
"Kasta?"
Vladimir mengerutkan dahi.
"Mereka organisasi yang bergerak secara tersembunyi, lebih tersembunyi dari organisasi kita. Jika kita hanya bersembunyi dari bayang-bayang publik masyarakat, berbeda sekali dengan mereka yang bersembunyi dari bayang-bayang organisasi gelap seperti kita. Isu ini semakin besar setelah kematian Chain dan anggotanya bisa siapa saja, bisa jadi kau, aku, atau bahkan anak buahmu yang tengil ini."
Kara mengangkat bahu. Mengambil satu buah anggur di meja.
"Apa tujuan organisasi itu?"
Alvan bertanya penasaran. Dirinya mulai sedikit tertarik dengan topik.
"Tidak ada yang tahu, dan yang pasti bukan harta." Alvan mengepuh pelan.
Kasta memang sudah ramai dibicarakan oleh petinggi organisasi. Tetua Sog enggan membahas hal yang berbau isu Kasta, itu bisa merusak moodnya karena isu itu membuat dirinya khawatir dengan kekuasaannya yang bisa kapan saja hancur.
"Anggota Kasta sudah tersebar luas ke seluruh organisasi. Aku tahu jika anggota organisasi satu memang ada yang masuk ke dalam organisasi lainnya tetapi lebih mengancam jika yang masuk itu dari organisasi Kasta. Dia bisa memberikan informasi ke petingginya lalu, Boom, organisasimu hancur tanpa tersisa."
Kara mengunyah anggur pelan. Tangannya memutar secangkir wine.
"Aku sempat tidak percaya isu itu karena bagiku itu hanyalah pengalihan isu untuk merusak perhatian ketua organisasi dalam berbisnis. Tetapi, setelah kau bercerita seperti ini aku mulai percaya sedikit."
Alvan berdiri dari duduknya setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"Aku ada hal lain yang ingin dilakukan, terimakasih banyak untuk pertemuan hari ini."
Alvan membungkukkan badannya, dibalas membungkuk juga oleh Kara. Hal itu adalah tradisi lama antar ketua organisasi untuk saling menghormati dan bukti jika tidak ada dendam atau rasa kesal setelah pertemuan.
"Kasta ya.."
Vladimir bergumam.
"Apa kau pernah bertemu dengan salah satu anggotanya?"
Vladimir menggeleng.
"Apakah memang sangat tersembunyi hingga membuat kita tidak pernah melihatnya?"
Tangan Alvan berkali-kali menekan klakson untuk mengusir pedagang. Pedagang sangat menganggu jalan.
Pedagang itu menaruh gerobaknya di tengah jalan. Lalu, temannya mengeluarkan senapan otomatis AK-47. Alvan dan Vladimir yang melihatnya segera menunduk. Rentetan peluru menerjang bagaikan bak air hujan, dengan cepat menembus kaca-kaca mobil. Alvan terjebak, dia mau tidak mau menginjak gas. Memutar setir. Mobil Alvan berdecit. Orang-orang berlarian.
"Siapa bajingan itu?"
Alvan masih sibuk memutar setir sambil memegang tangannya yang terkena tembakan.
"Mungkin dia adalah Pagata yang tidak senang dengan kedatangan kita."
__ADS_1
"Itu mustahil, Vladimir. Mereka adalah orang-orang baik terpercaya antar organisasi. Mereka tidak pernah menusuk dari belakang. Lagi pula, apa yang membuat mereka tidak senang dengan kedatangan kita?"
Belum kering bibir Alvan. Tiga orang bermotor datang dari belakang mengejar Alvan dan Vladimir.
Rentetan peluru tidak berhenti menerjang jendela mobil. Alvan menginjak rem mobil, membuat 3 motor di belakangnya menabrak 2 gerobak pedagang dan satunya lagi terpental karena tertabrak dengan mobil Alvan.
Alvan mengambil senjata api-nya di bagasi mobil lalu menembak habis tiga pengendara motor yang mengejarnya.
Sekilas Alvan melihat tatto berbentuk huruf K berwarna merah di leher pengendara motor.
Tatto itu tampak familiar bagi Alvan. Sepertinya dia pernah melihat tatto itu di suatu tempat.
"Alvan, cepat masuk ke mobil. Kita harus pergi dari sini!"
Vladimir sudah meneriaki dari dalam mobil.
****
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Vladimir melihat raut wajah Alvan yang gelisah di dalam pesawat.
"Entah lah. Aku melihat tatto di leher orang yang tadi mengejar kita, dan tatto itu tampak familiar. Sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat."
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Alvan." Pilot pribadi Alvan bernama Bulan menepuk pundak Alvan. Bulan sudah menyalakan auto pilot, dia hanya hendak mengambil minuman dingin dan tak sengaja mendengar obrolan Alvan dan Vladimir.
Vladimir membenarkan posisi duduknya sambil menutup wajahnya dengan majalah, siap untuk tidur.
Alvan menatap Vladimir. Benar, ini adalah masa lalu.
****
Acong membantu Alvan untuk mencari pelaku pembunuhan kakeknya. Polisi masih sibuk mengejar dan mencari bukti. Seminggu kemudian, pelaku tertangkap di perumahan elit.
Jumlah pelaku ada lima orang. Mereka tidak mau menjawab pertanyaan polisi hingga dihajar berkali-kali.
"Mereka enggan menjawab."
Kapten polisi itu mengusap wajahnya.
"Apa mereka saling terikat satu sama lain?"
"Iya, mereka memiliki tatto yang sama."
Anak buah kapten polisi itu menyerahkan beberapa lembar foto.
Tatto itu berbentuk huruf huruf K berwarna merah.
__ADS_1
Lima pengacara sekaligus datang ke kantor polisi untuk membebaskan lima orang pelaku pembunuhan Pak Mul keluar dari gugatan.
Sidang berlangsung esok harinya. Dengan sangat mudah pengacara memenangkan persidangan. Lima pembunuh bebas.
Mereka bebas secara mudah. Bagaimana bisa? Alvan tertawa mendengar berita itu.
"Maafkan aku, nak. Semua ini karena...-"
Alvan berdiri dari kursinya, lalu memukuli wajah kapten polisi hingga hidungnya patah. Sepuluh anak buah polisi berusaha menghentikannya, tetapi tidak ada yang berhasil. Sepuluh orang dewasa pingsan melawan satu anak remaja.
"Keparat kalian semua! Merelakan pembunuh berkeliaran di luar sana hanya karena uang! Sialan, bangsat, bajingan! Bagaimana bisa rakyat biasa sepertiku ini percaya kepada kalian sang pelindung masyarakat!" Tangan Alvan mengangkat pistol yang dia rebut dari polisi. Mengancam siapapun yang menghalanginya.
Alvan keluar dari kantor polisi dengan tangan yang penuh dengan darah. Beberapa polisi sudah ada yang berusaha menghalanginya dengan senjata api, tapi dia ikut pingsan, sama dengan polisi yang lain.
Sejak saat itu, Alvan menjadi buron-buronan polisi. Mereka mengobrak abrik seluruh rumah panggung kayu Pak Mul, tidak ada, anak remaja itu sudah tidak ada di rumahnya.
Alvan menjadi anak buah setia Acong. Dia pergi kemana pun Acong pergi. Bos preman desa itu melindungi Alvan dan sebagai gantinya Alvan membantu Acong di pasar.
"Siapa kau?! Berani sekali malak awak ini, Hah!"
Seorang pedagang ikan mengacungkan pisau daging ke arah Alvan.
Tanpa basa basi Alvan memukul tangan pedagang itu hingga pisau yang dipegangnya terpental jauh.
"Saya datang kemari baik-baik, Pak. Kenapa dengan bapak ini? Apa karena akhir-akhir ini saya terlihat baik, jadi anda seolah bebas dan bisa semena-mena?"
Perkelahian tidak terelakan. Lima pedagang ikan melawan lima preman pasar.
Tidak sampai sepuluh menit, Alvan sudah memenangkan pertarungan. Security datang melerai. Pedagang ikan tidak mau kalah, mereka melaporkan Alvan dan anak buahnya ke polisi.
"bukankah orang ini yang selalu menjadi buronan kalian, pak polisi?"
Polisi itu mengangguk pelan.
Seminggu kemudian polisi datang mengamankan seluruh preman pasar.
Anehnya Alvan tidak ikut ditangkap. Acong sudah membayar aparat polisi untuk tidak menangkap Alvan karena Alvan satu-satunya anak buah paling berharga baginya.
Para pedagang ikan makin merasa jengkel. Mereka melaporkan Alvan ke organisasi desa sebelah. Organisasi itu tertawa, "hahaha, itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan kami, pak. Kalaupun itu menguntungkan, paling hanya sedikit."
Pedagang ikan itu pulang sambil menahan malu. Acong mengusir pedagang ikan yang sudah memprovokasi pedagang pasar lain. Bagaimana bisa Acong mengusir pedagang pasar? Acong sudah bekerja sama dengan pemilik pasar, bahkan dia dikenal baik oleh kalangan atas, levelnya sudah seperti manajer.
Sepuluh tahun berlalu. Sepanjang tahun Alvan tidak pernah bertemu lagi dengan teman-temannya. Acong memutuskan pensiun dari dunia gelap, seluruh kekuasaannya diberikan kepada Alvan.
Berlalu lagi lima tahun. Kini Alvan sudah memperbesar lagi kekuasaannya, bukan hanya di pasar desa. Kini, Alvan sudah menguasai seluruh pasar kota dan perdagangan rempah-rempah. Anak muda itu bukan lagi yang memalak. Tapi, yang memiliki pasar.
Lebih dari dua puluh pasar sudah ada di tangannya. Sepuluh pasar modern dan sepuluhnya lagi pasar tradisional. Walaupun dengan kesuksesannya, Alvan tidak pernah melupakan ibunya. Setiap seminggu sekali, mau dia sesibuk apapun, dia pasti selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah sakit jiwa, menemui ibunya. Meski ibunya tidak pernah mengenalinya.
__ADS_1
Ayah Alvan Dewan 1 tidak pernah terlihat. Entah kemana orang bajingan itu. Alvan tidak pernah peduli dengan ayahnya.