
Setiba dikediaman mewah milik pribadinya, Nancy yang sejak awal enggan bercerita dengan Sindy langsung turun dari mobil kemudian menghempaskan pintu mobil dengan sangat keras.
'Buset ... serem banget kalau lagi ngamuk urusan dengan Aditya!' Sindy bergumam dalam hati dan berlalu meninggalkan kediaman Nancy, karena belum saatnya untuk ikut campur.
Dadaa Nancy masih terasa sangat sesak membayangkan bagaimana Aditya berciuman dengan Evi. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tertumpah dalam raungan seorang istri yang terzolimi juga dibohongi oleh suami sendiri.
Nancy menumpahkan air matanya, karena hanya itu yang ia miliki untuk melegakan segala rasa sebak didalam dada. Tak pernah terbayangkan oleh-nya, jika Aditya akan menyakitinya dengan cara yang sangat memalukan bahkan menjijikan. Ia melempar semua perkakas yang ada dimeja rias, juga foto-foto kebahagiaan keluarga mereka selama ini.
"Neng benci sama Mas Adit! Kenapa wanita itu masih terus menghantui pikiran Mas! Kita menikah sudah lama, bahkan Mas sudah berjanji sama Neng, akan selalu setia dan bersama hingga tua!!!" Teriak Nancy semakin frustasi.
Entah berapa banyak pecahan kaca bahkan beberapa botol parfum yang berserakan dilantai kamar mewah itu, membuat Mutia melirik kearah Unik dengan wajah pucat dan penuh tanda tanya ketika mendengar bantingan apapun dari dalam kamar utama.
"Bik, Mama kenapa? Kok nangis-nangis gitu, selama ini Mama baik-baik saja, kan?" Mutia yang masih tampak lugu, tidak mengerti dengan apa yang dialami Nancy dan hanya bisa bertanya kepada wanita yang masih dianggap sebagai pengasuh mereka.
Wajah Unik sedikit kaku. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sang majikan mengamuk seperti orang kesetanan didalam sana. Membuat wajah wanita yang belum memiliki anak itu hanya termangu tak mampu menjelaskan apa-apa kepada Mutia.
Tak ingin mendengar suara lulungan sang mama yang berteriak keras menyebut nama Aditya Atmaja, membuat Mutia langsung berhamburan menghampiri kamar Nancy dengan penuh perasaan cemas. Ia menajamkan pendengarannya pada daun pintu kamar utama, akan tetapi matanya melotot besar ketika melihat sosok sang papa yang berjalan mendekat kearahnya.
Bersusah payah Mutia menelan ludahnya, karena dianggap telah menguping pembicaraan orang dewasa. Namun, ia langsung menundukkan wajahnya dan langsung berhambur berlari kencang menuju kamar pribadinya tanpa mau menyapa Aditya Atmaja yang memasang wajah dingin bahkan tampak lebih garang dengan rahang menggeram.
__ADS_1
Perlahan Aditya menyentuh kenop pintu kamar dan melongokkan wajahnya mencari keberadaan Nancy yang masih menangis dilantai kamar mereka dengan kaki menekuk dengan wajah tertutup karena enggan memperlihatkan rasa kecewanya.
Dengan demikian, Aditya yang sudah mengetahui bagaimana sifat Nancy, masuk perlahan dengan mata melihat pecahan kaca yang berserakan dilantai kamar. Ia menghela nafas berat, karena tidak ingin melihat sang istri menangis tersedu-sedu seperti saat ini. "Neng Nancy."
Mendengar suara berat Aditya yang memanggil namanya dengan nada lembut, membuat Nancy langsung mendongakkan kepalanya dan langsung melemparkan satu botol minuman kaleng yang ada didekatnya.
Cepat Aditya mengelakkan tubuhnya dari serangan Nancy yang datang secara tiba-tiba. Namun sang istri langsung berdiri dan menantangnya dengan tatapan nyalang walau mata itu masih terus mengeluarkan air mata.
"Ngapain pulang! Pergi sana, aku tidak membutuhkan kamu Aditya Atmaja!" Hardik Nancy mendorong tubuh yang masih tampak gagah tersebut, sambil meremas kuat dada sang suami walau harus merusak ruas kukunya nan panjang juga terawat.
Melihat kelakuan Nancy yang dianggap Aditya terlalu kasar juga kekanak-kanakan, membuat ia langsung memeluk tubuh ramping itu sambil mengusap lembut punggung istrinya hanya untuk memberikan ketenangan akan kekhilafan yang dilakukannya secara sadar.
Hati Aditya entah terbuat dari apa, sehingga ia sedikit tersulut emosi karena ucapan Nancy yang selalu mengungkit semua kisah masa lalu atas kekhilafan yang ia lakukan. Dengan sedikit kasar, Aditya meremas kuat lengan Nancy yang justru memberontak untuk melepaskan genggamannya.
"Dengerin Mas Neng!" Aditya menatap lekat kedua bola mata yang memerah itu seraya berkata, "Mas mau memisahkan Abdi dengan Arini dan menjodohkannya dengan anak Evi! Bukannya mereka juga menjalin kasih? Hmm? Apa Mas salah? Apa yang Mas lakukan untuk keluarga selama ini tidak berarti apa-apa, hah?"
Entah kekuatan dari mana, Nancy berhasil melepaskan genggaman Aditya dari tubuhnya, kemudian melayangkan dua tamparan keras ke wajah sang suami dengan dadaa bergemuruh bahkan menggelegak panas.
"Neng!" Lagi dan lagi Aditya menghardik Nancy dengan suara baritonnya nan berat. Tanpa mengusap pipinya yang terasa sangat panas sehingga membuat telinganya berdengung.
__ADS_1
"Apa!? Menjodohkan Abdi dengan Sonya anak haramnya Evi? Mas anggap apa Arini? APA Aditya!? Bukannya mikir untuk menyelamatkan anak-anak, justru membawa masalah baru bahkan sudah berani mencium bibir wanita sampah didalam mobil yang Neng beliin buat Mas!" Nancy mendecih dan tertawa kecil mencemooh kan ide gila yang muncul dalam benak Aditya.
Tak ingin Aditya menjawab ucapannya, Nancy justru menepuk-nepuk dadaa bidang itu seraya berkata, "Terbuat dari apa perasaan kamu, sehingga tidak memikirkan dampak bagi keluarga besar kita! Silahkan kamu nikah sama Evi, karena dia telah berhasil merebut hati kolonel ku! Hati kolonel yang telah tertata rapi selama bertahun-tahun, kini justru hancur hanya karena janda sampah itu!" Satu tunjuknya mengarah kearah Aditya dengan senyuman tipis yang berusaha tegar dihadapan suami.
Kembali Nancy menggelengkan kepala dan melanjutkan ucapannya, "Bukan Neng yang ada dalam benak Mas hingga usia kita mendekati tua seperti saat ini, justru Evi Sunardi dan anak haramnya itu! Silahkan! Silahkan pergi dan tidak usah kembali lagi ke rumah Neng! Karena Neng tidak akan meminta apapun kepada Mas, hingga detik ini! Mau uang, mau apa kamu pulang lagi ke rumah ini Aditya Atmaja!" Suaranya kembali terdengar sangat lantang, karena enggan untuk berdamai dengan keadaan.
Aditya hanya bisa mengusap-usap wajahnya yang sudah memerah karena tamparan Nancy masih terasa sangat menguar diujung kulitnya yang tampak putih dan bersih. Ia berusaha menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata dengan nada lembut, "Oke ... Mas akan tinggalkan kamu, karena kita sudah tidak sejalan. Tapi ingat, sampai kapanpun Mas tidak pernah akan menceraikan kamu, karena Mas juga sangat menyayangi kamu dan anak-anak. Kita berpisah hanya untuk menenangkan diri dan berpikir jernih untuk Abdi! Masa depan Abdi masih panjang, jika dia harus memperistri Arini yang merupakan sindikat. Kita harus bisa memilah Neng!"
Cepat Nancy menepis pembelaan diri Aditya dengan senyuman tipis diujung bibirnya, "Kenapa tidak mau menceraikan Neng? Karena takut sama Bapak, atau takut miskin, hmm? Ingat Mas, kamu itu sudah cerai talak tiga sama wanita bernama Evi Sunardi itu! Sampai kapanpun kalian tidak bisa bersatu lagi, karena dia tidak pernah menikah! Ingat itu! Sekarang, tinggalkan kediaman Neng, karena Neng tidak ingin melihat Mas lagi! Pergi! Pergi!"
"Neng, please jangan seperti ini memperlakukan Mas!"
"Mau diperlakukan seperti apa, hah!? Harus seperti apa Neng memperlakukan Mas? Bukannya Mas belum puas hanya berciuman dengan wanita itu! Silahkan jemput dosa Mas, karena Neng sudah jijik dengan kelakuan kamu!"
Kepala Aditya semakin berdenyut-denyut mendengar makian Nancy yang tak henti-hentinya bak seekor serigala yang siap menerkam mangsanya tanpa belas kasih. "Neng, tolong hentikan!" Ia kembali menghardik sang istri dengan nada lebih tinggi membuat Nancy justru terus mendorong tubuh kekar itu.
"Neng, jangan begini sama Mas! Mas minta maaf!" Aditya memohon karena tidak ingin kedua orangtuanya mendengar pertikaian rumah tangga yang kembali berantakan.
"Pergi! Pergilah Aditya Atmaja!"
__ADS_1