
Kembali ke masa sekarang.
Tumbuhan dan kursi-kursi di luar basah terkena air hujan sisa semalam. Alvan, Vladimir, dan puluhan anak buah Alvan sudah menancap gas menuju pemakaman Chain.
Jalanan masih penuh dengan genangan air. Udara terhirup segar. Hujan sangat lebat tadi malam hingga membuat beberapa pohon di pinggir jalan tumbang, mengakibatkan macet sepanjang jalan.
Mobil sedan hitam Alvan membelah keramaian penziarah makam Chain. Mata orang-orang tertuju ke mobil Alvan. Wajah mereka penasaran, "siapa orang ini? Yang datang dengan rombongan yang sangat banyak." kira-kira seperti itu pertanyaan mereka.
Alvan membuka pintu mobil, tidak ada wartawan satupun yang tertarik mewawancarai Alvan, wartawan hanya tertarik dengan selebritis dan Public figure pencitraan.
Vladimir membuka payung hitam, menutupi kepala Alvan. Anak buah yang lain menyuruh orang-orang minggir, membuka jalan untuk Alvan. Jarak pintu gerbang dan pemakaman Chain sekitar 30 meter.
Saat sampai, Alvan hanya bisa menatap batu nisan dengan tatapan kosong. Dia tidak mengira sahabat saat remajanya mati mengenaskan. Vladimir memberikan tisu, Alvan menolak, dia tidak apa-apa. Alvan meminta bunga dan air kembang untuk ditaburkan. Vladimir menyuruh anak buah yang membawa bunga untuk segera diberikan ke Alvan.
Alvan menaburkan bunga, pelan. Tangannya gemetar. Wartawan televisi tidak tertarik mengambil gambar, mereka berpikir Alvan hanya masyarakat biasa atau pengusaha yang sering berurusan dengan Chain.
Tidak ada orang yang mengenali Alvan di pemakaman, mereka hanya bisik-bisik, "apakah dia ketua organisasi yang sering membuat onar itu?"
Alvan berziarah tidak lama, dia langsung balik kanan begitu melihat para pejabat mulai berdatangan.
"mau kemana kita sekarang?" Vladimir langsung bertanya ketika Alvan sudah memasuki mobil setelah membeli sebotol minum.
"penjara."
Anak buah Alvan diperbolehkan untuk pergi melanjutkan tugas lain yang belum selesai, hanya Vladimir yang diminta untuk menemani Alvan ke penjara.
Mobil sedan hitam melaju cepat membelah angin. Sipir penjara langsung membuka gerbang, mereka sudah mengenal Alvan karena Alvan sudah sering menjenguk atau membantu membebaskan anak buahnya dari penjara.
Kepala sipir langsung turun menemui Alvan di lorong penjara. "loh, kenapa gak ngabarin dulu?"
"tidak ada waktu, Kaven." Alvan menjawab singkat. Kaven mengajak Alvan untuk berbincang di ruangannya, Alvan menolak, dia sedang sibuk, tidak ada waktu untuk basa basi, dia harus bertemu dengan seseorang.
"aku ingin bertemu Baskara."
Kaven terdiam. Dia tahu jika Alvan ingin bertemu dengan Baskara berarti ada hal yang amat penting. Kaven membawa Baskara ke ruang jenguk.
Baskara adalah laki-laki berumur 34 tahun yang mendapat hukuman penjara seumur hidup karena kasus pembunuhan berantai. Baskara memutuskan untuk membentuk organisasi penjara untuk mencegah keributan dalam penjara sekaligus menjadi sumber pendapatan yang nantinya akan dipakai untuk membayar sipir penjara.
Organisasi Baskara adalah salah satu organisasi terbesar ke empat karena bukan hanya satu penjara yang dia kuasai. Baskara pernah ditransfer dan pindah-pindah penjara untuk memperluas kekuasaan.
Alvan dan Baskara berbicara empat mata. Vladimir memeriksa ruangan sel tempat Chain gantung diri atau lebih tepatnya dibunuh.
"apa kau yang melakukannya?"
Baskara tidak menjawab, dia menatap keluar jendela.
"HEI! AKU SEDANG BERBICARA DENGAN KAU BRENGSEK!"
Baskara kali ini menatap Alvan dingin.
"bukan aku pelakunya, Van. Akhir-akhir ini organisasi penjara sedang berantakan, banyak sekali penghianat bajingan. Kemarin anak buahku menemukan tiga orang yang berusaha membunuh Kaven. Kami sudah berhasil mencegahnya dan menghukum mereka, tetapi itu hanyalah pengalihan, ternyata yang mereka incar adalah Dewan 4."
"siapa penghianat itu?"
"kami sudah berusaha memaksa mereka untuk menjawab tetapi mereka tetap bungkam, mereka memilih mati membela organisasi mereka ketimbang menjadi penghianat."
Alvan menghela napas panjang. Jika bukan Baskara pelakunya, lalu siapa?
"coba kau tanyakan ke Elias, dia harusnya tahu tentang ini."
"Elias? Dia bahkan tidak peduli dengan masalah organisasi lain."
"dia memang terlihat tidak peduli tetapi dia diam-diam selalu menyelidiki bahkan mendalami kasus seperti ini."
Alvan mengangguk. Baiklah. Alvan berterimakasih ke Baskara dan Kaven.
"katakan apapun itu maka aku akan membantunya dari balik jeruji besi ini, Alvan."
Alvan tersenyum, dia tidak memerlukan bantuan apapun dari Baskara, bukan karena angkuh tetapi karena dia tidak mau menyusahkan Baskara yang sedang kesusahan menghadapi banyak masalah di penjara.
"apa kau menemukan sesuatu?"
Alvan menanyakan Vladimir yang sedang mengemudi.
"beberapa sipir tidak mau membuka mulut bahkan ketika diberikan uang rokok mereka tetap tidak mau berkata sedikitpun, entahlah, Van. Mereka seperti takut dengan sesuatu."
Gerbang hitam besar terbuka pelan ketika penjaga pintu melihat mobil Alvan.
"apakah Elias benar-benar akan mengatakan sesuatu?"
Alvan tidak menjawab pertanyaan Vladimir, dia tidak ada jalan lain, inilah satu-satunya jalan.
Pesawat jet pribadi Alvan mendarat mulus di bandara. Di bawah sana sudah ada beberapa anggota Lev spit yang siap menjemput.
Mobil sedan hitam membelah air hujan yang menutupi jalan. Mereka sudah sampai di depan kediaman Lev spit.
Pintu jati besar dibuka oleh dua anggota Lev spit. Ruang kerja Elias ada di lantai dua, lantai satu adalah ruang untuk menerima tamu tidak secara khusus. Ruangan itu sangat luas dengan karpet yang empuk dan halus.
Alvan dan Vladimir naik ke lantai dua untuk segera bertemu Elias.
Elias duduk di meja kerjanya yang besar. Kertas-kertas menumpuk di sampingnya. Bisnis dia tidak main-main, properti, saham, ada di mana-mana, itu alasan dia tidak terlalu peduli dengan masalah organisasi lain.
"katakan intinya saja, aku tidak punya banyak waktu."
Laki-laki berumur 50 tahun itu terlihat sangat sibuk berkutik dengan setiap surat-surat dan dokumen.
"ini masalah Dewan 4, Elias."
"kalau begitu keluar, aku tidak memiliki waktu untuk membahas laki-laki pengecut putus asa."
Dua anak buah Elias sudah mendorong Alvan dan Vladimir menuju pintu keluar.
"dia dibunuh." Mata Elias terangkat, menatap kedua mata Alvan.
Elias menyuruh dua anak buahnya melepaskan Alvan dan Vladimir, membiarkan mereka berdua masuk.
"apa bukti jika Chain dibunuh?"
Alvan melempar berkas ke meja Elias.
"Chain memiliki masalah dengan organisasi lain, dia bahkan tidak pernah memikirkan bunuh diri sedikitpun. Organisasi ini tahu, jika Chain bebas, maka dia akan terus membuat masalah dan saat Chain di penjara ini lah kesempatan emas untuk membunuhnya."
"Dan dia juga yang membuat Chain dipenjara?"
"Iya, kurang lebih seperti itu."
Elias membuka lembar demi lembar kertas dokumen, tidak banyak, hanya ada 3 lembar dan 3 foto. Lembar dokumen menampilkan perkataan nara sumber, yaitu tahanan yang mau membuka mulut.
Foto yang diberikan menampilkan gambar Chain yang di gantung kaku di ruangan isolasi, beberapa luka di tubuh Chain, dan ruangan sel isolasi.
Ruangan lenggang, menyisakan suara desing pendingin ruangan.
"Benar, dia dibunuh."
Elias mengusap rambutnya yang mulai sedikit beruban. Ekspresi wajahnya sedikit gelisah.
"Tapi bukankah kita diuntungkan dengan kematian Chain?"
Vladimir angkat bicara setelah lama tidak membuka mulut.
"Kita diuntungkan sedikit, sisanya rugi."
Elias menjawab.
"Rugi?"
"Chain berurusan dengan organisasi bukan hanya untuk menjadi musuh, tetapi juga menjadi sumber keuntungan. Chain adalah properti penting dalam dunia organisasi, dia pernah mengusir preman pasar yang susah sekali kita tangani. Sudah sering kami bentrok dengan mereka tetapi mereka terus ada, lagi dan lagi."
"Chain datang, memarahi preman-preman pasar, lalu menyuruh aparat polisi untuk menangkap seluruhnya hingga akar-akarnya dengan begitu kami bisa dengan mudah kembali menjalankan bisnis tanpa adanya gangguan dari preman kecil."
Alvan setuju dengan Elias. Walaupun preman kecil, itu masalah besar bagi Elias karena yang bertemu langsung dengan preman itu bukanlah Elias tetapi anak buahnya dan para karyawan perusahaan. Preman tersebut sudah berulang kali dihajar, diusir, bahkan bentrok berkali-kali sudah terjadi setiap saat, tetapi tetap saja, preman kecil itu tetap ada. Mati satu, tumbuh seribu.
Chain juga menguntungkan bagi organisasi, di tampilan luarnya saja dia seperti merugikan, menangkap setiap anggota organisasi, enggan disuap, bahkan selalu berisik begitu melihat adanya lahan parkir liar.
__ADS_1
"Aku tidak tahu tentang hal ini, Alvan. Jika pelaku ini adalah tetua Sog maka aku tidak ingin berurusan lagi,"
"Ini bukan ulah tetua Sog."
Elias menatap Alvan tidak paham
"Apakah orang sekelas pengusaha seperti kau tidak tahu? Kemarin malam aku baru bertemu dengan tetua Sog, membahas bisnis. Dia mengatakan jika dia tidak tertarik dengan urusan di negara kita selain rempah-rempah."
Kali ini Elias paham. Tetua Sog memang tidak begitu peduli dengan urusan negara tetangga, dia hanya peduli dengan bisnis, untung, dan rugi. Apa dengan adanya Chain bisnis tetua Sog terkena imbasnya? Tentu tidak, banyak bisnis yang tersebar ke penjuru dunia, bukan hanya di negara Alvan. Gangguan Chain hanya bagaikan lalat lewat bagi tetua Sog.
"Lalu siapa pelaku dari semua ini?"
Ruangan kerja Elias lenggang. Alvan mengusap pelepis yang mulai berkeringat. "Satu-satunya organisasi yang mendapat kerugian karena adanya Chain adalah organisasi Pagata." Alvan baru teringat sesuatu.
"Pagata satu-satunya organisasi yang mendapat kerugian karena adanya Chain. Terakhir kerugian besar yang didapatkan Pagata adalah ditutupnya bar malam yang di mana itu adalah satu-satunya perusahaan paling besar milik Pagata. Chain menutupnya dengan berdalih alasan jika terus dibuka akan ada terus masalah sosial yang bermunculan, seperti *** bebas, kekerasan jalan, dan adanya transaksi narkotika."
Elias mengetuk-ngetuk jari di meja.
Alvan tidak salah, Pagata adalah satu-satunya organisasi yang mendapat kerugian dari adanya Chain. Sudah banyak perusahaan Pagata yang tutup karena Chain. Itu bukan sepenuhnya karena Chain, karena Chain tidak tahu menahu jika itu milik Pagata, yang Chain tahu itu perusahaan milik orang Itali.
Pagata juga kurang ketat dan strategis dalam menyusun perusahaan mereka lebih fokus ke dalam bisnis jasa, bukan produk.
"Apakah perlu kita tanyakan ke kara?"
Vladimir memberikan usul.
"Baiklah, kita ke markas Pagata."
Markas Pagata berada di pulau sebrang. Alvan dan Vladimir langsung menaiki jet pribadi setelah pulang dari markas organisasi Lev spit.
"Apa kau yakin jika pelakunya adalah organisasi Pagata?"
"Tidak, Vladimir. Aku kurang yakin."
"Jika memang benar Pagata adalah pelakunya, apa yang ingin kau lakukan?"
"Kita akan berperang malam ini juga."
Alvan memandang ke luar jendela, pemandangan yang indah, matahari mulai tenggelam di ufuk timur, pemandangan ini membuat masa kelam itu kembali.
****
Alvan membaca buku tulisan ayahnya hingga pagi tiba. Buku yang sangat bijak, kalimat yang pas, susunan kata yang indah. Alvan baru mengetahui jika ayahnya adalah seorang penulis buku non fiksi.
"Apa kau menyukai buku itu, Alvan?"
Kakek Alvan muncul di bingkai pintu kamar.
Alvan tidak menjawab, segera berkemas menuju sekolah. Kakek Alvan hanya bisa tersenyum, dia tahu Alvan menyukai buku tulisan ayahnya.
"Apa kau tidak sarapan?"
Kakek Alvan menyibakkan koran, menatap Alvan yang melewati ruang makan.
"Tidak perlu, aku akan sarapan di sekolah. Hari ini aku akan pulang telat karena ada pertandingan bela diri."
Alvan sudah menghilang dari balik pintu. Kakek Alvan tersenyum kembali, mungkin itu adalah senyuman indah untuk terakhir kalinya.
Alvan menuju sekolah menaiki sepeda berwarna merah, model fixie moderen.
Gerbang sekolah sudah hampir ditutup rapat oleh security. Alvan memohon kepada security untuk diizinkan masuk.
"Saya mohon, pak. Ini masih jam 07.59" Security bernama Slamet itu menghela napas panjang sambil membuka gerbang.
"Hei, Alvan!"
Chain memanggil dari lorong lantai dua. Alvan mendongak sambil mendorong sepedanya menuju parkiran. Chain tersenyum. Bel sekolah berbunyi tanda masuk.
"Apa kau telat lagi?"
Alvan baru menghempaskan punggungnya, Chain sudah bertanya.
Apakah ada hari di mana Chain berhenti bicara? Alvan bergumam.
"Syukurlah, kalau kau ketahuan telat lagi bisa-bisa guru matematika kita, pak Lianto, mengamuk, memanggil kau dari lapangan untuk turun."
Kejadian yang dikatakan Chain itu benar-benar pernah terjadi. Pak Sulistianto atau biasa dipanggil pak Lianto mengetahui jika Alvan telat 5 menit. Pak Lianto mengamuk, meneriaki Alvan dari lapangan basket, menyuruh Alvan turun. Seluruh siswa kelas sebelas tidak berani keluar. Alvan dipaksa oleh Azizah sang ketua kelas untuk turun sebelum keadaan semakin memburuk.
Alvan makin didesak, yang tadinya hanya disuruh oleh Azizah kini disuruh turun oleh satu angkatan. Whatsapp Alvan terus memunculkan notifikasi.
"Heh, tolol. Cepetan turun, pak Lianto manggil."
"Eh, Lo gak tau kalo pak Lianto itu kalo marah, jangankan murid, presiden aja dia lawan."
Alvan makin didesak oleh teman-temannya. Akhirnya setelah beberapa menit, Alvan turun dari kelas.
"Nah, gitu dong. Sana berdiri di lapangan, gak lama kok, cuman sampe istirahat."
Alvan tidak terlihat sedih, justru sebaliknya, Alvan tidak perlu mendengarkan ocehan guru di kelas yang sangat membosankan hingga istirahat tiba.
Itu terjadi sudah 3 bulan yang lalu.
"Apa kau jadi tanding, Alvan?"
Azizah bertanya saat sedang kerja kelompok. Alvan mengangguk pelan, tidak menjawab. Alvan sibuk dengan pekerjaannya.
"Jam berapa kau mulai tanding?"
Kini Chain yang bertanya.
"Jam tiga sore."
Alvan menjawab pendek, masih sibuk dengan pekerjaannya. Guru prakarya memberikan tugas kelompok. Membuat benda bermanfaat dari barang bekas. Alvan yang tadinya tidak peduli terpaksa harus peduli karena dipaksa masuk ke dalam kelompok Azizah oleh gurunya.
Kelompok Azizah memutuskan untuk membuat keranjang buah dari papan kayu bekas di rumah Azizah. Alvan diberikan tugas menghias keranjang buah dengan cat air.
"Lawan kau siapa, Van?"
Kini giliran Azalia yang bertanya, bendahara kelas.
Alvan menghela napas. Menatap temannya satu persatu.
"Aku akan melawan Iky."
Semua temannya saling tatap. Alvan kembali berkutik dengan keranjang buah.
"Iky?! Kaka kelas kita yang jago bela diri itu? Sang harimau sabuk hitam?"
Chain tidak percaya. Iky adalah kakak kelas jurusan Ilmu pengetahuan sosial, dia jagoan bela diri nomor 1 di sekolah, dia pernah memenangkan medali emas dalam pertarungan antar kota. Pernah ada satu anak baru dalam eskul bela diri yang sok, tanpa basa basi Iky langsung membantingnya hingga anak itu tidak berani lagi eskul bela diri.
"Iya, Iky siapa lagi?"
Azizah yang menjawab, Alvan lagi-lagi masih fokus dengan pekerjaannya.
"Apa kau yakin akan menang, Van?"
Alvan mengangguk. Iky bukanlah lawan yang berat, baginya Iky hanyalah manusia biasa yang sering latihan fisik dan bela diri, sama dengan dirinya.
Selang beberapa menit akhirnya Alvan selesai mengerjakan tugasnya, menghias keranjang buah. Semua temannya menatap Alvan lalu kembali lagi menatap keranjang buah lalu kembali lagi menatap Alvan, mereka tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Hiasan dengan 3 warna bisa sebagus ini? Corak bunga, dan sedikit batik melikuk indah.
"Sejak kapan kau bisa melukis?"
"Sejak aku tahu cara melukis."
Alvan mengelap tangannya dengan kain.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam tiga kurang sepuluh menit."
Alvan langsung berdiri.
"Mau ke mana?"
__ADS_1
Chain bertanya.
"Ke sekolah."
"Ngapain?"
Alvan tidak menjawab, langsung pergi mengambil sepedahnya di depan rumah Azizah.
"Zah, makasih ya makanannya."
Alvan melambaikan tangan, pamit.
Chain dan Azalia menatap Azizah.
"Ehem, ada yang berbunga-bunga nih hatinya abis didadahin sama ayank Alvan." Chain mengolok-olok Azizah.
Wajah Azizah merah padam.
"Loh, padahal cuman dikasih kue bolu, tapi udah disenyumin sama Alv-"
Kuas cat sudah mendarat di wajah Chain sebelum selesai bicara.
Alvan mengayuh sepedanya dengan cepat. Jarak antara rumah Azizah dengan sekolah lumayan jauh, butuh waktu sepuluh menit untuk sampai.
"Kemana saja kau?"
Sensei Arzu sudah berdiri di depan gudang sambil membawa perlengkapan bela diri.
"Maaf, sensei. Saya baru saja selesai nugas kelompok."
Sensei Arzu tidak menjawab, kembali mengangkat perlengkapan.
Alvan tidak banyak alasan, dia akan buktikan di atas matras nanti. Pertandinganpun dimulai setelah peserta sudah selesai pemanasan. Alvan sudah memasang bodyguard, sama dengan Iky, dia juga sudah lebih dari siap.
"Tidak ada serangan ke arah kepala, tidak ada serangan ke arah wajah, cukup badan dan kaki saja."
Wasit berdiri di antara kedua peserta menjelaskan peraturan. Alvan mengangguk paham. Mereka berdua sudah memasang kuda-kuda. Wasit mengangkat tangan tanda pertandingan dimulai.
Penonton sangat ramai, meski hanya dari sekolah tetapi mereka sangat bersemangat menonton kedua hewan buas bertarung. Iky dijuluki sebagai harimau sabuk hitam dan Alvan dijuluki sebagai serigala tanpa sabuk. Ada beberapa alasan mengapa mereka berdua dijuluki seperti itu.
Iky sang harimau sabuk hitam karena dia sangat lincah, memiliki sabuk hitam dan selalu berteriak ketika melatih juniornya.
Berbeda dengan Alvan sang serigala tanpa sabuk, Alvan sangat pendiam ketika bertarung, mencari celah saat lawannya mulai menyerang terlebih dahulu, dan Alvan tidak memiliki sabuk sama sekali karena dia malas menjalani tes kenaikan sabuk, bukan berarti Alvan lemah, justru Alvan sangat kuat karena sering latihan di gunung dan hutan bersama kakeknya setiap hari Sabtu dan Minggu.
Alvan dan Iky saling menatap tajam. Sudah 2 menit mereka diam, hanya mutar-mutar di atas matras.
Iky loncat, dia melihat celah di kanan Alvan, sialnya itu hanya jebakan dari Alvan. Saat Iky menendang, Alvan dengan cepat menangkapnya lalu menendang kaki Iky yang satunya, Iky sang harimau sabuk hitam itu terbanting jatuh di atas matras merah.
Sensei Arzu mengepalkan tinju, lega. Muridnya bisa mendapatkan poin pertama dalam awal babak.
Pertandingan dimulai kembali. Kini Alvan menyerang terlebih dahulu, mengncar dada Iky. Tendangannya bagaikan angin lalu, tidak terlihat sama sekali.
BUK. Iky sudah terpental kebelakang. Semua penonton terdiam. Lapangan lenggang. Apa yang barusan terjadi? Kenapa Iky terjatuh? Penonton bertanya-tanya. Meski tidak ada yang melihatnya tetapi wasit yang jaraknya lebih dekat bisa memastikan jika Alvan berhasil menendang dada Iky.
Pertandingan sudah berlangsung 3 menit, sisa 2 menit lagi. Iky sudah memasang kuda-kuda mantap. Alvan berdiri santai tanpa kuda-kuda. Sensei Arzu mengusap wajahnya tidak percaya. "Apa yang dilakukan bocah tolol ini? Apa dia ingin berlagak?"
Iky melompat, tendangannya telak mengenai bahu Alvan, membuat Alvan terpental ke kiri. Wasit menghentikan pertandingan. Alvan menggeran kesakitan, tangannya berasa patah.
Perawat datang membawa tandu. Alvan mengangkat tangan kirinya, dia tidak ingin pertandingan dihentikan hanya karena satu tangan dia yang patah.
"Tapi..-"
Perawat khawatir dengan keadaan Alvan.
"Tidak apa-apa, saya masih memiliki tangan kiri dan dua kaki,"
Alvan berdiri tegap. Penonton berteriak histeris, sorak Sorai terdengar di seluruh sudut lapangan.
"Apa yang dipikirkan bocah gila itu?"
Teman Iky tidak habis pikir melihat Alvan yang keras kepala.
"Mungkin dia ingin mati sebelum kakeknya, hahahaha."
Teman yang lain menimpali. Iky tidak ikut berkomentar, dia tahu Alvan adalah musuh yang sangat berat baginya, dengan mematahkan satu lengannya itu sudah lebih dari cukup.
Pertandingan kembali dimulai. Tanpa basa basi, Iky sudah lari menghampiri Alvan melepaskan tinjunya ke arah dada Alvan.
Alvan menunduk, tangannya tidak mengepal, tetapi terbuka. Saat telunjuk Alvan sudah mengenai perut Iky, Alvan langsung mengepalkan tangannya, tinjunya lepas, telak mengenai perut Iky. Itu adalah teknik pukulan satu inci dari Bruce Lee.
Iky terhempas jauh hingga keluar matras. Lapangan kembali lenggang menyisakan suara geraman Iky yang sedang mehan sakit.
Tak lama penonton bertepuk tangan. kemenangan telak untuk Alvan.
"I LOVE YOU ALVAN!"
"ALVAN GANTENG SELAMAT YA!"
"AAA...ALVAN..!"
Azizah hanya dia di kantin menonton Alvan yang sedang dikerumuni oleh murid perempuan, mau itu adik kelas atau bahkan kakak kelas.
"hai, kok cemberut aja?"
Chain duduk di depan Azizah membawa semangkuk mi.
"oh... cemburu...."
Chain mengangguk paham.
"ish apa si."
Azizah melotot.
Chain menaruh mangkuk mi-nya, bangkit dari duduk, lalu pergi ke arah Alvan yang sedang dikerumuni oleh murid perempuan.
"HEI! LIHAT ADA PAK LIANTO KEMARI SAMBIL BAWA TISU DAN GUNTING! RAZIA!"
semua murid perempuan lari kocar-kacir. Mereka semua takut jika pak Lianto melakukan razia rok span dan lipstik.
Alvan mengela napas lega.
"terimakasih, Chain. kalo kau gak ada mungkin aku akan terus di sini tanpa melepas seragam bela diri yang berat ini.
Chain menepuk pundak Alvan.
"santai saja."
Alvan dan Chain pergi ke kantin menyusul Azizah.
"hai, udah lama di sini?"
"baru."
"oh, udah pesen makan?"
"belom."
"mau aku pesenin?"
"gak usah."
Alvan menggaruk kepala salag tingkah.
Chain membisikan Alvan jika Azizah sedang cemburu.
"cemburu ke siapa?"
Alvan bertanya dengan suara keras.
"heh! Aku gak cemburu ya! Idih, najis banget, ngapain cemburu sama orang bau keringet gitu." Alvan tertawa, kali ini dia paham.
Alvan memandang langit petang yang sangat indah, membiarkan Chain dan Azizah adu cekcok. Burung burung berterbangan di langit menembus awan.
__ADS_1
Mungkin keindahan dan kebahagiaan itu hanya sesaat bagi Alvan, entah apa yang akan terjadi malam nanti.