
Tak banyak negosiasi, kini bibir keduanya saling bertukar saliva yang entah sejak kapan menjadi semakin panas dan dalam. Abdi menikmati indahnya ciuman Arini yang mellumat bibirnya dengan wajah masih bersandar di body mobil, dengan tangan meremas kuat bagian bawah yang terasa padat, sejak tadi ada di telapak tangannya.
Entah mengapa, penglihatan Arini semakin penuh gairah, nafasnya memburu seolah-olah tidak ingin melepaskan bibir yang sangat candu baginya.
Perlahan Abdi melepaskan ciuman mereka, hanya untuk mengumpulkan oksigen yang sejak tadi susah didapatkannya, karena Arini benar-benar membungkam mulutnya dengan penuh gairah yang membara.
"Kita pulang. Kita lanjutkan di rumah. Nanti malam, aku ngomong sama Mama. Palingan jika mereka setuju, biasanya langsung bertemu untuk membicarakan cara pembayarannya. Tapi ingat, tidak ada yang gratis! Kamu harus siap menjadi budak nafsu ku, selamanya!" Bibir basah itu kembali menyeringai lebar, membuat Arini bergidik ngeri mendengar penuturan Abdi seperti itu. Lagi-lagi tangan Arini melayang di wajah gagah sang suami ...
PLAK ...!
PLAK ...!
"Agh, sakit! Ini sama saja kekerasan dalam rumah tangga!" Abdi menggeram, tapi tak melepaskan tubuh Arini yang seringan kapas untuk terus menggodanya.
Arini merengek manja, "Turunin!"
Dengan wajah angkuh Abdi menggelengkan kepalanya, "Enggak! Buat perjanjian dulu!"
"Perjanjian apa?"
"Perjanjian kamu akan menjadi jallang buat aku selamanya. Tidak boleh menolak permintaan aku, kapan aku minta, dan langsung siap sedia!"
Arini mengerlingkan bola matanya, ia mengusap lembut wajah Abdi, kemudian meletakkan kepalanya di pundak kokoh itu, sambil berkata pelan, "Sebenarnya enggak perlu diminta, aku juga udah jadi jallang kamu, kok. Aku suka, ciuman sama kamu. Melayani kamu diranjang. Sentuhan kamu itu buat punya ku cepat basaah. Jadi sebenarnya hubungan kita ini bagaimana, ya? Kenapa kita tidak bisa menentukan hati? Apa karena kamu punya pacar, dan aku single? Aku takut bermain perasaan di sini. Takut sakit. Padahal kita sudah menikah, tapi tidak butuh waktu yang lama aku merasakan nyaman sama kamu. Walau sejujurnya kamu itu pria yang sangat menyebalkan!"
Perlahan Abdi mengatur nafasnya, sejujurnya jika ditanyakan tentang perasaan, dia juga tidak bisa menjawabnya sekarang. Akan tetapi, perasaan itu berubah dengan sendirinya ketika mereka menghabiskan waktu bersama dan lebih intens seperti saat ini.
"Aku juga enggak tahu bagaimana perasaan ku saat ini. Tapi perlahan aku merasa nyaman sama kamu, Rin?" Abdi menghela nafas dalam, kemudian melanjutkan ucapannya, "Apa karena kamu terlalu agresif dan aku suka gaya malu-malu kamu. Tapi aku tidak menampik bahwa aku akan bertanggung jawab sama kamu karena kamu telah menjadi istri ku. Mungkin ada baiknya kita sering menghabiskan waktu bersama. Jalan-jalan, karena waktu ku hanya tinggal tujuh bulan di sini. Setelah itu aku akan berangkat ke Libanon selama dua tahun. Selama aku pergi, kamu tinggal sama orang tua aku saja. Aku tidak mau kamu kembali ke Jakarta, karena akan berdampak tidak baik sama keselamatan kamu."
Kedua-nya kembali terdiam sejenak, perasaan yang kini sedang memutik ibarat kembang, kembali kaku. Arini turun dari gendongan Abdi, kemudian memeluk tubuh gagah itu dengan posisi berdiri dan bersandar di mobil mereka.
__ADS_1
Perlahan kembali terdengar suara pertanyaan Arini, "Kalau aku hamil bagaimana? Apa kamu tetap akan pergi?"
Tampak jakun Abdi turun naik, ketika menelan ludahnya sendiri yang bersusah payah untuk mengatur nafas agar detak jantungnya bekerja dengan baik, tidak berantakan seperti saat ini, ketika dihadapkan dengan pertanyaan yang sangat memusingkan kepalanya.
Abdi bertanya dengan wajah datar, "Hamil ya?"
Kembali Arini menganggukkan kepalanya, "Iya, bagaimana?"
Abdi bertanya-tanya seakan dia memang pria bodoh, "Emangnya hamil itu bisa langsung gitu? Melakukan hubungan begitu langsung jadi?"
Mendengar pertanyaan Abdi yang sangat bodoh menurut Arini, membuat kedua-nya tertawa terbahak-bahak.
Abdi mengacak rambut Arini, kemudian bertanya dengan raut bahagia, "Emang kalau aku buat kamu hamil salah, ya? Kita bisa punya anak yang lucu, anak yang sehat, bahkan mirip kayak aku, tampan!"
Arini menggeleng, "Enggak salah sih. Namanya kita sudah dipaksa menikah, jadi ya begitulah! Enggak ada cinta, tiba-tiba hamil! Walau sejujurnya ada suami dan bapaknya jelas. Tapi aku belum siap untuk menjadi seorang ibu. Apalagi kamu bakal jauh ninggalin aku! Kenapa kita dipertemukan sekarang? Kenapa tidak menunggu kamu pulang dari Libanon, dua tahun lagi. Mungkin kita bisa jalan-jalan dulu, kenalan dulu, pedekate dulu, saling jatuh cinta. Baru deh menikah. Ini tiba-tiba menikah, terus tinggal bareng, apalagi coba kalau enggak ehem!"
BHUG ...!
"Augh ..." Abdi meringis mengusap perut sispack itu.
Dengan cepat Arini menghujamkan satu pukulan diperut Abdi, sambil berbisik, "Terus ... kalau misalnya aku enggak perawan bagaimana? Kamu mau tinggalin aku begitu saja? Kalau tahu aku bakalan dinikahi oleh pria seperti kamu, sejak usia lima belas tahun, sudah aku lelang keperawanan ku! Biar kamu mendapatkan sisa, sama seperti aku mendapatkan sisa dari Sonya!"
"Hei, jaga ucapan mu! Aku juga baru pertama kali melakukannya sama kamu!"
"Bohong!"
"Sumpah!"
"Enggak percaya!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kamu tahan lama dan bisa sampai berkali-kali! Itu karena apa, coba? Pasti karena sudah sering melakukannya sama cewek lain, kan?"
Abdi menggeleng, ia tidak menyangka bahwa Arini menganggapnya sebagai penjahat kelamin selama ini. Lagi-lagi ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menjawab pertanyaan Arini dengan mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku celana.
"Aku belajar dari sini! Dari kecanggihan teknologi informasi tentang edukasi tentang ranjang. Tidak mungkin aku langsung praktek, karena usiaku masih 23 tahun. Aku belum pantas untuk melakukan itu! Kita melakukannya, karena kamu yang meminta! Kepikiran juga enggak! Semenjak sama kamu ni, otak ku jadi mesum. Pikirannya ehem wae! Karena apa coba!?"
Arini mengulum senyuman manis, menempelkan hidung mancungnya di wajah Abdi, sambil berbisik nakal, "Habis punya kamu, perfect, matang dan lezat. Aku lapar, kita jalan sekarang!" Rengeknya, kemudian berkata lagi, "Yang penting kamu bantuin aku, karena aku cuma ada uang tabungan enggak sampai lima em. Jadi banyak kurangnya! Apa perlu aku jual diri dulu sama sugar daddy biar dikasih uang 38 milyar!" tawanya menggoda Abdi, yang langsung menepuk bibir sang istri.
"Jaga ucapan kamu! Karena ucapan itu doa! Coba aja jual, emang laku? Body jelek begitu, kaki-kaki sudah melemah, enggak kuat menopang kehidupan, buat apa dijadiin sugar!" Ejeknya dengan nada kesal.
Arini merengek memeluk paksa tubuh Abdi yang akan berjalan menuju pintu kemudi yang mengarah lebih ketengah jalan.
Namun ketika Abdi tengah membuka pintu mobil, tampak dari arah utara satu buah mobil sport berwarna putih yang melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa menyalakan klakson, mengagetkan pandangan Arini yang langsung berteriak keras.
"Aa! Awas!"
BRAK ...!
Phang, phang, phang ...
Mobil putih itu menabrak pintu mobil Abdi dengan sangat keras, sehingga membawa terbang ke udara kemudian berputar-putar sebanyak dua kali, seketika ...
BRUK ...!
BRAK ...!
"Aa Abdi!"
__ADS_1