
Angin surga, janji manis, sumpah setia itu kini kembali terdengar, ditambah hembusan angin yang sangat menyejukkan dua insan tengah dibalur hasrat gairah pagi, untuk memperpanjang usia, melengkapi kebahagiaan rumah tangga, juga mempercantik kulit pasangan agar selalu tetap awet muda.
Akan tetapi, pergumulan pagi yang sangat hangat itu, tiba-tiba harus terhenti karena kedua mata itu menoleh kearah kearah pintu kamar yang terbuka lebar karena lupa dikunci oleh Abdi sejak tadi malam.
"Ogh My God!" Mulut Nancy ternganga lebar, tangannya langsung menutup mata sang suami yang melihat kejadian itu di pagi yang sejuk namun berhawa panas tersebut langsung menerobos masuk menyentuh pori-pori kakinya.
Arini langsung mendorong tubuh Abdi hingga berguling kemudian terjerembab di lantai kamar, seketika ...
BRAK ...!
"Augh ...!" Ringis Abdi melongokkan kepalanya ditepian ranjang. Ia yang tidak terima mendapatkan kejutan pagi itu dari sang mama, langsung berteriak keras, "Mama ngapain pakai buka kunci kamar aku segala!?"
Sementara Arini langsung menutupi tubuhnya menggunakan seprei yang sudah terlihat acak-acakan, bahkan lebih pantas dilihat seperti gudang dengan bantal dan pakaian berserakan dilantai.
Dengan wajah penuh perasaan bersalah, Nancy langsung menutup pintu kamar putra kesayangannya, sambil berdiri karena shock melihat pemandangan yang sangat-sangat luar biasa.
"Mas, mereka pikir lagi di hotel apa? Kenapa enggak kunci pintu kamar, coba! Bagaimana kalau Mutia yang masuk! Waduh bisa gawat ini. Lihat ka-ka-kamar anak menantu kita kayak kapal pecah begitu! Astaga Tuhan, ngidam apa aku dan Emi sehingga kami melahirkan mereka?" usapnya pada wajah cantik itu, dengan geleng-geleng kepala.
Sejujurnya Nancy hanya ingin membangunkan Abdi, karena tadi malam berkirim pesan melalui whatsApp, membicarakan tentang lahan yang akan di beli Arini, setelah meminta maaf terlebih dahulu pada sang mama.
Wanita dua anak itu tidak menyangka akan melihat pemandangan berbahaya tersebut, sebagai makanan pembuka sarapan mereka berdua, sehingga membuat jantungnya berdegup lebih kencang karena melihat dengan nyata dua insan itu saling bergulat panas.
"Kok tiba-tiba kepala Neng jadi sakit ya, Mas?"
Aditya menggoda puncak hidung Nancy, karena tahu bagaimana perasaan sang istri jika sudah melihat adegan hot jeletot seperti itu, "Apalagi yang sakit? Biar Mas obatin," godanya membuat wajah Nancy semakin merona merah.
Nancy mencubit kecil perut Aditya yang tak seramping dulu, "Mulai genit! Udah agh, sarapan. Tuh besan kamu sudah datang. Neng ambilin piring dulu." Ia berlalu menuju dapur, untuk mempersiapkan sarapan bagi keluarganya.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri, Aditya menyambut kedatangan besan terbaiknya, dengan pelukan hangat yang semakin akrab.
Aldo langsung nyelonong masuk menuju ruang keluarga, mencari keberadaan putri kesayangannya, "Mana anak gue? Tadi malam dia kirim pesan, tapi enggak jelas. Makanya kesini, mau menanyakan apa maksud pesannya."
Adit hanya tersenyum tipis, menatap wajah Aldo yang masih tampak gagah, kemudian menjawab pertanyaan sang besan dengan senyuman tipis mengisyaratkan bahwa anak menantunya memang luar biasa, "Lagi main kuda-kudaan di kamar!"
Pernyataan Aditya yang singkat, membuat kening Aldo semakin mengkerut masam, karena sangat mengetahui kemana arah pembicaraan mereka.
Dengan santai Aldo menyilangkan kakinya, tersenyum malu, membayangkan bagaimana kedua insan anak manusia jika sudah tinggal satu atap, "Yang katanya enggak cinta. Tapi enggak kuat juga. Semoga ada berita baik dan semua rencana kita berjalan sebagaimana mestinya. Oya, bagaimana dengan kondisi anak komandan lo, Dit? Masih koma atau koit?"
Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya, menjawab singkat pertanyaan Aldo, "Ane enggak tahu. Semoga baik-baik saja. Ane dengar dalang pembunuhan itu masih gerombolan mafia itu. Tapi saat ini, kami sedang menantikan perkembangan tentang wanita yang bernama Zea. Ya, semoga saja semua kasus ini terbuka, dan bisa memproses semuanya."
Aldo mengangguk setuju, "Itu yang gue khawatirkan, jika Arini masih berada di Jakarta. Apalagi anak itu hanya sendiri di sana. Bergaul dengan bule yang tidak jelas. Gue dengar temannya juga menghilang. Makanya saat ini gue bisa bernafas lega, karena dia sudah mendapatkan kehidupan baru. Tidak ada salahnya anak-anak kita nikahkan sejak kecil. Jadi mereka bisa terima dengan lapang dada."
Kedua-nya sama-sama tertawa bahagia. Kawin gantung yang mereka rencanakan sejak dulu, dapat diterima oleh Arini ataupun Abdi saat ini, walau memiliki selisih usia satu tahun.
.
.
"Ayolah sayang. Aku sudah minta maaf lho, sama kamu. Aku benar-benar lupa mengunci pintu kamar tadi malam. Karena kamu tahu sendiri Mama ngamuk besar. Tapi tadi malam kamu lihat sendiri kan, aku sudah minta maaf dan Mama memaafkan aku. Aku minta maaf, sayang," kecupnya dipunggung tangan Arini yang masih diam tak bergeming.
"Aku sarapan di kamar saja. Takut jumpa Mama kamu. Malu sama Papa Adit. Mereka sudah melihat lekuk tubuh aku. Aku malu!" sungutnya masih menekukkan wajah cantik itu.
Perlahan tangan Abdi mengusap lembut paha mulus Arini yang memiliki gambar wanita dewa yang sangat kuat, sambil berkata lembut, "Kalau kamu malu, nanti tatto kamu ikut keriput dan wanita ini mengkerut tidak terlihat kencang lagi. Bahkan dia tidak terima, karena memang tidak mendapatkan asupan makanan dari kulit mulus kamu."
Arini menghela nafas berat, matanya menatap Abdi yang kini tampak semakin manis. "Kamu gendong aku. Aku enggak mau jalan, capek. Anu ku juga masih terasa senut-senut, kalau aku demam lagi, bagaimana?"
__ADS_1
"Makanya kita sarapan. Karena jam 10.00, aku ada jadwal latihan, dan besok akan berangkat ke Jakarta. Kamu jadi ikut, kan?"
Dengan senyuman manisnya, Arini menganggukkan kepalanya, "Iya ... tapi kamu janji bantu aku untuk mendapatkan lahan itu!"
Abdi memberikan dua jarinya, sebagai janji seorang pria di masa muda, demi masa depan rumah tangga mereka yang sangat aneh.
Dengan demikian, Arini masih saja menyiksa Abdi, meminta tubuhnya agar digendong menuju ruang makan, sebagai bukti bahwa mereka tidak mempermasalahkan tentang kejadian semalam.
Padahal, dalam benak kedua-nya masih tersimpan sebuah asa untuk mengambil keputusan yang masih belum terlihat apa tujuannya.
Abdi membungkukkan tubuhnya, menyambut baik wanita yang langsung berhambur merangkul lehernya, sehingga sedikit mencekik tenggorokan pria yang dengan sigap memperlakukannya dengan cara romantis.
"Jangan di tekan gitu, coba turun sedikit. Biar aku tidak sulit bernafas."
Arini melakukan sesuai permintaan Abdi yang membuka pintu kamarnya dengan sangat lebar, tapi lagi-lagi langkah itu kembali terhenti karena melihat kearah orang tua mereka yang langsung mengalihkan pandangan kearah anak menantunya tersebut.
Aldo ternganga, wajahnya tampak salah tingkah, karena melihat Arini dengan rambut yang basah, mengenakan pakaian jauh dari kata sopan. Perlahan matanya melirik kearah Aditya, menepuk jidat sendiri, hanya bisa berkata, "Emi ngidam apa waktu hamil anak ini?"
Sementara Abdi langsung memundurkan langkahnya, mencicit masuk kedalam kamar, karena tidak menyangka akan kehadiran mertuanya juga.
"Kenapa ada Paman Aldo, Rin? Jagan bilang kamu kasih tahu sama orang tua kamu tentang lahan itu?"
Arini menggeleng dengan cepat, menjawab pertanyaan Abdi dengan jujur, "Eng-enggak! Aku enggak ada kasih tahu Papa. Tapi aku cuma minta jemput, karena aku enggak mau tinggal di sini lagi!"
"Apa? Terus kamu mau tinggal, dimana!?"
"Apartemen lah, biar enggak gangguin hubungan kamu dengan Sonya!"
__ADS_1
"Hah!?"