Kasta

Kasta
jalan-jalan


__ADS_3

"Kak Nin bantu Aya dong," ucap gadis kecil itu. Dia menggoncang lengan Nindia yang masih sibuk dengan masakannya.


Merasa rengekan Aya tidak akan berhenti, ia memutuskan mematikan kompor. Untung saja masakannya sudah matang. Nindia hanya perlu menuangkan ke dalam piring dan menyajikannya di meja makan. Dia berbalik di berjongkok di depan gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini.


"Kau tahu kan, kalau kakakmu itu susah untuk ditentang?" Nindia mencoba memberikan pengertian. Suaranya dibuat sehalus mungkin agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dia tidak berhenti mengelus kedua pipi Aya dengan sayang.


kemarin Arya datang ke sekolahnya dan mengatakan bahwa adiknya telah menjadi korban bully. Setelah pulang, laki-laki itu melarang Aya untuk kembali ke sekolah sebelum ada tindakan pasti dari sekolah tentang orang yang telah melakukan itu pada sang adik.


Dia meminta kepada pihak sekolah untuk menindak tegas siapapun itu. Bahkan Arya sudah lama mendiamkan sang adik yang selalu tidak setuju dengan keputusannya itu.


Aya mengerucutkan bibirnya tanda dia sangat kesal. Ini bahkan sudah hari tiga hari tidak sekolah. Gadis kecil itu hanya tidak ingin ketinggalan pelajaran. Padahal, sebentar lagi akan diadakan Penilaian Akhir Semester. Bagaimana kalau nilainya jadi turun. Dia tidak mau mengecewakan sang papa dengan membawa pulang nilai jelek.


Ekor mata Aya menatap sang kakak yang baru saja turun dari lantai atas. Menarik nafas panjang sebelum membuangnya secara perlahan. Dia memutar kursi rodanya hingga di hadapan Arya.


Merasa terhadang, Arya berhenti dan melipat ke dua tangan di dada. Mata yang tajam itu menatap sang adik. Menunggu Aya yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu.


"Kakak biarkan Aya sekolah," ucap Aya setelah sekian lama terdiam dan mengumpulkan keberanian.


Tanpa berkata apapun Arya memutari kursi roda Aya dan meninggalkannya begitu saja. Laki-laki itu duduk dengan santai di meja makan. Menunggu Nindia menyiapkan makanan.


Aya tidak menyerah begitu saja. Dia kembali berada di samping sang kakak. Tangannya menggoyang lengan kemeja Arya beberapa kali. Mata yang dibuat memelas mungkin agar luluh.


"Aya bosan di rumah kak," lirih Aya yang tidak mendapat respon apapun dari Arya. Lama kelamaan dia jadi kesal sendiri.

__ADS_1


Setelah semua hidangan tersaji, Nindia berjalan ke atas untuk memanggil Wildan. Aya sudah sangat kesal, apalagi Nindia yang tidak membantunya sama sekali. Dia beralih menjadi memukul lengan Arya berkali-kali.


Arya masih saja tidak bergeming. Pukulan sang adik tidak terasa sama sekali bagi laki-laki itu. Dia merasa sedang dielus-elus saja.


Wildan turun dengan Nindia di sampingnya. Melihat sang putri yang tidak berhenti mengganggu Arya. Walaupun ayah dua anak itu tahu, kalau sang putra yang membuat Aya seperti itu.


Wildan dan Nindia sudah duduk di kursi yang biasa mereka pakai. Aya bersungut-sungut menghadap depan dan melupakan kakaknya yang masih saja tidak mau mendengarkannya.


"Kenapa dengan putri papa? Pagi-pagi kok sudah cemberut begitu sih?" Tanya Wildan membuka obrolan setelah sarapan pagi.


"Papa, tolong biarkan Aya sekolah ya," ucap Aya dengan sendu.


Wildan menghela nafas karena benar menebak alasan Aya marah dengan sang kakak. Pria itu mencoba memberi pengertian, bahwa masih berbahaya bagi Aya untuk melakukan kegiatan sekolah. pelaku pembullyan harus ditemukan terlebih dahulu. Wildan hanya tidak ingin melihat kembali luka yang menghiasi tubuh Aya ketika pulang.


"Aya sangat bosan di rumah Papa," rengek Aya untuk yang ke sekian kalinya.


"Ayo Papa, Aya mau." Gadis itu terlonjak di kursi rodanya. senyum sumringah terlintas di bibir nya yang tipis.


Arya yang awalnya ingin berangkat kerja, mendapat titah dadi sang kepala keluarga pun mengurungkan niatnya. Sekejap saja dua pria itu berganti pakaian dari jas menjadi kaos dan celana santai.


Mereka pergi menggunakan mobil Arya. Wildan berada di samping sang putra dan ke dua gadis yang lengket itu duduk di belakang. Bergurau dan saling menyambung lagu yang tentu saja diperkenalkan oleh Aya.


Wildan mengulas senyum karena dengan hal kecil dapat membuat Aya tertawa. Perjalanan yang membutuhkan waktu 30 menit, seakan tidak terasa karena suara gaduh si kecil.

__ADS_1


Mereka telah sampai di sebuah taman bermain yang sangat besar. Sebagai warga yang baik, mereka mengantri bersama yang lain. Setelah mendapatkan tiket, Aya dengan girang meminta Nindia untuk segera masuk.


Gadis itu ternganga karena merasa sudah lama tidak berjalan-jalan. Sejenak dia melupakan kalau pelajarannya akan tertinggal karena absen dari kelas.


"Kak Nindia ada gulali," ucap Aya dengan girang.


Jarinya menunjuk-nunjuk seorang penjual gulali yang dikerubungi oleh beberapa anak kecil. Arya melirik sebentar sebelum fokusnya kembali ke Smartphone. Wildan menepuk bahu sang putra dengan keras. Mengkode untuk segera membelikan apa yang diinginkan Aya.


Nindia yang masih berada di belakang Aya hanya mengulas senyum. Arya memang orang cuek, tapi dia tidak akan membantah sang ayah apalagi mengabaikan adiknya.


"Ini! Baru juga tadi sarapan, sudah nyemil lagi. Gemuk baru tahu rasa kamu," ucap Arya setelah menyerahkan satu buah gulali besar berwujud bebek.


Mereka mengitari taman bermain itu sembari menunggu gulali Aya habis. Banyak Wahana yang menarik layaknya taman bermain lainnya. Roller coaster yang selalu menguji adrenalin. Beradu teriakan dan juga cara ampuh untuk membuat suara serak.


Komedi putar yang menjadi kesukaan anak-anak. Bianglala yang tentu juga menjadi ikon wahana di setiap taman. Mungkin ia akan naik itu nanti. Tiba-tiba Aya menjadi sangat sumringah karena melihat satu wahana yang sepertinya seru.


Sekilas dia menjadi memikirkan sebuah ide. Senyum nakal ia kembangkan tanpa sepengetahuan siapapun. Aya melirik kakaknya yang masih sibuk dengan Smartphonenya.


Aya mengkode sang papa untuk mendekat. Setelah berbisik-bisik beberapa saat, Wildan meninggalkan putra-putrinya begitu saja. Nindia menggelengkan kepala beberapa kali karena tahu apa yang ada di pikiran Aya.


Bagaimana ia tidak tahu, jika matanya bisa menangkap Wildan yang berjalan menuju petugas penjual tiket suatu wahana. Mungkin bagi mereka bertiga itu bukanlah suatu yang mengerikan.


Dia menahan nafas karena Arya masih belum sadar. cowok itu tetap saja fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak berani untuk memperingatkan pria itu. Walaupun dia tidak lagi jahil kepada Nindia, tetap saja harus was-was bukan.

__ADS_1


Wildan sudah kembali dari membeli tiket. Dia memberikannya kepada Aya, setelah itu menepuk bahu Arya dan berucap, " Tolong temani Aya dan Nindia, papa mau ke kamar mandi dulu."


Arya hanya mengangguk, tanpa tahu kemana dia diminta untuk menemani.


__ADS_2