
ini hanyalah karangan penulis. tidak untuk ditiru. terima kasih
------
Aya menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda iya dan rasa bersalah yang mendalam. Nindia berjalan mendekati Aya dan mengelus pundak gadis yang ia anggap sebagai adiknya sendiri ini. Setelah merasa cukup membuat Aya nyaman, Nindia berjalan ke arah Arya yang sedang menormalkan emosinya.
“Maaf tuan, seharusnya saya meminta izin kepada tuan muda terlebih dahulu.”
Arya masih saja diam dan menetralkan degup jantung yang bekerja keras karena tak mendapatkan adiknya di rumah yang megah ini. Siapa yang tidak berpikir negatif, jika anggota keluargamu tiba-tiba tak ada di ruang lingkup yang sama. Terlebih itu adalah Aya, gadis kecil yang masih polos dan belum mengerti apapun.
“Kenapa hawanya sangat tidak mengenakan seperti ini?”
Sebuah suara menginterupsi keheningan yang di perbuat oleh Nindia dan juga Arya.
__ADS_1
Aya yang melihat papanya masuk ke dalam ruang tamu menghela nafas dengan berat. Ia akan mencari pembelaan dari Wildan dan membuat kakaknya memaafkan kesalahan yang satu ini.
Namun belum sampai ia mengeluarkan suara, Arya sudah mendekati papanya dan membisikan sesuatu dengan wajah yang serius. Setelah itu ia meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang datar dan dingin.
“Kalian berdua kembalilah ke kamar. Papa akan memesankan makan siang untuk kita," ucap Wildan dengan tenang. Lelaki paruh baya itu bahkan sempat untuk mengelus rambut putrinya.
“Papa, Aya dan kak Nindia ingin membuat makan siang sendiri. Bolehkan pa?”
Aya masih kecil tentu saja ia khawatir. Bagaimana kalau kulit mulus putrinya itu terkena cipratan minyak. Sekilas, ia melirik ke arah Nindia.
Nindia hanya bisa menganggukan kepalanya karena masih merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan tadi. Seharusnya dia tadi izin, sungguh sangat ceroboh dirinya ini.
“Baiklah. Kalau begitu papa Ingin ke kamar dulu. Ada yang harus papa urus.”
__ADS_1
Tuan Wildan meninggalkan Aya dan Nindia yang masih menundukan kepalanya dalam. Memikirkan cara untuk meminta maaf akan kecerobohannya tadi. Aya yang sadar dengan pemikiran Nindia hanya bisa melihatnya dan menunggu hingga Nindia bisa merasa lebih tenang.
“Kenapa kakak hanya diam saja? Bukankah tadi kakak bilang ingin memasak makan siang untuk kami?”
Nindia tersadar dari lamunan dan langsung menoleh ke arah Aya yang telah melihat dengan tatapan berharap. Dia mengulum senyum sangat manis dan memberikan elus an sayang di puncak kepala Aya.
Aya tersenyum karena mendapat perlakuan yang sama dua kali. Semua orang pasti akan senang bila di elus kepalanya, karena itu merupakan tanda bahwa mereka telah di sayang.
Nindia menggiring kursi roda Aya menuju dapur yang sangat bersih. Sangat ketara sekali kalau dapur ini bahkan tak pernah terpakai untuk waktu yang sangat lama. Mungkin ia akan menjadi orang pertama setelah pemilik dapur rumah ini meninggalkannya.
Dengan cekatan Nindia memasak sebuah menu andalannya. Aya yang tak hanya ingin melihat saja meminta sebuah pekerjaan kepada Nindia. Dengan terpaksa Nindia memberikan sebuah talenan dan pisau. Nindia akan meminta Aya untuk memotong sayur dan bawang saja. Mungkin itu tidak akan apa-apa.
Setelah berkutat di dapur selama 30 menit akhirnya sup ayam, nasi, ayam goreng, dan juga sambal telah jadi di atas meja makan. Ia membawa Nindia ke ruang makan dan melangkah untuk memanggil ke dua tuannya yang ada di ruang kerja.
__ADS_1