
"Kemana Arya dan Aya?" tanya Wildan yang tidak mendapati putra dan putrinya di meja makan.
Wildan menyerat kursinya kebelakang sebelum mendudukan diri. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada dirinya dan juga Nindia.
Tiba-tiba saja pria itu merasa sepi. Perasaannya jadi tidak menentu, tapi tetap menampilkan raut wajah baik-baik saja di depan Nindia.
Nindia keluar dari dapur. Di tangannya ada satu teko air. Meletakannya di atas meja sebelum menjawab pertanyaan Wildan. Ia baru saja selesai menghidangkan makanan setelah terlambat untuk membuat makan malam.
"Aya bilang tidak akan makan malam yah. Lalu, Kak Arya tadi bilang masih ada urusan di luar."
"Arya menelpon ke rumah?" tanya Wildan penasaran.
"Iya yah," jawab Nindia. Gadis itu mendudukan dirinya di kursi yang biasa digunakan oleh Aya.
"Dia sudah baik kepadamu? Sudah tidak melakukan kejahilan lagi?" tanya Wildan secara beruntun karena merasa takjub.
Putranya yang semula bersikap kurang baik kepada Nindia kini sudah mau melapor jika tidak pulang ke rumah. Sepertinya ia terlalu sibuk hingga tidak tahu apapun yang terjadi di rumahnya sendiri.
"Kak Arya sudah baik kok yah."
Nindia mengambil piring kosong Wildan dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk. Pria tua itu menerima uluran piring dan menghela nafas kecewa. Nindia mengusap tangan lelaki paruh baya itu lembut.
"Mereka sudah dewasa. Sekarang saja sudah tidak bisa menemani ayah untuk makan malam. Lalu, bagaimana bila mereka sudah menikah?" Wildan berucap dengan sendu.
"Kalau begitu Nindia yang akan menemani ayah," ujar Nindia memberikan senyum yang menenangkan.
Gadis itu seperti sebuah anugrah yang diberikan Tuhan untuk keluarga ini. Mungkin ia harus memberikan sedikit hadiah. Tidak berlebihan, karena gadis ini lah rumahnya kembali berwarna.
Wildan membalas senyum itu. Ditepuk tangan gadis yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri. Seolah mengatakan terima kasih tanpa suara.
Keduanya mulai makan malam dalam keheningan. Wildan tidak terlalu suka mengeluarkan suara ketika sedang makan. Nindiapun sungkan untuk mencari topik pembahasan, karena tahu kebiasan Wildan.
Nindia tidak tahu mengapa Aya tidak ingin mengisi perutnya. Tadi, gadis itu langsung masuk kamar setelah pulang sekolah. Ia hanya melihat gadis itu yang melenggang masuk tanpa menyapanya sama sekali.
__ADS_1
Baru kali ini gadis itu tidak menemuinya terlebih dahulu. Nindia mencoba menguping jikalau ada sesuatu. Tapi, hanya kehampaan yang menyambut pendengarannya. Tidak ada suara apapun yang bisa ditangkap oleh Nindia.
Saat akan menerobos masuk, kamar itu sudah terkunci. Ia mengetuk pintu Aya beberapa kali, tapi hanya jawaban tidak apa-apa yang di dapat. Gadis itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Nindia.
Nindia menyerah dan mulai meninggalkan kamar Aya. Berharap besok gadis itu akan kembali ceria kembali. Berbicara dengan dia lagi dan memasak bersama. Jikalau tidak, ia pasti akan menemukan cara agar Aya mau berbagi cerita dengannya.
"Nindia tidak mau mencoba kuliah?"
Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Wildan membuat Nindia kaget.
Untung saja ia tidak sampai tersedak makanannya sendiri. Kuliah, itu kata yang di dambanya. Tapi kini ia berpikir ulang tentang hal itu. Dia tidak mungkin egois dan akhirnya menelantarkan Sasya.
Dibanding dirinya, ia ingin adiknya lebih suksek. Mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa membahagiakan ibu mereka. Bukan berarti kerja di rumah Wildan tidak bagus. Tapi, semua orang pasti mengharapkan pekerjaan yang sedikit bergerak tapi tinggi gaji.
Nindia menggeleng dengan senyuman. Gadis itu pun berkata, "Nindia suka bekerja yah."
"Benarkah? Padahal ayah ingin membiayainya," ucap Wildan dengan yakin.
"Nindia benar-benar sudah tidak memiliki minat yah," ucap gadis itu dengan percaya diri.
"Mau bagaimana lagi kalau kau memang tidak mau. Bekerjalah yang rajin. Bilang ke ayah kalau kau butuh sesuatu." Wildan mengelus kepala Nindia pelan dan penuh sayang.
"Terima kasih yah," ucap Nindia. Wildan hanya mengangguk dan meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar.
Nindia membereskan piring-piring kotor dan menaruhnya ke wastafel terlebih dahulu. Setelahnya gadis itu menyimpan lauk yang masih tersisa di kabinet atas. Tentu dia ingat masih ada dua orang di rumah ini yang belum makan.
Siapa tahu kalau salah satu dari mereka ingin makan malam nanti. Nindia harus mencegah kejadian Arya yang memakan makanan basi. Pria itu bahkan sampai tidak masuk kerja karena diare.
Beres dengan piring kotor, Nindia memastian semua lampu rumah mati. Tinggal yang ada di ruang depan dan beberapa tempat yang masih dinyalakan.
"Kak Arya sudah bawa kunci sendiri belum ya?" Nindia berjalan ke pintu depan. Bertanya-tanya apalah laki-lakinitu sudah membawa kunci cadangan untuk masuk ke rumah.
Ragu dengan jawabannya, Nindia memutuskan untuk menunggu. Ia akan menonton televisi untuk mengusir kejenuhan.
__ADS_1
Komplek sudah sepi dan gelap. Hanya ada lampu jalan yang menerangi. Ia masuk ke dalam dan mengunci pintu. Memastikan pintu samping dan jedela sudah terkunci semua. Gadis itu berjalan ke ruang keluarga dan menghidupkan televisi.
Entah sudah berapa lama ia menonton televisi, tapi matanya terasa mulai berat. Nindia hampir saja memejamkan mata, tapi dia mendengar suara ketukan pintu. Menyadarkan diri dan meregangkan otot sebelum membuka pintu.
Arya berdiri di depan pintu dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Jas yang sudah tersampir di bahu. Dasinya pun telah melonggar, di tambah dengan baju yang sudah keluar dari celana.
Nindia menyingkir agar pria itu bisa masuk ke dalam rumah. Setelahnya gadis itu mengunci pintu rumah. Ia berniat akan kembali ke kamar, tapi matanya menangkap Arya yang duduk di ruang keluarga.
Ia menghampiri Arya yang memejamkan mata dengan tubuh menyandar di sofa. Gadis itu berkata, "Kakak butuh sesuatu?"
"Apa ada makanan?" tanya Arya cepat.
Perutnya butuh diisi, tapi tubuh ingin di segarkan. Menyentuh air hangat untuk merilekskan otot yang kaku. Matanya bahkan berat untuk terbuka.
"Ada, mau Nindia panaskan?"
"Tolong ya. Aku mau mandi dulu Nin," ucap Arya sebelum beranjak masuk ke kamar.
Nindia bergegas kembali ke dapur. Menghangatkan makanan sebelum menatanya kembali ke meja makan. Tidak butuh waktu 15 menit Arya sudah kembali.
Laki-laki itu kembali dengan baju santai dan celana selutut. Rambutnya nampak basah dengan beberapa tetes air yang jatuh.
"Nin, ambilin secukupnya bawa ke ruang keluarga ya."
Nindia menjawab 'ya' dan mengambilkan makan seperti yang diminta pria itu. Membawa ke ruang keluarga dengan segelas air putih.
"Tolong temani makan Nin."
Lagi-lagi Nindia hanya mengangguk mengiyakan. Walau matanya sudah berat, ia tidak mungkin menolak orang yang sudah mempekerjakannya. Tidak ada percakapan, hanya suara televisi dan kunyahan Arya yang bersahutan di ruang itu.
Nindia sudah tidak sanggup lagi, dan kemudian jatuh tertidur di sofa. Arya melirik sekilas dan kembali melanjutkan makan.
"Kakak ngapain makan malam-malam."
__ADS_1