
Malam semakin larut, Nancy memarkirkan kendaraan roda empat miliknya dikediaman pribadinya, kemudian mencari keberadaan Aditya yang sejak tadi tidak menjawab panggilan teleponnya. "Agh ... kemana Mas Adit, kenapa dia tidak menjawab panggilan telepon ku?" Tuturnya dalam hati seraya mengambil tas tangan yang berada di jok belakang.
Sejak pertemuannya dengan Aldo di restoran, Nancy semakin gusar. Ditambah keberadaan Abdi sama sekali tidak ia ketahui sejak pertikaian antara anak dan ayah tersebut. Nancy menghela nafas berat, ia berjalan menuju pintu kamarnya namun mendengar percakapan sang suami dengan seseorang diseberang sana.
[Mungkin besok kita bisa bertemu Neng. Kalau malam ini, Mas baru sampai dirumah. Mungkin setelah dari kantor, kita bisa bertemu di mana gitu ... ]
Entah apa jawaban dari seberang sana, membuat Nancy langsung mendorong pintu kamarnya dan melihat reaksi sang suami yang langsung gelagapan ketika melihat kehadiran sang istri kemudian meletakkan gawainya diatas nakas.
Jantung Nancy berdebar tak karuan. Ia tidak menyangka bahwa sang suami masih menjalin komunikasi dengan orang yang tidak asing ditelinganya dengan sebutan 'Neng'. "Siapa wanita yang dihubungi Mas Adit barusan, apakah Mas Adit masih menjalin komunikasi dengan Evi? Tapi untuk apa, bukannya Arini telah membantunya untuk mencarikan pelanggan catering miliknya. Apa itu kurang, atau jangan-jangan ada wanita lain ...?"
Tidak ingin berdebat, Nancy melakukan ritualnya seperti biasa tanpa mau menyapa Aditya terlebih dahulu.
Akan tetapi, ketika kaki jenjang Nancy akan melangkah memasuki kamar mandi, Aditya menghentikan langkah sang istri dengan suara khasnya yang terdengar sangat tegas. "Kamu dari mana, hmm? Kenapa baru pulang malam hari, bukankah dipabrik tidak begitu banyak pekerjaan?"
Mendengar pertanyaan sang suami yang seolah-olah tengah mencurigai gerak-geriknya hari itu, gegas Nancy membalikkan badan seraya menautkan kedua alisnya. "Maksudnya? Neng baru saja bertemu dengan Aa Aldo di restoran ditemani Teh Sindy. Kebetulan dia mau menjemput Juno dan kami berpisah. Kenapa Mas seolah-olah tidak percaya sama Neng?"
Entah mengapa, ketika Aditya mendengar ucapan sang istri, darahnya mendidih membuat amarahnya semakin meledak-ledak. "Apa maksud kamu bertemu dengan Aldo? Apakah kamu masih menginginkan putrinya itu menjadi menantu kita? Ingat Neng, kalau Arini itu bukan wanita baik-baik! Dia hanya wanita murahan yang gampang tidur dengan pria manapun!"
"What?" Nancy dibuat kelagapan dengan mulut ternganga akan ucapan sang suami yang tetap menginginkan pernikahan putra-putri mereka berakhir. "Apa maksud Mas mengatakan bahwa Arini bukan wanita baik-baik!? Ingat Mas, kita juga punya Mutia dan tidak mungkin Abdi akan kita pisahkan dari Arini, karena mereka sudah sah menjadi suami istri!" Ia berucap dengan penuh emosi dan sangat sulit menelan ludahnya.
Pandangan Nancy berkunang-kunang, tatapan keduanya penuh tanya tak mengerti. "Ini masalah serius Mas, jangan main hakim sendiri! Kita bisa membawa Arini pergi dari Bandung, jika memang terjadi sesuatu!"
__ADS_1
"Tapi Arini Aldo Anggoro merupakan mafia kelas satu, Neng! Dia itu Zea Alexa, Mas akan malu memiliki menantu seperti Arini, bagaimana dengan karir Abdi dan bagaimana jika orang-orang tahu bahwa anak kita menikah dengan wanita seperti Arini, Nancy!" Aditya tak mampu menahan amarahnya lagi.
"Terserah! Yang penting Arini tetap menjadi menantu Neng! Tidak ada alasan omongan orang Aditya Atmaja, karena ini menyangkut nama baik keluarga kita!" Nancy menjawab tanpa mau mengalah. Sejujurnya ia telah lelah akan pikiran sang suami yang sangat egois dalam mengambil satu keputusan.
Rahang Aditya semakin menggeram, ia hanya menggeleng dan memilih keluar dari kamar hanya untuk menenangkan pikirannya. "Tidak ada gunanya berdebat sama kamu. Kamu rela mengorbankan karir Mas juga Abdi, hanya untuk wanita seperti itu!" Sesalnya meninggalkan Nancy dikamar seorang diri.
Tampak Nancy hanya mengusap wajah yang masih terlihat cantik itu dan kembali melakukan ritualnya membersihkan diri. Tersirat kesedihan dihatinya sebagai seorang istri sekaligus ibu. Ucapan sang suami benar-benar terdengar egois juga menyakitkan.
***
Ditempat berbeda, Abdi justru tengah mencari keberadaan Arini yang ia ketahui telah memasuki kota kembang bersama Eko, setelah mendapat pesan singkat dari Sonya.
Tak ingin menjadi bulan-bulanan rekan kerja sekaligus keluarganya, Joni melajukan kendaraan mereka menuju hotel yang dimaksud Abdi. "Bagaimana kalau Bokap lo menghubungi gue? Bisa-bisa gue jadi bahan omelan lagi sama Komandan Aditya."
Abdi hanya mendecih, ia menoleh kearah Joni dan menjawab dengan nada suara datar, "Lo kan tahu, gue sudah enggak pulang dua minggu. Bahkan lebih, semenjak Papa membiarkan gue pergi. Makanya gue tinggal di barak kesatuan sama lo!"
Mendengar ucapan Abdi, Joni hanya menganggukkan kepala, semakin menekan pedal gas untuk segera tiba dihotel yang dimaksud oleh pria yang berada disampingnya.
Lagi-lagi Abdi dibuat pusing oleh pemandangan yang cukup menyesakkan, ketika melihat Arini tengah berada di restoran hotel bersama seorang pria bule. "Bro ... itu bukannya Stevie, bener enggak sih?" Ia bertanya sambil melirik Joni yang tengah memarkirkan kendaraannya.
Tidak ingin menunggu Joni, gegas Abdi keluar dari mobil miliknya dan berlari kencang menuju restoran hanya tidak ingin melihat tangan pria bule itu menyentuh punggung tangan sang istri sejak tadi.
__ADS_1
"Selamat malam?" Suara Abdi memecahkan keakraban Arini dan Stevie didukung suasana restoran yang tampak sepi.
Mendengar suara tegas Abdi membuat bulu kuduk Arini meremang, seraya menoleh kearah belakang untuk memastikan bahwa sang suami nyata berdiri dibelakangnya. "Aa Abdi?" Kedua netra kecoklatan itu saling bersitatap dengan dada berdebar kencang tak karuan.
Wanita cantik nan seksi yang hanya mengenakan tangtop berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jeans ketat dan sangat pendek, membuat Abdi langsung menarik lengan sang istri karena perasaan cemburu. "Malam ini, kamu istri Aa! Tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuh walau itu hanya tangan kamu!"
Melihat Arini ditarik paksa oleh Abdi, Stevie yang tidak terima dengan perlakuan pria berpangkat perwira baru itu tersulut api amarah. "Lo siapa Bro! Jangan kasar sama perempuan, karena Nona Zea kekasih gue!" Ia mendorong tubuh Abdi yang, kemudian memainkan jemarinya juga lehernya dengan sangat angkuh, membuat Abdi langsung membalas dorongan pria bule tersebut.
"Mau apa lo!" Tukas Abdi membalas mendorong tubuh itu dengan sangat kuat, membuat Stevie langsung melayangkan tinjunya, namun dapat dielakkan oleh Abdi akan tetapi justru mengenai Arini yang berusaha dilindunginya.
"Agh!" Arini meringis kesakitan, membuat Abdi langsung melayangkan pukulannya dengan sekuat tenaga. "Anjing lo, bini gue lo pukul!"
Entah mengapa, Abdi yang tak kuasa menahan amarahnya langsung memukuli Stevie tanpa ampun, membuat pihak keamanan hotel langsung melerai pertikaian kedua pria dewasa tersebut.
Tidak ingin melanjutkan pertikaiannya, karena Stevie telah diambil alih oleh pihak keamanan restoran dan Joni, gegas Abdi langsung menggendong tubuh Arini membawa sang istri yang tak mampu untuk melawan lagi.
Arini terluka, wanita itu benar-benar merintih kesakitan, karena pukulan Stevie yang hampir merontokkan tulang pipi sebelah kirinya.
"Kita ke rumah sakit!" Abdi berkata dengan nada tegas. Namun terdengar Arini menjawab lembut pernyataan sang suami, "Enggak usah ke rumah sakit, kita pulang ke rumah Mama aja. Pipi aku sakit banget, Aa ..."
Ini kali kedua Abdi mendengar Arini merintih menahan sakit. "Ya sudah, kita pulang kerumah kamu!"
__ADS_1