Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Zea Alexa


__ADS_3

Setelah memberikan perintah kepada Mutia untuk mengantarkan Evi juga Sonya menuju loby pusat perbelanjaan tersebut, Arini menyunggingkan senyuman tipisnya.


Wajah cantik itu mengalihkan pandangannya kearah lain, karena tidak ingin terlihat bersedih hati setelah apa yang telah ia lakukan hari ini. Bagi Arini, dengan cara mendekati musuh lebih baik, daripada harus mengeluarkan kata-kata permusuhan.


Sindi menoleh kearah Arini yang masih duduk termenung sambil menyembunyikan wajahnya dipunggung Abdi, yang sesekali menciumi leher pria itu dihadapan mertua juga tantenya tanpa sungkan.


Sementara Nancy masih memilih diam, bermain handphone miliknya karena terpaksa harus berjabat tangan dengan Evi ketika mereka akan meninggalkan restoran.


Abdi menolehkan kepalanya, melihat Arini yang masih bermanja-manja dipunggung nya, seperti kucing persia yang sangat patuh dan tunduk pada tuannya. "Kenapa kamu melakukan semua ini, Rin?"


Dengan manja Arini mendekatkan wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dengan sang suami, "Bukankah kita sudah bersama? Dan aku memberikan peluang pada mereka, apa itu salah? Jika salah, dimana kesalahan ku, baby?"


Abdi menggeleng, kemudian memiringkan tubuhnya, agar bisa lebih dekat dan tidak berjarak dengan sang istri, menjawab dengan nada menggeram, "Ta-ta-tapi kamu tahu, bahwa Mama tidak menyukai Tante Evi!"


Tangan Arini mengusap lembut wajah Abdi, "Aku mencintai mu. Dan aku tidak ingin berdebat dengan orang yang tidak selevel dengan ku!"


Abdi menelan ludahnya susah payah. Sejujurnya hati pria gagah itu tengah bersorak bahagia mendengar pengakuan Arini yang menyambut cintanya. Ingin rasanya ia menyalakan obor tanda kemenangan, dan melakukan pedang pora untuk menyambut kehadiran wanita cantik kepala batu tersebut.


Entah naluri darimana, Abdi langsung mendekatkan wajahnya, untuk mengecup bibir basah Arini.


Akan tetapi, Arini langsung memalingkan wajahnya dengan berkata lembut, "Jangan disini. Ada Mama dan Tante Sindi. Nanti aku malu. Oya, baby ... aku sudah membeli bra yang sesuai dengan keinginan kamu. Tapi nanti kamu harus membantu aku untuk menggunakannya. Karena tadi si pelayan toko hanya memberikan beberapa pilihan, ada yang pengaitnya di depan ada juga di belakang. Aku memilih dua-duanya. Nanti kita coba ya?"


Kembali wajah Abdi memanas karena malu dengan kepolosan Arini dihadapan Nancy juga Sindi. "Ogh God, kamu enggak kira-kira yah. Ini ada Mama dan Tante. Aduh ...!" tepuknya pada jidat sendiri, membuat kedua wanita dewasa itu tertawa geli. 


Seketika itu, Mutia kembali berjalan mendekat pada keluarganya, setelah mengantarkan Evi juga Sonya untuk pulang bersama orang suruhan Arini.


Mutia memilih duduk disamping Abdi, karena tidak ingin mendengar makian yang di utarakan oleh sang mama. Wajah cantik itu menekuk, sesekali melirik kearah Sindi.

__ADS_1


Menyadari bahwa putrinya telah kembali ke meja mereka, Nancy langsung menatap lekat putri kesayangan tersebut, "Kenapa kamu tidak pernah mengindahkan ucapan Mama, Mut? Mama tidak ingin kamu bergaul dengan mereka!"


Mendengar ketegasan dari bibir Nancy, Arini mengacuhkan perdebatan dua insan ibu dan anak itu, karena tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga.


Mutia menjawab pertanyaan Nancy dengan jujur, "Aku cuma mau berbuat baik sama mereka, Ma. Tidak ada maksud lain. Lagian aku mau bertemu dengan teman ku, tadi. Tapi karena ada Mama, jadi aku mengurungkan niatku! Please ... jangan larang aku untuk berteman dengan Sonya. Dia gadis baik, tidak seperti yang ada didalam kepala Mama. Kami masih tahu aturan kok. Lagian Kak Abdi juga tidak melakukan apapun sama dia. Jadi enggak ada masalah kalau cuma berteman?"


Nancy yang akan mengeluarkan kata-kata umpatan pada Mutia, cepat ditepis oleh Sindi, dengan menyentuh tangan wanita itu, sambil berkata dengan lembut, "Jangan berdebat tentang mereka. Yang penting, Evi dan Sonya tidak akan berani mengganggu Abdi lagi!"


Lagi-lagi Nancy hanya mendengus dingin, memangku tangan sambil menghempaskan tubuhnya disandaran kursi restoran, melirik kearah Arini juga Abdi yang sibuk dengan gaya romantika cinta mereka berdua.


Tidak banyak bicara, Arini berpamitan lebih dulu pada Nancy juga Sindi setelah meletakkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan diatas meja mereka, membuat Nancy hanya bisa menggeleng saja. Ketika mendengarkan ucapan Arini, "Kami memiliki kegiatan lain!" sambil menarik tangan Abdi untuk segera berlalu meninggalkan keluarganya.


Abdi yang sudah lelah dengan semua drama Arini, menghentikan langkah wanita itu ketika sudah berada diparkiran, "Kamu mau kemana lagi?"


Arini melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, "Kita masih ada waktu satu jam, untuk menghabiskan waktu bersama. Setelah ini, aku ada kegiatan lain! Aku harus mengantarkan kamu kemana? Karena aku membutuhkan kendaraan mu!"


Abdi menggelengkan kepalanya, sebagai isyarat bahwa ia tidak ingin Arini pergi seorang diri, "Enggak! Kamu harus pergi sama aku! Kamu itu dalam pengawasan militer. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu!"


Mendengar pernyataan Abdi seperti tengah menakut-nakutinya, Arini langsung menarik kerah baju pria yang berdiri dihadapannya tersebut sambil berbisik, "Apa kamu sedang mengancam keselamatan aku, Baby?"


Abdi menghela nafas berat, kembali ia menatap iris mata indah milik Arini, "Zea Alexa. Namamu jika berada di club' Alexa. Katakan padaku, ada hubungan apa kamu dengan Stevie? Kenapa kamu benar-benar membingungkan aku, Rin!?"


Tawa Arini terdengar tengah mengejek Abdi, "Who is Zea Alexa? I am Arini Aldo Anggoro. it has nothing to do with the name you mentioned earlier!"


(Siapa Zea Alexa? Aku Arini Aldo Anggoro. tidak ada hubungannya dengan nama yang kamu sebutkan tadi ...)


Dengan cepat Abdi menarik lengan Arini, kemudian menekan remote control untuk membuka pintu mobil, dan memaksa wanita kepala batu itu duduk di kursi penumpang. "Jangan membuat aku benar-benar membuka topeng mu dihadapan keluarga. Kamu bisa bermain-main dengan mereka, tapi tidak dengan hukum negara!"

__ADS_1


Sejujurnya Arini tak mengacuhkan ucapan Abdi. Dia sudah tahu sejak empat hari yang lalu, tentang pencarian para semua pihak berwajib yang berusaha melacak dimana keberadaannya saat ini.


Handphone pintar yang terdaftar dengan nama Zea Alexa telah ia nonaktifkan sejak empat minggu lalu, paspor atas nama yang sama telah ia simpan rapi di dalam lemari apartemen lantai 20. Yang tidak akan bisa siapapun menemukannya.


Arini telah merancang semua drama sedemikian rupa, dan berubah menjadi seorang wanita cantik yang patuh pada keluarga untuk beberapa waktu, setelah mendapatkan peringatan dari Komandan Sudirman dan Kanit bagian narkotika Bian yang selama ini menutupi semua identitas Arini. Dengan niat untuk menjadikan Stevie dan Gultom sebagai tumbal.


Sangat pelik bukan, seorang wanita cantik dijadikan sebagai orang terkuat untuk menyelundupkan berbagai jenis obat-obatan terlarang, demi membantu satu orang terkuat di negara ini. Hanya untuk memenangkan satu posisi kekuasaan dalam berpolitik.


Adu domba dalam kedudukan militer angkatan darat dengan melibatkan enam jenderal anak buah Sudirman, hanya untuk mengangkat satu posisi kekuasaan Sean dalam mencapai jabatannya menjadi jenderal bintang tiga di kepolisian, dan memerangi Bian sebagai orang kepercayaan Aldo saat ini.


Itulah mengapa Arini tidak pernah merasa takut, karena ada beberapa petinggi yang sangat membutuhkan dirinya untuk menjadi orang yang berkuasa di negeri berkembang saat ini.


Arini duduk dengan manis, sambil mengusap lembut lengan Abdi, kemudian menggoda sang suami agar mau mengalah dengannya, "Please baby, aku hanya ingin bertemu dengan seseorang. Tidak lama, cukup tiga jam saja. Setelah itu aku akan kembali dengan membawa sejuta kehangatan untuk mu!"


Mendengar rayuan maut Arini, Abdi menghentikan kendaraannya di tepian jalan, kemudian menatap manik iris mata itu dengan penuh perasaan cinta, "Please ... kita pulang! Hari sudah sore, dan aku tidak yakin kamu akan pergi sebentar!"


Lagi-lagi Arini melebarkan pandangannya, "Aku hanya ingin bertemu Mama di butik! Aku kangen, ada hal yang ingin aku bicarakan sama Mama. Tidak mungkin aku membawa kamu!"


"Why?"


"Karena ini masalah wanita, baby. Aku ingin menunda kehamilan ku. Sudah beberapa kali kita melakukannya, dan kamu menyirami rahim ku sangat banyak! Ini urusan wanita! Hanya tiga jam, tidak banyak!"


Abdi mengangguk-angguk sambil tersenyum licik. "Oke. Kamu antar aku pulang. Ingat, cuma tiga jam!"


"Yes! I'm promise to you!"


"Kamu pikir aku tidak tahu akal bulus mu, Nona Zea!" seringai Abdi mengembang disudut bibirnya, sambil melajukan kendaraannya.

__ADS_1


__ADS_2