Kasta

Kasta
Tugas Biologi


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir akan segera di mulai. Aya mengeluarkan buku paket dan tulis yang biasa ia gunakan untuk pelajaran biologi. Meletakannya di atas meja dan melipat tangan dengan rapi. Sunggu contoh murid yang baik.


Aya tersenyum ketika tidak sengaja bertatapan dengan Dea. Mereka jadi semakin dekat setelah kerja kelompok beberapa waktu yang lalu. Sifat ramah Dea membuat Aya merasa nyaman.


Bu Endang masuk dengan membawa satu buah paket besar. Tanpa basa-basi beliau meminta para murid untuk membuka buku paket milik masing-masing.


"Tumbuh dan berkembang merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Dua rangkaian proses tersebut berjalan bersamaan, sehingga tidak dapat dipisahkan ...." Bu Endang membacakan dengan lantang. Beliau berjalan mengelilingi kelas, memastikan semua mendengan penjelasannya.


Beberapa kali beliau menjelaskan di sela membaca materi. Semua memperhatikan dengan teliti. Tidak ada yang berani untuk menyepelekan beliau. Hening hanya ada suara Bu Endang yang bergema di kelas.


Pernah suatu hari ada yang tidur di kelas. Bu Endang tidak menegur sama sekali. Tapi, saat jam pelajaran berakhir beliau langsung memberikan tugas menulis materi 20 halaman di buku tulis pada siswa itu.


Tahu sendiri buku paket biologi yang penuh dengan materi. Dua puluh halaman di buku paket sama saja full satu buku tulis. Tentu yang lain tidak ingin merasakan hal serupa.


"Baiklah. Kalian buka halama 215. Di sana ada laporan untuk perkecambahan biji kacang hijau. Buat kelompok berisi empat orang. Dua minggu lagi saya cek hasil laporan." Bu Endang meninggalkan kelas setelah memberi tugas.


Ketua kelas bergerak cepat ke depan. Jika ia tidak bertidak pasti yang lain langsung pergi meninggalkan kelas. Ujung-ujungnya tugas akan terhambat dan akhirnya ia yang kena semprot oleh Bu Endang.


"Cepat lah. Mau buat pengumuman apa ini?" keluh salah satu siswi yang sudah berdiri di samping pintu kelas.


"Iya, jangan lama-lama lah. Lumayan ini jam kosong." Siswa yang lainnya ikut mengeluh.


Dalam sekejap kelas menjadi tidak kondusif. Ketua kelas memukul pengganris panjang di papan tulis beberapa kali. Suaranya yang nyaring membuat diam seketika seisi kelas.


"Aku nggak mau ya kena marah. Kita tentukan dulu kelompoknya, setelah itu terserah kalian mau bagaimana," tegas ketua kelas.


"Kaya kelompok matematika kemarin aja. Jangan di bikin susah," seru salah satu siswa yang duduk di pojok ruangan.


Semua berseru membenarkan apa yang dikatakan tadi. Ketua kelas pun menyetujui dan membubarkan diskusi dadakan itu. Aya hanya diam mendengarkan teman-temannya saling bersahutan.

__ADS_1


Lagipula tidak peduli siapa yang akan sekelompok dengannya. Toh, pasti Aya yang akan mengerjakan sendiri seperti biasa. Tapi, mungkin ini akan sedikit berbeda. Karena, kelompok yang sama seperti matematika.


Itu berarti ia akan sekelompok lagi dengan si kembar Dea dan Dean. Tidak sengaja senyumnya merekah. Ia bahkan tidak bisa mengontrol raut wajahnya yang bahagia.


"Halo Aya. Kita satu kelompok lagi nih." Dea mendatangi bangku Aya.


Mereka saling berbagi cerita dengan seru. Layaknya para gadis, mereka membicarakan apapun yang mereka suka. Dean yang selalu bersama dengan kembarannya hanya diam mendengarkan saja.


Rahma datang dan tersenyum kepada Dea dan Dean. Melirik sekilas Aya, ia menarik kursi dan mendekatkan diri pada pujaan hati. Mencoba menghilangkan kegugupan dengan senyum yang diperlebar.


Dea yang melihat itu memutar bola matanya malas. Senyum Rahma justru membuat ia tidak nyaman. Dia lupa kalau gadis itu juga akan satu kelompok dengan mereka.


"Oh ya, kerja kelompoknya di rumah Aya saja. Gimana?" Dea meminta persetujuan sang pemilik rumah.


Lagi pula rumah mereka bertiga di satu komplek yang sama. Bukankah mayoritas selalu menjadi pemenang. Maka dari itu Dea menyarankan rumah Aya.


Aya menjadi lebih mudah karena tidak perlu ke luar rumah. Lalu, kalau tidak salah di rumah juga ada kacang hijau yang dibeli Nindia. Tapi, dia ragu jika barang itu masih ada.


"Kalau begitu nanti pulang sekolah aja. Sekalian kita buat rangka laporannya dulu. Gimana?"


Aya setuju saja, sedangkan Rahma terpaksa menyetuinya. Lagi pula sekeras apapun ia mendekati Dea, masih saja seperti ada jarak. Ia tidak menyangka akan sulit sekali berbaur dengan Dea.


Rahma memang gadis yang populer di sekolah. Semua orang mengetahui ia sebagai anak dari orang kaya. Hanya saja kenyataan tidak selalu manis.


Orang tua Rahma hanyalah pedagang makanan kaki lima. Ia sangat ingin dekat dengan Dea untuk meningkatkan Popularitasnya. Ia tahu kalau sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.


Maka dari itu ia ingin menutup kecuriaan dengan berbaur dengan orang-orang kaya. Tapi, justru si cacat yang dekat dengan Dea. Apa lebihnya Aya yang tidak bisa apa-apa dibanding dengan dia yang cantik.


Teng teng teng

__ADS_1


Bel pulang sekolah membuat kelas Aya yang semula kosong menjadi ramai. Walau itu hanya untuk sesaat. Mereka hanya kembali untuk mengambil tas yang tadi tertinggal di kelas.


"Aya di jemput om Wildan ya?" tanya Dea mendorong kursi roda Aya menuju gerbang sekolah.


"Iya, kalian sekalian ikut aja," tawar Aya.


"Itu memang niatku kok." Dea tertawa karena sebelum meminta ikut, Aya justru menawarkan terlebih dahulu.


Tak butuh waktu lama hingga Wildan datang dengan mobil mewahnya. Lelaki paruh baya itu membuka mobil dan menyapa Aya.


Gadis itu mengutarakan maksud untuk membawa teman-temannya juga karena, Ia harus melakukan tugas kelompok. Wildan langsung menyetuji begitu saja.


Mengangkat Aya dan mendudukannya di kursi belakang. Menaruh kursi roda sang putri di bagasi belakang. Dean duduk di depan bersama Wildan, sedangkan Dea dan Rahma ikut duduk di belakang.


"Kalian semua ini teman sekelasnya Aya ya?" tanya Wildan mencoba mencairkan suasana.


"Om kok basa-basi sih. Padahal kita satu komplek," ujar Dea dengan ramah dan nada ceria.


"Putrinya Pak Ahmad memang yang paling beda deh." Wildan terkekeh karena Dea yang tidak canggung sama sekali.


Perjalanan yang memakan waktu setengah jam tidak dirasa karena kecerewetan Dea. Rahma memandang rumah yang ada di hadapannya. Sangat besar dan mewah, ia menjadi iri.


Kenapa hidupnya sangat berbanding terbalik dengan kehidupan si cacat itu. Aya yang melihat mimik wajah Rahma tidak baik, menjadi ragu.


Ia merasa Rahma tidak suka dengan apa yang dimiliki Aya. Gadis itu sudah lama tahu kalau Rahma memang seperti tidak suka Aya akrab dengan teman-teman kelas.


Mencoba mengalihkan perhatian, gadis itu masuk ke rumah. Ia mengantar teman-temannya ke ruang tamu. Setelah itu ia pergi ke dapur dan bertemu dengan Ninida.


"Aya kangen kakak," ucap Aya begitu saja memeluk pinggang Nindia.

__ADS_1


__ADS_2