Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Move


__ADS_3

Lebih dari dua jam perjalanan, mobil mereka akhirnya tiba di sebuah perkebunan yang terhampar luas. Keindahan tampak sejauh mata memandang, dengan dipenuhi berbagai macam tanaman organik serta buah-buahan segar dan bunga-bunga merah selayaknya di Netherland.


Arini masih memandang takjub keindahan itu dari balik kaca mobil. Ia sengaja membuka jendelanya hanya untuk sekedar memastikan bahwa tidak ada yang lebih indah dari tanaman. Wajar saja, sang mama sangat menyukai bunga-bunga segar, dan Keluarga Arini juga memiliki perkebunan dan peternakan sapi perah di Switzerland.


Tak pelak, hobi Arini sangat tersalurkan ketika tiba di Indonesia, dan diperkenalkan oleh Stevie kepada Eko beberapa waktu lalu.


Selain itu, Arini juga merupakan seorang lulusan terbaik di badan kesehatan juga pertanian. Dia sangat mengetahui bagaimana caranya untuk merawat tanaman sakit juga orang sakit, karena memiliki pengalaman ketika mencoba magang di salah satu panti jompo milik pemerintah Swiss kala itu.


Perlahan Arini mengalihkan pandangannya kepada Abdi yang hanya sibuk mengikuti kemana arah Eko memberhentikan kendaraannya. Ia bertanya dengan nada lembut, membuat pria itu semakin besar kepala, "Kita kenapa enggak beli nasi di jalan tadi, Aa? Jadi bisa makan di sini, sambil menikmati indahnya pemandangan dan pulangnya sore saja."


Abdi hanya menjawab seadanya, "Enggak inget. Tahu gitu tadi kita beli camilan yang mengenyangkan. Jangan snack yang buat badan ku semakin kebanyakan micin!" umpatnya melirik kearah sang istri.


Mendengar sindiran dari bibir Abdi, Arini langsung menarik wajah sang suami hanya untuk mengecup bibir basah suaminya, hanya untuk sekedar memastikan bahwa dirinya sangat bahagia.


Abdi terdiam, wajahnya merona ketika menatap iris mata yang sangat teduh menatapnya, "Katanya enggak cinta, tapi nyium tanpa aba-aba."


Dengan demikian, Arini hanya tersenyum sumringah, menjulurkan lidahnya dihadapan sang suami, hanya untuk menggodanya.


Tanpa pikir panjang, Abdi langsung menangkup wajah cantik Arini, mellumat bibir yang selalu terasa manis itu lebih dalam. Kemudian melepaskannya perlahan, karena menyadari ada bayangan yang menghampiri mereka, sambil berkata pelan, "Bibir kamu nikmat banget. Lusa kamu ikut aku ke Jakarta, ya? Kita tinggal di rumah dinas Papa saja. Karena aku enggak kuat menahan rindu sama kamu."


Arini mengangguk saja, kemudian tanpa ia sadari Eko sudah berada di dekat mereka dan menjadi saksi kemesuman dua insan anak manusia yang mengaku tidak saling mencintai itu, tapi tampak mesra selayaknya pengantin baru.


"Ehem, kayaknya saya salah tempat ini!" sindir Eko mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Arini menoleh kearah Eko, dengan menutup wajahnya yang tampak malu, tapi berusaha untuk tetap tenang. "Maaf Aa!"


Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Arini, kemudian bergegas membuka pintu mobil, dan langsung turun mendekati Eko yang telah berjalan meninggalkan mobil mereka.


Arini membuang pandangannya. Lagi-lagi ia berdecak kagum, dan membayangkan jika perkebunan itu menjadi miliknya. Ia memejamkan matanya, menghirup udara segar sangat jauh dari kata polusi udara dalam-dalam. Ada kerinduan dalam hatinya untuk kembali ke Swiss, dan berkumpul lagi dengan keluarga sang papa yang masih berada di sana.


Terasa cuaca semakin dingin, tampak terlihat asap putih mulai tebal, untuk menutupi sebagian pemandangan mereka, karena cuaca mulai turun rintik hujan.


Mereka bertiga, berjalan menapaki jalan yang sangat bersih terawat. Melihat beberapa pekerja yang masih menyiangi rumput dari tanaman yang mereka petik, kemudian akan dibawa ke pabrik pembersihan untuk di siangi.


Tak banyak pertanyaan yang Arini ajukan kepada Eko, karena dia sudah sangat memahami bagaimana proses pembersihan agar tiba di negara yang meminta selalu tetap segar, serta dapat di jual di supermarket Asia yang telah di sediakan di negara-negara maju tersebut.


Akan tetapi, pandangan Arini teralihkan dengan satu jenis tanaman yang tempatnya agak tersembunyi, dan sengaja di tutup dengan jaring hitam, agar tidak terlalu mencolok. Darahnya mendesir saat meyakinkan penglihatannya, yang belum diketahui oleh Abdi.


Eko langsung mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin membahas apapun tentang pemilik tanaman yang memabukkan tersebut.


Perlahan Eko menjawab, ketika melihat Abdi sedikit jauh dari tempat mereka berdiri, karena pria itu berjalan ke sebuah gubuk dan melihat satu kejanggalan ketika berada di sana.


"Itu milik si pemilik lahan ini. Dan kami hanya merawatnya saja. Tapi kemaren Mr. Stevie meminta lebih kurang satu ton! Tapi bukan saya yang mempersiapkannya."


Mendengar pernyataan Eko, Arini hanya menelan ludahnya, karena dialah dalang dari permintaan beberapa waktu lalu. Tapi sejujurnya ia tidak menyangka bahwa pria yang berada didekatnya ini, ikut andil dalam bisnis haram mereka.


Arini bergumam dalam hati, "Brengsek! Ternyata selama ini Stev menipu aku. Dia bilang pengiriman dari Aceh. Ternyata dari sini. Dasar licik! Stev meminta pembayaran sangat tinggi pada ku, untung semua sudah beres. Jika tidak, habislah Stevie ditangan ku ...!" umpatnya semakin kesal, ketika mengingat Stevie.

__ADS_1


Sejenak Arini berpikir, kembali bertanya pada Eko yang masih menunjukkan beberapa jenis buah tomat yang sangat segar dan padat. "Aa, jujur sama aku. Siapa pemilik lahan seluas ini? Apakah dia tangan pertama?"


Tampak Eko semakin menelan ludahnya berkali-kali dengan susah payah. Ia tidak ingin jujur, tapi harus berkata apa adanya agar Arini tidak menganggapnya seorang penjahat ataupun pembohong.


"Yang punya lahan ini Bang Gultom, Teh. Dia selalu datang setiap hari Rabu dan Jum'at. Selebihnya kami para pekerja yang mengawasi lahan seluas 68 hektar ini," jelasnya dengan nada berbisik.


Mendengar nama Gultom disebut oleh Eko, seketika darah Arini semakin mendidih. Ia teringat akan hutang pria berhati iblis itu masih tersisa lebih kurang 850 juta lagi pada-nya.


Dengan berat hati, Arini langsung memejamkan matanya, dan tersenyum menatap Eko kemudian mengajukan permintaan, "Bisa hubungi Gultom untuk datang kesini saat ini? Katakan padanya, bahwa Zea ingin bertemu dengannya. Dia harus menyelesaikan semua tanggung jawabnya padaku, sebelum dia terbaring di peti kematian, kemudian di kremasi sesuai kepercayaannya!"


Wajah Eko seketika berubah. Tersirat dalam benaknya, bahwa Zea yang selama ini ia kenal baik, merupakan mafia yang pernah di ceritakan oleh Gultom padanya beberapa waktu lalu. Ada kegetiran dihati, tentang pembicaraan sang atasan ketika itu, ketika pertama kali bertemu dengan Zea di Puncak bersama Stevie juga Samuel, dan tiga pengawal bertubuh besar yang ikut dengan mereka.


"Ta-ta-tapi Teh, saya enggak bisa menghubungi dia kalau hari minggu begini. Biasanya Bang Gultom ke gereja, dan dia tidak ingin di ganggu," jelas Eko sedikit terbata.


Senyuman Arini mengembang lebar, "Oke! Kali ini Gultom bisa menang. Tapi minggu depan, dia akan berurusan dengan ku! Karena aku masih punya hutang dengan hasil panen kalian yang sengaja terpending karena sayuran belum tiba di peti kemas. Tidak masalah, biar aku yang berurusan dengannya!"


Eko menganggukkan kepalanya tanda setuju, memberikan peluang kepada Arini, "Bagaimana jika Rabu saja kita bertemu disini, Teh."


Dengan adanya informasi ini dari Eko, Arini meng'iya'kan. "Oke, Rabu aku akan kesini, sekalian bertemu dengan Gultom! Satu lagi, jangan kamu katakan aku datang kesini hari ini. Aku harap kamu bisa bekerja sama dengan ku, dan aku menjamin keselamatan mu!"


Tak lama mereka menemukan satu mufakat, tampak Abdi tengah berlari mendekati Arini, "Sayang kita tinggalkan tempat ini sekarang! Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kita! Cepat!" perintahnya, menarik tangan sang istri.


Wajah Eko tampak mengkerut, dia melihat kearah tempat munculnya Abdi, mencari tahu bahwa apa yang di lihat pria itu dibawah sana, bertanya dengan raut kebingungan, "Abdi, ada apa? Apa Anda tengah menakut-nakuti kami?"

__ADS_1


Abdi menoleh kearah Eko, sambil berkata dengan tegas, "Tidak usah banyak tanya, ikut aku! Move!"


__ADS_2