Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara

Kawin Gantung Mafia Vs Abdi Negara
Jangan terlalu keras


__ADS_3

Beberapa pasang mata itu membeliak tajam kearah Mutia. Bagaimana mungkin Eko yang dihadapan mereka ini, merupakan 'Eko' kakak dari gadis yang bernama Sonya seperti yang dikatakan Samuel beberapa waktu lalu pada Arini.


Kembali Arini menoleh kearah Abdi, ingin sekali ia menjambak kasar rambut suaminya itu. Walau sesungguhnya tidak ada rambut yang bisa ia remas disana, karena potongan tiga dua satu yang telah disesuaikan untuk seorang angkatan militer.


Cukup lama mereka saling terdiam, membuat salah seorang polisi menghampiri mereka yang tengah memberikan barang-barang kepada Asep sebagai orang kepercayaan keluarga itu hingga saat ini.


"Selamat sore Neng Nancy." Sapa seorang polisi yang tampak tak asing dimata Abdi juga Eko, akan tetapi sangat berbeda dengan Arini.


Nancy yang masih mengusap lembut punggung sang menantu, menoleh kearah polisi yang merupakan suami dari sahabatnya, "Sean?" Tampak satu senyuman mengembang lebar di sudut bibir istri Aditya itu, sambil menghulurkan tangannya, "Apa kabar? Kamu yang menangani kasus ini? Bukankah sudah pindah tugas?"


Masih seperti yang dulu, Sean yang selalu berharap disapa 'Aa' oleh Nancy masih melanjutkan aksinya untuk menggoda wanita yang masih terlihat cantik itu, "Karena Aa dengar mobil putra kesayangan kamu yang kecelakaan, makanya Aa kesini. Untuk memastikan anak-anak kita baik-baik saja."


Aditya yang masih berdiri di seberang sana, sambil menerima telepon dari salah seorang komandannya, hanya untuk memberitahu bahwa yang mengalami kecelakaan itu adalah anak dari Komandan Simon, membuat ia masih mengawasi anak dan istrinya dari kejauhan.


Sementara itu, Abdi yang melihat gelagat Sean terus menggoda sang mama, membuat dirinya menggeram bahkan ingin sekali melempar pria yang semakin terlihat kegirangan ketika menatap wajah Nancy, kejurang yang ada di dekat mereka.


Sangat berbeda dengan Nancy, ia justru tertawa terbahak-bahak mendengar rayuan Sean, sambil mengusap punggung Abdi, seraya berkata, "Jagoan ku bakal maju lho, Sean. Jangan sampai khilaf dia."


Tanpa perasaan sungkan Sean mengusap-usap dadanya, sambil berkata pelan, "Aa hanya khawatir sama anak-anak kita, makanya Aa turun langsung untuk menangani kasus kecelakaan ini."


Perlahan Nancy menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa suami sahabatnya ini sudah bisa dikatakan bosan hidup. Kemudian bertanya sekedarnya saja, "Oya ... bagaimana Jumaida? Sudah kembali dari Libanon kan, kemaren?"


Sean mengangguk membenarkan, "Sekarang masih di batalion pusat, karena pengasingan. Enggak lama sih, cuma tiga bulan di sana. Karena aku yang minta jangan terlalu lama. Kasihan kedua anak kami. Beny sudah semester lima, dan Lian baru masuk kuliah. Maklum kalau anak cowok ini suka pusing. Di minta jadi angkatan malah mau jadi dokter. Ya sudahlah, kita support saja."

__ADS_1


Nancy mengangguk meng'iya'kan, "Oya Sean, kenalkan ini Arini menantu ku, dan ini Abdi anak pertama ku, itu Mutia anak kedua. Dan di sudut sana ada Mas Adit, yang mau menelan kamu bulet-bulet."


Lagi-lagi Sean menepuk jidatnya sendiri karena tidak menyadari bahwa ada Aditya di dekat mereka, "Emang aku tahu bulet!" sungutnya, langsung tampak salah tingkah, "Kok enggak ngomong ada Mamas di sini? Bisa di keramas Aa, nanti. Okelah, Aa permisi ya? Next time kita makan malam keluarga, tunggu Ijum beres dulu dari karantina. Nanti Aa undang lewat Mamas ya, Neng Nancy. Hati-hati juga buat kalian anak-anak kita, Om permisi ya!"


Melihat Sean berlalu, Abdi langsung membulatkan kedua bola matanya kearah Nancy, sambil menggoda sang mama dihadapan Eko juga sang istri, "Jangan bilang Om Sean itu naksir sama Mama?"


Nancy tertawa geli mendengar celotehan putra kesayangannya, "Om Sean itu teman kuliah Mama. Sejak dulu dia memang begitu. Anak laki-lakinya juga baik-baik. Mereka sukses mendidik anak-anaknya."


Eko yang sejak awal menyaksikan kehangatan keluarga itu serta sangat mengagumi sosok Nancy, langsung menyela ucapan wanita yang masih tak mengacuhkan keberadaannya, "Tante Nancy juga sukses mendidik anak-anaknya. Sama kayak Abdi dan Mutia. Ini pertama kali saya bertemu dengan Abdi dan Tante juga Om Adit."


Seketika Abdi dan Arini tersadar, bahwa status Eko. Namun Nancy lebih dulu menoleh kearah putra pertama Evi itu, hanya untuk sekedar memastikan 'siapa dia'.


Nancy menautkan kedua alisnya, kemudian bertanya kepada Eko, "Kamu kenal sama saya?"


Nancy yang awalnya tersenyum bahagia, seketika melepaskan tangannya dari genggaman Eko. Tak menyangka anak-anaknya akan bertemu dan terlihat akrab dengan anak wanita yang pernah berniat ingin menghancurkan kebahagiaan rumah tangganya bersama Aditya.


Tak berbeda jauh dengan Abdi dan Arini. Jantung mereka berdua seakan berpacu dengan cepat, ketika mendengar bahwa Sonya merupakan adik tiri dari Eko.


Pria yang sangat hangat dan ramah, selama ini membantu Arini dalam mengirimkan semua kebutuhannya, ternyata memiliki adik perempuan bernama Sonya, dan kini masih menjadi kekasih dari Abdi walau masih diakui sebagai suami bohongannya.


Kenapa dunia ini begitu sempit, apakah tidak ada orang luar sana yang bisa berkenalan dan mengembangkan dunia mereka. Entahlah, entah apa tujuan Tuhan mempertemukan kembali dua keluarga ini.


Ada kegetiran dihati Nancy, melihat Mutia masih berbincang-bincang ramah dengan Eko, sementara tatapan mata Arini masih tampak nyalang kearah Abdi seakan-akan perang baru akan dimulai.

__ADS_1


Kali ini hanya Aditya yang mampu memberikan kenyamanan dan perhatian untuk sementara waktu bagi Nancy juga Arini yang tampak langsung berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Eko.


Dada Abdi justru tengah bimbang, ia semakin berang pada diri sendiri. Ternyata pria yang ada diantara mereka ini merupakan abang dari Sonya. Gadis belia yang menjadi sahabat karib Mutia selama di kampus, tanpa sepengetahuan Nancy. Tapi kini dengan percaya dirinya Eko memperkenalkan diri sebagai anak Evi. Evi. Evi dan Evi.


"Tuhan ... ambil saja nyawaku! Karena aku tidak ingin menyakiti hati Mama juga Arini. Kini aku bimbang, Tuhan. Apakah aku harus memutuskan hubungan ku dengan Sonya, dan menata hatiku untuk Arini? Tapi rasanya aku masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk Arini ..."


.


.


Mereka berpisah. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Arini dan Abdi, begitu juga Nancy. Masih terngiang-ngiang ditelinga Nancy, Eko menyentuh tangannya penuh rasa hormat dengan wajah sangat tenang dan baik, tanpa malu mengakui bahwa dirinya anak dari Evi, dan kakak tiri dari Sonya.


"Ternyata Sonya itu anak diluar nikah? Pantas saja, dia ingin merebut Abdi. Ini sama persis yang dilakukan Evi pada Mas Adit beberapa tahun silam. Aku akan memberikan pelajaran bagi gadis itu. Jangan sampai dia mengganggu ketenangan rumah tangga anak menantu ku! Ada baiknya Abdi dan Arini kami pertemukan sekarang. Agar tidak menjadi sasaran empuk bagi wanita jallang itu ...!" umpatnya dalam hati sepanjang perjalanan pulang ke Lembang.


Sementara Arini masih menggeram, rahangnya mengeras. Tak ada lagi kemesraan yang ia tunjukkan pada Abdi, walau pria itu terus mengajaknya untuk berbicara, akan tetapi Arini masih tetap diam tak bergeming.


Dengan wajah polosnya, Mutia justru bertanya pada Arini, "Teh, teteh kok bisa kenal sama Kak Eko? Dia itu laki-laki baik lho. Aku suka berteman dengan dia, apalagi adiknya, Sonya. Mereka berdua sama-sama baik," tawanya berniat menggoda sang kakak.


Namun Nancy langsung menoleh kearah Mutia, menatap sinis kedua bola mata putri kesayangannya, "Kamu bisa diam? Dengerin Mama ya! Besok pagi, Mama pindahkan kampus kamu atau kamu pindah kuliah ke Swiss. Tinggal sama Eyang di sana. Kamu juga Abdi, sampai di rumah kita harus bicara!"


Mutia ternganga, wajahnya memerah, tak lagi mampu bicara. Karena sang mama sudah melarangnya sejak jauh-jauh hari untuk tidak bergaul dengan sembarang orang terutama gadis yang menjadi sahabatnya itu, Sonya.


Tak ada kata ampun. Arini mengerlingkan bola matanya. Ingin rasanya ia kabur dari situasi yang melilit otak dan perasaannya, ataukah dia harus terbang ke Jakarta. Tapi kali ini dia tidak ingin tinggal diam, dia harus bertemu dengan gadis manja itu untuk membicarakan sampai dimana hubungan suami dan gadis itu. Walau sejujurnya, Arini sangat tidak suka dihadapkan dengan masalah murahan seperti ini.

__ADS_1


Aditya kembali menoleh kearah Nancy, meraih tangan sang istri yang duduk disisinya, "Tenanglah, jangan terlalu keras. Anak-anak tidak bersalah. Sampai di rumah kita bahas selesai makan malam, ya?"


__ADS_2