
Malam semakin larut, Abdi dan Arini berlari kencang menuju mobil mewah milik Nancy yang terparkir di basemen rumah sakit, sementara Joni mengendarai mobil milik Aditya.
Tidak banyak bicara, kali ini Joni harus menyelamatkan Abdi juga Arini, setelah mendengarkan semua identitas siapa putri kesayangan Aldo tersebut.
Abdi : "Lo antar mobil gue ke rumah, Jon! Jika Papa Adit bertanya, katakan gue nginap di hotel bersama Arini!"
Joni : "Oke!"
Ya ... kini mereka tengah berada di situasi sulit. Keluarga Aditya kini terjebak dalam kubu yang sangat serius, dimana Keluarga Aldo merupakan sepupu dari Nancy, sementara harus memperjuangkan karir yang selama ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga tersebut.
Abdi melajukan kendaraannya, memasuki hotel bintang lima yang terletak cukup jauh dari kediamannya.
Arini masih tersenyum tanpa perasaan bersalah ataupun berdosa. Ia mengusap lembut lengan Abdi, ketika mobil mereka terparkir didepan loby hotel dengan berkata pelan, "Kenapa kita kesini? Kenapa enggak nginap di rumah saja hmm?"
Abdi mengalihkan pandangannya kearah lain, karena melihat petugas security menghampiri kendaraan mereka.
Security sedikit membungkukkan tubuhnya, hanya untuk bertanya, "Selamat malam, Mas! Apakah Anda tamu yang mau menginap?"
Dengan cepat Abdi menganggukkan kepalanya, "Ya ... valet parking!"
Abdi keluar dari mobil, berlari cepat menuju pintu penumpang, kemudian membukakan pintu Arini.
Akan tetapi, lagi-lagi Abdi dikejutkan dengan sapaan seorang security kepada sang istri, "Selamat malam Nona Zea! Sudah lama tidak bertemu, apakah Anda sudah tidak bersama Mr. Stevie?"
Bola mata Arini seakan liar, ia mengerlingkan matanya yang indah, dengan satu senyuman manis, membuat security itu langsung berkata ...
"Ma-ma-maaf Nona. Saya salah orang!" ucapnya lagi, agar tidak menjadi bulan-bulanan bagi para rekan kerjanya jika berurusan dengan Arini.
Arini melangkah dengan cepat, menuju resepsionis mengikuti langkah Abdi.
Lagi-lagi pihak resepsionis hanya memberikan card, seperti biasa tanpa harus bertanya ketika bersitatap dengan Arini.
"Se-se-selamat malam Nona. Kami sudah mempersiapkan kamar spesial untuk Anda," ucap resepsionis, membuat Abdi semakin curiga.
"Kenapa di hotel ini orang-orang ini sangat ketakutan melihat istriku? Bahkan mereka sangat mengenal Stevie. Apakah mereka sering menghabiskan waktu bersama di hotel ini? Bukankah ini milik Paman Bethrand yang dikelola oleh ... Agh shiit! Hotel ini milik Mr. Boul! Sial! Kenapa aku benar-benar baru tahu siapa Arini ..." geramnya langsung meremas kuat lengan Arini, membawa wanita itu dengan cepat menuju kamar mereka.
Tidak ada perlawanan. Arini mengikuti langkah kaki Abdi, menahan rasa sakit yang diciptakan oleh suaminya sendiri, membuat ia langsung menghentakkan lengannya dan menyandarkan punggung suaminya di dinding lift ketika meyakinkan bahwa tidak ada yang melihat mereka tengah menuju lantai 15.
BRAK ...
"Apa maksud mu memperlakukan aku seperti seorang tawanan, hmm? Aku sudah berusaha baik pada mu! Tapi kamu memperlakukan aku dengan buruk!" sesalnya menggeram menatap lekat mata Abdi, mengepal kuat tangan untuk mengajar pria yang ada dihadapannya itu.
"Katakan padaku, Rin! Apakah kamu Zea Alexa? Dan ada hubungan apa kamu dengan Stevie? Hah?"
Tatapan mata Abdi yang tajam, menuntut untuk bicara jujur, akan tetapi bibir Arini tak mampu berkata-kata.
"A-a-aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Stevie. Kami hanya hmm, kami hanya teman biasa selayaknya seorang sahabat," tuturnya membuat Abdi hanya menyunggingkan senyuman tipis disudut bibirnya.
__ADS_1
"Apakah kamu mencintai Stevie?"
"Dulu! Dulu aku mencintainya. Sangat-sangat mencintainya, sehingga kami berencana untuk menikah di Valencia! Apa kamu puas, hah?"
Kedua bola mata Abdi membulat seketika, saat Arini menyatakan bahwa akan menikah di Valencia bersama Stevie. "What?"
Arini mengerlingkan bola matanya, ia kembali mengarahkan tubuhnya, ketika mendengar dentingan lift dan terhenti membuka pintu itu dengan sangat lebar.
Entah mengapa, perasaan Abdi kini tengah dilanda perasaan cemburu, dan ingin tahu sampai dimana hubungan Arini dan pria yang bernama Stevie tersebut.
Arini terus mengalihkan pikirannya, agar tidak terlalu mengingat semua kejadian beberapa waktu lalu dengan Stevie.
Pria bule yang sangat baik, memberikan semua perhatian hingga membuat Arini merasa nyaman sebagai seorang gadis yang tumbuh di Swiss dan baru tiba di Jakarta.
"Zea, kenalkan ini Stevie. Stevie kenalkan ini Zea," ucap Boul ketika mereka baru sehari berada di kota metropolitan.
Tak ada yang special dari pertemuan pertama itu. Mereka bertemu selayaknya dua insan yang akan melanjutkan bisnis, sesuai permintaan Bethrand yang masih menganggap Arini sebagai anak angkatnya.
Boul merupakan anak Bethrand yang sangat piawai dalam dunia bisnis sayuran yang sudah sejak lima tahun ia tekuni bersama sang papa. Kali ini, Boul akan mengajak Arini, karena sesuai permintaan Aldo gadis itu harus kembali dengan iming-iming club' Alexa yang berada di kota metropolitan akan berada dalam genggamannya.
Tidak mengingkari sebuah janji, Aldo memberikan peluang kepada sang putri untuk terus belajar menggeluti dunia malam. Sehingga ia bertemu dengan Sudirman untuk satu misi.
Arini bertanya kepada Sudirman dengan wajah penasaran, "Hmm Om ... kenapa mesti Zea? Bukankah dalam bisnis ini seharusnya laki-laki? Om bisa ajak Stevie atau Samuel yang berdiri disebelah sana," tegasnya melambaikan tangan dengan sedikit menggoda kearah Stevie.
Sudirman tertawa terbahak-bahak, "Kenapa tidak pria? Karena Om membutuhkan tangan seorang wanita tangguh seperti kamu, Zea! Tentu dengan keuntungan yang sangat besar, dan kamu akan menjadi penguasa dalam hitungan bulan!"
Membuat Arini merasa nyaman, dengan kedekatannya dengan Stevie, sehingga suatu malam di club' Alexa ...
"Hmhh ... I love you, Stev ..." Arini terus mellumat bibir Stevie lebih dalam, karena dipengaruhi alkohol dan dentuman musik semakin memompa dua insan untuk terus berpesta.
"Ahh ... Zea, aku tidak ingin berhenti jika sudah memulainya!"
Namun Arini terus mellumat penuh hasrat bibir Stevie, tapi ia dapat menepis semua sentuhan pria itu ketika akan menyentuh bagian dadanya.
"Aku tidak akan memberikan tubuh juga kehormatan ku padamu, Stev ..." ucapnya dengan tatapan mata yang sudah berkabut gairah.
Mendengar ucapan Arini yang sangat serius akan memberikan kehormatannya setelah menikah, Stevie tersenyum sumringah, "Menikahlah dengan ku, Zea. Kita akan menghabiskan waktu bersama. Aku juga sangat mencintai mu."
Tidak banyak bicara, Arini langsung melepaskan ciuman panas mereka, kemudian memposisikan tubuhnya setelah meminta satu botol air mineral kepada pelayan untuk menormalkan kembali kondisi tubuhnya.
Arini bertanya kepada Stevie yang duduk disisi kanannya, "Kamu serius kita akan menikah?"
Stevie mengangguk setuju, "Bagaimana kalau besok aku berangkat menuju Valencia. Aku akan mengurus semua legalitas pernikahan kita. Aku tidak ingin terlalu lama berada di sini. Kita bisa menghabiskan waktu di sana, Zea."
Seketika Arini terkenang akan nasehat sang papa. Tidak boleh mengambil keputusan dalam kondisi mabuk berat. Ia hanya tersenyum tipis menoleh kearah Stevie, "Beri aku waktu, karena ada pihak keluarga yang harus aku hargai. Maafkan aku, Stev!"
Arini beranjak dari ruangan yang berada dilantai tiga, membawa semua perlengkapan menuju basemen untuk mengambil kendaraannya.
__ADS_1
Benar saja, dua hari kemudian Arini langsung terbang menuju Valencia seorang diri dengan harapan memberikan satu kejutan pada Stevie yang lebih dulu berangkat menuju kampung halamannya.
Akan tetapi, bukanlah kesetiaan yang didapatkannya dari Stevie. Melainkan satu kejutan yang luar biasa ketika akan memasuki rumah apartemen milik pria bule itu.
"Ma-ma-maaf, Anda siapa?" tanya seorang gadis ketika membuka pintu apartemen dengan busana terbuka dan menunjukkan bahwa kedua-nya tengah menikmati keindahan sebagai pasangan kekasih.
Arini tersenyum sumringah, ia memberikan satu kertas pada gadis muda tersebut dengan senyuman mengembang lebar. "Ini alamat yang diberikan oleh Stevie pada saya."
Gadis itu menaikkan kedua alisnya, menatap Arini dengan sangat lekat, "Are you sure, baby?"
"Ya!" jawab Arini penuh keyakinan.
Kemudian gadis itu memanggil Stevie, "Stev ... ada seorang wanita bernama Zea Alexa mencari mu!"
Pernyataan gadis muda itu merubah seluruh pandangan Arini untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria. Rasa cinta yang ia miliki untuk Stevie, seketika merubah dunianya. Tapi harus menelan pil pahit bahkan lebih pahit dari pil laknat yang mereka jual, dan essapan daun mariyuana yang tidak pernah ada nikmatnya dalam menghembuskan asap tebal itu ke udara, hanya perasaan pusing dan teler yang tidak tahu apa tujuannya.
Kini Arini hanya tertawa kecil, setelah menceritakan semua kejadian yang dialaminya kepada Abdi, dalam kegagalannya untuk mendapatkan cinta yang tidak berbalas.
Abdi menelan ludahnya sendiri, ketika mendengar cerita Arini, sambil bertanya dengan nada lembut, "Ja-ja-jadi kamu sering berciuman dengan Stevie?"
Arini menganggukkan kepalanya, "Hmm ... hanya sebuah ciuman, tidak lebih. Dan kami sering menghabiskan waktu di hotel ini, ketika sedang berada di sini untuk menghabiskan malam. Karena tidak mungkin pulang dalam keadaan mabuk, kan?"
Abdi mengangguk membenarkan. Tapi tanpa disadari, ada setumpuk perasaan cemburu dihati sang pria yang sudah menjadi suaminya itu.
"Aku cemburu, Rin. Jujur aku cemburu, benar pria bule itu hanya mencium bibir mu saja? Sementara kamu tidak pernah menggunakan bra selama ini!"
Mendengar pertanyaan Abdi, Arini menautkan kedua alisnya ...
BHUG ...
"Agh ... sakit, Rin ..."
Tangan Arini langsung memukul perut sispack Abdi, membuat pria itu meringis kesakitan.
Dengan sombong Arini langsung menundukkan wajahnya dihadapan Abdi, kemudian berkata, "Untuk bertelanjang bulat aku baru melakukannya dengan mu, baby! Jadi jangan asal bicara, jika kamu masih mau berumur panjang menjadi seorang suami. Are you understand!"
.
.
Di kediaman Nancy, Aditya justru tengah memarahi Joni didepan teras, dihadapan Asep karena lelah menunggu kepulangan anak menantunya. Tapi harapan selalu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada didalam benak pria dua anak itu.
Dengan tegas Aditya berkata dihadapan Asep juga Joni, "Cari Abdi sampai ketemu! Aku tidak ingin mereka terus menerus menghabiskan waktu bersama!"
Mendengar ucapan tegas dari suaminya, Nancy langsung berhambur keluar rumah menghampiri sang suami, "Ada apa ini? Kenapa Mas meminta Asep mencari Abdi? Bukankah sudah dikatakan Joni, bahwa mereka tengah menghabiskan malam di hotel?"
"Mas tidak ingin memiliki menantu seperti Arini, Neng!"
__ADS_1
"What?"