Kasta

Kasta
Tugas kelompok


__ADS_3

Aya mengeluarkan buku matematika dari tas. Ia membuka lembar demi lembar buku itu sembari menunggu guru masuk ke kelas. Membaca bab baru hasil belajar semalam.


Ia bukan tipe murid yang susah di ajar. Justru, hanya dengan menonton video pembahasan saja dia sudah paham. Berbekal video yang diunduh dan catatan sang kakak, ia mempelajari bab baru sebelum di jelaskan.


Selang beberapa menit guru yang ditunggu pun datang. Walau sudah berumur, tapi tak mengurangi wibawanya sama sekali. Beliau merupakan guru yang sangat tegas saat pelajaran, tapi ramah ketika di luar kelas.


Hampir semua murid menghormati dan juga dekat dengan beliau. Pembawaannya yang tidak mudah marah dan hanya menegur membuat para siswa-siswi senang.


"Selamat pagi Bu," ucap siswa-siswi di kelas secara serempak.


"Selamat pagi. Ketua kelas pimpin doa sebelum pelajaran di mulai," ujar sang guru dengan nada tegasnya.


Merasa di minta, ketua kelas langsung berdiri dari duduknya. Mempersiapkan suara sebelum memberikan aba-aba untuk teman-teman di kelas.


"Sebelum memulai kegiatan pada pagi hari ini, marilah kita berdoa bersama. Berdoa menurut keyakinan masing-masing dimulai," kata ketua kelas dengan suara lantang, agar dapat di dengar oleh semua penghuni kelas.


Seketika kelas menjadi sunyi senyap. Semua menunduk berdoa memohon berkah atas ilmu yang akan mereka terima hari ini. Aya tampak khusyuk dan memejamkan matanya erat.


"Cukup." Ketua kelas mengakhiri doa dan kembali duduk.


"Kemarin ada tugas?"


Pertanyaan yang selalu menjadi awal ketika pelajaran. Menanyakan tugas yang mungkin saja diberikan untuk para pelajar. Tentu itu merupakan hal yang lumrah, agar mampu mengasah para siswa di mata pelajaran tersebut.


Semua diam tak bersuara. Beberapa menundukkan kepala untuk mencegah bertatapan mata dengan Bu Laras, guru matematika mereka. Sebagian lagi mencoba membolak-balik halaman buku. Berusaha sok sibuk agar tidak perlu menjawab.


Merasa kelas senyap dan tidak akan ada jawaban yang keluar, Bu Laras mengambil buku paket. Di bukanya beberapa lembar halaman sebelum berdiri di depan kelas.


"Karena semua diam, maka akan saya mulai materi baru." Bu Laras melihat seisi kelas mulai dari kanan hingga ke kiri. Menghela nafas karena kelas yang masih pasif.


"Buka bab logaritma," ucap Bu Laras lagi.


Beliau menunggu beberapa siswa mencari halaman dimana bab yang diminta tertulis. Merasa sudah tidak ada lagi yang membalikan halaman, Bu Laras memberikan pertanyaan.

__ADS_1


Tapi, masih tidak ada yang menjawab. Merasa sedikit geram, tapi masih di tahan. Beliau mulai menjelaskan pengertian dari logaritma.


"Logaritma adalah operasi matematika yang merupakan kebalikan dari eksponensial. Artinya, logaritma merupakan operasi pencarian eksponen supaya basis tertentu di pangkatkan dengan eksponen ini menghasilkan nilai yang dimasukkan." Bu Laras melihat para muridnya yang masih menunduk ke bawah. Mungkin ada yang benar-benar fokus mendengarkan, tapi pasti ada yang berpura-pura paham saja.


"Saya tidak suka kelas yang pasif. Kalau kalian mau diam, saya juga bisa." Bu Laras kembali duduk di kursi guru.


Ketua kelas meminta maaf mewakili teman-teman. Akhirnya semua murid membaca pengertian logaritma bersama-sama. Bu Laras menyatukan jari-jemari tangannya memperhatikan muridnya satu persatu.


"Nah seperti itu dari tadi apa susahnya." Bu Laras nampak tersenyum puas. Mengambil buku catatan kecil dan menyerahkan kepada sekretaris untuk di tulis di papan depan kelas.


Semuanya terdiam dengan tangan yang bergerak aktif mencatat. Bu Laras bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari kelas. Memastikan bahwa tidak ada satu pun yang hanya berpura-pura menulis.


Selesai mencatat Bu Laras kembali menjelaskan apa saja yang tertulis di papan tulis. Setelah itu beliau meminta untuk membuat kelompok berisi 4 orang.


"Karena kelas ini jumlahnya 32, maka ada empat kelompok yang akan berisi 5 orang," ucap Bu Laras.


Setelah Bu Laras mempersilahkan untuk mencari anggota kelompok, Dea langsung saja menyeret Dean ke bangku Aya.


Gadis itu menyandarkan kepala di atas tangan yang saling bertumpukan. Melihat Dea yang sepertinya tidak akan menyerah merayu, Aya pun mengganggukkan kepala.


Dea bersorak tertahan karena melihat Bu Laras yang memberikan peringatan kepadanya. Dea mengatur bangku menjadi melingkar. Dia duduk di samping Aya, sedangkan Dean di depan Aya.


"Tapi kita kurang satu orang nih, siapa ya?" Dea melihat ke penjuru kelas. Ujung matanya melirik Rahma yang berjalan berdampingan dengan salah satu teman gengnya. Kalau tidak salah dia adalah Bella.


Dea tidak suka dengan Bella. Pernah suatu hari ia melihat gadis itu berkata kasar. Ia juga sering menghina orang secara terang-terangan.


"Hai De, mau satu kelompok saja sama kami?" tanya Rahma menggunakan suara yang mendayu.


"Tapi aku udah punya kelompok. Lalu, kita sepertinya tidak se akrab itu. Jadi, jangan panggil aku dengan De," sarkas Dea.


"Kelompok kami kurang sih, kalau mau salah satu dari kalian saja yang bergabung," lanjut Dea cuek.


Rahma berbisik dengan Bella, lalu memintanya pergi begitu saja. Merasa diusir, ia menghentakkan kakinya tertahan. Raut wajahnya menunjukan ketidak relakan.

__ADS_1


Setelah itu Rahma duduk di samping Dean begitu saja. Meletakan buku dengan sangat lembut dan memberikan senyum yang lebar.


Bu Laras membagikan lembaran kertas kepada masing-masing kelompok. Menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh para muridnya.


"Kalian udah menulis sifat-sifat logaritma tadi kan. Nah, sekarang buktikan kalau sifat-sifat logaritma itu benar," jelas Bu Laras santai.


Kelas yang awalnya sunyi senyap menjadi agak kurang kondusif. Suara bersahut-sahutan untuk saling membagi soal untuk di kerjakan. Kelompok Aya sendiri sudah selesai dengan pembagian tugas. Kini mereka sibuk menekuni kertas di depannya untuk di kerjakan.


Diam-diam Rahma melirik ke arah Dean. Matanya tidak bisa berhenti menatap laki-laki yang ada di sampingnya itu. Bagaimana garis rahangnya yang nampak tegas


Sorot matanya yang tajam dibalik sayupnya kelopak mata. Mulutnya yang tipis di padukan dengan hidung mancung. Cukup membuat Rahma tersenyum tanpa sebab.


Dea yang melihat saudara kembarnya di lihat sebegitu lekatnya menjadi merinding. Ekspresinya sangat jelas sekali kalau risih dengan pemandangan di depannya.


Dea menghela nafas karena sadar ia akan menjadi bodyguard dadakan lagi untuk Dean. Demi menjaga saudara kembarnya dari Rahma, ia berpura-pura tidak paham dengan tugasnya dan bertanya kepada Dean.


"Lah aku juga tidak mengerti," ucap Dean dengan santai saat melihat soal Dea yang sudah hampir selesai.


Dea mengeram tertahan. Kadang sifat tidak peka milik saudaranya ini sangat menganggu. Ia jadi kesal sendiri sekarang.


"Aya tau?" Dea beralih menatap Aya yang masih menatap kertas di hadapannya. Tapi, ia sudah selesai mengerjakan soal dari Bu Laras dan justru sedang mempelajari soal-soal tentang bab tersebut.


"Itu nilai c ada setelah kedua ruas diberikan logaritma dengan basic c," terang Aya dengan lancar.


Dean memajukan tubuhnya untuk melihat tulisan Aya. Ia juga perlu memperhatikan karena memang belum paham. Aya mengangkat kepala dan saling bertemu tatap dengan Dean.


Sekian detik mereka saling beradu pandang, Dean memutus kontak terlebih dahulu dengan memundurkan tubuhnya kembali. Ia menunjuk kertas di depan Aya dengan bolpoin dan berkata, "Lalu nilai C itu berapa?"


Aya yang sudah selesai menormalkan detak jantungnya. Ia mengambil nafas yang dalam sebelum kembali menjelaskan.


"Nilai C nya itu 10, karena bilangan pokok logaritma nya tidak perlu di tulis," jelas Aya yang hanya di respon oleh anggukan Dean.


Rahma yang melihat ke kedekatan Dean dan juga Aya menjadi geram. Dibalik meja, tangan gadis itu mengepal dengan sangat kuat. Bahkan bisa di lihat kalau telapak tangannya mulai memerah.

__ADS_1


__ADS_2