
Suasana apartemen mewah milik Sudirman, sangat berbeda dengan apartemen keluarga Arini. Wanita cantik itu sengaja mengasingkan diri, dari serangan yang datang kepadanya saat ini.
Bagaimana tidak, dua minggu setelah kepergiannya dari kota kembang, Aditya menerima panggilan telepon dari Fredy hanya untuk memberi kabar yang sangat mengejutkan.
Fredy : "Selamat pagi, kolonel!"
Aditya yang masih berada di kota kembang tertawa kecil, mendengar sebutan kolonel dari mulut rekan satu team-nya.
Aditya : "Ya pagi! Ada apa pagi-pagi begini sudah menghubungi saya?"
Fredy : "Gultom kembali mengalami koma, setelah sadar satu minggu lalu. Saya rasa kita harus bertindak cepat karena akan ada kejutan lain yang dilakukan oleh Zea. Kami juga menemukan bukti bahwa Zea lah pelakunya untuk percobaan pembunuhan berencana ini. Untung team Sean cepat melihat orang berpakaian hitam dengan penutup wajah, dan ternyata berhasil meloloskan diri! Saya sudah menghubungi Abdi juga Joni atas kejadian ini, dan kami harus bertindak cepat untuk menemukan Zea. Karena kita benar-benar sudah kehilangan kontak dari gadis pembunuh berdarah dingin tersebut."
Mendengar pernyataan Fredy, seketika dada Aditya semakin bergemuruh. Ia tidak menyangka bahwa Arini kembali melakukan kejutan diluar pemikirannya.
Aditya : "Baik! Hubungi Sean. Tapi apakah kamu tidak membaca surat pengunduran diri ku untuk kasus ini? Karena aku tidak ingin terlibat didalamnya. Aku memberikannya dua minggu lalu!"
Terdengar suara tawa Fredy dari seberang sana ...
Fredy : "Jangan seperti itu. Kita ini sudah bersama-sama sejak muda. Apakah karena kesalahpahaman mu dengan Abdi membuat kita menjadi pecah dalam team. Wajar anak dan ayah memiliki perbedaan dalam pemikiran. Karena aku juga mengalami hal yang sama. Hari ini aku akan berangkat ke Jakarta, untuk melacak peti kemas yang melalui laporan dari Joni!"
Aditya : "Oke-oke ... hari ini saya juga akan berangkat ke Jakarta! Kebetulan ada rapat besar mengenai perbatasan seperti biasanya!"
Fredy : "Siap Ndan. Setelah rapat kita bertemu di club' Alexa atau dimana?"
Aditya : "Nanti aku akan memberi kabar!"
Dengan cepat Aditya mengakhiri panggilan teleponnya, melebarkan pandangannya hanya untuk mencari sosok Nancy yang masih disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga.
Aditya menggeram, wajahnya memerah karena semakin kecewa atas perbuatan putri semata wayang sahabatnya, Aldo.
"Kenapa wanita itu semakin nekat melakukan kesalahan? Apakah dia tidak takut akan hukum yang ada di negara ini? Aku akan mencari tahu siapa dibelakang Zea dengan cara ku ..."
Nancy yang sudah mulai agak tenang, karena dapat memberikan pengertian kepada Aditya atas keputusan hanya ingin bertemu kedua orangtuanya, kembali mengurungkan niat mereka untuk berangkat ke Swiss.
__ADS_1
Tidak mudah bagi Nancy, untuk meyakinkan Aditya, karena memikirkan perasaan Abdi selaku putra kesayangan sekaligus suami dari Arini yang merupakan istri pilihan mereka berdua serta restu dari keluarga besar.
Sekali lagi, Aditya mendecih ketika melihat Nancy membawa beberapa sarapan pagi untuk mereka santap bersama. "Mas akan berangkat ke Jakarta hari ini, Neng. Ada rapat besar, dan kamu boleh ikut. Karena Mas tidak mau berdua saja dirumah dinas dengan Abdi. Satu lagi, ternyata Arini juga sudah mengatur strategi untuk menghabisi nyawa Gultom. Saat ini Gultom kembali mengalami koma. Mas rasa, jika kami menemukan keberadaan Arini akan langsung melakukan semua perintah Fredy. Abdi atau Joni yang akan melakukannya."
Nancy tersentak, susah payah ia menahan tangisnya kembali, akan tetapi kembali lolos dari pelupuk matanya hanya karena perasaan iba.
"Enggak Mas. Tidak mungkin Arini akan melakukan hal itu. Dia wanita kuat! Apa untungnya dia melakukan pembunuhan terhadap anak Komandan Simon? Bukankah mereka juga sama-sama memiliki harta yang berlimpah? Bahkan Neng sangat mengetahui bagaimana pintarnya Arini dalam bertutur kata. Mas pergi saja ke Jakarta sendiri, karena Neng mau ketemu Aa Aldo di restoran. Neng, sudah janjian sama dia. Neng pergi sama Teh Sindi. Jadi Mas bisa berangkat sendiri, atau bisa bawa Mutia. Agar anak itu tidak keluyuran sama Sonya!" Sesalnya menggeram menatap kesal kearah Aditya.
Aditya hanya menghela nafas berat, karena sampai kapanpun sang istri tidak pernah setuju dengan semua keputusan yang diambil oleh sang suami.
Karena Nancy memiliki pemikiran yang sama seperti Abdi, 'Jika memang Arini seorang mafia kelas satu, dia memiliki alibi tersendiri untuk membela diri bahkan melindungi nyawanya. Karena Arini bukanlah orang yang bodoh ataupun ceroboh dalam melakukan sesuatu hal' ...
Akan demikian pemikiran yang berbeda dari Aditya. Baginya, Arini merupakan petaka buruk bagi keluarganya, jika Abdi masih melanjutkan pernikahan yang mereka atur sedari dulu. Hingga pria mapan itu berpikir, bahwa kawin gantung yang di ciptakan oleh keluarga besar beberapa waktu lalu merupakan satu rencana dari Keluarga Aldo, untuk menghancurkan karir juga keluarganya.
Entahlah ... kali ini, semua tidak bisa disalahkan karena nasi sudah menjadi bubur yang harus diselesaikan satu persatu, hingga menemukan satu titik terang demi masa depan Abdi juga Arini.
.
.
Ya ... Arini akan bertemu dengan Eko, yang telah menunggunya disana sejak dini hari tadi.
Tepat pukul 07.45, mobil sedan buatan Jepang, yang sudah didesain khusus untuk Arini sesuai permintaannya dipenuhi oleh Sudirman.
Arini : "Aa, aku sudah masuk area pelabuhan! Kamu di blok mana?"
Eko : "Tempat biasa Teh. Kami tengah mengemasi semua permintaan Teteh!"
Arini : "Wait!"
Panggilan telepon terputus secara otomatis, dengan kecepatan tinggi Arini melajukan mobilnya seperti biasa.
Suara desingan knalpot, cicitan ban bak seorang pembalap formula one, membuat pihak pelabuhan sudah mengetahui siapa yang membawa mobil sedan berwarna merah menyala tersebut.
__ADS_1
Dengan gaya rambut pendek, kaca mata hitam dan sepatu kulit hingga menutup betisnya walau masih memperlihatkan paha mulus karena ia hanya mengenakan celana jeans pendek, dipadukan dengan kaos berwarna merah, serta jaket kulit wanita membuat tatapan Eko semakin tidak berkedip serta gelisah, karena melihat penampilan wanita cantik seperti Arini.
Senyuman kedua-nya mengembang lebar, Eko tampak menundukkan wajahnya ketika bersitatap dengan wanita yang ia kagumi.
Eko bertanya kepada Arini, dengan nada sangat lembut, "A-a-a-apa kabar Teh Zea?"
Arini tersenyum, ia menerima kertas invoice dari tangan Eko, membuat gadis cantik itu langsung berkata, "Untuk pelunasan kita menunggu Gultom sembuh. Karena dia masih memiliki hutang sama saya. Oya, dua minggu lagi saya akan memesan kembali dengan satu ton maryuana yang dikemas dalam kotak teh. Saya sudah membicarakan hal ini kepada Mr. Boul, dan mereka menyanggupi untuk memberikan pembayaran diawal. Tapi saya tidak mau keterlambatan seperti saat ini! Karena pekerjaan saya juga banyak! Apa kamu mengerti?"
Eko terdiam, wajahnya tampak kaku, karena mendengar ketegasan dari bibir Arini yang enggan tersenyum setelah membaca total sisa pembayarannya.
Kembali Arini melirik kearah Eko, memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan tatapan penuh perasaan bersalah, "Maaf Aa. Aku hanya kesal, karena hutang Gultom, melebihi angka yang tertera di invoice! Anggotanya mengambil serbuk putih pada kami, tanpa invoice. Tapi dia memberikan invoice kepada aku, tanpa mengurangi hutangnya satu sen pun! Dia pikir, aku ini siapa?" tawanya semakin terdengar lebih menusuk jantung Eko.
Tak ingin membahas masalah invoice, Eko bertanya pada Arini yang masih melihat-lihat para pekerja, "Ba-ba-bagaimana kalau kita sarapan dulu, Teh?"
"Dimana? Tapi saya sudah sarapan. Kamu lapar? Saya temanin, yuk! Pakai mobil saya saja, kamu yang nyetir. Kasih tahu sama pekerja, cepat kemasin karena penerbangan menuju Swiss dari Singapura tengah malam!"
Lagi-lagi Eko menganggukkan kepalanya. Memberikan perintah sesuai permintaan Arini, agar tidak menjadi bulan-bulanan celotehan wanita muda itu.
Ya, keberangkatan kapal milik negara asing itu, akan mengawal peti kemas tiba di Singapura, setelah ditunggu oleh pesawat terbang milik Keluarga Boul pribadi.
Mengapa tidak melewati bandara internasional Soekarno-Hatta saja ... karena menghindari birokasi yang teramat menyulitkan bagi mereka yang berbisnis dengan negara maju, serta banyak pengecekan kelayakan dan lain sebagainya.
Tidak banyak bicara, setelah Eko memberikan uang makan siang untuk para buruh pelabuhan ia langsung menoleh kearah Arini sambil bertanya, "Apakah kita jalan sekarang?"
Dengan gerakan cepat Arini memasuki mobilnya, seketika ...
Dor, dor, dor ...
Arini mencari arah tembakan yang sangat mengejutkan ...
"Agh shiiit! Cepat masuk!" Teriak Arini memberi perintah kepada Eko yang langsung menyalakan mesin mobil, kemudian menekan pedal gas, dengan langsung melajukan kendaraannya.
.
__ADS_1