
cerita ini hanyalah karangan penulis. Bukan kisah nyata atau pun cerita yang patut dicontoh. ambil baiknya saja ya
Nindia baru saja selesai memasak untuk makan malam. Aya yang sedari tadi ingin ikut memasak, hanya bisa melihat dari belakang. Gadis itu merengek, tapi tetap tak bergerak. Bagaimana dia mau ikut memasak jika Nindia sudah memblokir semua alat dan bahan masakan, agar tak terjangkau olehnya.
Tubuh mungil Nindia selalu menutupi gerakan Aya yang mendekat i meja dapur. Semua peralatan pun di letakan dekat dinding, agar gadis kecil itu tak bisa meraihnya.
Mungkin itu kejam, tapi Nindia tak mau membuat celah agar Arya bisa melihat kekurangan pekerjaan nya lagi. Mungkin lain kali, ia akan menuruti keinginan Aya untuk menebus kesalahannya hari ini.
"Kak Nindia menyebalkan," gerutu Aya yang bisa di dengar Nindia dengan jelas.
Merasa Nindia sudah selesai dengan acara masak, Aya memutar kursi rodanya ke meja makan. Melihat setiap gerakan Nindia yang telaten menaruh hidangan. Bolak-balik membawa satu per satu makanan dari meja dapur, hingga berakhir di depan Aya.
__ADS_1
Kini semua telah tertata rapi, menimbulkan aroma sedap. Aya mengetukkan jari, menunggu papa dan kakaknya turun ke bawah. Padahal gadis kecil itu sudah sangat ingin makan sekarang.
Sepuluh menit berlalu, akhirnya yang ditunggu pun turun ke bawah. Arya nampak sangat keren dengan pakaian santai. Sebuah kaos lengan pendek dan juga celana denim selutut. Di belakang, Wildan menggelengkan kepala melihat gaya sang putra yang sok keren.
Padahal kalau di ingat dulu Arya bahkan tak pernah berpakaian se rapi ini jika di rumah. Wildan mendengus dan berjalan berlalu mendahului sang putra. Laki-laki paruh baya itu sudah tidak sabar. Jalannya itu sudah seperti pengantin baru, sangat pelan.
Wildan bergegas duduk di kursi kepala keluarga. Arya mengikuti dengan menyeret kursi di sebelah kanan sang papa. Aya yang sedari tadi menunggu memberikan tatapan permusuhan kepada kakak satu-satunya itu.
Laki-laki itu tidak mengaduh ataupun melontarkan kata. Hanya saja, ia langsung sigap mengusap rambut Aya. Mendapat perlakuan seperti itu membuat si kecil merasa tertantang untuk melanjutkan pertengkaran.
Nindia yang sudah mengerti sifat keduanya, langsung saja mengulurkan tangan. Ia mengambil piring kosong milik Wildan agar bisa menengahi Aya dan Arya. Gadis kecil itu langsung saja memalingkan wajah, ketika sang kakak menjulurkan lidah.
__ADS_1
Setelah mingisi piring Wildan, Nindia lanjut dengan sang tuan muda dan juga Aya. Merasa semua sudah mendapatkan porsi masing-masing, Nindia baru mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Wildan memimpin doa sebelum makan. Mereka diam dan khusyuk, bersyukur atas apa yang Tuhan berikan saat ini. Setelah selesai barulah makanan bisa di santap dengan nikmat.
Ruang makan itu menjadi hening. Hanya ada suara sendok dan garpu yang berdentang. Berbenturan dengan piring kaca yang terlihat sangat mewah dan berkelas.
Tiba-tiba saja Arya mendongak. Menatap lekat Nindia yang masih sibuk dengan makanannya. Bibir laki-laki itu bergerak seirama kunyahan gigi.
"Nin, coba ambilkan air putih hangat," ucap Arya pelan memecah keheningan.
Nindia tanpa kata meletakkan peralatan makan. Melangkah dengan sangat perlahan menuju dapur. Setelah mengambil air minum dari dispenser, ia bergerak ke arah Arya.
__ADS_1