
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Aldo yang menolak untuk mengantarkan gawai milik Aditya memberikan ruang kepada Nancy agar memberikan tugas itu kepada suami melalui Asep sang ajudan yang telah menikah dengan Unik sepuluh tahun silam.
Gegas Nancy menghubungi Sindy, untuk meminjam mobil wanita itu agar tidak diketahui oleh Aditya.
[Mobil Teteh yang di garasi saja. Jangan yang biasa dipakai sama anak-anak. Takutnya malah Mas Adit curiga geura ...]
Mendengar ucapan Nancy seperti itu, membuat Sindy sedikit penasaran dengan permintaan wanita yang masih tampak cantik itu.
[Emang kunaon sih? Mas Adit macam-macam lagi?]
[Ck ... nanti kalau misi aku beres, aku bakal cerita sama Teteh. Tapi tidak sekarang, takutnya nanti malah melebar kemana-mana dan berakibat fatal pada hubungan Abdi juga Arini.]
Sejujurnya Sindy sangat memahami bagaimana watak wanita setegas Nancy. Ia juga merasakan hal yang sangat berbeda dari sebelumnya atas rahasia adik angkatnya tersebut.
[Oke, Teteh minta Mang Saep buat nganterin mobil ke rumah, ya? City car lho, Neng. Enggak masalah, kan?]
[Enggak apa-apa Teh, yang penting Neng pakai dulu! Oke Neng tunggu dirumah, jangan lama-lama ... bye ...]
Nancy menghela nafasnya berat, ia tidak menyangka akan dihadapkan pada situasi seperti saat ini. Dimana usia yang sudah tidak muda, akan tetapi fuber kedua bagi seorang pria mapan, membuat dirinya harus senantiasa menjaga keutuhan rumah tangganya bersama Aditya Atmaja.
***
Ditempat berbeda, Aditya tengah menantikan kedatangan Asep sesuai permintaannya kepada Nancy yang ia hubungi melalui telepon kantor. Wajah gagah itu, tampak semakin tampan setelah melakukan rapat koordinasi dengan beberapa rekan prajurit lainnya.
Tanpa sengaja, Luqman yang melihat kegelisahan Aditya sejak melaksanakan rapat bersama Fredy, membuat ia menepuk pundak sahabatnya itu seraya tertawa kecil, "Nape lo, kayaknya banyak beban pikiran? Bagaimana, sudah tahu dimana keberadaan Abdi? Gue denger dari Joni kemaren malam, Abdi berantem di hotel milik anak kedua Bethrand."
__ADS_1
Beberapa kali Aditya hanya mengusap wajahnya kasar, mengingat suara Nancy yang agak berubah ketika mendengar dibalik telepon. "Udah agh ... ane mau pergi dulu. Ada kegiatan sebentar ke Ciwidey. Jadi ane harap ... kalau Nancy bertanya sama lo, jawab saja ada dinas sebentar. Yang penting ane balik dan mungkin agak sedikit larut. " Tuturnya, membuat alis Luqman naik turun.
Tidak biasanya Aditya seperti ini. Ia selalu meminta pengawalan jika berpergian ke Ciwidey, mengingat villa keluarga Nancy ada di sana. Luqman bergidik, kemudian menjawab ucapan Aditya dengan sedikit candaan, "Serius lo mau ke Ciwidey? Apa lo mau menghabiskan waktu sama selingkuhan? Atau, hmm?"
"Ugh ... sok tahu lo! Inget Bro, saat ini ane harus menentukan sikap untuk menyelamatkan karir Abdi agar tidak terjerumus karena cinta yang salah!" Aditya menjawab penuh percaya diri.
Akan demikian, Luqman bukanlah seorang sahabat yang tidak mengetahui sepak terjang Aditya. Kejadian ini pernah terjadi beberapa waktu lalu dan mendapatkan musibah bagi rumah tangga pria mapan itu. "Hmm ... oke! Asal lo jangan macam-macam saja! Titik!"
Aditya hanya mengacungkan jempolnya dan langsung mengalihkan pandangannya kearah mobil dinas miliknya, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Luqman yang masih tampak tenang namun memiliki feeling kuat.
Entah apa yang dibicarakan Aditya kepada Asep ketika tiba diparkiran setelah memberikan gawainya. Membuat Luqman menghubungi sang istri yang tengah berada di pabrik perkebunan teh milik Sugondo.
[Sayang, Nancy ada menghubungi kamu enggak?]
Pertanyaan sang suami yang sangat menggelitik hatinya, membuat Sindy tertawa terbahak-bahak diseberang sana.
Tawa Luqman pecah seketika. Ia tertawa cekikikan mendengar celotehan sang istri yang sangat menggemaskan.
[Ighs ... kamu tuh, ya! Aa ngomong serius, Nancy ada cerita tentang Aditya tidak? Kalau enggak, ya sudah ... Aa ngikutin Aditya ke Ciwidey, penasaran tuh bocah mau ngapain ke villa keluarga tanpa bini dan Mutia. Tumben kan?]
Seketika terdengar suara pekikan yang melengking dari seberang sana, membuat Luqman menjauhkan gawainya dari telinga dan langsung mengerenyitkan keningnya.
[Kebiasaan lo yah? Cicing ulah gandeng!]
[Gue ikut, gue ikut Luqman! Gue minta antar ke Cibaduyut sama sopir kantor dan tunggu dilampu merah pertama! Bye ...]
__ADS_1
[Waalaikumsalam istri ku yang bawel dan emosian]
Semua bergerak cepat, karena tidak ingin melihat Aditya yang bertindak gila ketika memiliki masalah serius dengan Nancy saat ini.
Cuaca semakin terasa hangat, terik matahari perlahan menggeser posisi nan tinggi menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit. Aditya tengah melaksanakan ritualnya sebagai umat muslim disalah satu mesjid yang menjadi tempat janjiannya bersama Evi. Pakaian loreng sebagai pria mapan berpangkat kolonel, memperlihatkan kepribadiannya sebagai seorang abdi negara yang sangat berwibawa.
Seketika matanya tertuju pada sosok wanita turun dari mobil hitam yang berhenti di depan mesjid, membuat Aditya tampak tersenyum sumringah. Entah mengapa, tiba-tiba perasaannya seketika berbalik seratus delapan puluh derajat saat kedua netra itu saling bersitatap dalam jarak dua puluh meter.
Kaki Aditya menapak dihalaman yang masih sangat ramai penuh percaya diri, hanya untuk mendekati wanita yang belum mengenakan hijab itu dengan langkah santai dan tenang. Siapa sangka, jantungnya semakin berdegup tidak karuan membuat dirinya semakin gelisah dan serba salah.
Sementara itu, Evi yang melihat Aditya berjalan mendekatinya hanya menyibakkan rambutnya yang tergerai dan tersenyum bahagia melihat sosok cinta lamanya kini berada tepat dihadapannya. "Mas ..."
"Neng, a-apa kabar? Hmm ... maaf kalau janjiannya kita percepat, karena Mas tidak mau anak-anak curiga sama pertemuan kita." Lagi-lagi Aditya tampak salah tingkah, saat melihat senyuman Evi sangat manis setelah bertahun-tahun menutup diri dari segala godaan janda dua anak tersebut. "Kamu mau sholat atau kita langsung jalan?" Ia bertanya seolah-olah tidak ada yang mengenal mereka berdua kali ini.
"Baik Mas." Evi tersenyum dengan wajah tersipu malu, kemudian menjelaskan sedikit, "Neng lagi datang bulan, Mas. Jadi kita langsung jalan saja, emang mau kemana?" Ia justru tengah bersorak gembira didalam hati, karena cinta lama akan kembali ke pelukannya seperti yang ia ucapkan kepada Nancy beberapa jam lalu. 'Ini saatnya aku merebut hati Mas Adit kembali ... ugh ... tetep jaga sikap Evi ...'
Tanpa pikir panjang, Aditya membawa Evi ke mobil mewah miliknya seraya membukakan pintu mobil itu sebagai bentuk ia sangat menghargai wanita yang tampak biasa saja dimata orang lain.
Tangan halus nan bersih tampak meremaas kuat stir kemudi ketika menyaksikan kemesraan sang suami dengan wanita yang telah lama menjadi masa lalu mereka. Wanita penghancur bahkan pernah menyebar fitnah untuk kehancuran rumah tangga mereka berdua, kini tidak bisa menahan amarahnya.
Rahang Nancy tampak menggeram, dadanya bergemuruh ingin sekali melabrak dua insan yang tengah reuni tersebut, tetapi ia masih penasaran dan bergumam sendiri, "Apa sih maksud Mas Adit bertemu lagi dengan wanita sampah itu? Apakah Mas Adit punya niat lain untuk menjodohkan Abdi dengan anak haramnya? Awas saja, kalau berani kalian macam-macam ... Neng tidak akan memberikan maaf, Mas! Sampai kapanpun dan Neng akan membawa Abdi juga Arini meninggalkan kamu!"
Akan demikian, di jarak yang tidak begitu jauh dari mobil Nancy berhenti, Luqman dan Sindy hanya menggeleng tidak percaya.
"Ya Allah Luqman, cewek begitu yang menjadi cinta Aditya? Bukannya itu wanita yang bernama Evi? Kami pernah kok, bertemu di mall dan Arini memberikan langganan untuk catering hariannya. Apakah dia sudah siap untuk kehilangan klien hanya karena perbuatan gila mereka, Aa?" Sindy mengerenyit masam, kemudian mengalihkan pandangannya kearah sang suami yang masih mengusap-usap lembut dagu lancip itu sendiri.
__ADS_1
"Kayaknya mereka berdua ada niat lain, ini bukan pertemuan cinta lama belum kelar, tapi ada misi yang harus dicegah oleh Nancy. Sukur kita ikutin mereka, kalau enggak ... kasihan Neng Nancy harus menghadapi kegilaan Aditya untuk kesekian kalinya!"