Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Lebih baik kita berpisah


__ADS_3

Di keheningan malam Abdi masih mengendarai kendaraannya untuk mencari keberadaan Arini. Berkali-kali ia memukul-mukul stir kemudi, karena merasa di perlakukan tidak adil oleh Aditya Atmaja.


"Kenapa Papa tidak pernah mengerti dengan perasaan aku? Apakah Papa tidak pernah merasakan jatuh cinta? Bagaimanapun Arini itu merupakan wanita pilihan keluarga. Tidak ada urusannya istri ku seorang mafia ataupun apapun, aku sudah sangat jatuh cinta padanya. Ogh, Tuhan ... dimana Arini, dimana dia ...?"


Mobil sport milik Aditya yang dibawa oleh Abdi masih membelah jalanan kota yang masih terasa sangat sepi dan sejuk. Tak ada lawan, tak begitu banyak pencahayaan yang lalu lalang dari arah berlawanan, semua tampak sepi.


Kedua bola mata Abdi seketika membulat besar ketika melihat mobil sport berwarna hitam, berjalan mundur keluar dari parkiran supermarket dan melaju secepat kilat meninggalkan mini market 24 jam tersebut.


Dalam benak Abdi hanya bergumam dalam hati, karena dirinya sangat mengetahui mobil siapa yang berlalu kencang tersebut.


"Apakah Komandan Sudirman sudah kembali dari Timur Tengah? Itu kan mobil beliau? Apa mungkin subuh-subuh begini beliau mau menyetir ugal-ugalan seperti itu? Biasanya beliau kan, pakai sopir ..."


Abdi menghentikan kendaraannya di tepian jalan, menghubungi Arini dengan empat nomor yang ia ketahui. Akan tetapi, tidak ada satupun yang aktif, keempat nomor telepon istrinya benar-benar hanya bisa mengatakan 'maaf, silahkan periksa kembali nomor telepon tujuan Anda' ... 


Hanya kalimat itu yang dapat didengar oleh Abdi di earphone yang menempel ditelinga nya.


"Agh! Kemana Arini!" Geramnya dengan rahang semakin mengeras.


Tidak ada pilihan, Abdi berbalik arah, menuju kediaman keluarganya. Bagaimanapun hati dan pikirannya tak lepas dari Arini yang telah menjadi istri dalam waktu satu bulan lebih.


Perlahan kakinya keluar dari mobil, setelah memarkirkan mobil itu di kediaman keluarga. Begitu banyak yang ia lihat, dari para pekerja buruh dan aktivitas rumah keluarganya juga sudah mulai seperti biasa. Setelah subuh mereka telah memulai aktivitas sesuai pekerjaannya, hanya untuk sekedar mempersiapkan semua kebutuhan produksi di pabrik yang tidak jauh dari kediaman keluarga Nancy.

__ADS_1


Abdi menoleh kearah Asep, yang tengah duduk sarapan di teras rumah, sambil menunggu sang papa. Tidak banyak bicara ia hanya melenguh keras, bak orang yang tengah frustasi karena kehilangan barang berharga miliknya, menatap tajam pada ajudan Aditya. "Kenapa Om tidak mencegah Arini tadi malam? Jika kalian tahu bahwa Arini itu merupakan Zea, seharusnya kalian menahan dia agar membuka mulut siapa sindikat mereka!"


Asep yang mendengar ucapan Abdi yang seakan-akan menyalahkannya, hanya bisa tersenyum lirih. Ia sama sekali tidak menjawab karena enggan mendengar pertikaian keluarga sang komandan dini hari tersebut.


Karena tidak mendapatkan jawaban yang dari mulut Asep, Abdi lebih memilih meninggalkan pria berkulit gelap itu, menuju kediaman keluarganya.


Betapa hancurnya perasaan Abdi saat membuka pintu rumah dengan lebar, melongokkan wajahnya kemudian melihat sang mama tengah menangis terisak-isak dipelukan Mutia.


Dengan cepat Abdi melangkah mendekati sang mama, hanya untuk bertanya, "Kenapa Mama menangis, Mut?"


Mutia hanya bisa memberi isyarat, agar Abdi menemui Aditya di kamar orang tuanya.


Tentu saja, Abdi langsung melangkahkan kakinya, menuju kamar orangtuanya yang terbuka. Tampak disana Aditya baru selesai melakukan ritualnya sebagai seorang umat beragama muslim, kemudian menoleh kearah putra kebanggaannya.


Aditya meletakkan sajadahnya diatas sofa, kemudian menjawab pertanyaan putranya, "Papa mau membatalkan pernikahan kamu. Kawin gantung kalian tidak mau Papa teruskan karena status Arini bukanlah wanita baik-baik. Jadi lusa Papa mau bicara dengan Opa kamu dan Eyang. Mungin hari ini Papa akan berangkat ke Swiss sama Mama, kamu!"


Abdi yang sejak tadi sudah merasa kecewa dengan sikap Aditya langsung menjawab ucapan sang pemimpin dikeluargan nya sekaligus komandan di kesatuan, "Tidak! Pernikahan ini tetap sah, karena Abdi tidak akan pernah menceraikan Arini! Arini istri Abdi. Suka atau tidak suka Arini Aldo Anggoro masih tetap menjadi istri Abdi Atmaja!"


Mendengar pernyataan putranya, Aditya langsung menyela, "Sampai kapanpun, Papa tidak pernah merestui pernikahan kalian. Karena Arini bukan wanita yang dijanjikan oleh keluarga pamanmu!"


Abdi menggeram, bibirnya bergetar ingin mencaci maki sang papa yang masih berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Terus, kenapa Papa membuat Mama menangis? Bukannya pernikahan kami ini atas persetujuan Papa dan keluarga besar? Tapi kenapa kami yang harus mengalami akan hal ini, Pa? Arini melakukan pekerjaannya, karena memiliki alasan tersendiri! Papa yang bersahabat dengan Paman Aldo sejak dulu, tapi Papa menutup mata sejak dulu bisnis teman papa itu! Aku kecewa sama Papa! Aku akan pergi mencari istri ku!"


Aditya yang akan melayangkan satu tamparan pada putranya karena berdiri tidak jauh, akan tetapi dengan cepat Abdi menahan tangan sang papa.


"Jangan pernah menamparku lagi! Aku tidak peduli dengan jabatan dan pekerjaan ku! Kali ini aku harus mencari Arini, istriku, bahkan wanita yang mungkin saja tengah mengandung benih ku!"


"What?" Aditya mendecih, menatap nyalang kearah putra yang ia besarkan selama ini, kembali menghardik putranya, "Berani sekali kamu mengorbankan masa depan mu hanya untuk seorang wanita murahan seperti Arini! Dia sudah pernah tinggal bareng dengan kekasihnya di Valencia! Apa kamu lupa perkataan Komandan Fredy, Abdi!"


Dengan dada yang semakin mendidih, Abdi langsung tertawa terbahak-bahak, "Ternyata kalian seorang abdi negara yang tidak mengetahui sepak terjang mafia kelas satu! Sejak kapan mafia akan tinggal bareng bahkan jatuh hati ataupun setia pada pasangannya! Jangan menyebar fitnah, Pa! Karena aku sangat mengetahui bagaimana Arini! Hanya aku yang tahu bagaimana istriku!"


Tanpa mau mendengar teriakkan Aditya, Abdi melangkah pergi keluar kamar hanya untuk mengemasi semua barang-barang. Hatinya sangat kecewa dengan pernyataan Aditya yang mengatakan buruk tentang istrinya.


Lagi-lagi Aditya berbicara dari dalam kamar, "Wanita itu perokok berat, dan kalian juga melakukannya menggunakan pengaman! Jikalau Arini hamil, itu bukan cucuku Abdi! Bukan cucu Aditya Atmaja!"


Entahlah, tangan Abdi seakan ingin mencekik batang leher sang papa, akan tetapi ia sadar, dirinya hanya dipermainkan oleh drama keluarga yang sangat menyakitkan perasaannya.


.


.


Ditempat yang berbeda, Arini justru tengah tertidur pulas tanpa menghiraukan apapun saat ini. Baginya ketidakpastian dalam pernikahannya bersama Abdi hanyalah sebuah impian semu yang akan menyakitkan keluarga besar mereka.

__ADS_1


"Andaikan saja Papa tidak ceroboh telah menikahkan aku dengan Keluarga Tante Nancy mungkin semua tidak akan terjadi seperti ini. Aku tidak peduli dengan apapun yang dikatakan Papa Aditya padaku. Bagiku pekerjaan ini paling utama, karena jika aku susah suatu hari nanti tidak akan ada yang peduli. Maafkan aku Aa Abdi, lebih baik kita berpisah karena aku tidak ingin melanjutkan pernikahan yang tanpa restu. Walaupun sejujurnya aku mencintaimu ..."


__ADS_2