Kasta

Kasta
Arya Marah


__ADS_3

"Kakak ngapain makan malam-malam."


Apakah ia harus menyalahkan Nindia karena sifatnya yang seperti itu kembali. Ia melirik gadis itu yang masih tertidur lelap. Seakan tidak memiliki kewaspadaan, padahal ada Arya di sampingnya.


Arya tentu masih normal dan menyukai perempuan cantikkan. Mengingat itu ia jadi tersemu lagi. Ia segera mengenyahkan pemikiran itu.


"Aya dulu padahal yang tanya." Gadis itu mendekati sofa dan terkejut melihat Nindia yang tertidur di sofa samping Arya.


Aya memberikan kode seakan bertanya apa yang dilakukan Nindia disini. Arya hanya mengedikkan bahu dan mulai melanjutkan makannya yang tinggal satu suap.


"Mau kemana?" Arya bertanya karena melihat sang adik yang memutar kursi rodanya.


"Mau cari makan," ketus Aya.


"Kau belum makan?" Arya mengikuti adiknya hingga ke dapur. Berjalan pelan-pelan di belakang sang adik.


Ia melihat sang adik yang celingukan di dapur. Ia mendekati Aya dan memegang pegangan kursi roda sang adik.


"Tadi Nindia bawa makanannya ke ruang makan," ucap Arya membantu mendorong kursi roda Aya.


Pria itu membantu Aya mengambil piring makan dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Ia menyerahkannya kepada sang adik dan mendorong kembali ke ruang keluarga.


Arya meletakkan piring dan gelas ke meja sebelum mengangkat Aya. Ia mendudukan sang adik di sofa. Kini Arya berada di tengah-tengah Aya dan Nindia yang tidur.


"Kau belum menjawab pertanyaan kakak tadi?" tanya Arya menganti saluran televisi.


"Aya tidak ikut makan malam tadi," jawab remaja itu dengan nada malas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arya kembali.


Tidak ada jawaban, Aya masih sibuk dengan makanannya. Setelah habis gadis itu memberikan piring kosongnya kepada Arya. Walau mendengus laki-laki itu tetap menerimanya dan membawa ke wastafel dapur bersama bekas piringnya tadi.


Ia membereskan makanan yang ada di meja ruang makan. Masih ada sisa sedikit dan terlalu sayang untuk dibuang.


"Mau nonton film bersama?" tanya Arya setelah kembali ke ruang keluarga.


Arya memukul pelan kepala Aya sebelum mencari kaset film. Samar-samar ia mendengar adiknya merintih kesakitan. Padahal ia hanya memukulnya pelan.


Mengenyahkan pemikiran tersebut. Mungkin saja ia hanya salah dengar, atau Aya yang pura-pura kesakitan untuk menjahilinya lagi.


Arya menghiraukannya dan mulai menghidupkan kaset. Kembali ke tempat duduk, laki-laki itu merangkul bahu Aya. Ia menarik sang adik agar bersandar ke bahunya.


Aya menurut dan menyamankan diri di pelukan Arya. Tangannya memeluk perut sang kakak yang atletis. Rasa hangat melingkupinya seketika.


Kedua gadis itu terlalu lengket hingga tidak bisa untuk dipisahkan. Kemanapun selalu bersama. Tapi, Arya justru bersyukur karena Aya kembali tersenyum dengan bahagia.


Tangan Arya terangkat memegang kepala Aya. Mengelusnya perlahan menunjukan kasih sayang. Tapi, lagi-lagi ia mendengar adiknya meringis seperti orang yang kesakitan.


Ia tidak salah dengar. Desisan itu memang benar dari sang adik. Ia juga merasakan ada yang salah dengan dahi Aya.


Dahi Arya berkerut dan mulai bangkit dari sandaran. Pria itu berjongkok di depan sang adik. Ia memegang bahu Aya erat. Laki-laki itu menyibak rambut panjang adiknya yang menutupi separuh wajah.


Ia menahan amarah karena melihat benjolan dan memar di dahi Aya. Ia berkata dengan kasar, "Siapa yang melakukan ini!"


Nindia terperanjat karena suara keras Arya. Ia melihat Aya yang mulai terisak. Gadis itu bergegas duduk di samping sang adik dan memeluknya. Mengelus bahu Aya agar lebih tenang dan tidak lagi menangis.

__ADS_1


"Ada apa kak?" tanya Nindia dengan takut-takut. Ia bisa melihat wajah Arya yang memerah karena amarah. Tangan laki-laki itu mengepal dengan sangat erat. Nindia sendiri mulai ketakutan, karena melihat Arya yang seperti ini.


Arya mengetatkan rahang karena masih tidak mendengar jawaban dari adiknya. Ia menggebrak meja dengan keras. Aya kembali terperanjat dan semakin keras menangis.


Wildan turun dengan tergesa-gesa dari lantai atas. Malam yang sunyi membuat suara Arya yang menggelegar mampu terdengar di telinga tuanya.


"Ada apa ini?" tanya Wildan yang melihat kedua gadis itu berpelukan dengan Arya yang berkacak pinggang.


Wildan bisa melihat urat leher Arya dengan jelas. Pria tua itu menepuk pelan bahu sang putra. Memberikan pengertian agar mereka berbicara dengan baik-baik.


Arya menjelaskan bahwa ia melihat luka lebam di dahi Aya. Wildan mencoba melepas pelukan sang putri dari Nindia dan mengecek sendiri. Matanya terbelalak mengetahui apa yang dikatakan Arya benar adanya?


"Ini kenapa sayang?" tanya Wildan pelan. Ia tidak ingin membuat sang putri lebih ketakutan.


"Aya hanya tidak sengaja terbentur papa," ucap Aya dengan tersendat-sendat.


"Bohong! Bagaimana terbentur bisa menyebabkan lebam seperti itu," sarkas Arya.


"Katakan dengan jujur kepada kakak!" Arya memegang tangan Aya kencang. Aya meringis karena merasa cengkraman kakaknya yang menyakitkan.


"Kak, Nindia mohon jangan terlalu keras," kata Nindia mencoba melepaskan pegangan Arya pada Aya. Tapi, itu bahkan tidak mengendurkan pegangan Arya sama sekali.


Wildan menarik bahu Arya agar menjauh terlebih dahulu. Ia mendekati Aya dan mencoba mencari tahu. Bertanya penuh kelembutan supaya Aya mau berkata dengan jujur.


Butuh 20 menit hingga Aya mau mengatakan apa yang terjadi. Rahang Arya mengeras, sedangkan Aya kembali menangis keras. Menutupi wajahnya di pelukan Nindia.


"Kakak akan ke sekolahmu besok!" putus Arya mutlak.

__ADS_1


cerita ini hanya fiksi belakang. mohon jangan ditiru di kehidupan nyata. terima kasih


__ADS_2