
Di keheningan malam, keluarga Abdi tengah menikmati hidangan makan malam yang tak kalah dinginnya dari suasana diluar yang terasa sejuk karena guyuran hujan. Tidak ada suara, hanya terdengar bunyi sendok dan piring yang mendominasi di meja makan mewah berbahan marmer tersebut.
Sesekali Abdi masih melirik kearah Arini yang duduk dihadapannya, tanpa mau menyapa ataupun bermanja-manja seperti tadi siang.
Begitu juga dengan Nancy, wajah cantik yang telah melepaskan hijabnya itu masih menikmati hidangan dengan penuh ketenangan, dengan tangan kirinya selalu berada dalam genggaman Aditya yang sejak tadi berusaha menenangkan sang istri.
Tak banyak bicara, Arini mengakhiri makan malamnya kemudian meneguk air yang ada dihadapannya dan memilih untuk berlalu meninggalkan mereka di sana.
Tampak Abdi mendongakkan wajahnya, ketika melihat sang istri yang akan berlalu, tapi tak dapat dicegah oleh pria yang telah berstatuskan sebagai suaminya itu.
"Rin!" Panggil Abdi tak ingin Arini melakukan hal yang sama seperti Nancy memperlakukannya kali ini.
Langkah Arini terhenti, karena ia masih menghargai mertuanya. Ia menoleh kebelakang, hanya untuk mendengar apa yang ingin disampaikan oleh Abdi. "Hmm."
"Eee ... bisa kita bicara nanti?"
"Ya, selesaikan makan mu! Aku mau istirahat. Selamat malam!" Arini berlalu, tak menghiraukan ucapan Abdi lagi. Karena tubuhnya memang terasa sangat letih, dan tidak ingin mendengar perdebatan orang tua dan anak itu lagi.
Kembali Abdi menelan ludahnya, wajahnya tampak lebih tak bersemangat. Menunggu suara dari sang mama yang akan mencaci-makinya karena telah ketahuan pacaran dengan Sonya.
Tangan Nancy yang sejak tadi sudah bergetar ingin memecahkan kepala sang putra juga putri kesayangannya, langsung menatap nyalang kearah dua anaknya yang tampak seumuran.
Tanpa ragu lagi, setelah Nancy mendengarkan suara pintu kamar Abdi tertutup rapat, ia langsung menggebrak meja makan yang berbahan batu mahal itu, sehingga memecahkan gelang giok kesayangannya.
__ADS_1
Prang ...
Aditya kembali terkaget, melihat Nancy langsung berdiri, tanpa memperdulikan giok mahal yang sangat disayangi oleh sang istri berserakan dilantai ruang makan, langsung mengusap lembut tangan yang masih terlihat mulus itu. "Tenang sayang. Semua bisa kita bicarakan baik-baik!" tuturnya hanya untuk menenangkan Nancy.
Akan tetapi, Nancy langsung menoleh kearah Abdi, mengeluarkan kata-kata tegas untuk kedua putra-putrinya, "Jawab Mama ... sampai dimana hubungan kamu dengan gadis bernama Sonya yang merupakan sahabat Mutia itu, Abdi!"
Abdi menghela nafas berat, hanya bisa menggeleng pelan, sambil menyebut, "Ma ... tolong pahami posisi aku kali ini!"
"Posisi yang mana? Posisi kamu yang mana harus Mama dengarkan hmm!?"
Lagi-lagi Abdi menelan ludahnya, membuang pandangannya kearah lain, agar tidak bersitatap dengan mata sang mama, namun kembali mendapatkan hardikan dari Nancy.
"Jawab Mama! Sampai dimana hubungan kamu dengan Sonya! Apa kamu tidak mendengarkan perkataan Eko, bahwa adiknya itu merupakan anak tiri hmm? Kamu tahu apa itu maksudnya? Mama rasa kamu tidak bodoh, Abdi! Kamu cerdas, di usia muda kamu sudah menjadi perwira. Tapi kamu tega mempermainkan perasaan istri mu sendiri! Kamu pikir selama ini Mama tidak tahu bagaimana pergaulan mu diluar sana? Pekerjaan kamu, bahkan kamu tega menjalin relationship dengan wanita seperti itu. Makanya Mama dan Paman mu cepat-cepat mengumumkan bahwa kamu sudah menikah, dan memberikan peluang pada mu untuk mengenal Arini lebih dekat! Apa kamu tidak tahu siapa keluarga mereka? Mama rasa telinga kamu tidak budek, otak kamu juga bekerja dengan sangat baik dan cepat tanggap sebagai seorang perwira. Tapi kelakuan kamu tidak lebih dari seorang laki-laki pecundang yang tidak bisa menentukan sikap!"
"Ma ... Abdi menjalin hubungan dengan Sonya baru satu tahun ini. Sebelum pernikahan ku dengan Arini terbuka lebar. Aku tidak tahu bahwa telah di nikahkan. Jadi tolong pahami posisi ku. Aku masih enam bulan menjalin relationship dengan Sonya, dan aku tidak tahu bahwa dia itu adiknya Eko. Aku pikir Eko yang selalu dibicarakan Tante Evi itu bukan pria tadi. Dan aku rasa, tidak semudah itu untuk mengakhiri satu hubungan, Ma!"
Nancy tertawa kecil, mendengar penuturan Abdi yang sangat menggelitik anak telinganya.
"Terus? Mau sampai kapan kamu akan menjalani hidup seperti ini? Sampai Arini pergi dari kehidupan kamu, begitu?"
Abdi hanya bisa menundukkan kepalanya, sambil menggeleng perlahan. Sejujurnya kali ini perasaannya dipermainkan oleh keadaan. Bagaimana mungkin ia harus memutuskan hubungan dengan Sonya saat ini, sementara Evi selalu berusaha untuk mendekatkan gadis itu dengannya.
Abdi memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Nancy, kembali ia mengangkat wajahnya hanya untuk menatap iris mata wanita yang sangat dicintainya itu, "Beri aku waktu, untuk menyelesaikan semua ini. Sejujurnya aku tidak menyukai pernikahan ini. Tapi aku juga harus bertanggung jawab atas Arini, karena aku telah mengikatnya dengan pernikahan yang selayaknya dilakukan oleh suami istri pada umumnya. Jujur perasaan ku masih terombang-ambing pada kedua wanita ini, Ma."
__ADS_1
Nancy kembali duduk di kursinya, memijat pelipisnya. Melirik kearah Aditya yang masih tetap tenang tanpa mau berbicara. "Mas saja yang bicara sama mereka." Kembali ia menoleh kearah Mutia sambil berkata, "Besok kamu pindah kampus. Kamu harus masuk bimbel untuk pelatihan militer. Tidak ada negosiasi, karena Mama tidak ingin melihat kamu berteman dengan gadis itu. Ternyata kamu biang kerok untuk hubungan kakak mu dengan gadis murahan itu!"
Mutia tampak tidak terima, ia mengangkat tangan kanannya, "Aku berteman dengan Sonya baik, Ma. Dan dia teman yang baik. Tidak pernah banyak meminta padaku. A-a-aku hanya mengenalkan Kak Abdi dengan Sonya, karena dia deluan yang meminta. Aku rasa aku tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka. Kok aku yang disalahin, aku enggak mau masuk militer. Karena aku masih ada kontrak iklan satu tahun. Dan Sonya sudah menjadi manager ku saat ini. Karena dia sangat baik dan jujur, Ma!"
Terdengar suara tawa mengejek dari bibir Nancy dihadapan kedua anaknya, "Ogh ... ingat satu hal! Jika kalian masih mau menjalin hubungan baik dengan mereka, tinggalkan rumah ini. Jika masih mau ikut aturan Mama, tinggalkan mereka! Tidak ada negosiasi lagi!"
Aditya kembali menatap kearah Nancy, kepalanya menggeleng mengisyaratkan tidak setuju dengan keputusan sang istri, "Sabar. Jangan terlalu menekan Mutia juga Abdi."
Nancy mendengus dingin, "Anak-anak mu lebih memilih bergaul dengan orang seperti itu! Sama seperti kamu, Mas!"
Dengan cepat Nancy berlalu, ia tidak menyangka bahwa mereka bertiga masih tidak mau mengikuti aturannya.
Bergegas Aditya berlari mengejar sang istri, karena tidak ingin melihat Nancy bersedih hanya karena kesalahan masa lalu yang sangat menyakiti perasaan sebagai seorang wanita, "Neng ... Mas setuju dengan keputusan kamu. Tapi tidak memaksakan keadaan. Jadi kita harus menjauh secara perlahan. Please, dengarkan Mas kali ini."
Nancy menatap lekat wajah Aditya, dengan mata berkaca-kaca, ia memberikan ultimatum kepada sang suami, "Ini karma buat kita. Karena aku terlalu membenci wanita itu. Kamu tinggal pilih, meminta anak-anak untuk menjauhi anak jallang itu, atau kita yang akan berpisah!"
"Ogh shiit!" Aditya langsung memeluk tubuh Nancy, mengusap lembut kepala istri tercintanya, "Mas akan bicara pada anak-anak. Tolong jangan libatkan masalah percintaan anak-anak dengan masa lalu. Mas tidak akan pernah melepaskan kamu!"
Tangan Nancy menepuk dada Aditya dua kali, hanya untuk terlepas dari dekapan sang suami, "Oke ... lakukan tugas mu. Jangan biarkan Abdi menjadi laki-laki bodoh! Begitu juga Mutia!"
Kedua putra-putri kesayangan mereka hanya bisa terdiam. Karena tidak menyangka bahwa hingga saat ini Nancy masih menyimpan luka itu.
Mutia mendekatkan wajahnya dihadapan Abdi, hanya untuk sekedar bertanya dengan bibir menggeram, "Kak ... gue enggak mau masuk militer. Tolong bantu gue, lo harus putus sama Sonya. Jangan sampai Teh Arini dan Mama ngamuk besar sama gue. Please!"
__ADS_1
Abdi mengehela nafas dalam-dalam, "Besok selesai latihan gue bicarain sama Sonya. Tapi gue udah janji minta waktu satu tahun sama dia, gimana dong? Gue juga enggak mau dicap jelek sama Tante Evi, tapi gue juga tidak mau kehilangan Arini. Agh ..."