
Pagi menjelang, waktu menunjukkan pukul 07.00 waktu kota kembang. Dua tubuh telanjang itu masih saling berpelukan, tanpa mau melepaskan dekapan yang terasa semakin hangat dibawah selimut tebal kamar hotel mewah tersebut.
Terdengar suara deringan telepon milik Arini, yang sangat menganggu waktu istirahat mereka berdua setelah menghabiskan malam panjang hingga pukul satu malam.
Entah apa yang dirasakan dua insan pasangan suami-istri tersebut, karena selalu menolak tentang perjodohan, akan tetapi sangat bahagia dengan status mereka kali ini.
Karena mendengar suara handphone yang tak kunjung berhenti berbunyi, Arini mengusap nakas disampingnya, kemudian melihat sekilas nama yang tertera dilayar benda pipih tersebut.
Mata Arini menyipit, hanya untuk memastikan siapa yang menghubunginya, "Siapa sih? Mama atau Eko?"
Arini : "Ya halo ..."
Eko : "Teh, kita ketemu dimana ya? Kalau bisa jalannya jangan kesiangan, biar pulang enggak terlalu malam. Nanti saya enggak enak sama suami teteh."
Mendengar kalimat sungkan dari mulut Eko diseberang sana, Arini langsung memposisikan tubuhnya agar duduk di tepian ranjang.
Arini : "Gue bawa suami saja. Jadi lo bawa mobil butut itu!" tawanya menggoda Eko, kemudian melanjutkan ucapannya, "Oya, lo bisa kirimin alamat rumah? Nanti ada orang suruhan gue mengantarkan paket. Kita ketemu di area supermarket Setiabudi saja!"
Tanpa banyak basa-basi, Eko hanya menjawab 'oke' kemudian mengirimkan alamat rumahnya ke handphone milik Arini.
Senyuman Arini kembali mengembang lebar, dan menghubungi orang suruhan Papa Aldo, untuk mengantarkan handphone iPhone seri terbaru kekediaman Eko.
.
__ADS_1
Tentu saja semua itu menjadi hal yang sangat mengejutkan bagi Keluarga Evi, ketika mendengar ada pria berotot besi, mengetuk pintu rumah kecilnya.
Ketika pintu ruang tamu terbuka lebar, mata Evi membulat sempurna ketika melihat sosok pria mapan berdiri dihadapannya, yang pernah melakukan hal tak senonoh padanya beberapa tahun lalu dihadapan Dida dan satu orang pihak berwajib, sehingga hamil anak yang kini diberi nama Sonya Larasati.
Tenggorokan Evi seperti tercekat, membuat tubuhnya bergetar, seperti dihantam satu batu besar, karena menahan sesak didada kemudian dengan cepat ia menyandarkan tubuhnya di daun pintu rumah miliknya.
Evi menghardik pria berotot besi itu, dan ingin segera mengusir pria itu agar meninggalkan kediamannya, "Si-si-siapa Anda? Mau ngapain Anda kerumah saya?"
Tampak pria yang berprofesi sebagai pihak kepolisian jika siang, dan malam menjadi pengawal Keluarga Aldo membuat dirinya sedikit tersentak mengingat akan masa lalu. "Ki-ki-kita pernah bertemu, kan? Ka-ka-kamu Evi? Saya Bian, teman Luqman. Agh ... saya pikir kamu sudah meninggalkan kota ini!"
Tak ingin menjawab pertanyaan pria berpangkat itu, Evi hanya mendecih, "Tidak usah basa-basi! Katakan apa yang kamu inginkan. Jangan pernah mengingat kejadian yang sangat menjijikkan itu lagi. Karena saya sudah melupakannya!" jawabnya ketus, sambil menoleh kearah Eko yang datang menghampirinya.
Eko yang melihat wajah sang mama tampak pucat, langsung menghampiri Bian untuk menanyakan kepada pria yang seumuran dengan Evi tersebut. "Maaf Pak. Ada perlu apa?"
"Ini Aa. Ada paket dari Nona Arini. Dia bilang untuk Aa Eko. Dan saya mohon maaf, telah mengganggu ketenangan Anda, Nyonya Evi." Bian menyerahkan handphone yang dipesan Arini ketangan Eko, kemudian membalikkan badannya, dan berlalu meninggalkan kediaman Evi.
Evi tak menghiraukan paper bag yang ada ditangan putra kesayangannya, akan tetapi air matanya kembali tergenang mencari keberadaan Sonya. "Kenapa aku harus bertemu dengan pria itu? Aku tidak boleh memberi tahu kepada Sonya, siapa papa kandungnya. Aku pastikan, bahwa anak-anak tidak akan mengetahui apapun tentang kejadian yang sangat menjijikkan itu, sehingga membuat mereka membenci aku sebagai ibu mereka ..."
Sementara itu, Eko masih terdiam membisu. Ia menatap dua handphone mahal itu dengan tatapan penuh tanya. Sambil berpikir, "Arini. Apakah wanita bernama Arini itu, Teteh Zea? Kenapa dia baik sekali, mau memberikan aku handphone yang harganya hampir 30 jutaan, dua lagi. Apakah dia tidak sayang dengan uangnya. Ini enggak benar, aku harus mengembalikannya. Karena aku tidak mau ada balas budi pada wanita yang sudah menikah. Ighs ... wanita jaman sekarang lebih berani ya. Aku jadi takut, apalagi status dia itu istri orang. Jangan Eko, ingat karma ... jangan gangguin istri orang, lebih baik kamu fokus pada pekerjaan dan cinta kamu kepada Mutia. Tapi Kakak-nya galak banget, cuma aku belum pernah bertemu dengan anak Tante Nancy yang pertama itu! Hanya mendengar namanya saja dari Sonya ..."
Bergegas Eko membawa paper bag itu ke kamarnya, meninggalkan ruang tamu menyiratkan penuh rahasia dan perasaan bersalah yang terlihat di raut wajah Evi. Akan tetapi, belum saatnya untuk Eko bertanya pada sang mama 'apa yang terjadi ...'
Sonya tampak kebingungan, karena melihat sang kakak terburu-buru keluar dari kamarnya, menuju mobil bak terbuka yang terparkir di halaman rumahnya. "Kak, kamu mau kemana?"
__ADS_1
Eko tak menghiraukan panggilan Sonya, karena dia harus mengembalikan pemberian Arini agar tidak terjadi salah paham akan perasaannya sebagai seorang partner. "Aku pergi dulu. Ingat, jangan lupa bantuin Mama untuk ke pasar. Kamu jangan pergi main, karena Kakak pulangnya agak malam. Ngerti!"
Sonya terdiam, ia hanya memajukan bibirnya, kemudian menoleh kearah Evi yang masih terduduk di kursi ruang tamu.
Perlahan Sonya, mendekati sang mama, hanya untuk meyakinkan bahwa orang yang telah membesarkannya selama ini baik-baik saja. "Ma ..." Ia mendekati wajah Evi dan menepuk bahu sang mama, sambil menatap lekat wajah yang tampak sendu dan pucat itu.
Tiba-tiba Evi tersentak, seketika matanya bersitatap dengan Sonya, kemudian menelan ludahnya sangat kasar. "Hmm ... enggak apa-apa. Mama baik-baik saja, kita ke pasar sekarang? Bahan-bahan buat catering pesanan pabrik besok masih ada sih. Cuma takut kurang saja," senyumnya mengulas kepahitan yang tak mampu diucapkan.
Sonya tampak penasaran pada Evi, karena wajah wanita itu benar-benar menyimpan banyak pikiran tak seperti biasanya, "Mama baik-baik saja, kan?"
Evi kembali melebarkan bibirnya untuk kembali tersenyum, "Mama sayang kamu. Semoga saja, wanita yang disebutkan pria tadi tidak ada hubungannya dengan Kakak, kamu. Karena Mama enggak mau Kakak kamu menjalin hubungan dengan wanita kaya. Karena itu akan menginjak-injak harga dirinya, dan keluarga kita!"
Sonya tampak kebingungan, bertanya sambil merebahkan kepalanya di bahu sang mama, "Kalau aku kenapa Mama biarkan pacaran sama Aa Abdi. Padahal Mama tahu dia laki-laki kaya dan orang terpandang di kampung sebelah. Jujur, aku mulai enggak nyaman sama dia, Ma. Karena dia hanya menganggap aku sebagai adiknya. Emang aku ini Mutia. Yang bisa dikibulin terus menerus. Aku sudah dewasa, Ma. Aku pengen ketemu sama laki-laki baik dan setia. Bukan pria yang sudah memiliki istri!" ketusnya, membuat Evi semakin gundah.
"Apa maksud kamu? Emang Abdi sudah menikah?"
Sonya menggeleng perlahan. Dia tidak ingin sang Mama semakin banyak pikiran, karena ia telah berjanji kepada Abdi untuk menutupi semua cerita pernikahan itu. "Eng-enggak Ma. Sekarang status kami hanya menjalani dulu. Yang penting masih bisa berteman baik, selayaknya orang pacaran."
Evi menghardik Sonya, "Jangan sampai kamu melepaskan Abdi. Karena Mama pengen sekali memiliki menantu angkatan seperti dia. Kalau kamu mau, Mama bisa mengajarimu menjadi wanita yang lebih agresif. Biar anak itu mau menikahi kamu!"
Dengan cepat Sonya menggeleng, menidakkan ucapan Evi yang tidak masuk akal, "Apaan sih Mama. Sonya enggak mau berbuat tidak baik. Karena aku ini perempuan terhormat. Biar kita hidup seperti ini. Yang penting, aku enggak mau jadi wanita nakal, dan akan menjadi bulan-bulanan mertua ku nanti jika menikah hamil deluan. Apa Mama enggak lihat, bagaimana keluarga Papa sama kita. Ngasih uang enggak, menghina Mama terus-menerus! Aku ini anak Mama, kami tumbuh dari tangan Mama. Aku mau Mama fokus pada catering, enggak usah pikirin Abdi!"
Mendengar pernyataan putrinya seperti itu, Evi langsung berhambur memeluk tubuh putri kesayangannya, "Tapi setidaknya jangan pernah melepaskan pria yang kamu cintai. Mama yakin, Abdi itu laki-laki yang baik, Sonya."
__ADS_1
Sonya tampak tengah menahan air matanya, walau sesungguhnya dia tidak mungkin akan menunggu Abdi seperti yang di janjikan pria itu selama satu tahun kedepan. Bergumam dalam hati hanya untuk menghibur diri sendiri, "Lebih baik aku mengikuti saran Mutia, mencari pria mapan, dan baik hati seperti Aa Abdi, toh masih banyak Tuhan menciptakan pria di kota kembang ini ..."