Kasta

Kasta
Gara-gara mie instan


__ADS_3

"Kalau sudah selesai, bergabunglah di ruang keluarga," kata Arya yang di angguk i oleh Nindia.


Setidaknya gadis itu sudah merespon. Ia tidak mungkin bergabung dengan teman-teman Arya. Siapakah dia bisa bergaul dengan orang-orang sukses seperti mereka.


Ia bahkan sudah sangat senang bisa diterima dengan baik disini. Arya juga sudah mulai menerimanya dengan tangan terbuka.


Menghentikan lamunan yang tidak berguna. Nindia mulai beranjak dari duduk. Menekuk lengan panjangnya hingga ke siku.


Gadis itu masih harus membersihkan meja makan dan mencuci semua alat makan yang kotor. Nindia melakukan itu dengan teliti, dan berhati-hati.


Setelah membuang sisa makanan ke tempat sampah, Nindia mengambil lap meja. Menyemprotkan cairan pembersih agar meja tetap bersih mengkilap.


Sementara itu, semua berkumpul di ruang keluarga termasuk Aya. Gadis itu tidak bisa kembali ke kamar, karena Indra yang memaksa. Padahal ia tidak mengerti pembahasan para orang dewasa itu.


Ia juga masih ada beberapa tugas yang harus di selesaikan. Menghela nafas pasrah, karena merasa tidak mungkin untuk kembali sekarang.


"Aya sudah punya pacar?" tanya Indra yang dijawab dengan gelengan kepala.


"Mau kakak kenalkan?" Andra yang sudah terisi baterai mulai ikut merecoki Aya.


Arya menyeret kerah kedua saudara kembar itu. Ia bisa melihat kalau sang adik merasa sangat tidak nyaman dengan pertanyaan tadi.


"Kau ini tidak pernah berubah. Masih dingin dan tidak berperasaan," omel Indra setelah berhasil lepas dari cengkraman Arya.


Arya berpindah duduk di samping Aya. Ia berubah menjadi bodyguard gadis itu dalam sekejap. Andra dan Indra menatap jengah laki-laki itu.


Perbincangan itu akhirnya selesai tepat pukul empat sore. Arya mengantarkan teman-temannya hingga pintu rumah. Melambaikan tangan sekali, lalu berlalu begitu saja ke kamar.


Tempat tidurnya nampak melambai-lambai meminta untuk di datangi. Kepala Arya sangat berat, hingga baru beberapa saat merebahkan diri, dia langsung saja tertidur.


Pukul delapan malam ia baru bangun. Perutnya berbunyi beberapa kali. Mungkin efek karena tidak ikut makan malam.


Bergegas keluar kamar mencari camilan, atau mungkin ada beberapa makanan yang tersisa. Dia bisa melihat Aya yang masih berkutat dengan buku di ruang keluarga.

__ADS_1


"Kau masih ada tugas?" tanya Arya setelah mendudukkan diri di samping sang adik.


Mata Arya bertatapan dengan Nindia. Gadis itu baru saja masuk ruang keluarga dengan secangkir susu putih hangat.


"Baru bangun kak? Perlu aku buatkan makanan?" Arya menggeleng dan memberi kode untuk membuatkan susu hangat juga.


Arya akui kalau Nindia memang gesit. Sekarang saja ia sudah tidak melihat punggungnya. Padahal, baru beberapa saat yang lalu ia memintanya.


Apakah itu bisa dikatakan gesit atau menakutkan? Tidak peduli yang mana Arya hanya suka dengan kinerja gadis itu.


"Kau belum menjawab kakak tadi," ujar Arya.


Adiknya itu masih saja menulis jawaban demi jawaban tanpa menghiraukan Arya. Jarang adiknya mengerjakan tugas bahkan sampai larut malam seperti ini. Biasanya sebelum makan malam Aya pasti sudah bersantai.


Arya mengacak rambut Aya hingga berantakan. Merasa terganggu gadis itu langsung saja memukul punggung tangan sang kakak dengan pensil yang digenggamnya.


Aya menatap sengit sang kakak. Efek karena masih harus mengerjakan tugas di malam hari membuatnya badmood.


"Jangan ganggu. Tugas Aya masih banyak tahu," tukas Aya cepat ketika melihat gelagat Arya yang ingin kembali melakukan kejahilannya.


Ia berpindah tempat duduk. Lebih tepatnya pindah di atas sofa. Merasa kasihan jika tugas-tugas itu sampai tidak selesai karena dia.


"Siapa suruh bawa temen nggak bilang-bilang. Kalau tau kan sudah Aya kerjakan dari kemarin." Aya masih saja menggerutu dengan tangan yang aktif menulis.


"Makanya punya tugas jangan dinanti-nanti." Arya menggeser layar smartphone nya mencari sesuatu yang dapat menghibur.


Arya bosan karena tidak bisa mengganggu Aya. Kalaupun ia menghidupkan televisi, pasti gadis itu juga akan marah-marah.


"Suka-suka Aya dong mau dikerjain Kapan," sewot Aya tidak terima dengan nasehat Arya.


Kepala Aya terasa mau pecah. Masih ada tugas kimia dan fisika untuk besok, sedangkan Arya tidak berhenti berkicau sedari tadi.


Kedua kakak-beradik itu kembali terdiam beberapa saat. Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali membuka percakapan. Arya merenggang kan tubuhnya, pada saat itu ia merasa tidak beres dengan perutnya.

__ADS_1


Rasanya sangat sakit dan melilit. Entah kenapa seperti diikat tali dengan sangat kencang. Padahal Arya tidak memiliki riwayat penyakit maag.


Nindia melintas di depan ruang keluarga dengan membawa sekeranjang baju kotor. Arya mencoba melambaikan tangan berharap gadis itu dapat mengerti kode yang diberikan.


Beruntung Nindia mengerti isyarat itu dan berjalan mendekat ke arah Arya. Ketika ia akan mengeluarkan suara, laki-laki itu langsung saja memberi kode lagi agar tidak berbicara. Ia tidak ingin mengganggu sang adik belajar.


"Tolong bantu aku ke kamar," ucap Arya dengan sangat lirih.


Nindia menyetujui nya dan membantu Arya yang sudah memutari Sofa. Keduanya meninggalkan kan ruang keluarga tanpa diketahui oleh Aya.


"Kakak tidak apa-apa. Perlu ku panggilkan Dokter Rizal?" Nindia khawatir karena melihat Arya yang meringis dan memegang perut terus menerus.


"Ah, sebentar." Tanpa kata, laki-laki itu berlari menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Nindia masih menanti dengan cemas. Kira-kira apa yang membuat Arya bisa sampai seperti ini. Tidak mungkin susu hangat yang diberikan tadi.


Lagipula jika itu karena minuman, Aya pasti juga akan merasakan hal yang sama dengan Arya. Seketika gadis itu ingat, tadi saat memasak ia menemukan bungkusan mie instan di tempat sampah.


Seharunya itu bukan sesuatu yang spesial. Tapi, entah kenapa Nindia memungut bungkusan mie instan itu dan mencari tanggal kadaluwarsa nya.


Benar dugaan Nindia bahwa mie instan itu sudah tidak layak untuk di konsumsi. Gadis itu memang berniat bertanya pada Arya, tapi urung dilakukan karena tidak menemukannya saat makan malam.


"Kak, apa Kakak yang memakan mie instan tadi?" selidik Nindia saat Arya kembali.


Sepertinya keadaanya belum membaik sama sekali. Dilihat dari cara berjalan Arya yang pincang dan memegang perut terus-menerus.


Arya menganggukan kepala. Ia memang sudah makan makanan kesukaannya sebagai sarapan menjelang siang. Lalu, apa masalahnya dimana jika ia memakan makanan favoritnya.


"Mie itu sudah kadaluwarsa kak. Aku akan membuangnya nanti."


Arya hanya mengangguk menanggapi perkataan Nindia. Jadi, itu sebabnya kini ia merasa sakit perut. Nasi sudah menjadi bubur. Perut Arya sudah terlanjut merasa sakit. Sepertinya ia akan mengalami diare.


"Kakak tunggu disini akan Nindia buatkan minuman agar meredakan sakit perutnya," lanjut Nindia.

__ADS_1


Gadis itu ke luar kamar dengan tergesa-gesa. Menyiapkan beberapa bahan untuk membuat minuman hangat.


__ADS_2