
Mobil sport berwarna silver milik Aditya meluncur menuju villa Keluarga Sugondo yang ada di daerah Ciwidey. Entah apa yang dilakukan dua sejoli yang tak muda itu didalam mobil, sehingga membuat daada Nancy terasa semakin menggelegak panas mengikuti kendaraan mewah milik sang suami yang membawa Evi menuju tempat liburan keluarganya.
"Sialan, ngapain Mas Adit sampai bawa-bawa Evi ke villa bapak? Sudah punya nyawa sembilan dia, ya?" Nancy bergumam sambil menekan pedal gas lebih dalam untuk memacu kendaraannya agar lebih cepat.
Benar saja, mobil Aditya berhenti di sebuah villa yang tampak sangat asri kemudian memarkirkan kendaraan mewahnya dengan raut wajah berbunga-bunga dan jantung berdebar-debar, bak pasangan remaja pada masa muda dulu.
Perlahan Aditya menoleh kearah Evi yang masih enggan mengenakan hijab seperti Nancy, tapi sudah tampak sedikit tirus serta flek kecoklatan yang menghiasi wajah cantik sang wanita pujaan hati masa lalunya. "Wajah Neng kenapa? Apakah Neng pakai KB sekarang?" Tangan kekar itu sedikit mengusap wajah Evi dan sedikit mendekatkan wajah mereka berdua.
Entah mengapa, Evi yang awalnya sangat senang dapat bertemu dengan Aditya hanya tersenyum simpul dengan jantung berdegup kencang, selayaknya menatap wajah pria idaman sejak dulu. "Hmm ... i-i-ini karena pakai skincare yang mengandung mercury Mas. Kelihatannya, pas Neng lagi hamil Sonya waktu dipenjara." Ia sedikit menunduk, akan tetapi Aditya menahan dagu lancipnya.
"Mas ..."
"Hmm ..." Aditya menatap lekat iris mata wanita yang dulu sangat dicintainya.
Kedua netra kecoklatan itu saling bertemu. Entah apa yang ada dalam benak Aditya, sehingga memberanikan diri untuk mengecup bibir Evi lebih dulu, membuat jantung keduanya berdegup lebih kencang dan melupakan siapa yang telah berdiri di samping mobil telah terparkir.
Terdengar suara ketukan kaca mobil dari arah luar, sehingga mengejutkan dua insan yang tengah menikmati reuni indah bak pasangan kekasih muda yang tengah kasmaran, tanpa memikirkan bagaimana perasaan Nancy yang menyaksikan suami tercinta berciuman mesra dengan mantan kekasih terdahulu.
Bibir Adrian bergetar, matanya melotot besar, ketika menoleh kearah kaca yang tampak samar jika dilihat dari luar, membuat ia bergegas menekan tombol power windows untuk segera keluar dari dalam mobil. "Neng Nan-cy ..." Ia menelan ludahnya sendiri dan menahan pintu agar tidak dibuka lebar oleh Nancy.
__ADS_1
Akan tetapi, sang istri justru tersenyum sumringah dengan wajah yang sudah memerah karena menahan rasa cemburunya. "Ogh ... Mas bawa siapa ke villa Bapak? Apakah sudah banyak duit makanya mau mengancam Neng untuk berpisah atas kasus anak-anak, hmm?" Nancy berusaha menenangkan dirinya sendiri dan kembali menatap lekat kedua netra kecoklatan milik suami tercinta.
"Neng tidak minta banyak sama Mas. Silahkan jemput masa lalu Mas, tapi ceraikan Neng saat ini juga. Urusan Abdi dan Arini itu urusan Neng, karena saat ini Neng sudah terlanjur kecewa sama Mas!" Tutur Nancy lagi melirik kearah Evi dengan tatapan mata tajam penuh dendam.
Gegas Aditya menahan lengan Nancy yang akan meninggalkannya seraya berkata, "Neng ... please! Mas bawa hmm ... a-a-a-anu hanya untuk sekedar berbincang tentang kedekatan Abdi dan putrinya. Bukan karena masih mencintai dia!"
Mendengar ucapan Aditya, Nancy membalikkan tubuhnya dan langsung menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum tipis. "Ogh ... Arini mungkin murahan menurut Mas. Tapi dia sudah menikah dengan Abdi anak Neng!" Lagi-lagi Nancy mengusap lembut puncak hidungnya yang tidak gatal untuk melanjutkan ucapannya. "Neng baru inget ... apa harus Neng kasih tahu, bagaimana dulu Mas membuat fitnah terhadap Neng karena tuduhan perselingkuhan, hmm? Atau Neng mau buka mulut tentang masa lalu kita hanya karena wanita sampah itu? Hah?"
Aditya terdiam, wajahnya memerah karena tidak menyangka bahwa Nancy masih mengingat semua masa muda dulu. Masa-masa sulit pernikahan mereka berdua yang terpatri dalam ingatan sang istri dengan sangat rapih.
"Jawab Aditya! Apa mau mu saat ini! Mau Neng, atau wanita sampah yang tidak mengetahui siapa bapak anaknya itu!" Nancy menghardik keras Aditya dengan suara lantang dan bergetar.
Tidak ingin orang-orang yang lalu lalang melewati villa keluarga sang istri melihat kearah mereka, Aditya berusaha untuk menenangkan Nancy, akan tetapi langsung ditepis oleh sang istri ketika ia berusaha untuk menyentuh pundak Nancy.
"Neng!" Aditya berusaha menahan Nancy, tapi wanita berhijab itu langsung menampar keras wajah sang suami.
Membuat beberapa pasang mata yang menyaksikan kejadian itu, menjadi terperangah karena kaget.
Tidak terima Nancy menampar wajahnya, Aditya hanya mengusap dan langsung mengalihkan pandangannya kearah Luqman yang keluar dari mobil dan disusul oleh Sindy. Sontak saja melihat dua sahabatnya muncul secara tiba-tiba, Aditya menggeram bahkan menggelengkan kepalanya dengan darah menggelegak panas.
__ADS_1
Cepat Aditya mengarahkan jari telunjuknya kearah Luqman dan Sindy seraya berkata tegas, "Lo jangan ikut campur urusan rumah tangga ane! Karena ane kagak ada urusan sama kalian berdua!"
Mendengar gertakan Aditya seperti itu, membuat Sindy yang tidak terima atas perlakuan sahabatnya tersebut dengan wajah garang dan kecewa. "Maksud lo? Oke ... gue enggak akan ikut campur urusan rumah tangga lo! Gue kesini, mau menjemput Nancy adik angkat gue! Terserah lo mau ngapain tuh, sama cewek tidak jelas itu!" Ia menarik tangan Nancy dan berlalu meninggalkan kedua pria itu tanpa mau berdebat lagi.
Melihat istrinya berlalu begitu saja meninggalkan dirinya, Aditya langsung berteriak keras memanggil nama Nancy agar mau mendengarkan penjelasannya. "Neng, Neng Nancy! Mas bisa menjelaskan!"
Tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Aditya, Nancy meninggalkan villa keluarganya bersama Sindy dan hanya duduk terdiam di jok penumpang, membiarkan Luqman bicara dengan Aditya.
Sakit, sangat sakit atas pengkhianatan Aditya yang dilakukannya ketika masalah Abdi dan Arini berada diambang kehancuran, sehingga mengancam nyawa sang menantu kesayangan hanya karena ambisi orang-orang disekelilingnya yang ingin memanfaatkan jabatan Aditya sebagai seorang kolonel berpangkat jenderal.
Tak banyak bicara, Nancy hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju kediamannya. Membuat Sindy tidak bisa berkata-kata dan hanya fokus pada stir kemudi.
Ditempat yang berbeda, Luqman masih memandangi keindahan villa Keluarga Sugondo seraya berdecak kagum. "Dari dulu, gue sangat kagum sama keluarga bini lo. Tapi ya ... itu tadi Bro! Hidup itu pilihan, jadi tentukan yang terbaik buat hidup lo. Kalau gue memilih Sindy dan enggak pernah terpikir buat balikan sama mantan. Walau terkadang gue suka ketemu sama Jumaida dikantor, tapi gue gak pengen di jedotin sama Sindy dan tinggal dirumah dinas! Malu sama anak-anak juga sih." Titahnya mengusap wajah sendiri.
Aditya hanya menggeram kemudian berkata dengan nada tegas, "Ane balik agh! Bakal ribet ni urusannya kalau sampai ke bapak ane! Tolong lo anterin Evi balik yah, Bro! Ane mau ngejar bini!"
Dengan langkah cepat, Aditya langsung membuka pintu penumpang kemudian mengeluarkan Evi dari dalam mobil sembari berkata sedikit berbisik, "Maaf Neng, kita tidak bisa menghabiskan waktu di sini. Mas tidak tahu, kalau Nancy bakal menyusul. Jadi Neng bisa pulang dengan Luqman!"
Merasa selalu diperlakukan seperti wanita murah oleh Aditya, Evi memberontak tidak terima, "Ma-ma-maksud Mas Adit apaan! Kok Neng pulang sama Luqman? Yang jemput Neng kan Mas Adit! Neng enggak mau!"
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Aditya mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dan memberikan kepada Evi tanpa mau mendengar celotehan wanita itu yang terus berteriak memanggil namanya.
"Mas, Mas Adit, Maas!?" Pekik Evi tapi tak diacuhkan oleh Aditya.