Kasta

Kasta
Arya mode baik


__ADS_3

Senin pagi di sambut mentari dengan sinar hangat. Tak ada awan yang menutupi sang Surya untuk mengawali tugasnya.


Seperti biasa Nindia sudah bangun dan akan memulai aktivitas. Rambut di jepit dengan jedai berwarna hitam. Baju lengan pendek dan rok panjang menjadi pakaiannya hari ini.


Berjalan dengan ringan di rumah yang masih sepi. Melakukan tugas pertama, yaitu memadamkan lampu di seluruh rumah. Kenapa? Tentu karena harus hemat dan sudah ada cahaya matahari yang akan menerobos setiap cela jendela rumah.


Saat akan mematikan lampu halaman depan, tidak sengaja ia melirik ke arah ruang keluarga. Matanya membola dengan mulut yang terbuka sedikit.


Menarik nafas dalam-dalam kemudian di hembuskan dengan lelah. Tanpa menunda lagi, Nindia bergegas mematikan semua lampu rumah. Setelah itu mengambil sapu dan tempat sampah.


Mengambil semua bungkus snack yang bertebaran. Di masukan itu ke dalam tong sampah. Mangkuk yang sudah kosong dibawa ke dapur yang membuat Nindia makin mengetatkan rahang.


Tempat yang biasanya bersih dan tertata rapi kini tampak seperti kapal pecah. Gelas dan panci berserakan di atas meja dapur. Lalu, mie yang tercecer di lantai. Apakah bisa ia memasak jika kondisinya sekacau ini?


Nindia melanjutkan membersikan ruang keluarga. Dari mengelap meja hingga menyapu remahan snack. Membenah kan bantal sofa yang sudah bertebaran di penjuru ruangan. Entah apa yang dilakukan Arya semalam.


Setalah merasa ruang tamu bersih, Nindia bergegas membersihkan dapur. Menyadari waktu tak akan cukup untuk memasak, ia memilih untuk membeli makanan di luar.


Setidaknya dia harus menyiapkan mental dari sekarang. Bisa saja Arya akan mengomel dan mengatakan hal yang kurang mengenakkan. Tidak memasak di pagi hari memang sebuah kesalahan yang bisa membuat Arya berceramah. Tentu saja Nindia sangat tahu itu.


Tapi, jika keadaanya terpaksa seperti ini mau bagaimana lagi. Toh jika ia memasak akan sama saja terkena omel. Sarapan telat dan akhirnya mereka semua akan terlambat memulai hari.


Nindia bergegas ke luar rumah dengan membawa dompet berisi uang yang diberikan oleh Wildan. Beliau memberikan itu, jika sewaktu-waktu ada keperluan yang harus dibeli segera.


Karena selain hari Minggu semua penghuni rumah ini melakukan aktivitas di luar. Kadang Nindia berpikir bagaimana mungkin rumah semegah ini hanya di isi oleh mereka bertiga.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Nindia sampai di warung makan yang lumayan ramai. Tempat makan yang memang tidak jauh dan masih berada di komplek yang sama dengan rumah megah Wildan. Ia mengantri bersama ibu-ibu yang lain.


"Nggak masak neng hari ini?" tanya seorang ibu-ibu dengan baju yang penuh pernak-pernik. Tak lupa beberapa cincin, dan kalung mas melekat di tubuh.

__ADS_1


"Tidak bu, " jawab Nindia dengan sopan.


"Pasti kesiangan ya?" Ibu itu berkata pelan. Matanya tak melihat ke arah Nindia, tapi ia yakin kalimat tadi bermaksud untuk menyindirnya.


Nindia hanya tersenyum simpul mengabaikan ibu itu. Beliau memang dikenal sebagai biangnya gosip. Walau Nindia belum lama di komplek ini, tapi ia sudah jadi bahan gosip bagi ibu itu.


Tak jarang ia di sapa seperti tadi ketika Nindia ke luar rumah untuk membeli sesuatu. Selalu saja ada omongan yang tidak mengenakan hati terlontar begitu saja. Sekali lagi, hanya sabar yang bisa dilakukan oleh Nindia.


"Bu, tolong nasi uduknya tiga bungkus," ucap Nindia setelah mengantri beberapa lama.


"Baik. Sebentar ya," ucap ibu itu ramah.


Nindia melihat ibu itu dengan luwes membungkus makanan yang di pesan. Walau semakin siang, warung makan itu tidak pernah sepi. Justru makin ramai saja.


Selesai membayar makanan, Nindia bergegas kembali ke rumah. Aya nampak sudah berpakaian rapi. Di pangkuan gadis kecil itu ada tas berwarna merah muda.


"Kak Nin dari mana?" tanya Aya yang melihat Nindia mulai memindahkan makanan yang tadi di belinya ke sebuah piring.


"Memang kenapa kak?" tanya Aya lagi, masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Nindia.


Belum sempat menjawab, Wildan datang ke ruang makan. Melihat menu masakan hari ini mampu membuat dahi laki-laki paruh baya itu berkerut. Kemudian ia berkata, "Bahan masakan lagi habis ya Nin?"


"Maaf yah, tadi Nindia harus membereskan ruang keluarga dan dapur, jadi tidak sempat untuk memasak." Nindia berkata jujur, agar tak ada kesalahpahaman. Apalagi dikira malas oleh pemilik rumah.


"Memangnya kenapa dengan ruangan-ruangan itu?" tanya Wildan yang bersiap duduk di kursinya.


"Tidak tahu yah, tadi pagi Nindia bangun sudah kotor dan berantakan," ucap Nindia.


Saat semuanya sudah duduk, barulah Arya datang dengan tangan yang masih sibuk mengancingkan lengan kemeja. Saat semua sudah berkumpul, Wildan meminta Arya untuk memimpin doa. Mereka makan dengan tenang dan tanpa ada suara yang ke luar.

__ADS_1


"Arya, apa yang kau lakukan tadi malam?" tanya Wildan saat selesai dengan santap paginya.


"Biar ku tebak. Pasti papa bertanya seperti itu karena ruang keluarga dan dapur yang berantakan?" tebak Arya. Ia menyeka mulut dengan tisu dan meletakkannya di sampah kecil bawah meja.


"Jadi benar kamu yang membuatnya berantakan?" Wildan menatap sang putra yang masih diam tanpa ekspresi.


"Maaf. Tadi malam aku kelaparan dan masih banyak laporan yang harus di kerjakan," ucap Arya. Matanya bertatapan langsung dengan Nindia.


"Aku pikir aku bisa membuat mie sendiri. Tapi justru membuat dapur berantakan," lanjut Arya masih dengan raut wajah santai.


Laki-laki itu yakin pasti Nindia yang ke susahan dari tadi pagi. Dilihat dari makanan yang bukan masakan gadis itu sendiri. Lalu, wajah kuyu bahkan sebelum mereka berangkat menjalankan aktivitas mereka pagi ini.


Wildan yang mendengar ucapan Arya menjadi bingung. "Kau sudah menyadari kesalahan?"


Arya mengangguk dan tersenyum tipis. Dia kembali melihat ke arah Nindia setelah beberapa detik beradu pandang dengan sang papa.


"Kau mau memaafkan ku?" tanya Arya dengan suara yang ditekan agar lebih lembut. Nindia yang juga baru pertama kali mendengar tuan mudanya meminta maaf, hanya bisa menganggukan kepala.


"Bagus. Aku tak akan berbuat jahil lagi. Aku rasa kau orang yang baik. Setelah ini jangan panggilan aku tuan muda. Kau bisa memanggilku kakak." Setelah berbicara panjang lebar, laki-laki dewasa itu berdiri. Hal itu mampu membuat Nindia, Aya maupun Wildan menjadi menganga tak percaya.


"Kau akan ikut dengan kakak atau papa, Aya?" tanya Arya yang sudah membenahkan pakaian dan bersiap untuk berangkat kerja.


Aya tersadar dari keterkejutan dan mengerjakan mata beberapa kali. Ia bahkan harus menggeleng otaknya yang tiba-tiba tidak bekerja karena ucapan panjang sang kakak.


"Aku akan berangkat dengan papa," jawab Aya setelah sekian lama terdiam.


"Baiklah." Arya berjalan pergi meninggalkan ruang makan.


Setelah yakin bahwa Arya sudah tak terlihat, Aya langsung saja bersuara dengan suara yang berbisik. "Apakah kak Arya salah meminum obat pa?"

__ADS_1


Wildan hanya menggelengkan kepala. Ia sama sekali tak mengerti dengan perubahan tiba-tiba dari sang putra. Laki-laki paruh baya itu jadi agak merinding dan juga merasa bersalah.


Apa mungkin perubahan Arya itu karena tegurannya dua hari yang lalu?


__ADS_2