
Pagi kembali menyapa para insang. Semua sudah mulai sibuk menyiapkan perlengkapan untuk digunakan beraktivitas satu hari ini. Tidak terkecuali Nindia yang sudah berkutat di dapur sejak pagi buta.
Arya masih bergelung di balik selimut. Semalaman penuh ia mondar-mandir kamar mandi. Sekarang perutnya masih terasa sakit dan badannya sangat lemas. Sepertinya ia mengalami diare, karena makanan kadaluwarsa.
Bangun saja rasanya sangat berat. Kepala yang pusing ditambah dengan pandangan yang berkunang-kunang. Sungguh, ia merasa tidak akan sanggup beraktivitas hari ini. Untung saja sang papa berbaik hati memberinya libur.
Tok tok tok
"Masuk!" seru Arya.
Nindia datang dengan nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Arya hanya menoleh sesaat dan kembali memejamkan mata. Ia sangat tidak berselera untuk makan.
"Kak, bangun dulu. Perut kakak harus di isi agar cepat sembuh," ujar Nindia.
Gadis itu meletakan nampak di nakas samping tempat tidur. Ia menepuk pelan bahu Arya, agar terbangun.
Arya menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Tatapan sangat sayu dan tanpa tenaga. Lelaki itu memperhatikan Aya yang begitu polos di hadapannya. Entah kenapa sekarang gadis itu nampak manis dengan wajah tanpa riasannya.
Nindia memangku mangkok bubur itu. Mengambil satu sendok dan ditiupnya sebentar. Merasa sudah agak dingin, gadis itu menyuapkannya pada Arya.
Satu kecapan Arya sudah mengerutkan dahi dalam. Rasanya terlalu hambar dan ia tidak suka sama sekali. Teksturnya yang lembut membuat laki-laki itu harus langsung menelannya tanpa mengunyah.
"Apa tidak ada makanan lain?" tanya Arya yang melihat Nindia akan kembali menyuapkan bubut tersebut.
"Kalau diare lebih baik makan-makanan yang hambar dulu kak," jawab Nindia pelan.
Gadis itu mencoba berfikir, bagaimana agar Arya mau makan. Jika ia tidak mengisi perut dengan makanan dan minuman pasti akan terjadi dehidrasi.
"Kau tahu, aku seperti memakan muntahan." Arya memalingkan wajah ketika Nindia kembali menyuapkan satu sendok ke depan mulut.
"Kalau begitu kakak harus makan yang banyak biar cepet sembuh, lalu bisa makan yang enak."
"Malas," ucap Arya begitu saja. Ia bukan anak kecil yang bisa dibohongi. Mulutnya pahit dan perutnya sangat tidak nyaman, bagaimana ia bisa makan.
__ADS_1
Laki-laki itu kembali merebahkan diri di kasur yang empuk. Ia membalik badan membelakangi Nindia. Tidak lupa menarik selimut hingga leher. Berharap gadis itu segera meninggalkannya.
"Kakak tidak minum dulu?" Nindia masih setia duduk di kursi samping tempat tidur.
Merasa Arya tidak menjawab, gadis itu pun berdiri. Ia membawa kembali mangkuk bubur yang belum habis. Air putih yang belum sempat di minum, dia tinggalkan di nakas.
Rumah besar yang begitu megah. Nindia masih belum terlalu terbiasa dengan luas rumah ini. Ia jadi ingat kata-kata di sebuah novel yang pernah dia baca.
Kekayaan tidak menjadi tolak ukur kebahagian. Semakin besar rumah itu, makan akan semakin sesak perasaan penghuninya.
Walau tidak sepenuhnya sama dengan keadaan rumah ini. Nindia memang merasa kesepian jika semuanya sudah mulai menjalani aktivitas di luar rumah.
Ia hanya akan kembali tersenyum jika Aya telah pulang. Kini ia makin betah karena Arya yang sudah mulai bersahabat. Nindia sangat bersyukur saat ini.
Dua bulan di sini ia bisa melunasi hutang. Dia tidak tahu gaji pembantu di kota bisa semahal ini. Tapi, jika memang rezeki tidak akan pernah lari. Itu yang selalu Nindia tekankan di hati.
Hutang lunas, Nindia bisa mengirim uang dengan tenang. Membantu kehidupan ibu dan sekolah Sasya. Tidak ada berkah yang lebih baik lagi daripada ini.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia bergegas ke luar rumah untuk membeli sayur dan buah. Biasanya bapak tukang sayur akan berhenti dua rumah dari kediaman keluarga Wildan.
Memilah sayuran segar dan beberapa bumbu dapur. Mengambil satu plastik apel dan melon yang besar. Ia akan melanjutkan memilih ikan, jika saja biang gosip tidak datang.
Nindia tidak takut sama sekali dengan ibu-ibu itu. Hanya saja ia lebih memilih menghindar. Seperti kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati.
Ia lebih memilih pergi mencegah telinganya mendengar sesuatu yang tidak pantas, di banding mengobati hati yang terluka. Terkadang luka tanpa darah itu lebih menyakitkan.
"Berapa semuanya bang?" tanya Nindia setelah menyerah semua belanjaannya.
"Semua jadi lima puluh dua ribu neng." Abang sayur memberikan belanjaan Nindia yang sudah di masukkan ke dalam kantong plastik.
Nindia memberikan uang pecahan seratus ribu. Menunggu beberapa saat, matanya melirik ibu gosip yang makin mendekat. Ia menggigit bibir karena Abang sayur yang masih mencari uang kembalian.
Tepat saat ibu itu di depan gerobak, Nindia menerima uang kembaliannya. Ia tersenyum pada pembeli yang lain dan pamit pulang. Di jalan Nindia menghela nafas lega.
__ADS_1
"Butuh bantuan?" sapa seseorang dari belakang.
Nindia terkejut hingga hampir saja menjatuhkan belanjaan. Orang itu berjalan ke depan Nindia. Memberikan senyum menawan.
"Kaget ya. Maaf deh," orang itu tersenyum sangat lebar.
"Dokter Rizal jam segini belum berangkat kerja?" tanya Nindia sebagai bentuk basa-basi.
Rizal adalah tetangga depan rumah. Dia juga teman sewaktu kecil Arya. Di tambah lagi, laki-laki itu adalah dokter yang menangani terapi Aya. Seperti mengikat semua benang pada satu tempat.
"Memang dokter tidak boleh libur ya?"
Nindia menggeleng mendengar pertanyaan Rizal. Mereka berjalan berdampingan hingga menuju gerbang depan rumah Wildan. Laki-laki itu menyerahkan belanjaan Nindia yang dipaksa bawa tadi.
"Terima kasih," ucap Nindia tulus.
Gadis itu tetap berdiri di depan gerbang rumah hingga Rizal berada di rumahnya. Laki-laki itu melambaikan tangan ke arah Nindia dan hanya dibalas dengan anggukan kepala.
Nindia masuk ke dalam rumah. Ia menemukan Arya yang duduk di ruang keluarga. Pria itu sibuk mengganti Chanel televisi.
"Kakak harusnya di kamar istirahat," ucap Nindia.
Gadis itu berdiri di samping Arya yang tidak bergeming sama sekali dengan tegurannya. Wajah laki-laki itu masih terlihat lemas. Matanya sayu menatap film action yang ditayangkan salah satu stasiun televisi.
"Mau Nindia buatkan sesuatu?" tanya Nindia setelah kembali dari dapur.
Ia membawa segelas air putih untuk di minum Arya. Tidak ada jawaban, gadis itu memutuskan untuk ke dapur mempersiapkan makan siang.
"Nin, buatkan kopi."
Nindia menoleh dan menggelengkan kepala. Gadis itu berkata, "Kakak tidak boleh minum kafein saat sedang diare."
Arya menyandarkan kepala lelah. Badannya memang masih lemas, tapi ia sangat bosan berasa di kamar. Maka dari itu dia berjalan hingga ruang keluarga dengan susah payah.
__ADS_1
"Mau Nindia potongkan melon?"
Arya mengangguk, setidaknya ia ingin mengisi perutnya yang berdemo minta untuk segera di isi sekarang juga.