
Hati suami mana yang tega melihat sang istri duduk berdua dengan pria lain. Itulah yang dirasakan Abdi ketika merasa Arini telah mengkhianatinya seperti hari ini. Sehingga membuat dirinya semakin terlihat tidak profesional dalam mengendalikan perasaan juga pekerjaannya sebagai abdi negara.
Dengan cepat Abdi berdiri kemudian mengejar sang istri, setelah merasakan tubuhnya tidak lagi terkunci oleh dekapan Arini yang kembali menjadi wanita arogan.
"Rin!" teriak Abdi, mengehentikan langkah Arini yang tengah menuju kasir setelah mengeluarkan satu gepok uang dari dalam tas pinggangnya.
Arini mencoba menghela nafas berat, menoleh kebelakang hanya untuk melihat kondisi Abdi yang wajahnya terus mengeluarkan darah.
"Hmm!" Arini mengalihkan pandangannya kearah lain, hanya untuk menyesiasati sekelilingnya karena mengetahui bahwa ada beberapa pihak kepolisian yang mengepung restoran tersebut.
Abdi kembali bertanya kepada Arini, "Apa benar kamu telah mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadap Gultom? Karena kepolisian telah mengetahui bahwa kamu berada di sini!"
Entah mengapa, Arini sama sekali tidak gentar dengan semua ancaman yang datang bertubi-tubi padanya. Ia menjawab pertanyaan Abdi dengan satu senyuman, "Jika aku yang melakukannya, mungkin Gultom akan di kremasi dua hari lagi! Karena bukan aku yang melakukan, jadi akan ada pihak yang menyebar fitnah keji itu! Karena aku, tidak pernah membuat musuhku setengah mati!"
Dengan angkuh Arini melemparkan uang yang terikat dengan karet itu di meja kasir, kemudian memilih pergi karena enggan berdebat.
Tanpa basa-basi lagi, Abdi berlari cepat menuju pintu restoran walau sesungguhnya kepalanya masih terasa sangat sakit, kemudian memeluk tubuh Arini yang akan melangkahkan kakinya keluar dari arah belakang.
"Jangan keluar! Karena pria idaman mu itu dalam tawanan pihak kepolisian!"
Arini membalikkan badannya, hanya untuk dekapan tangan hangat itu terlepas dari tubuhnya, "Jangan asal bicara! Suruh pihak kepolisian itu keluar dari mobil ku, sebelum aku menekan tombol otomatis untuk menghancurkan tubuh mereka yang ada didalam sana!"
Mendengar pernyataan Arini yang menatap iris mata elang Abdi, membuat mulut pria berpangkat kopral itu ternganga lebar.
Bagaimana tidak, ternyata mobil Arini di fasilitasi dengan bom bunuh diri yang akan aktif dalam satu waktu, jika ada yang mengancam keselamatan nyawanya.
Abdi berbisik pelan, untuk meyakinkan dirinya, "Apakah ucapan mu ini benar, Rin?"
Dengan sengaja, Arini memperlihatkan sebuah tombol yang ada didalam tas kecilnya, membuat Abdi benar-benar tidak menyangka bahwa istrinya telah mempersiapkan diri dan lebih menyeramkan.
__ADS_1
"Kamu kejam, Rin! Kamu rela mengorbankan rumah tangga kita hanya untuk sebuah ambisi! Kamu wanita yang sangat-sangat keterlaluan!" Abdi langsung memberi perintah kepada pihak kepolisian agar menurunkan semua senjata mereka yang mengarah di restoran tepat didepan pintu masuk.
Melihat kode tangan Abdi, pihak kepolisian yang sudah menengadahkan senjata api mereka, langsung menyela, "Sial! Kita terjebak oleh permainan gadis itu ...!"
Arini tertawa kecil, mendengar celotehan Abdi, mengusap lembut wajah gagah itu seraya berkata, "Kita akan bertemu di next tragedi. Jangan buang waktu mu dalam lingkaran setan yang akan menjerat leher mu sendiri. Ini hanya sebuah bisnis, baby. Pulanglah, atau tinggalkan negara ini!"
Setelah memastikan dua orang pihak kepolisian itu keluar dari dalam mobilnya, Arini langsung mengenakan kaca mata hitamnya juga masker untuk menutupi wajah cantik itu.
Tanpa menghiraukan panggilan Abdi yang menderu kesal, melihat sosok Arini berlalu begitu saja membawa Eko bersama mereka.
"Agh ... sial! Kenapa kau tidak pernah memikirkan perasaan aku, Rin! Apakah sekeras ini hatimu hanya untuk mempertahankan sebuah bisnis sehingga mengorbankan perasaan mu, sendiri!" Sesalnya menggeram lantang, menatap nyalang kearah mobil yang berlalu begitu saja.
Dengan demikian, Joni yang melihat kejadian itu langsung mendekati Abdi, hanya untuk menenangkan rekan satu team-nya seraya berkata, "Seorang mafia, tidak akan pernah membawa perasaan dalam sebuah hubungan. Zea tidak akan pernah kembali menjadi Arini jika ia sudah terluka oleh perbuatan Papa mu, Abdi!"
"Entahlah!!" Tangan itu semakin meremas kuat kepalanya, kembali meringis menahan sakit yang membuat pelipisnya terluka.
.
.
Arini hanya menunggu didalam mobil, tanpa mau menyapa para buruh yang bukan tanggung jawabnya. Kini dirinya sadar, tidak mudah untuk kembali berbisnis haram di negara ini, karena akan menganggu keselamatan dirinya sendiri.
Seketika Arini terkenang masa indah bersama Abdi. Pria yang penuh kelembutan memperlakukannya dengan sangat baik, akan tetapi harus berpisah dengan cara sakit seperti ini.
Arini sangat mengetahui rasa cemburu Abdi kepada Eko, yang telah memperlakukan dengan sangat kasar, tapi lagi-lagi ia hanya menghela nafas berat.
Perlahan Arini merogoh handphone miliknya dari dalam tas kecil, hanya untuk melihat foto-foto keceriaannya bersama Abdi. Ia juga menyadari bahwa banyak orang-orang yang menyesiasati semua gerak-geriknya saat ini, sehingga ia hanya bisa tersenyum.
"Jika kamu menganggap aku sebagai istri, pasti kamu akan berjuang mati-matian untuk aku, Aa ..."
__ADS_1
Air mata tergenang begitu saja dipelupuk matanya. Ingin sekali Arini merebut kembali Abdi dan membawanya kabur keluar negeri, meninggalkan keluarga besar mereka tanpa memberi kabar. "Tapi apa kamu mau meninggalkan negara ini, karena tuntutan pekerjaan mu, Aa ...?"
Lebih dari tiga jam Arini menghabiskan waktunya didalam mobil, tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang akan melakukan penembakan padanya dari jarak jauh, karena ia yakin bahwa akan ada orang lain yang melindunginya, ditambah kaca mobil anti peluru. Membuat dirinya sebagai seorang mafia wanita merasa di lindungi oleh dua orang berpangkat.
Tidak ada yang meresahkan pikirannya, kecuali bayangan Abdi yang selalu menari-nari dalam benaknya.
Matanya tertuju pada satu cahaya yang memantulkan sinar yang sangat menyilaukan penglihatannya, membuat Arini lebih memilih untuk uji nyali hanya untuk menghembuskan asap rokok dari dalam mobil.
Kembali matanya tertuju pada Eko yang langsung masuk kedalam mobil Arini, hanya untuk memastikan rencana mereka hari ini, "Bagaimana Teh, kita jadi ke Bandung sekarang?"
Arini melemparkan puntung rokoknya ke sembarang arah, kemudian membuka kaca mobil dengan sangat lebar. "Kita ke Bandung, terus nginapnya di hotel milik Boul, ya? Aku pengen istirahat!" jelasnya, membuat Eko terdiam.
Bagaimana mungkin Eko akan menginap di hotel bersama seorang wanita yang masih memiliki ikatan pernikahan dengan seorang pria. Susah payah ia memikirkan bagaimana caranya untuk menghindar dari ajakan Arini, akan tetapi kekhawatirannya dapat dibaca oleh wanita muda tersebut.
"Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Bawa mobil ini! Besok pagi jemput aku lagi. Karena aku mau bertemu Tante Sindi. Jadi siangnya kita bisa makan di rumah kamu. Jangan takut aku ini bukan wanita yang asal saja, kok. Tapi kalau khilaf ya ... itu beda lagi ceritanya!" tawanya semakin membuat Eko semakin salah tingkah.
Sejujurnya Eko sangat mengagumi sosok Arini yang sangat berani. Beberapa kejadian yang dilihatnya dengan melawan aparat hukum, itu merupakan satu keberanian yang sangat luar biasa.
"Ternyata kamu memiliki jiwa yang tenang walau hatimu merasakan sakit, Teh Zea ..."
____
Hai hai hai ...
Jangan lupa vote dan komentarnya yah ... Doakan author selalu sehat, walau saat ini sejujurnya perasaan author sangat kecewa oleh keputusan pihak Noveltoon yang sangat mengecewakan. Tapi apa salahnya tetap menjaga kewarasan, serta menelan semua kekecewaan yang terjadi diawal tahun ini.
Terimakasih reader tersayang ...
God bless you all ... ❤️🌹😍😘
__ADS_1