
Nindia telah kembali ke kamar barunya setelah makan malam dan membersihkan sisa-sisa yang telah ia gunakan untuk memasak dan makan tadi. Aya juga sudah tertidur lelap karena lelah menceritakan banyak hal kepada Nindia. Dia sangatlah cerewet jika sudah nyaman dengan seseorang.
Ia tidak boleh mengecewakan ibu dan juga adiknya yang ada di kampung. Hanya ini harapannya untuk saat ini. Setelah itu, biarlah takdir yang menentukan bagaimana nasib yang ia jalani kelak. Pasrah adalah jalan satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
Ia dikejutkan dengan adanya Nindia yang ada di depan pintu ruang kerja milik papanya itu. ‘Apakah ia mendengarkan semua yang aku ucapkan dengan papa?’
Arya merasa bersalah bila itu memang benar-benar terjadi. Imagenya yang baik dan sopan pasti akan jatuh begitu saja.
Ia berjalan menuruni tangga dan menemukan adiknya yang berada di depan tangga. Ia menghampiri adiknya dengan gaya cool seperti biasanya. Berlutut untuk mensejajarkan tingginya dengan Aya.
__ADS_1
Tuan Wildan yang melihat Nindia masih mematung di depan pintu kerjanya sudah menebak apa yang telah terjadi. Ia mengajak Nindia masuk sebentar ke dalam ruang kerjanya untuk mengatakan beberapa hal yang harus di mengerti oleh Nindia.
“Apakah kau tadi mendengarkan pembicaraanku dengan Arya?”
Nindia menganggukan kepalanya perlahan. Dia bukanlah tipe gadis pembohong, apalagi dalam keadaan yang sudah tertangkap basah seperti ini. Hal itu akan percuma saja, justru mungkin akan membuat dirinya sendiri dalam keadaan yang bahaya alias diambang kehancuran.
Selama ini prinsip hidupnya adalah kejujuran apapun yang terjadi pada dirinya. Dia tak mau memiliki hutang kebohongan kepada orang lain hingga membuat orang itu menjadi terluka dan akhirnya menderita karena dirinya.
Wildan yang menyadari suasana hati Nindia yang sudah memburuk karena mendengar penuturan putranya mencoba mencari kata-kata yang pas untuk membuat Nindia tetap bertahan di rumah ini untuk waktu yang lama.
__ADS_1
“Tenang saja, saya masih akan memperkerjakan mu untuk sekarang. Selain karena Aya yang sudah terlanjur suka kepadamu, kami juga membutuhkan seseorang untuk menjaga Aya agar tidak berada di jalan yang salah.”
Nindia melongo mendengar penuturan tuannya yang sangat mengkuatirkan putri kecilnya itu. Senyum manis tersungging di bibirnya yang mungil. Mencoba untuk tetap tegar walaupun hatinya kini remuk redam
“Tapi dengan tuan dan juga tuan muda yang ada di samping nona Aya pasti, nona Aya akan tetap baik-baik saja,”ucap Nindia dengan suara yang lirih dan kepala yang menunduk dalam karena berani menyampaikan pendapatnya kepada sang pemilik rumah.
“Mungkin saja, tapi kami tetaplah laki-laki. Aya masih kecil dan membutuhkan campur tangan dari seorang perempuan.”
Nindia akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan tuannya. Tidak semua anak perempuan bisa dekat dengan ayahnya, walaupun ayahnya adalah cinta pertama baginya.
__ADS_1
Nindia jelas tahu, bahwa seorang ayah adalah cinta pertama bagi putrinya, karena ia juga merasakan hal yang sama dengan ayahnya dulu. Hingga kini ia berharap akan menemukan laki-laki yang sama dengan sang ayah.
Suka dengan kesederhanaan dan memberikan ketulusan yang tidak dimiliki laki-laki lain untuknya, ibu dan juga adik Nindia. Namun, seorang perempuan juga masih membutuhkan tangan perempuan lainnya untuk membuatnya dapat menjadi gadis yang anggun dan dapat memilih jalan hidupnya dengan benar.