Kasih ini ke Sukma dengan berlutut. Terus jangan lupa kasih kalimat-kalimat romantis juga. Cepet sana!" Indra memberikan petuah sebelum mendorong punggung lebar Arya.


Arya berlutut dan mencondongkan bunga mawar kuning itu ke hadapan Sukma. Gadis itu spontan memutar duduk menjadi ke samping. Menunggu Arya yang sepertinya masih menyiapkan kata-kata.


"Hai Sukma. Kau tahu aku sangat senang bisa mengenalmu. Aku merasa beruntung karena Tuhan mempertemukan kita. Membangun persahabatan yang masih terjalin hingga sekarang. Saling membantu bersama yang lain. Aku nggak pernah membayangkan, bagaimana kalau seandainya aku dulu tidak menghiraukan. Jadi, mau kau menerima ini?" ucap Arya panjang dan lebar.


Sukma menerima pemberian Arya itu. Mengulurkan tangan untuk membantu Arya berdiri. Gadis itu berpindah ke kursi sebelah dan memberikan tempat duduknya ke Arya.


"Terima kasih ya," ucap Sukma kemudian menghirup bucket bunga itu.


Sukma tersenyum dengan cerah. Semua orang yang ada di kantin mendesah kecewa karena akhirnya pangeran sekolah sudah memiliki kekasih. Bahkan Sukma nampak sangat bahagia sekali dengan hubungan itu.


Sukma sendiri tersenyum bukan karena bahagia atau mendalami akting. Ia geli dengan bunga mawar kuning yang ada di tangannya ini.

__ADS_1


Mungkin orang-orang mengiri tadi adalah pernyataan cinta. Tapi, Sukma yang tahu arti bunga ini jadi menertawakan semua orang yang berfikir demikian.


Sedikit tahu tentang mawar berwarna kuning. Pada abad ke-19, mawar kuning berarti kecemburuan dan ketidaksetiaan. Untungnya, makna tersebut berubah pada zaman modern ini, yaitu menjadi bunga yang merepresentasikan persahabatan, kegembiraan, dan kepedulian.


Mawar berwarna sinar matahari ini juga menyampaikan kehangatan, kesenangan, dan perhatian.


Kalimat yang di ucapkan Arya juga merupakan rasa syukur karena mereka bisa bersahabat. Tidak sedikit Sukma mendapati arti cinta sebagai seorang laki-laki yang menyukai perempuan di kalimat itu.


"Wah, jadi kalian berdua jadian kan?" Alma berkata dengan sangat keras hingga makin menarik perhatian para siswa yang ada di kantin.


"Kepo urusan orang. Bilang aja mau minta pajak jadian kan?" Si kembar datang dan langsung menyerobot duduk di samping Alma.


Indra menggerakkan alisnya cepat. Bibirnya melengkung ke atas hingga mata menyipit. Arya berdehem sebentar untuk mengatasi sisa ke kegugupannya.


"Pesen deh. Hari ini aku yang traktir," ucap Arya yang diberikan teriakan dari tiga orang di depannya.


Si kembar dan Alma bergegas memesan makanan lagi. Siapa yang tidak mau jika di beri yang namanya makanan gratis. Rejeki itu tidak boleh di tolak kan?


"Emang nggak papa traktir mereka?" tanya Sukma pelan. Tangannya mengaduk-aduk jus alpukat yang baru habis setengah.


"Biarlah. Membagikan kebahagian kan ada berkahnya sendiri." Arya memandang cuek ke depan. Melihat satu persatu orang yang masih berusaha mencuri pandang ke arahnya.


"Kamu nggak mau pesan makanan juga?" tanya Arya yang tidak melihat Sukma bergerak sama sekali dari duduk.


"Lagi diet. Kamu juga nggak makan," ujar Sukma tidak memandang Arya sama sekali.


"Kayaknya uang saku sebulan kamu bakalan habis," lanjut Sukma yang melihat si kembar yang bergerak dari kantin satu ke kantin yang lain.


Arya menggeleng tidak percaya dengan porsi makan si kembar. Lebih tidak menyangka bahwa Alma teman sekelasnya mengikuti kelakuan Indra dan Andra.

__ADS_1


Arya menghela nafas. Ia akan memberi peringatan pada si kembar nanti. Kalau di beri mereka suka sekali melunjak.


__ADS_2