Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Senang bertemu dengan mu


__ADS_3

Di restoran yang tidak jauh dari hotel tempat Arini akan menghabiskan malam dengan Abdi. Telah duduk wanita dan pria, dengan hidangan makan malam yang sangat banyak, tertata diatas meja restoran. Saat ini gadis cantik itu tengah ditemani oleh Eko, yang menjadi tempat ia memesan kebutuhan sayuran organiknya.


Ya, Eko diberikan kepercayaan oleh salah satu rekannya untuk mengelola satu perkebunan sayuran organik, karena kejujuran serta kebaikannya kepada semua klien selama ini. Ia tidak pernah pilih kasih dalam melayani permintaan. Mau permintaan itu dalam jumlah kecil, sedang, ataupun besar, selalu melayani sepenuh hati dan perasaan bahagia.


Ini kali kelima Arini menghubungi Eko, karena pria muda itu selalu mengirimkan ke peti kemas tepat waktu. Maka dari itu, gadis cantik tersebut suka memesan kebutuhan sayurannya pada pria berlesung pipi tersebut.


Arini menatap wajah Eko sambil tersenyum sumringah, melihat pria itu tengah mencatat semua permintaan gadis dihadapannya tersebut.


Dengan gaya isengnya Arini yang tengah menghembuskan asap rokok ke udara langsung berkata sambil tersenyum lebar menatap keseriusan Eko, "Lo gigih ya, cari uang. Gue suka sama pria yang gesit, dan sangat cekatan dalam melihat peluang, kayak lo."


Eko menghentikan tulisannya, menjawab pujian Arini dengan posisi duduk lebih santai, "Tanggung jawab Teh. Saya punya tanggung jawab sama mama dan adik perempuan. Teteh tahu sendiri, kehidupan sekarang terlalu sulit dalam mencari pekerjaan. Apalagi saya enggak sekolah, bisa tulis baca saja sudah Alhamdulillah. Syukurnya, sekarang sudah bisa memberikan manfaat bagi orang tua dan adik perempuan saya, walaupun masih kurang, tapi saya selalu bilang sama mama untuk terus berusaha. Papa saya sudah lama meninggal, dan adik perempuan saya bukan adik kandung. Melainkan hanya adik tiri karena kesalahan mama beberapa tahun lalu."


Entah mengapa, Arini jadi tersentuh dengan cerita Eko yang tampak tulus dan tenang. Tidak ada kebohongan dari tatapan matanya, sehingga membuat ia benar-benar mengagumi sosok pria yang duduk dihadapannya.


"Jujur gue suka sama cowok yang gigih. Dari dulu gue pengen banget, punya teman yang bersemangat, bahkan memikirkan masa depan untuk pribadi dan keluarga. Tapi sampai saat ini gue justru tengah berada dalam ikatan pernikahan yang enggak jelas." Arini menyandarkan tubuhnya di kursi restoran, dan membuang pandangannya kearah langit-langit restoran.


Mendengar pernyataan Arini telah menikah, Eko sedikit terkejut serta dilanda rasa penasaran dan tampak seperti ingin tahu apa yang terjadi pada gadis cantik itu.


Eko bertanya dengan nada lembut, "Serius Teh Zea sudah menikah? Terus Mr. Stevie itu siapa? Teh Zea menikah sama bule itu?"


Perlahan Arini menghela nafasnya dalam, ia menggelengkan kepala, melanjutkan penjelasannya, "Itu partner bisnis gue. Sudah agh ... kita ganti topik saja. Jangan bahas tentang kawin gantung yang di ciptakan oleh keluarga. Enggak penting dan sangat menyebalkan. Apalagi punya suami seorang abdi negara. Tahu sendiri bagaimana menjadi seorang ibu persit yang terlalu banyak aturan!" sesalnya.


Eko tertawa kecil, mendengar celotehan Arini. Ia hanya bisa tersenyum dan memberikan masukan yang positif kepada gadis muda yang sangat seksi menurut pandangannya, "Syukuri saja, Teh. Mana tahu dengan perjodohan itu, kalian bisa lebih baik. Lagian keluarga selalu memberikan yang terbaik."


Arini langsung menjawab tegas pernyataan Eko, "Kalau gue cinta sama orang lain bagaimana? Misalnya sama lo, gitu?"

__ADS_1


Terdengar suara tawa Eko yang langsung menutup wajahnya menggunakan buku yang ia pegang saat ini, "Jangan Teh. Teteh jangan suka sama saya. Saya ini orang susah, dan tidak layak mendapatkan gadis kaya kayak Teh Zea. Apa kata dunia, jika seorang pedagang sayuran ditaksir istri angkatan!"


Kedua-nya tertawa terbahak-bahak. Tidak ada beban di pikiran Arini kali ini. Setidaknya ia bisa bercerita dengan Eko yang benar-benar sangat berbeda dengan Abdi.


Arini mengerlingkan kedua bola matanya, menatap wajah Eko yang sangat menyenangkan, "Hmm ... besok lo ada acara enggak? Kalau enggak ada kita ke perkebunan lo, ya? Pakai mobil gue saja, dan mobil butut lo parkir di pom bensin deket rumah mertua gue. Ee ... sepertinya dua hari lagi gue bakal ke Jakarta, ikut suami bohongan gue itu. Jadi kita bisa ketemu juga sekalian di peti kemas!"


Eko yang sejak tadi mendengar cerita Arini, sedikit teringat tentang cerita Evi yang mengatakan bahwa adiknya memiliki hubungan dengan pria angkatan. Sejujurnya dia tidak begitu ingin tahu tentang hubungan Sonya dengan pria. Karena baginya, adik tirinya itu hanya seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama kota kembang.


Sedikit Eko bertanya pada Arini, karena tidak ingin menjadi pihak ketiga pada hubungan pernikahannya, "Perginya kita berdua?"


Arini menyesap jus yang ada dihadapannya, sambil menganggukkan kepalanya, dan menjawab singkat, "Iya!"


Lagi-lagi Eko berpikir sejenak, kemudian berkata lagi, "Bagaimana kalau kita melihat perkebunan yang dekat curug saja, Teh? Disana banyak wartel, kentang, dan tomat, sesuai permintaan Teh Zea. Lebih dekat, dan tidak memakan waktu lama. Kita bisa sekalian jalan-jalan melihat keindahan alam, yang sangat menyejukkan. Nah, minggu depan saya yang antar langsung ke peti kemas setelah di packing oleh pabrik kami."


Seketika mata Eko melihat penampilan Arini yang sejujurnya sangat meresahkan, hanya menjawab sedikit agar gadis itu tidak tersinggung, "Punten banget ya, Teh. Bagaimana kalau Teteh pakai baju kaos biasa saja, dan celana jeans tidak terlalu pendek seperti saat ini. Saya takut tatto wanita cantik yang ada di paha Teteh, bisa tertidur kalau kelamaan terbuka begitu."


Arini menggembungkan pipinya, dia tampak malu, karena baru kali ini ada pria yang memperhatikan penampilannya. Perlahan ia mengangguk setuju, sedikit melirik kearah Eko yang langsung fokus pada pekerjaannya.


Dengan penuh semangat Arini, menunjukkan tentang pesanannya, agar tidak telat dalam pembayaran dan menghubungi Mr. Boul yang berada di Switzerland.


[Permintaan kamu sudah saya order. Lakukan pembayaran seperti biasa. Terimakasih ...]


Tidak menunggu lama, pesan singkat Arini berbalas dengan nilai transfer seperti kesepakatan mereka beberapa waktu lalu. Ia tersenyum sumringah, kembali mengalihkan pandangannya kearah Eko kemudian bertanya, "Lo mau cash, atau transfer?"


Eko tersenyum sumringah, kembali menatap layar handphone miliknya, untuk mencari nomor account-nya kemudian meletakkan dihadapan Arini. "Kesini saja, Teh. Semua biaya sudah termasuk ongkos kirim sampai Jakarta. Dan Teteh bisa tidur dengan nyenyak selama dua bulan."

__ADS_1


Kembali terdengar tawa mereka berdua. Tapi pemandangan mata gadis itu, membuat Arini benar-benar tercengang melihat handphone milik Eko dengan layar sudah retak dan di ikat pakai karet.


Kembali Arini menatap wajah Eko yang sangat manis, "Gue kasih lo handphone, boleh enggak? Setidaknya buat bisnis lo. Kasihan amat handphone pria sukses hancur begini. Kalau boleh, gue minta kirimin sama orang suruhan Papa?"


Dengan cepat Eko menggelengkan kepalanya, "Enggak usah Teh. Saya tidak mau menerima apapun dari orang lain. Handphone saya masih belum mati total. Lagian saya masih punya handphone kecil ini buat terima telepon dari nomor Teteh!"


Mendengar penolakan dari Eko, Arini hanya mengangguk dua kali, dan memikirkan alasan apa yang akan ia berikan jika memberi pada pria manis itu. "Gue lindes nanti handphone lo! Mau enggak mau, lo pasti kelimpungan mencari informasi tentang semua pekerjaan lo. Tidak boleh ada penolakan bagi gue, Eko ..." seringainya mengembang lebar.


Setelah menghitung semua pesanannya, Arini langsung mentransfer uang tersebut, sebagai tanda jadi bisnis mereka tetap berjalan.


"Oke! Gue tinggal dulu ya? Kebetulan suami gue sudah nyampai di hotel. Jadi besok lo kabarin gue jam berapa kita berangkat ke perkebunan. Kali aja, gue ada rejeki dan bisa beli lahan mereka, kemudian lo kelola. Kita bisa jadi partner yang paling paten untuk mengguncang dunia!"


Hanya senyuman manis yang Eko berikan. Tanpa mau menerima pembayaran dari Arini, untuk makan malam mereka yang hangat.


"Tenang Teh. Biar saya saja yang bayar, karena kita baru saja bertransaksi dalam jumlah besar. Mudah-mudahan bakal ada kelanjutannya lagi!"


Arini meyakinkan dirinya, bahwa Eko memiliki uang yang cukup untuk membayar makanannya yang mencapai 800 ribu. "Kamu yakin? 800 ribu lho ini. Bukan 80 ribu!"


Dengan sigap Eko mengeluarkan uang pecahan seratus ribuan, dan langsung memberikan kepada kasir tanpa banyak bicara.


Arini menundukkan kepalanya agar terlihat sopan, "Terimakasih! Besok pagi gue tunggu kabar dari lo, don't be late! Oke beib!"


Dengan kocaknya, Eko langsung memberikan hormat kepada Arini, dan berdiri tegap sambil melihat wanita itu berlalu meninggalkannya.


"Hufh ... senang bisa bertemu dengan mu, Teh Zea. Aku pikir kamu orang yang sangat kaku dan galak. Ternyata kamu sangat baik juga hangat. Sayang, kamu sudah menikah. Jika belum aku ingin memiliki istri yang pintar seperti mu. Sama seperti Mama-nya Mutia, Tante Nancy ..."

__ADS_1


__ADS_2