
Tok tok
Dug
Arya bergegas menghampiri Nindia. Gadis itu memegang kepalanya yang terbentur. Tadi, saat ia melewati kamar Aya, ia melihat setengah tubuh gadis itu berada di bawah tempat tidur sang adik.
Niat hati ingin bertanya, tidak menyangka membuat Nindia kaget. Di usap kepala gadis itu mencari benjolan. Merasa aman, Arya membantu untuk berdiri.
"Kamu ngapain sampai ke bawah sana," tanya Arya keheranan dengan kelakuan Nindia yang baru dilihat nya kali ini.
Nindia membersihkan bajunya dari debu. Menepuk-nepuk kepala, jika saja ada kotoran yang menempel. Memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal di seluruh tubuh.
"Tadi Nindia lagi naruh gelas kecambah milik Aya kak," jawab Nindia pelan. Gadis itu memasang wajah polos yang mampu membuat Arya menjadi gemas.
Arya menggeleng tidak percaya. Ia kira gadis itu sedang melakukan apa, ternyata hanya membantu menaruh hasil praktek sang adik. Dia jadi geli sendiri karena Nindia.
"Terus Aya kemana?" tanya Arya lagi yang tidak melihat kehadiran papa dan adiknya.
Dia baru saja turun dari kamar setelah membersihkan diri. Tadi seingatnya sang papa pulang lebih dulu dari kantor. Tapi, mobilnya pun tidak terlihat sama sekali di garansi maupun halaman rumah.
"Tadi diajak ayah. Katanya ke rumah Tante siapa gitu." Nindia kembali merapikan bed cover dan selimut Aya.
Setelah di rasa rapi, Nindia pamit kepada Arya untuk memasak makan malam. Pria itu mempersilakan dan ikut keluar dari kamar Aya. Menutup pintu kamar hingga rapat. Baru dua langkah, smartphonenya berbunyi dengan nyaring.
Panggilan masuk dari sang papa. Arya mengangkatnya. Entah apa yang akan di katakan oleh Wildan. Dahinya mengkerut mendengar ucapan papanya. Menghela nafas ketika nada memerintah pria tua itu sampai di telinga Arya.
"Kamu paham kan?" Suara Wildan terdengar dari seberang.
"Iya pa," jawab Arya malas-malasan.
Setelah mendengar jawaban dari Arya, sambungan itu pun di putus sepihak oleh Wildan. Tidak ambil pusing, laki-laki itu berjalan menuju dapur. Sudah terbiasa denggilan papanya yang tiba-tiba dan dimatikan pun tanpa pamit.
"Nin!" panggil Arya.
__ADS_1
"Iya kak?" Nindia berbalik dan menemukan Arya yang baru saja masuk dapur.
"Jangan masak deh. Aya sama papa pulang malem katanya." Arya menatap Nindia yang mendengarkan setiap perkataannya.
Kalau dilihat lebih jelas, gadis di depannya ini memang sangat cantik. Bukan cantik wanita dewasa, tapi lebih ke wajah polos yang mampu membuat semua orang menurutinya.
Tutur katanya yang halus juga menjadi poin tersendiri untuk Nindia. Ia tidak pernah sekalipun melihat adiknya menangis diam-diam setelah kedatangan gadis ini. S
Justru ia lebih sering Aya tertawa. Wajah sang adik pun sekarang lebih ceria dan jarang manyun lagi. Senyumnya tanpa sadar merekah. Berterima kasih kepada Tuhan karena memberikan adiknya kebahagian melalui Nindia.
"Kak Arya, kakak nggak papa?" tanya Nindia yang tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya. Ia bahkan sudah beberapa kali melambaikan kan tangan di depan wajah Arya.
"Heh?" Arya tersadar setelah melamun beberapa saat.
Nindia seketika tertawa kecil, melihat wajah Arya. Entah kenapa ekspresi laki-laki itu yang kebingungan membuatnya tertawa. Ia menahan tawa yang akan meledak dengan menutup mulutnya.
Tidak mungkin ia tertawa secara terang-terangan. Bisa-bisa Arya akan kembali ke mode jahil dan memberantakan seisi rumah lagi.
"Kenapa tertawa?" tanya Arya dengan wajah datar.
"Makan di luar aja. Tadi papa mintaku untuk mengajakmu makan di luar," jawab Arya kembali.
Nindia mengangguk dan mulai membereskan bahan-bahan yang akan di masaknya tadi. Memasukan sayuran kembali ke lemari es. Untung saja ia belum sempat memotongnya.
Di belakang Arya memperhatikan setiap gerakan gadis itu. Ketika mata mereka bersinggungan, Arya langsung mengalihkan pandangan.
"Kalau sudah selesai cepat ganti baju. Ku tunggu di ruang keluarga ya Nin," ucap Arya agak keras di akhir kalimat karena pria itu sudah menjauhi dapur.
Selepas kepergian Arya, Nindia meledakan tawa. Perutnya sampai terasa sakit. Butuh beberapa menit hingga tawanya reda. Ia bergegas pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Nindia hanya Menganti bajunya dengan lengan panjang karena udara yang dingin. Bagian bawah ia masih mengenakan rok panjang yang baru digantinya sore tadi. Di tambah sedikit lip tint yang dibeli beberapa waktu lalu dari tetangga sebelah.
Itu pun ia terpaksa membelinya, karena saran dari Wildan dan Aya. Mereka bilang Nindia seperti orang sakit karena bibirnya yang pucat.
__ADS_1
Ia melihat Arya nampak bosan menunggu. Kakinya yang saling bertumpukan bergoyang dengan cepat. Matanya fokus memperhatikan layar smartphone. Entah apa yang sedang laki-laki itu tengah perhatikan.
"Kak, Nindia udah siap," ucap gadis itu di samping sofa yang di duduki Arya.
Arya bangun dari duduknya dan mengajak Nindia ke luar rumah. Ia mengeluarkan motor saat SMA nya. Walau sudah lama tidak digunakan, tapi laki-laki itu tetap merawatnya secara berkala.
"Kakak pakek motor?" tanya Nindia kaget saat motor itu dikeluarkan dari garasi.
"Kenapa?" Nindia menatap bagian bawahnya yang menggunakan rok. Untung saja gadis itu selalu memakai celana panjang di dalam.
Ninida berpegangan pada bahu Arya, karena ia tidak sampai untuk naik ke atas. Salahkan motornya yang terlalu tinggi untuk tubuh Nindia yang mungil.
Laki-laki itu tidak menghiraukan pegangan Nindia. Arya justru menjalankan motornya di jalan raya setelah dirasa gadis di belakang sudah duduk dengan nyaman.
"Kakak mau makan dimana?" tanya Nindia dengan teriakan karena suaranya berlomba dengan angin dan kendaraan lain.
"Kamu mau kemana?" Arya balik bertanya dengan suara yang keras juga.
"Makan di pinggir jalan aja kak. Warung Makan Lamongan itu lho di samping supermarket."
Aya mengangguk dan menjalankan motornya dengan agak cepat. Nindia yang kaget dengan laju kendaraan itu tanpa sadar memeluk pinggang Arya erat. Gadis itu tidak melepaskan pegangannya karena merasa takut. Arya hanya tersenyum kecil mendapat perlakuan seperti itu.
Tidak butuh waktu lama, kini mereka ada di depan tenda warung makan Lamongan. Arya memakir kendaraannya tepat di samping. Setelah yakin aman, ia mengajak Nindia untuk segera memesan makanan.
"Kakak mau apa?" tanya Nindia kepada Arya sebelum menulis pesanan.
"Ayam saja." Arya menjawab dengan singkat, padat dan jelas.
Nindia mengangguk mengerti dan segera mendekati pelayan di depan. Ia memesankan makanan Arya terlebih dahulu sebelum miliknya. Selesai, ia membayar dan kembali duduk di samping kakak Aya.
Tidak butuh waktu lama, pesanan mereka diantar. Ibu itu meletakan pesanan di meja lengkap dengan minuman dan tempat mencuci tangan. Nindia mengucapkan terima kasih dengan senyum yang tulus untuk menghargai ibu itu.
"Sama-sama. Aduh penganti baru ya?" tanya ibu itu sebelum pergi.
__ADS_1
Nindia terkejut dan ingin menjelaskan, tapi ibu itu sudah pergi. Memandang Arya yang nampak biasa saja. Nindia pun mengedikkan bahu dan ikut memakan bagiannya.