Kasta

Kasta
Undangan


__ADS_3

Terik matahari hari ini begitu menyilaukan. Wildan baru saja pulang dari undangan koleganya. Pria itu turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Wildan membuka pintu rumah. Saat masuk ia bisa mendengar suara gaduh dari ruang tamu. Dahi lelaki paruh baya itu berkerut. Kira-kira siapa yang datang ke rumah hingga memiliki perbincangan yang sangat seru seperti ini.


Samar-samar Wildan bisa mendengar suara percakapan. Menguping sedikit yang mereka ucapkan.


"Padahal Sukma nggak suka sama pedes. Tega banget kamu."


Wildan dapat melihat tiga punggung yang terasa familiar. Ia mendekat dan tersenyum sangat lebar. Tidak menyangka sumber keributan adalah teman-teman putranya.


"Halo om!" seru Indra berdiri setelah menyadari kehadiran papa Arya.


"Halo. Sudah lama nggak datang ke sini ya?" Wildan menerima jabat tangan Indra dan Andra.


Sukma yang terakhir menyapa ditepuk kepalanya pelan. Memberikan seulas senyum manis. Merasa ia masih disayang di rumah ini.


"Kamu makin cantik ya. Dulu terlihat imut, sekarang lebih ke arah dewasa," kata Wildan mempersilakan para tamu Arya duduk kembali. Ia meneliti satu persatu wajah yang sudah lama tidak terlihat.


Si kembar makin tampan dan gagah. Wildan yakin banyak gadis yang akan mengejar mereka. Sedangkan, gadis satu-satunya disana nampak makin dewasa dan anggun seperti yang dikatakannya tadi.


"Wah terima kasih om." Sukma tersenyum malu karena dipuji.


"Kalau begitu om tinggal dulu. Nyamanin diri aja. Anggap rumah sendiri, dulu begitu kan?" Wildan berjalan menjauhi ruang tamu. Ia beralih ke dapur dimana Nindia berada.


Gadis itu mengangkat satu nampan dengan empat jus jeruk. Ia juga membawa beberapa toples makanan ringan. Nindia tersenyum ketika melihat Wildan yang berdiri di depan pintu dapur.


"Habis ini mau masak makan siang kan Nin?" Wildan menghentikan langkah Nindia yang akan mengantarkan minum.


"Iya yah. Apa ada yang mau ayah makan?"


"Nggak. Cuma mau pesen masak yang banyak aja sekalian, terus yang enak. Mereka temen Arya pas SMA. Dulu sering ke sini jadi tolong jamu dengan baik ya," pesan Wildan.


"Baik yah," jawab Nindia.

__ADS_1


Wildan meninggalkan gadis itu. Berjalan ke arah kamar untuk membersihkan diri.


Ia perlu menyegarkan diri, karena gerah dengan keringat yang ada di tubuh. Melihat Wildan menjauh, Nindia pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Meletakkan jus di depan para tamu dan Arya. tidak lupa toples yang disuguhkan bersama minuman itu. Setelah selesai, ia bergegas kembali ke dapur untuk mulai memasak makan siang.


"Itu tadi beneran cuma pengasuhnya Aya? Kok kaya masih muda banget sih." Indra masih saja melihat punggung Nindia.


Bagaimana mungkin ia percaya Arya bilang gadis tadi adalah pekerja rumah, kalau gadis itu memiliki paras ayu.


"Matanya tolong dijaga. Dia memang baru lulus SMA. Jadi, jangan macam-macam," peringat Arya menggunakan nada sinis. Laki-laki itu tidak suka saat temannya memandang Nindia dengan tatapan menyelidik.


"Ck. Kamu itu memang terlalu tampan atau beruntung. Perasaan dari masa sekolah sampai sekarang selalu dikelilingi cewek-cewek cantik terus." Indra berdecak tidak percaya. Laki-laki itu menyilang kan kaki dan mulai meminum jusnya.


Rasa segar langsung merasuki kerongkongannya. Mengalirkan rasa manis di lidah dan dingin menyegarkan.


Jengah dengan kelakuan Indra, Arya mengetikan jari di meja. Bertanya ada apa hingga mereka berkunjung ke rumahnya setelah sekian lama.


"Cuma mau nganterin ini sih. Kamu di hubungin nggak bisa terus katanya ketua," ujar Andra menyerahkan satu buah undangan dengan warna kuning keemasan.


"Kau akan datang bukan?" Sukma bertanya setelah mengabiskan satu gelas jus.


"Kenapa? Kau ingin jadi partner ku?" Arya menjawab dengan candaan. Matanya mengerling jahil.


"Cari yang lain. Dia sudah sama aku." Andra yang dari tadi diam saja akhirnya membuka suara. Ia mengangkat tangan kiri Sukma yang telah berbalut cincin di jari manisnya.


"Kalian sudah tunangan?" tanya Arya seakan tidak percaya.


"Mereka sudah tunangan lama, sebentar lagi juga menikah." Jawaban itu bukan berasal dari Andra, melainkan sang saudara kembar.


"Lalu, bagaimana denganmu?" Hanya tatapan malas yang dihadiahkan Indra sebagai jawaban.


Arya langsung saja tertawa dengan terbahak. Padahal dulu Indra yang paling semangat tentang percintaan. Bahkan hal-hal romantis selalu tercetus dari kepalanya.

__ADS_1


Tidak di sangka justru Andra yang akan melangkah ke jenjang yang lebih serius terlebih dahulu. Itu pun bersama sahabat mereka sendiri.


Arya jadi penasaran bagaimana kisah mereka di mulai. Sepertinya ia terlalu lama tidak ikut perkumpulan kelas hingga terlewatkan berita-berita hangat.


"Jadi kau akan ikut? Jika tidak punya pasangan, orang di depanmu juga sama." Sukma kembali bertanya karena merasa belum mendapat jawaban yang diinginkan.


"Bukankah itu merepotkan?" Arya bergumam malas. Jika saja reuni itu diperuntukan datang sendiri ia tidak akan masalah.


"Kak waktunya makan siang." Aya datang dengan baju santai. Setelah selesai membantu Nindia di dapur, ia bergegas menghampiri sang kakak.


Arya bangun dan menghampiri sang adik. Membantu mendorong kursi roda Aya menuju ruang makan. Si kembar dan Sukma tentu ikut tanpa di minta.


Mereka juga bukan orang baru yang harus dipersilakan dulu jika ingin melakukan sesuatu. Lebih tepatnya mereka itu tamu lama.


Air liur Indra hampir saja menetes melihat banyaknya hidangan yang tersedia. Arya sudah duduk di kanan Wildan setelah merasa sang adik nyaman di depannya.


Si kembar duduk di sebelah Arya. Sukma bergerak akan duduk di samping Aya, namun di cegah oleh Arya.


"Kau bisa duduk di samping tunangan mu," sahut Arya yang hanya bisa di angguk oleh Sukma.


Nindia datang dengan membawa ayam goreng sebagai makanan terakhir. Gadis itu akan pergi ke dapur lagi ketika Arya memanggilnya.


"Kau tidak makan?"


"Saya bisa makan nanti kak," jawab Nindia.


"Duduk dan makanlah." Arya berkata dengan tegas. Nindia pun mau tidak mau menurutinya.


Ia duduk di samping Aya. Menunggu Wildan yang akan memimpin doa. Setelah selesai Arya menjulurkan piring ke arah Nindia.


Ragu, gadis itu menerima dan mulai mengisi dengan makanan seperti biasanya. Ke tiga teman lelaki itu saling bertatapan seakan saling mengirimkan sinyal pertanyaan kepada satu sama lain.


Arya bilang tadi gadis itu adalah pengasuh Aya. Tapi, mereka tadi mendengar Nindia memanggil Arya dengan sebutan kak. Lalu, apa memang seorang pengasuh bisa makan bersama di meja bersama majikannya.

__ADS_1


"Ayo ambil makanannya, jangan sungkan ya."


Mereka bertiga menghentikan pemikiran sejenak. Sekarang yang paling penting adalah mengisi perut yang sudah berdemo meminta untuk diisi.


__ADS_2