
Di kamar mewah sebuah apartemen mewah, Arini masih terbaring dalam mimpi indahnya dengan mengenakan piyama lengan panjang, setelah diberikan fasilitas oleh Sudirman tempat tinggal pribadi di kota metropolitan untuk menghilang sejenak.
Ya, sudah dua minggu Arini berada di kota metropolitan tanpa memikirkan Abdi ataupun Aldo yang semakin panik menghubunginya, akan tetapi tidak pernah menemukan jawaban tentang keberadaannya.
Tubuh Arini menggeliat, ketika kakinya merasakan tangan seseorang yang menyentuh ujung jemari kakinya. Kemudian menjalar hingga betis dan paha secara lemah lembut serta sensual.
"Hmm ..." Arini mengusap lembut kedua kakinya sendiri, sambil membuka matanya perlahan-lahan.
Akan tetapi, betapa terkejutnya ia ketika matanya bersitatap dengan Stevie yang sudah ada diatas tubuhnya ...
"Agh!" Dengan gerakan spontan, Arini langsung melayangkan satu bogeman mentah ke pangkal rahang pria bule itu membuat tubuh Stevie terjungkal ke lantai apartemen.
"Apa yang kau lakukan didalam kamar ku, Stef? Are you crazy? Aku tidak ingin menghabiskan waktu bersama mu! Keluar!" Arini terduduk diranjang kingsize kamar mewah itu, kemudian melempar botol minuman kearah Stevie.
Prang ...
Prang ...
"Berani sekali kau menyentuh kulit ku, Stef! Laki-laki mesum!" umpatnya semakin menjadi-jadi.
Stevie yang masih meringis menahan rasa sakit yang teramat sangat dirahang sebelah kiri, hanya bisa mengusap lembut bekas pukulan Arini.
"Agh sial! Bukankah kita saling mencintai, Zea! Bahkan kita sudah pernah berciuman!"
Arini melebarkan pandangannya, kemudian mendecih menatap tajam kearah Stevie, "Dulu!Dulu ya! Saat ini tidak ada rasa cinta lagi, karena aku sudah menikah, Stef!" jelasnya dengan tatapan mata penuh amarah. "Oya, sejak kapan aku memintamu untuk masuk kekamar ku! Siapa yang memberikan mu izin? Hmm?"
Tampak kepala Stevie menggeleng pelan. Sejak sebulan lalu di club', pria bule itu tidak pernah percaya bahwa Arini telah menikah, "Secepat itu kah, kamu menikah Zea? Sejak awal aku menunggu mu, tapi kau malah meninggalkan aku di Valencia."
Kedua alis Arini saling menarik, keningnya mengerenyit masam memandangi Stevie yang berusaha membuat otaknya kembali mengingat kisah di Valencia. "Apa maksud mu, hmm? Bukankah kau yang meninggalkan aku dengan wanita yang tampaknya sangat berani daripada aku, dari segi penampilannya? Kenapa mesti kau yang merasa dikhianati, Stev? Apakah kau sedang sakit saat ini? Hah?"
Stevie berusaha untuk bangkit dari duduknya, kemudian mendekati Arini dengan duduk ditepian ranjang, hanya untuk meyakinkan wanita cantik kepala batu tersebut ...
"Zea ... dengarkan aku! Aku tidak pernah mau menyakiti mu, sayang. Aku hanya menghabiskan waktu dengan teman wanita ku. Dia sudah tiga hari di tinggalkan oleh kekasihnya," jelasnya berusaha untuk meyakinkan Arini, dengan menciptakan satu kebohongan.
Dengan demikian, Arini hanya melemparkan satu bantal kecil kewajah Stevie, dan beranjak dari ranjang kingsize kamar tersebut.
__ADS_1
"Cerita lama, dan tidak masuk akal! Kalau kau ingin berbohong, silahkan bohongi wanita lain, Stev! Jangan aku, karena aku tidak akan pernah mempercayai ucapan pria yang pernah membohongiku!" Arini mengambil air mineral kemudian menenggaknya hingga habis, memilih duduk di sofa kamar, setelah membuka pintu dengan sangat lebar, memanggil salah satu pelayan untuk mempersiapkan sarapan seperti biasanya.
Ya, sejujurnya Arini sangat berharap bahwa Abdi yang akan mendatanginya kali ini. Akan tetapi, hanya pria mesum yang sengaja di datangkan oleh Sudirman untuk satu misi yang akan terjadi.
"Pergilah, Stev! Tinggalkan kamar ku!" titahnya mematik rokok setelah memesan beberapa makanan kecil kepada pelayan.
"Enggak Zea! Aku ingin membawamu pergi meninggalkan Jakarta! Kita akan hidup bersama di Valencia, ataupun Barcelona!" Stevie berusaha untuk meyakinkan Arini. Kali ini ia tidak ingin kehilangan momen kebersamaan wanita kepala batu tersebut.
Perlahan Arini mengusap lembut ujung hidungnya, kemudian mendecih menatap kearah Stevie yang ternyata memiliki banyak nyawa juga wajah, "Jika kau ingin menggombali seorang wanita, cari saja wanita yang lain! Selesai sarapan, aku ada kegiatan! Jadi pergilah, karena aku tidak memiliki waktu untuk melayani mu!"
Wajah Arini tampak tersenyum bahagia, ketika melihat satu piring makanan yang berisikan karbohidrat juga protein dengan segelas susu segar untuk menemani pagi indahnya, tanpa memperdulikan Stevie yang terus berceloteh untuk meyakini perasaannya.
Arini hanya tertawa mengejek. Membiarkan Stevie untuk bicara, karena tidak ingin membahas tentang perasaannya kali ini. Kemudian menyela celotehan pria bule itu dengan satu pernyataan ...
"Jangan biarkan aku menghindar dengan cara kasar dari mu, pria brengsek! Lebih baik, kau tunggu aku diluar kamar ini, karena sebentar lagi aku akan melakukan ritual ku! Aku tidak ingin membahas tentang perasaan saat ini! Dan satu hal yang harus kau ketahui, bahwa aku sudah menikah, Stevie! Menikah dengan pria yang ada di apartemenku beberapa waktu lalu!"
Stevie menepis semua ucapan Arini, "Tidak Zea! Kau berbohong padaku, itu hanya karena perasaan kecewa mu! Kau masih mencintai aku, Ze!"
Arini tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan Stevie yang tidak yakin, bahwa dirinya telah menikah, "Jadi ... bagaimana caranya untuk aku meyakinkan mu? Hmm? Sudahlah, sekarang kau keluar! Aku tidak ingin berdebat lagi! Sebelum aku menyeret mu, dan melempar tubuh mu dari lantai 25 ini!" tegasnya.
"Oke! Aku akan menunggu mu diluar, tapi kita akan pergi bersama!"
"Whatever!"
Wajah Arini masih menatap lekat kearah Stevie, yang berlalu meninggalkan kamar mewahnya, kemudian menyusul pria itu hanya untuk mengunci pintu kamar tersebut dari arah dalam.
BRAK ...
Stevie terdiam, ia menoleh kearah pintu yang tertutup rapat, mengumpat dalam kekesalan, "Aku akan menaklukkan hati mu lagi, Zea ...!" kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga yang sudah tersedia banyak hidangan makanan di sana.
"Sial! Dia pikir aku bisa dibohongi nya? Mau bilang bahwa aku wanita terbaik serta menarik!? Hah ... aku tidak bodoh, Stev! Kau bisa mempermainkan banyak wanita, kecuali aku!" tukasnya, berlalu menuju kamar mandi.
Arini termenung, menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Tak ada raut kebahagiaan yang sebahagia bersama Abdi, membuat ia merasakan kehilangan pada sosok pria yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik, walau selalu berlaku kasar pada pria gagah itu.
.
__ADS_1
.
Ditempat yang berbeda, Abdi justru masih tampak seperti memikirkan bagaimana caranya untuk bisa menemukan keberadaan Arini. Dua minggu bukan hal mudah baginya untuk menjalani hari sebagai seorang abdi negara yang memiliki tuntutan pekerjaan cukup banyak.
Membuat Abdi lengah, ketika ia melakukan sesi latihan ketika berada di lapangan tembak.
Dor, dor, dor ...
Thang ...
Peluru tajam yang Abdi tembakkan, hanya mengenai tiang dengan terpental ditanah.
"Agh sial! Sudah lima kali aku melakukannya, selalu saja salah sasaran! Ada apa dengan pikiran ku? Kenapa sulit sekali untuk fokus pada pekerjaan ku ...!" umpatnya melempar senjata api yang ada digenggaman kearah tiang memiliki jarak 50 meter dari tempat ia berdiri.
"Damn it! Shiiit!"
Abdi meremas kuat kepalanya, merasa frustasi karena kebodohannya sendiri. "Kenapa aku tidak bisa fokus! Rasanya saat ini aku hanya memikirkan Arini, bahkan berkali-kali Sonya menghubungi, masih tetap tidak peduli. Tapi saat ini sama sekali aku tidak bisa melupakan wanita itu! Arini, dimana kamu! Dimana keberadaan istriku!" teriaknya kuat menatap kearah langit biru yang membentang luas.
Joni menghela nafas berat ketika menyaksikan sahabatnya seperti orang gila. Mendekati Abdi hanya untuk memastikan bahwa pria tampan itu baik-baik saja.
"Sarapan dulu, bro! Jangan terlalu berat memikirkan wanita itu! Tinggalkan dia, karena itu lebih baik jika lo masih mau menjadi seorang abdi negara!"
Dengan tatapan nyalang, Abdi menoleh kearah Joni yang mendekatinya, hanya menjawab, "Bagaimana mungkin aku akan melupakan wanita itu! Dia sangat manja, dan aku tidak akan pernah melepaskannya, dia istriku, istriku!"
Joni tertawa kecil, mencoba untuk kembali mengingat tentang ucapan Aditya beberapa waktu lalu padanya, "Walau tanpa restu? Bukankah, seharusnya lo sudah berada di Libanon? Lebih baik berangkat, lupakan Arini. Karena kalian tidak akan pernah lagi untuk bersama!"
"Diam lo! Pokoknya hari ini kita harus ke pelabuhan! Gue pengen refreshing!"
"Hmm, satu jam lagi!"
____
Happy new year 2023 ... ❤️🔥
Sehat selalu untuk kita semua, I love you reader ... tolong yang berteman dengan ku, silahkan cek chat, ya ... Terimakasih reader tersayang ... 😘😍
__ADS_1