Kasta

Kasta
Tamu tak Diundang


__ADS_3

Minggu pagi dimana semua orang mendapatkan jatah libur. Para pekerja yang akhirnya mendapatkan waktu beristirahat, dan para pelajar yang bisa bersantai sebentar dari banyaknya tugas.


Ada yang benar-benar menggunakan waktu libur untuk bermalas-malasan di rumah. Bergulung seharian di kamar dengan di temani oleh camilan dan minuman hangat.


Sebagian lagi memilih pergi keluar rumah bersama keluarga. Menghabiskan waktu yang tidak di miliki saat sibuk mencari uang. Bertukar cerita yang dilewatkan dalam seminggu.


Arya hari ini menjadi tim malas. Dari subuh hingga kini waktu telah menunjukan pukul sepuluh pagi, ia masih di ranjang lengkap dengan selimut. Matanya fokus berjelajah di sosial media.


Sesekali tawa ke luar dari bibir lelaki itu. Jarang bagi Arya untuk tetap di kamar seperti ini. Padahal biasanya setiap minggu ia pasti akan berlari memutari komplek. Dalam hati pria itu berkata, "Hanya hari ini saja."


Fokusnya buyar dari video yang sedang berputar. Perutnya berdemo meminta untuk segera di isi. Arya bangkit dengan malas. Ia letakkan begitu saja smartphone yang telah di non aktifkan di tempat tidur.


Rumah sangat sepi, namun tidak ada kesan angker seperti semalam. Arya dengan tenang memasuki ruang makan. Tidak apa-apa disana. Arya mendengus kasar ketika mengingat kejadian semalam.


Rasanya bagian belakang tubuhnya saja masih ingat bagaimana rasa saat terjatuh. Sungguh memalukan lagi karena sang papa melihat hal tersebut.


Arya tetap berjalan menuju dapur. Tempat yang sudah pasti digunakan orang-orang untuk mencari makanan.


Di dapur ia juga tidak mendapat apapun. Bahkan tempat penyimpanan makanan kosong tak berbekas. Terpaksa Arya harus memasak mie lagi.


"Tumben banget nggak ada makanan." Arya kembali berkata tanpa ada yang menyahuti sama sekali.


Di buka kabinet bawah meja. Di sana banyak sekali stok mie instan. Hal itu dilakukan Arya dulu jika saat tengah malam ia lapar. Bisa dikatakan mie adalah teman terbaik Arya.


Akhir-akhir ini makanan kesayangan laki-laki itu memang tidak terjamah sama sekali. Untuk apa ia masih memasak mie jika ada makanan yang selalu tersedia.


Baru kali ini setelah ada Nindia, tempat penyimpanan kosong. Padahal, gadis itu jarang mengosongkan lemari makanan. Itu karena ia memberi tahu bahwa keluarga ini memang sangat suka makan, walau belum memasuki waktunya. Ya, mungkin saja ia tidak sempat memasak.


Sang papa hari ini harus ke luar kota untuk menghadiri pernikahan salah satu kolega mereka. Lalu, kalau tidak salah Aya tadi pamit akan ke taman dengan Nindia. Arya tidak terlalu tahu karena hanya mendengar dari balik pintu kamarnya.


Layaknya pencinta mie, Arya tak kesulitan untuk meracik bumbu-bumbunya. Ditambah dengan sayuran, telur dan beberapa cabai. Sungguh sangat menggugah selera Arya.

__ADS_1


Setelah mie selesai dihidangkan, Arya bergegas pergi ke ruang keluarga. Ia letakkan mie di atas meja, lalu mencari kaset film untuk menemani makan.


Laki-laki itu tiba-tiba saja mendengus sebal. Di tumpukan paling atas ada kaset film horor yang sepertinya di tonton oleh sang adik semalam. Rasanya ingin ia banting saja, jika ia tak ingat ceramah sang papa.


Semua kaset ini memang Wildan semua yang membeli. Arya mana paham tempat-tempat untuk membeli hal-hal seperti ini.


Ia memilih kaset komedi diantara jajaran film. Setelah selesai ia duduk santai dengan mangkok di tangan.


'Buncit biar lah buncit ini perut.' Arya bermonolog dengan dirinya sendiri. Tangan kanan mengelus perutnya sendiri yang merasa kenyang hanya dengan semangkuk mie.


Saat ia akan beranjak untuk kembali ke kamar, suara bel menggema di rumah besar dan megah itu. Arya mengerang frustasi, bahkan tangannya sudah terkepal.


Di saat rumah kosong dan dirinya ingin bersantai justru ada tamu. Semakin jengkel lagi ketika melihat siapa tamu yang datang.


Tamu-tamunya langsung saja merangkul bahu Arya secara bersamaan. Masuk tanpa permisi terlebih dahulu. Sudah seperti masuk ke dalam rumahnya sendiri.


Bagaimana tidak dianggap sebagai rumah sendiri, jika pada nyatanya para tamu itu memang sering datang kemari. Walau itu sudah sangat lama sekali dari kunjungan terakhir mereka.


Satu orang lagi yang berdiri di belakang mereka hanya menggelengkan kepala. Kelakuan mereka berdua memang tidak pernah berubah kepada Arya. Selalu seenaknya saja. Untung saja laki-laki itu tak mempermasalahkan sama sekali.


Orang yang di sebelah kanan hanya menganggukan tanda setuju. Arya sendiri sedang menahan emosi sekarang. Tapi, masih bisa ia redam.


"Kita buktikan saja. " Orang yang di sebelah kanan memberi kode pada temannya dengan kedipan mata.


"Woi!" teriak Arya yang merasa perlakuan kedua sahabat SMA nya agak kelewatan.


Arya sudah tak bisa menahan kesal, ketika ke dua cowok itu mengangkat bajunya dan memegang perut Arya secara tiba-tiba, dan itupun di hadapan seorang gadis.


"Kotak-kotak ternyata Dra," tukas salah satunya dan dijawab dengan anggukan.


Ke duanya tertawa girang lalu ber tos ria. Setelah itu Indra dan Andra melarikan diri ke dapur. Mereka adalah si kembar sahabat Arya yang sudah lama tidak bertemu.

__ADS_1


"Sorry, kamu nggak lihat kan?" Arya berbalik ke belakang dan mengarahkan satu-satunya gadis di sana untuk ke ruang tamu.


"Sedikit. Tapi nggak papa kok." Gadis itu bersemu merah karena tidak sengaja melihat punggung tegap Arya.


"Isi kulkas mu benar-benar yang terbaik deh Ar," ucap Andra.


Mulutnya sibuk mengunyah potongan apel. Di letakkan piring berisi buah itu di atas meja. Indra juga bergabung ke ruang tamu dengan se toples camilan yang di dapat dari kabinet dapur.


"Jangan cemberut, dibawain mantan terindah datang ke sini juga?" Andra dengan celetukannya yang tidak pernah berubah.


Sukma yang merasa tersindir tak tanggung-tanggung memukul Andra dengan keras. Alhasil apel yang baru digigitnya jatuh ke lantai. Arya memberi pukulan tambahan.


"Pungut, buang sampah."Arya melotot kan matanya.


"Nasib dah punya temen yang nggak bisa diajak bercanda." Andra melangkah masuk kembali ke dapur mengambil sapu dan tempat sampah.


"Kak Arya!" Suara Aya melengking memenuhi penjuru rumah.


"Kak Arya lihat deh Aya beli apa," teriak Aya lagi karena tidak kunjung melihat sang kakak datang menghampirinya.


Aya menutup mulutnya ketika sadar ada tamu. Memberikan senyum canggung karena merasa yang dilakukan tadi salah.


Andra dan Indra justru memberikan senyum lima jari. Ke duanya berjalan mendekat i Aya yang terlihat makin manis di usia remaja.


"Ya ampun Aya sudah besar. Ingat sama kakak nggak?" Indra berjongkok di depan Aya di ikuti oleh saudara kembarnya.


"Hehe. Aya lupa namanya, tapi ingat kok kalau kakak berdua temennya kak Arya," ucap gadis itu malu-malu.


"Ehm, kalau gitu kenalan dulu. Nama kakak Indra." Laki-laki itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Aya, namun di tepis keras oleh Arya.


"Nggak usah macam-macam. Nin tolong bikin minum buat temenku ya," kata Arya pelan.

__ADS_1


Ia mendorong kursi roda Aya agar dekat dengan tempat duduknya. Andra yang melihat kepergian Nindia menyenggol bahu Arya pelan.


"Siapa tuh? Istri?" tanya laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari punggung Nindia yang makin menghilang.


__ADS_2