Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
So-nya


__ADS_3

Mobil putih itu terhempas ditepian jalan, yang tinggal sejengkal lagi akan terjerembab masuk ke dasar jurang yang hanya berjarak dua puluh meter dari tempat mobil mereka terparkir.


Tampak pecahan kaca berserakan di jalanan, membawa pintu mobil Abdi yang jauh terpental, sehingga terlihat sosok pria tertelungkup di tengah jalan dengan bersimbah darah.


"Aa Abdi ..." Arini masih berdiri di posisi awal, tubuhnya bergetar, pandangannya tampak samar, dan kepalanya seakan ikut berputar-putar, melihat kejadian didepan matanya.


Kembali Arini berteriak keras, "Aa Abdi!" Matanya hanya berkaca, karena masih menahan tangis dengan nafas yang sulit untuk ia lepaskan.


Jalan yang awalnya tampak sepi, kini tampak riuh, setelah mendengar kecelakaan hebat yang sangat mengejutkan beberapa penduduk setempat. Kemudian berlari menuju tempat kejadian, untuk memastikan kondisi pria yang tersungkur di tengah jalan.


"Sudah meninggal!" Teriak salah satu pemuda, kepada salah seorang warga yang datang mendekati tubuh yang masih tampak bergetar seperti tengah meregang nyawa.


"Serius!? Belum, ini sekarat! Cepat bawa, dan bantu orang yang dalam mobil itu. Apakah dia mati juga? Sepertinya mereka datang dari arah sana!" Tunjuk warga paruh baya itu, mengalihkan pandangannya kearah Arini.


Hanya kalimat-kalimat yang sangat menyeramkan itu yang terdengar ditelinga Arini, kemudian ia berusaha untuk berlari kencang mendekati tubuh yang masih tampak bergelimang darah.


Lagi-lagi tenggorokan Arini tercekat, ia melihat dengan matanya sendiri, bahwa tangan itu bergetar, kembali berteriak memanggil nama suaminya, "Aa Abdi!"


Abdi yang masih merunduk di body mobil miliknya, masih mengatur nafasnya ketika melihat pintu mobil sport kesayangannya terbang jauh seketika tersadar. Tubuhnya terasa seperti melayang, badannya juga ikut bergetar hebat, bagaimanapun ia berhasil selamat dari petaka yang akan merenggut nyawa dalam hitungan detik.


Perlahan Abdi berusaha untuk berdiri, setelah menenangkan diri sendiri, kemudian mencari keberadaan Arini. Tampak dari kejauhan sang istri tengah meyakinkan kondisi tubuh orang yang tersungkur ditengah jalan, bergegas ia berlari menuju kerumunan orang-orang hanya untuk mencari keberadaan Arini.


Abdi dapat mendengar dan melihat betapa histerisnya Arini, kemudian ia langsung menarik tangan sang istri sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. "Rin!"


Arini menoleh kebelakang, melihat sosok Abdi dan kembali meyakinkan penglihatannya, karena tidak ingin dikira ia tengah berhalusinasi, atau bahkan berbicara dengan arwah sang suami.

__ADS_1


"Aa Abdi?" Lagi-lagi Arini menoleh kearah tubuh yang masih tertelungkup itu, kemudian berjalan mendekati Abdi, hanya untuk meyakinkan bahwa pria itu masih hidup dan baik-baik saja. "Beneran kan, kamu teh masih hidup?"


Abdi mengangguk meyakinkan, "Beneran! Ini aku!"


Tanpa pikir panjang, Arini langsung berhambur memeluk erat tubuh Abdi yang masih terasa hangat, walau sesungguhnya perasaan kedua-nya sama-sama ketakutan.


Cukup lama mereka hanya menunggu pertolongan pihak kepolisian serta medis, membuat Abdi dan Arini hanya menunggu evakuasi korban kecelakaan, yang ternyata Gultom membawa serta satu orang anak ayamnya, yang terbang keluar dari pintu mobil penumpang karena tidak menggunakan safety belt.


Kerumunan orang-orang semakin bertambah. Gultom terlihat masih selamat, tapi anak ayamnya dinyatakan meninggal dunia, karena banyak mengeluarkan darah segar.


Sementara pintu mobil Abdi tidak berbentuk, karena terlepas dari sarangnya, membuat mereka hanya menunggu mobil derek untuk membawa mobil mewah itu ke bengkel resmi.


Arini masih terduduk di pinggir jalan, mengusap wajah yang tampak pucat. Sambil menunggu kedatangan keluarga mereka, karena mendengar kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Abdi sang suami.


Lebih dari satu jam kedua-nya menunggu di tepian jalan. Mengeluarkan barang-barang bawaan Arini yang masih berserakan di dalam mobil, dan menumpukkan nya diluar tempat ia menunggu, ketika mobil Abdi akan dinaikkan keatas mobil derek.


Sungguh tragis kejadian sianh menjelang sore itu, membuat Abdi berusaha menenangkan Arini dengan tangan yang masih bergetar karena perasaan masih bercampur aduk.


Abdi bertanya dengan nada lembut, sambil mengusap punggung Arini, "Kamu enggak apa-apa, kan?"


Perlahan Arini menggelengkan kepalanya, ia tersenyum tipis, memeluk erat tubuh Abdi sambil menangis, "Jangan tinggalin aku. Aku belum siap!"


Mendengar permintaan Arini, Abdi hanya tersenyum sambil mengusap lagi punggung sang istri untuk menenangkan pikirannya kembali.


Tak lama mereka berdua menunggu disana, mobil bak terbuka milik Eko melewati jalanan tempat kejadian kecelakaan tersebut. Dengan wajah tampak tegang dan tergopoh-gopoh pria sederhana itu turun karena melihat Arini dan Abdi masih berdiri di pinggiran jalan saling berpelukan, seperti baru mendapatkan kecelakaan hebat.

__ADS_1


Bergegas Eko menghampiri Arini yang sejak tadi menyadari bahwa pria itu akan berhenti.


Eko mengalihkan pandangannya, kearah mobil milik Gultom, yang masih di lakukan evakuasi oleh tim derek untuk membawa mobil itu ke kantor polisi, kemudian bertanya pada Arini juga Abdi, "I-i-itu mobil Bang Gultom, kan? Dia kecelakaan? Apa dia menabrak mobil kalian?"


Abdi mengangguk membenarkan, "Gultom dilarikan kerumah sakit, dan satu anggotanya meninggal di tempat. Dia hanya menabrak pintu mobil ku saja, syukurnya kami baik-baik saja."


Sontak penjelasan dari Abdi, membuat Eko terdiam. Bagaimana mungkin, ia baru menyaksikan pria berdarah Batak itu membuang tiga orang yang telah melarikan uangnya, tapi kini Gultom harus menerima ganjaran bahwa dia kecelakaan. Kembali ia bergumam dalam hati, "Semoga Bang Gultom baik-baik saja. Aku yakin, dia lagi dalam kondisi mabuk berat ..."


Melihat Arini masih terdiam, Eko langsung menyodorkan satu botol air dingin yang ada ditangannya, "Minumlah. Saya rasa kamu sedang shock. Terlihat wajah kamu sangat pucat."


Abdi mengerenyitkan keningnya, melirik kearah Arini yang langsung menerima botol air mineral itu dari tangan Eko. Ada perasaan marah, kesal, yang dibalut cemburu, karena merasa bahwa sang istri mendapatkan perhatian dari pria lain, tapi lagi-lagi ia berusaha untuk berbesar hati karena kondisi kurang kondusif.


Eko masih membawa Abdi bercerita, sambil menunggu kedatangan keluarga mereka, yang akhirnya sudah memarkirkan kendaraan di seberang jalan tempat mereka berdiri.


Terlihat Nancy berlari kecil menuju anak menantunya, membawa Mutia bersama, karena kepanikan mendapatkan kabar bahwa mobil mereka rusak parah. Pikiran Nancy bahwa anak menantunya lah yang mengalami kecelakaan, ternyata pikirannya salah.


Tangan lembut seorang ibu langsung berhambur memeluk tubuh Abdi, melihat wajah, tangan sang putra dengan seksama, "Kamu enggak apa-apa kan, sayang?"


Abdi mengangguk sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja, kemudian menoleh kearah Arini yang langsung mendapatkan perlakuan seperti dirinya dari sang mama.


Sementara Mutia tampak tengah berpikir, karena melihat sosok Eko bersama Abdi dan Arini. "Kak Eko?"


Eko mengembangkan senyuman manisnya, "Mutia."


Mutia tampak tengah mencari keberadaan seseorang, kemudian bertanya dengan nada datar yang tengah kebingungan, "Hmm ... Sonya mana, Kak? Kok sama Kak Abdi? Emang Kakak dari mana?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Mutia kepada Eko, bola mata Abdi dan Arini membulat besar karena mendengar nama yang tak asing bagi kedua-nya, bibir mereka sama-sama bergerak menyebutkan nama yang sama dengan sebuah pertanyaan, "So-nya??"


__ADS_2