
Di suasana yang berbeda, Aditya tengah berdebat serius dengan Aldo tentang identitas Arini.
"Apa maksud lo, menutupi semua ini? Kenapa lo melibatkan putri lo sendiri untuk satu ambisi, Do!"
Aldo hanya tertawa kecil, mendengar pertanyaan itu keluar dari bibir sahabatnya. Menjawab dengan santai tanpa ada perasaan bersalah, "Ini hanya sebuah politik pengalihan isyu. Karena Sean telah menandatangani surat pernyataan untuk menutup club' malam milik gue! Dan itu atas perintah dia. Lo tahu apa itu maksudnya? Semenjak kepergian lo ke Yordania dan menghabiskan masa dinas di sana, banyak yang berubah. Gue enggak pernah bisa mendapatkan kepuasan dari semua pihak aparat selain sama lo. Makanya gue meminta Bian untuk terus mengawasi club'. Ternyata akhirnya apa? Sean mengambil keuntungan, dan lo berpihak dengan dia tanpa memikirkan perasaan gue dan Bian. Lo tahu sendiri, semenjak kejadian malam lo dan Nancy berbaikan, Bian memutuskan untuk tidak menikah! Karena apa? Karena dia telah melakukan kesalahan dengan seorang yang merupakan mantan lo, sehingga dia ingin sekali membahagiakan wanita itu dan susah payah untuk mempertahankan posisi duduknya saat ini. Kekuasaan dan wewenang untuk sebuah jabatan. Gue rasa hal yang lumrah jika kita berada di dua kubu, dan melibatkan banyak pihak!"
Kedua bola mata Aditya tertutup rapat dengan wajah memerah kesal. Ia benar-benar tidak menyangka keputusan Aldo sangat mengecewakan dan beresiko tinggi pada kehidupan rumah tangga putra kesayangannya juga keluarga besar mereka.
"Ini enggak fear, Do! Ane pikir lo orang baik, dan sahabat yang selalu berpikir positif jika mengambil satu keputusan. Tapi ternyata kita tidak sejalan, lo tahu ... Arini dalam bahaya. Karena dia orang yang sama dengan identitas Zea Alexa!" tunduknya penuh kekecewaan.
Aldo hanya tertawa kecil, merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu kediamannya. Tak banyak perubahan, Aldo tetaplah pria dingin yang selalu menyimpan rahasia pribadinya sendiri. Membuat Emi sang istri hanya mengikuti semua keinginan sang suami untuk menyelamatkan club' malam yang ia kembangkan sejak dulu hingga saat ini.
Aldo hanya mengusap lembut wajahnya, sambil berkata dengan sangat santai, "Kita masih berhubungan baik. Ini hanya permainan para jenderal. Perlawanan Fredy Guarin terhadap Sudirman. Gue tidak meminta lo untuk memilih. Lo bisa tutup mata juga telinga, karena kita besan!"
BRAK ...
Aditya yang merupakan abdi negara, telah menjadi salah satu pasukan elite militer angkatan darat, mendadak tersulut emosi. Ia mendobrak meja ruang tamu dikediaman Aldo, dan menantang kedua bola mata itu dengan nyalang.
"Ini bukan masalah jabatan atau kedudukan! Ini melawan hukum negara! Dan lo tahu, ane, Abdi, Joni dan Luqman masih berada didalam ruang lingkup masa dinas! Ini namanya misi seorang mafia untuk melawan abdi negara. Kami orang berseragam, Do! Kami di gaji oleh negara untuk memberantas semua tindakan ilegal dan diawasi oleh pihak kepolisian. Apa lo lupa, siapa besan lo hmm? Ogh ... God! Ane salah menilai lo! Mulai saat ini, kita berteman sekedarnya saja! Ane akan menyelamatkan Abdi, agar tidak terjun bebas dalam menentukan pilihannya!"
Aldo terdiam sejenak, wajahnya mematung seketika melihat Aditya berlalu begitu saja meninggalkan kediamannya.
"Bro! What the hell! I'm sorry, but aku harus melakukan sesuatu untuk kebahagiaan Bian juga!" jelasnya pelan, ketika Aditya sudah berada dipintu utama kediamannya.
Perlahan Aditya menoleh kearah Aldo, "Ini bukan masalah kebahagiaan atau apapun untuk Bian! Ini masalah serius, Do! Ane tutup mata dengan semua bisnis lo sejak dulu. Hingga Bethrand dideportasi. Dan ane yakin kalian ada kaitannya dengan anak laki-laki Bethrand yang berada di Swiss. Yang menjadi penampung barang haram ilegal di sana. Lo bisa bohongin semua orang, semua mata, tapi lo harus tahu satu hal! Ane merupakan team elite untuk negara ini, Do! Kita dalam masalah besar!"
Tanpa peduli lagi, Aditya meninggalkan kediaman Aldo dengan penuh perasaan kecewa.
Lebih dari 25 tahun persahabatan mereka terbina dengan banyak problematika kehidupan dalam menghadapi kenyataan rumah tangga yang pelik kala itu. Kini kembali dihadapkan dengan situasi sulit.
Kawin gantung yang dianggap bisa menyelamatkan harta kekayaan keluarga selama ini, ternyata memiliki perlawanan yang akan menjadi momok dalam benak seorang Aditya Atmaja yang telah menghabiskan masa dinas cukup lama.
__ADS_1
"Sial, ini yang dinamakan mafia kelas kakap, harus menghadapi abdi negara! Aldo berengsek! Aku akan memberikan perintah kepada Abdi, untuk berangkat segera menuju Libanon. Dan membiarkan Arini, melakukan tugasnya. Aku akan membuat surat pengunduran diri, dalam menangani kasus Nona Zea yang merupakan menantu ku sendiri ...! Aldo keparat, bangsaat! Dia lupa kalau aku ini besannya? Dan Nancy itu sepupunya! Hanya karena club' Alexa! Agh ...!" sesalnya menggeram kesal, mengumpat sepanjang perjalanan menuju kediamannya.
.
.
Di tempat yang berbeda, tepat pukul 23.45 waktu kota kembang. Disituasi sulit yang sangat mencekam disalah satu gedung rumah sakit. Tengah berdiri seseorang di lantai tertinggi gedung tersebut dengan menggunakan pakaian serba hitam. Penutup wajah, bahkan sangat piawai akan turun menggunakan kawat siling bak seorang ninja.
Ya, wanita bernama Zea tengah berusaha menerobos masuk ke ruangan ICU rumah sakit swasta, yang berada dalam pengawasan pihak gabungan. Hanya untuk menghabisi nyawa Gultom, sebelum pria Batak itu siuman dari komanya, dan membuka mulut lebar-lebar dengan menyebutkan identitas wanita cantik tersebut.
"Sebelum kau membuka mulut mu dengan pihak lain, maka aku akan mengirim mu ke peti mati untuk segera di kremasi ..." umpat Arini ketika akan terjun menuju kamar ICU tersebut.
Akan tetapi, tangan kekar seorang pria justru menangkap tubuh Arini yang akan menyentuh kawat siling tersebut, karena ada beberapa orang yang akan melakukan tembakan dari jarak 30 meter dari posisi mereka saat ini.
"Agh ...!"
BHUG ...
BRAK ...
Tetapi seketika kembali terdengar suara desingan tembakan sniper dari arah berlawanan melayang diatas kepala dua insan yang terus berguling dilantai rooftop gedung rumah sakit.
Zhiink ...
Dor, dor, dor ...
"Cepat selamatkan diri mu, Rin!"
Arini tersentak, ketika melihat wajah sang suami tengah mengungkung tubuhnya dengan sangat kuat, sehingga mereka berdua terjerembab di bawah tower tangki air yang menjadi tempat berlindung.
"Cepat! Cari gadis itu!" teriak salah seorang dari arah gedung lainnya yang terdengar samar oleh mereka berdua.
__ADS_1
Akan demikian, Arini langsung melepaskan semua pakaiannya, kemudian melemparkan ke salah satu terowongan yang ada didekat mereka, dan berlari kencang menuju tangga darurat, tanpa memperdulikan Abdi yang ternyata mengikuti langkahnya.
Kedua-nya berlari kencang menuruni anak tangga, kemudian memasuki ruangan toilet rumah sakit untuk bersembunyi dari pengejaran pihak berwajib yang ternyata sudah mengetahui rencana Arini malam itu.
"Agh! Sial!" Bentak Arini, ketika menendang pintu toilet.
Namun lagi-lagi Abdi menutup rapat mulut Arini menggunakan tangan kekarnya, menyeret tubuh Arini memasuki ruang dua kali tiga tersebut, karena mendengar suara langkah kaki yang berusaha menerobos masuk pintu toilet tempat mereka bersembunyi.
Abdi berbisik ketelinga Arini, membalikkan tubuh istrinya, "Diam! Naikkan kaki mu kepinggang ku seperti biasa, aku akan melindungi mu!"
Mendengar ucapan seperti itu, Arini menatap lekat netra indah itu, hanya untuk memastikan bahwa kali ini ia berada dalam dekapan hangat suami tercinta.
"Jangan bicara!" Lagi-lagi Abdi bicara memberikan perintah.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, dan mengintip dari arah bawah, hanya untuk memastikan siapa yang berada didalam toilet kecil itu, dengan satu teriakan, "Siapa didalam?"
"Kesatuan 327! Jangan ganggu aku, lagi kebelet!"
Mendengar pernyataan tegas seperti itu dari balik pintu toilet, pria itu sudah dapat mengetahui siapa yang berada disana, kemudian berkata lagi, "Siap Ndan! Lanjutkan! Maafkan saya!"
Sejenak situasi toilet kembali sepi tak bersuara. Hanya tetesan air yang terdengar dari toilet sebelah mereka, yang terasa semakin terasa sangat sejuk.
Arini mengangkat wajahnya yang ia sandarkan di pundak Abdi, menurunkan kedua kakinya hanya untuk menyentuh lantai toilet, kemudian bertanya dengan nada pelan, "Apa yang kamu lakukan di sini? Ini sangat berbahaya untuk keselamatan mu, Aa!"
Abdi yang awalnya kesal karena melihat kenekatan sang istri melakukan hal mengancam keselamatan nyawanya, hanya berkata dingin, "Aku hanya ingin membawa istri ku pulang dengan selamat! Cepat kita pulang!"
____
Hai hai hai ...
Sudah Senin saja, jangan lupa untuk kasih vote terbaik, serta komentarnya. Ikuti pemilihan lima orang yang akan othor chat untuk mendapatkan give dari Mbah shopee, yang pasti bakal unik dan kenangan terindah ...🤭🤭
__ADS_1
Tolong aktifkan chat-nya yah ... biar othor bisa komunikasi sama reader tersayang.
Terimakasih ❤️🔥